![]() |
| ilustrasi. sumber: omong-omong.com |
Oleh: Jumardi Putra
Dinamika
pembangunan literasi di Pulau Sumatera pada tahun 2025 menghadirkan potret yang
sangat kontras, ibarat melihat fajar yang menyingsing di satu sisi namun
menyaksikan senja yang memudar di sisi lainnya. Di bagian utara pulau ini, kita
melihat geliat harapan yang menjanjikan. Namun, bagi masyarakat Provinsi Jambi,
realitas yang ada justru memperlihatkan sebuah kondisi "senyap"
literasi yang sangat memprihatinkan.
Berdasarkan
data terbaru yang dirilis oleh Badan
Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, potret literasi kita kini
diukur dengan paradigma baru. Pengukuran tidak lagi hanya melihat angka
permukaan, melainkan difokuskan pada kesesuaian kewenangan pemerintah daerah
dan validasi faktual di lapangan. Metodologi ini bertujuan untuk memotret
realitas sejujur mungkin. Hasilnya? Sebuah tamparan keras bagi pemimpin daerah
di "Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah".
Angka-angka
yang muncul dalam laporan bertajuk "Indeks Pembangunan Literasi
Masyarakat (IPLM) dan Dimensi Penyusunnya 2025" bukan sekadar deretan
digit tanpa makna, melainkan representasi dari kondisi “jendela dunia” yang
dapat diakses warga secara luas. Saat Provinsi Aceh mencatatkan skor impresif
sebesar 45,29, disusul Sumatera Barat (43,36) dan Sumatera Utara (40,54),
mereka telah membuktikan diri melampaui rata-rata nasional yang berada di angka
40,06.
Di
seberang pencapaian gemilang itu, Jambi justru tertatih dengan skor IPLM yang
hanya menyentuh angka 25,53 atau berada di urutan paling buncit se Sumatera.
Selisih 14,5 poin dari standar nasional ini adalah sebuah "alarm
merah". Lebih jauh lagi, data Tingkat
Kegemaran Membaca (TKM) Jambi hanya berada di angka 57,77, yang masuk dalam kategori
rendah. Jika kita membedah lebih dalam ke tingkat kabupaten/kota, kita akan
menemukan luka yang lebih menganga.
Kabupaten
Sarolangun memang menjadi yang tertinggi di Jambi, namun skornya hanya 20,71. Nilai ini bahkan belum separuh
dari capaian Aceh. Namun, yang paling menyesakkan dada adalah ketika kita
melihat angka di Kabupaten Tebo (1,34), Tanjung Jabung Timur (1,28), dan
puncaknya di Kabupaten Bungo yang hanya mencatat angka 0,47.
Muncul pertanyaan, bagaimana mungkin di tengah gegap gempita digitalisasi dan kemajuan teknologi, akses terhadap sumber bacaan di wilayah tersebut hampir menyentuh angka nol? Skor 0,47 bukan sekadar statistik; itu adalah jeritan sunyi dari ribuan anak bangsa di pelosok Bungo yang mungkin kehilangan hak dasarnya untuk mengakses jendela dunia. Ini adalah potret kemiskinan akses informasi yang sangat akut.
![]() |
| Indeks Literasi Jambi 2025 |
Mengapa Jambi tercecer di belakang? Jika merujuk pada fluktuasi IPLM tahun-tahun sebelumnya, rendahnya indeks literasi di Jambi berakar pada pengabaian dimensi-dimensi kunci pembangunan literasi yaitu pertama, minimnya infrastruktur yang memenuhi Standar Nasional Perpustakaan (SNP). Banyak perpustakaan di daerah kita hanya berdiri sebagai bangunan fisik tanpa ruh. Kedua, terjadi ketimpangan ekstrem pada rasio jumlah buku dengan jumlah penduduk. Buku masih menjadi barang langka di tangan anak-anak pedalaman Jambi. Ketiga, ketiadaan tenaga pustakawan ahli yang mampu menghidupkan budaya baca. Tanpa "pemandu", perpustakaan hanyalah tumpukan kertas berdebu. Slanjutnya, keempat, dan yang paling mendasar, adalah paradigma. Hingga hari ini, perpustakaan di banyak wilayah Jambi masih dianggap sebagai "museum buku" yang kaku dan membosankan. Ia adalah tempat yang dikunjungi hanya untuk urusan administratif, bukan sebagai pusat aktivitas warga atau sumber kegembiraan intelektual. Perpustakaan belum menjadi detak jantung peradaban di desa-desa kita.
Untuk
mengejar ketertinggalan yang sedemikian jauh, kita tidak bisa lagi menggunakan
cara-cara biasa. Dinas Perpustakaan Provinsi maupun Kabupaten/Kota di Jambi
harus melakukan extraordinary measures atau langkah-langkah luar biasa.
Hal ini harus dimulai dari perbaikan regulasi, penajaman program, hingga alokasi
anggaran yang benar-benar memihak pada literasi.
Berikut empat
langkah strategis yang perlu dilakukan secara simultan:
Pertama, kita harus mengubah wajah perpustakaan menjadi
ruang publik yang hidup. Perpustakaan harus bertransformasi menjadi tempat
pelatihan keterampilan, ruang diskusi publik, dan wadah kreativitas. Masyarakat
harus merasa memiliki tempat tersebut karena mereka mendapatkan manfaat nyata
di sana, bukan sekadar meminjam buku.
Kedua, mengingat kendala geografis di Jambi yang luas dan
kapasitas fiskal daerah yang terbatas, membangun gedung permanen di setiap
titik adalah hal yang sulit. Maka, solusinya adalah jemput bola. Penguatan
platform digital (iPusnas versi daerah) dan penambahan armada perpustakaan
keliling adalah harga mati untuk menjangkau pelosok Tebo, Bungo, hingga pesisir
Tanjung Jabung.
Ketiga, literasi adalah urusan masa depan bangsa, maka ia
tidak boleh hanya menjadi beban Dinas Perpustakaan semata. Di tengah anggaran
APBD yang terbatas, kita perlu mengintegrasikan kekuatan stakeholder.
Penggunaan Dana Desa untuk pengadaan pojok baca dan honorarium penggerak
literasi lokal harus didorong. Begitu pula dengan dana CSR
perusahaan-perusahaan perkebunan dan pertambangan di Jambi; mereka memiliki
tanggung jawab moral untuk mencerdaskan warga di sekitar wilayah operasi
mereka.
Keempat, pemerintah pusat dan daerah harus memberikan
pendampingan intensif bagi perpustakaan sekolah dan desa agar mampu meraih
akreditasi SNP. Akreditasi bukan sekadar label, melainkan jaminan bahwa layanan
yang diterima oleh anak-anak kita sudah memenuhi standar kelayakan manusiawi.
Pencapaian
Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara adalah bukti nyata bahwa investasi
pada fasilitas dan manusia tidak akan pernah mengkhianati hasil. Jambi tidak
boleh terus-menerus menjadi penonton di rumah sendiri, atau sekadar menjadi
catatan kaki dalam laporan kemajuan nasional.
Angka
0,47 di Bungo atau 1,28 di Tanjung Jabung Timur adalah pengingat yang
menyakitkan bahwa akses terhadap ilmu pengetahuan masih menjadi barang mewah bagi
sebagian saudara kita. Ini bukan sekadar soal peringkat, ini soal keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tanpa
adanya keberanian politik (political will) dari para pemimpin daerah
untuk berinvestasi secara serius pada literasi, maka kesenjangan ini akan terus
melebar. Jika kita membiarkan ini terus terjadi, kita sebenarnya sedang
mewariskan kemiskinan intelektual bagi generasi mendatang. Dan kemiskinan
intelektual adalah akar dari segala jenis kemiskinan lainnya.
Sudah saatnya kita bergerak bersama, bahu-membahu menjemput cahaya literasi, sebelum jendela dunia benar-benar tertutup rapat bagi anak-anak Jambi. Masa depan mereka adalah tanggung jawab kita hari ini.
*Kota Jambi, 9 Mei 2026. Keterangan: Penilaian
IPLM difokuskan pada kinerja perangkat daerah Dinas Perpustakaan dan tidak
mencakup agregat peran komunitas literasi atau TBM secara mandiri.
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Festival Literasi: Dari Militansi ke Retrospeksi
2) Kartini, Ibu Bumi dan Api Literasi
3) Surat Cinta untuk Pegiat Literasi Jambi
4) Menyoal Duta Baca Provinsi Jambi, Kerja Apa?
5) Hottong: Toko Buku Tua di Kota Jambi
6) Pengelana Buku Itu Tidak Pernah Pergi, Obituari Nirwan Arsuka
7) Dari Palasari Ke Pasar Kenari: Kisah Berburu Buku
8) Satu Jam di Ruang Ketiga Jalma
11) Melipat Waktu di Antara Langit dan Rel Kereta
12) Di Balik Panggung Pemilihan Bujang Gadis Jambi
13) Komunitas Epistemik dan Kosongnya Kampus Kita
15) Suatu Siang di Erasmus Huis
16) Merajut Asa di Ruang Belajar Prof H.A.R. Tilaar
17) Ngadem di Freedom Institute Library
18) Arsip Daerah Jambi di ANRI
19) Kerja Arsip Berdekatan dengan Kesepian
20) Pers Jambi (Tanpa) Pusat Dokumentasi
21) Ada Sesuatu di (dalam) Jogja
22) Berburu Buku Lawas di Palembang
23) Selalu Ada yang Tersisa dari Jogja: Dari Sorowajan ke Mantijeron
24) Asa di Jalan Kaliurang Km 12 Jogja



0 Komentar