Ilusi "Yang Terhormat"

 

ilustrasi. sumber: assets.artprize.org.



Oleh: Jumardi Putra

Bukan sebuah kebetulan jika Pak Sobari (bukan nama sebenarnya) telah memasuki tahun keempat masa jabatannya sebagai dekan di sebuah kampus ternama di Yogyakarta. Saban hari, saat mobil dinasnya melintasi gerbang utama kampus, seorang satpam akan berdiri tegak di tepi jalan, memberikan hormat yang kaku dan penuh khidmat.

Entah satpam itu benar-benar mengenali siapa di balik kaca mobil yang gelap itu, agaknya tak lagi penting bagi Sobari. Ia lebih sering membiarkan jendela mobilnya tertutup rapat—bukan karena angkuh, melainkan karena ia merasa kikuk. Ia menghargai ketulusan dan kepatuhan satpam tersebut pada aturan, namun di dalam hati, penghormatan yang terjadi berulang-ulang itu perlahan kehilangan maknanya. Ia merasa seolah sedang menonton sebuah adegan sandiwara yang diputar tanpa henti.

Bagi Sobari, sikap hormat yang berlebihan adalah sesuatu yang asing. Ia bukan tipe pejabat yang haus akan pengakuan. Baginya, jabatan bukanlah singgasana untuk dipuja, melainkan sebuah tanggung jawab yang bersandar pada nilai-nilai nyata—atau dalam bahasa manajemen, diukur melalui output dan outcome. Di lingkungan kampus, ia dikenal sebagai sosok yang egaliter. Jabatan dekan tidak lantas membangun tembok antara dirinya dengan dosen lain, staf administrasi, maupun mahasiswa. Ia memperlakukan mereka layaknya saudara; ceria, namun tetap tegas tanpa harus menjadi arogan.

Suatu kali, seorang staf menyapanya dengan takzim, “Yang Terhormat Bapak Dekan.” Sobari segera tersenyum, mencoba mencairkan suasana. “Panggil saja saya Pak atau Mas,” pintanya lembut. Namun, meski ia tak bosan mengingatkan, sebutan “Yang Terhormat” itu tetap saja terlontar. Ia menyadari dirinya terjebak dalam sebuah gelembung pemujaan yang diciptakan oleh sistem protokoler, bukan oleh keinginannya sendiri.

Selama menjabat, ia memang menerima segala hak protokoler dan keuangan—mulai dari kendaraan dinas hingga tunjangan kesehatan. Semua itu tersedia secara legal untuk menunjang kualitas kerjanya. Sobari menerimanya sebagai kelengkapan dinas, namun ia berjanji pada diri sendiri untuk tidak pernah menjadikan fasilitas tersebut sebagai pijakan untuk bersikap semena-mena. Ia memegang teguh integritasnya sebagai seorang pendidik di atas segalanya.

Waktu pun bergulir, dan masa jabatan itu akhirnya usai setelah menjabat hampir 7 tahun. Sobari kembali menjadi dosen biasa. Ia merasa tenang, yakin bahwa dirinya tidak akan terjangkit post-power syndrome yang sering menyerang mantan pejabat. Ia merasa mentalnya cukup tangguh untuk menanggalkan seluruh atribut yang selama ini melekat.

Namun, realitas memberikan ujian yang berbeda seminggu kemudian.

Sobari datang ke sebuah acara formal kampus yang dulu sering ia pimpin. Ia hadir dengan setelan bersahaja, selayaknya dosen pada umumnya. Di pintu masuk, satpam yang dulu selalu berdiri tegak memberi hormat, kini hanya mengangguk sekilas tanpa ekspresi khusus, lalu memintanya mengantre untuk mengisi buku tamu.

Di dalam ruang utama, pemandangan serupa menyambutnya. Kursi barisan depan yang dulu disiapkan khusus untuknya, kini telah ditempati oleh pejabat baru. Sobari diarahkan oleh panitia ke barisan tengah, duduk berbaur dengan tamu-tamu biasa. Bahkan, ketika ia memeriksa ponselnya, ia baru menyadari bahwa namanya telah dikeluarkan dari grup WhatsApp pejabat teras kampus tanpa satu pun kata pamit.

Pada detik itulah, sebuah ilusi pecah berkeping-keping.

Sobari menyadari sebuah kebenaran pahit: bahwa selama tujuh tahun terakhir, penghormatan yang ia terima bukanlah ditujukan untuk dirinya sebagai manusia, melainkan untuk jabatan yang menempel pada pundaknya. Tanpa kursi itu, ia hanyalah seorang pria biasa yang sedang menjalankan rutinitas profesinya. Ia tidak menyalahkan mereka yang tak lagi menaruh hormat padanya, namun ia makin menyadari betapa "kehormatan" itu memang didesain secara artifisial melalui protokol.

Kehormatan yang selama ini ia rasakan ibarat struktur bangunan berbahan pasir yang nampak megah, namun langsung tersapu ombak begitu pasang tiba. Ia menyadari bahwa di dunia kekuasaan, orang sering kali tidak sedang menghormati wajahmu, melainkan sedang menghormati bayang-bayang posisi yang sedang kau tempati.

Namun, karena selama menjabat Pak Sobari tidak pernah "gila" akan penghormatan itu, ia lantas tidak hancur oleh keadaan. Hari-harinya sebagai dosen tetap dilaluinya dengan bahagia dan tetap digemari mahasiswa/i yang ia didik. Setiap hari, ia berangkat dan pulang kerja dari rumah ke kampus dengan jiwa yang merdeka, karena terus berkontribusi bagi ilmu pengetahuan tanpa perlu lagi merasa kikuk di balik kaca mobil yang tertutup.


*Kota Jambi, 26 Januari 2026. Tulisan ini terinspirasi sekaligus pengembangan dari kisah seorang sahabat yang diamani menjabat di sebuah kampus. Semoga membawa manfaat.

*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:

1) Sepotong Hati Rodiyati Ningsih

2) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana

3) Hasta Siempre, Viejo Querido: Belajar dari Jose Mujica

4) Langkah Kaki Haruki Murakami

5) Besak Ota

6) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling

7) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi

8) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang

9) Komunitas Epistemik dan Kosongnya Kampus Kita

10) Darurat Demokrasi: Memaknai Persinggungan Cendekiawan dan Politik

11) Ketindihan Teknokratis: Problem Akut Perencanaan Pembangunan

12) Wajah Buram Kampus, Buku dan Uang Palsu

13) Gundah Bersama Seorang Guru Besar

14) Kegenitan Intelektual

15) Kemalasan Intelektual

16) Wo Haris, Buku Apa yang sedang Dibaca?

17) Belajar dari Bung Karno

18) Karena Bung Hatta

19) Sutan Sjahrir: Hidup yang Tak Dipertaruhkan, Tak Layang Dimenangkan

20) Dari Penjara ke Penjara: Jejak Ideolog Tan Malaka

21) Kritisisme dan Konsistensi Soe Hok Gie

22) Suatu Siang di Telanaipura, di Penghujung Agustus yang Mencekam

23) Dilarang Belok Kiri!

24) Karlina Supelli dan Tunabaca Generasi

25) Ekonom Bersuara Lantang Itu Pergi. Selamat Jalan, Faisal Basri

26) Dedikasi Cendekiawan Ignas Kleden dan Abdul Hadi WM

27) Laku Hidup Romo Iman Budhi Santosa

28) Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan Buya Syafii Ma'arif

29) Warisan Pemikiran Prof. Azyumardi Azra

30) Membaca Pemikiran Kwik Kian Gie

31) Membaca Sabeni, Mengenal Marzuki Usman

0 Komentar