![]() |
| ilustrasi. sumber: AI |
Oleh: Jumardi Putra*
Jika kita menyisir kalender
dari awal hingga akhir, April menyimpan berbagai catatan dan peristiwa
bersejarah di republik ini, sebut saja seperti letusan Gunung Tambora di
Sumbawa pada 10 April 1815. Ini adalah letusan gunung berapi terbesar dalam
sejarah modern yang dampaknya menyebabkan "tahun tanpa musim panas"
di Eropa dan Amerika Utara. Lalu, pada 18 sampai 24 April 1955 Presiden
Soekarno berhasil menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung,
sebuah capaian diplomatik terbesar Indonesia di kancah internasional karena
menghimpun kekuatan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika untuk merdeka—melawan
kolonialisme, imperialisme dan rasialisme--serta melahirkan "Dasasila
Bandung".
Begitu juga setiap tanggal 21
April diperingati hari kelahiran Raden Ajeng (RA) Kartini berdasarkan Keputusan
Presiden Soekarno Nomor 108 Tahun 1964, berlanjut ke Hari Bumi pada tanggal 22
April yang ditetapkan sejak 1970, dan bahkan hari ini tanggal 23 April adalah
Hari Buku Sedunia (World Book Day) yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1995.
Masih banyak lagi jika mau ditambahkan daftar panjang momentum penting yang
terjadi di tanah air dan belahan bumi lainnya dalam bulan ini.
Menariknya, rentetan tanggal
21, 22 dan 23 April ini hemat saya bukanlah kebetulan administratif semata,
melainkan sebuah simfoni yang menghubungkan antara pikiran yang merdeka, ruang
hidup yang lestari, dan “api” literasi dalam satu tarikan napas pemajuan
keindonesiaan.
Kita tidak bisa membicarakan
pandangan sekaligus sikap berani seorang Kartini tanpa membayangkan tumpukan
buku, koran dan majalah di meja pingitan serta surat-suratnya yang dikirim
kepada teman-teman korespondensi di Belanda, terutama Rosa Abendanon dan
suaminya, J.H. Abendanon: Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia
Belanda, serta sosialis feminis Stella Zeehandelaar. Bagi perempuan muda dari
Jepara itu, buku boleh dikata jendela yang menyajikan aroma kebebasan di tengah
pengapnya tembok tradisi maupun tatanan kolonial yang mengekangnya pada akhir
abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Maka, lewat ide-ide radikalnya yang
bersumber dari buku-buku yang dibaca, Kartini melakukan pengembaraan batin,
lalu bergerak mendedah ketidakadilan kaum perempuan, hingga akhirnya melahirkan
pemikiran yang kita kenal sebagai emansipasi melalui gerakan sekolah untuk
perempuan.
Di sini, hubungan antara
tanggal 21 dan 23 April menjadi sangat terang benderang yaitu pembebasan
manusia selalu dimulai dari keberanian untuk membaca dan menulis (dalam
pengertian luas). Tanpa buku sebagai penyulut api kesadaran, barangkali
gelapnya keterbelakangan akan bertahan jauh lebih lama di republik ini. Dari
buku Pramoedya Ananta Toer berjudul Panggil Aku Kartini Saja, saya mengetahui
Kartini bukan sekadar pingitan yang hobi mengeluh lewat surat, melainkan
seorang pemikir politik dan salah satu pelopor perubahan sosial yang dimiliki
Indonesia. Agaknya tidak berlebihan mengatakan buku hasil rekonstruksi Pramoedya
terhadap sosok dan pemikiran Kartini menjadi salah satu bacaan wajib bagi siapa
saja yang ingin memahami akar gerakan pemikiran di Indonesia—bahwa emansipasi
hanya mungkin lahir dari kedalaman literasi.
Gayung bersambut, pikiran
yang cerdas dan jiwa yang merdeka membutuhkan panggung untuk berpijak, dan
panggung itu adalah bumi. Kehadiran Hari Bumi di antara Hari Kartini dan Hari
Buku seolah menjadi pengingat bahwa intelektualitas kita tidak boleh “berumah”
di awan tanpa memedulikan tanah yang kita injak—bumi manusia dengan segala
persoalannya. Dalam tradisi luhur kita, alam acapkali dipersonifikasikan
sebagai figur ibu—"Ibu Bumi”. Ada kaitan etis yang mendalam ketika kita
menghormati perjuangan perempuan sekaligus diingatkan untuk menjaga kelestarian
alam. Keduanya adalah rahim kehidupan. Kerusakan yang kita timpakan pada bumi
pada dasarnya adalah pengkhianatan terhadap semangat kasih sayang dan
perlindungan yang diperjuangkan oleh para ibu dan pejuang perempuan kita.
Konteks keindonesiaan hari
ini menuntut kita untuk tidak lagi memandang ketiga hari bersejarah ini secara
dangkal-formalitas belaka (sehingga gagal menemukan elan di balik konsteks
sosio-historisnya). Selain tantangan geopolitik-geokonomi, sulit menyangkal
bahwa kita sedang menghadapi tantangan besar berupa krisis iklim yang nyata dan
degradasi literasi yang mengkhawatirkan di tengah gempuran media sosial di era
internet—ditandai dengan budaya merayakan “kedangkalan” seraya meninggalkan
“kedalaman”. Menemukan kembali “ruh” di balik perayaan Hari Buku Sedunia di
tengah surplus informasi—terutama kepungan berita bohong dan pendangkalan
informasi--adalah sebuah tindakan perlawanan yang masuk akal. Dengan membaca
buku (segala bentuk dokumentasi pengetahuan), kita sedang merawat kedalaman
berpikir agar tidak mudah terprovokasi atau “dijinakkan”. Di saat yang sama,
kedalaman berpikir itu harus diarahkan untuk menyelamatkan lingkungan hidup
kita yang kian rapuh. Inilah yang disebut sebagai literasi ekologis; sebuah
kesadaran untuk membaca tanda-tanda zaman dan kerusakan alam melalui kacamata
ilmu pengetahuan dan kearifan lokal sebagai hal yang fundamental.
Melalui tiga peristiwa
penting—berjejer dalam bulan April-- mengajarkan kita tentang cara menjadi
manusia Indonesia yang utuh—sebuah proses. Menjadi manusia yang seperti Kartini
(satu dari banyak tokoh perempuan hebat di Indonesia)—berani mendobrak
kejumudan dengan cahaya ilmu—sambil tetap membumi (menggerakkan perempuan pada
zamannya) dan mencintai setiap jengkal tanah airnya. Buku jembatan yang
menghubungkan kedua dunia itu. Lewat buku, kita mendokumentasikan keindahan
hutan-hutan (termasuk kondisinya yang mengkhawatirkan sekarang) agar tidak
sekadar menjadi legenda bagi anak cucu. Lewat buku pula, kita menyebarkan
gagasan tentang keadilan sosial yang mencakup keadilan bagi lingkungan.
Pada akhirnya, membaca adalah cara kita membentuk kesadaran kritis, merawat bumi adalah cara kita bertahan sekaligus memastikan keberlangsungan hidup bagi generasi kelak, dan menghargai kesetaraan adalah cara kita memanusiakan diri. Jika ketiganya menyatu dalam sanubari setiap warga bangsa, maka janji tentang "Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan lagi sekadar judul buku dari kumpulan surat-surat Kartini yang disusun oleh J.H. Abendanon dan terbit pertama kali pada tahun 1911 dengan judul asli bahasa Belanda, "Door Duisternis tot Licht", melainkan kenyataan yang kita hidupi setiap hari di bawah langit negeri ini.
*Kota Jambi, 23 April 2026.
*Berikut tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Rektor dan Kepemimpinan Intelektual
2) Gundah Bersama Seorang Guru Besar
3) Komunitas Epistemik dan Kosongnya Kampus Kita
4) Darurat Demokrasi: Memaknai Persinggungan Cendekiawan dan Politik
5) Ketindihan Teknokratis: Problem Akut Perencanaan Pembangunan
6) Wajah Buram Kampus, Buku dan Uang Palsu
10) Rumah Pemikir, Inkubator Pemimpin
11) Merawat Tradisi Akademik: Oase dari Mandalo
12) Sarjana Organik
13) Karlina Supelli dan Tunabaca Generasi
14) Ekonom Bersuara Lantang Itu Pergi. Selamat Jalan, Faisal Basri
15) Dedikasi Cendekiawan Ignas Kleden dan Abdul Hadi WM
16) Laku Hidup Romo Iman Budhi Santosa
17) Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan Buya Syafii Ma'arif
18) Warisan Pemikiran Prof. Azyumardi Azra


0 Komentar