![]() |
| ilustrasi |
Suatu malam saya diundang ke sebuah resor ternama di Kota Jambi. Saya melihat sekelompok muda-mudi dan beberapa keluarga memadati area yang secara keseluruhan disulap bak kebun bunga dan hutan desa dengan tetap mengedepankan watak kota. Iringan musik disertai gemericik air dan gemerlap cahaya menahbiskan tempat ini didesain bukan destinasi bagi kaum papa.
Di situ, umumnya dari mereka meluapkan rasa dahaga akan suasana desa dan masa kecil yang telah lama lewat. Tidak heran bila mereka berulangkali mengabadikan momen perjumpaan di malam itu dengan kilatan cahaya, menu makanan-minuman yang asing di lidah dan telinga, dan tentu saja daftar biaya yang bukan sembarang orang mampu menanggungnya. Dominasi gaya hidup (life style) bercirikan “I consume therefore I exsist” atau “You are what you buy” begitu kentara.
Apa di tengah semua ini? Pertanyaan itu segera memenuhi relung batin saya. Laiknya mal, hotel, dan atau bangunan mentereng sejenisnya, perlahan-lahan telah memanipulasi hasrat warga dengan arsitektur, setting lokasi, lanskap simbolik, dan ruang-ruang sejarah yang dikemas hingga tanpa sadar mereduksi ruang-ruang batin dan publik manusia menjadi melulu satu dimensi yaitu konsumsi.
Demikian itu watak sekaligus taktik dari kapitalisme dalam menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru dalam diri manusia, bahkan menciptakan perasaan butuh itu sendiri. Mantra-mantra yang ditebarkan oleh peadagang, mulai dari perusahaan iklan multi-nasional sampai rayuan pedagang kaki lima agar nafsu mengkonsumsi bergelora tak terbentung dalam diri seseorang dengan atas nama modernitas.
*catatan lama.


0 Komentar