![]() |
| ilustrasi. sumber: kompas.id. |
Oleh:
Jumardi Putra
Suatu
malam--belum lama ini--saya berjumpa dengan seorang Guru Besar dari salah satu kampus di Jambi.
Kami bertemu di sebuah kafe yang tidak begitu ramai, namun menghadirkan
keheningan yang pas untuk bercakap-cakap agak dalam—sebuah obrolan yang tidak
melulu diikat oleh kepentingan materi, melainkan berbagi cerita tentang
kerja-kerja pemikiran yang sedang ditekuni, tak terkecuali beberapa karya intelektual tanah air bereputasi internasional dan pengalamannya sendiri melakukan "rihlah" ilmiah di kampus-kampus luar negeri.
“Jika
tidak ada aral melintang, menjelang tutup tahun ini hasil pemikiran saya akan digelanggangkan” ujarnya dengan wajah sumringah.
Mendengar
kabar itu, hati saya ikut bersukacita. Ada kebahagiaan setiap kali mendengar
rekan sejawat akan merilis buku baru atau bagian dari buku (chapter). Bagaimanapun,
merayakan hasil kerja pemikiran sangatlah penting di tengah arus utama
kebudayaan kita yang mulai meninggalkan kedalaman, lalu menggantinya dengan
seremoni akademik berlabel nasional-internasional yang sering kali mentereng di
sertifikat namun sunyi dalam substansi.
Sebenarnya,
kami sudah hampir enam tahun tidak bertatap muka. Selama itu, kami hanya
memantau kesibukan masing-masing dari kejauhan. Namun malam itu, meski ia telah
menyandang gelar Guru Besar dan secara usia berada di atas saya, ia tidak menunjukkan
sikap yang berlebihan. Sosoknya masih seperti yang saya kenal dahulu: energik, "out of the box", dan hangat.
Akademisi
dengan tipikal seperti ini tidak banyak saya jumpai di kota ini. Lazimnya
berhubungan dengan banyak akademisi, saya tetap menempatkan mereka sebagai
partner berpikir-berkegiatan, tidak lebih dari itu. Sikap egaliter ini penting
untuk menghindari relasi yang dibangun di atas kasta jabatan yang feodalistik.
Menghormati usia dan keilmuan adalah keharusan, namun hal itu tidak boleh
menjadi pembenaran untuk merawat hubungan yang timpang, apalagi menjadikan
salah satu pihak sebagai subordinasi.
Prinsip ini saya bawa sejak masa nyantri di Pesantren Tebuireng, Jombang-Jawa Timur, hingga berlanjut studi di Yogyakarta. Karena memang dalam kurun waktu itu saya sudah diajar langsung oleh banyak guru bergelar Doktor hingga Profesor, dan bahkan terlibat dalam pelbagai perhelatan akademik. Terlebih lagi di Jogja, relasi lintas kampus dan pelbagai forum intelektual yang cair serta dialogis merupakan syarat lahirnya komunitas epistemik yang sehat. Namun, Jogja pun bukan jaminan. Di sana pun ada juga tipikal Guru Besar yang "sok" dengan jabatan dan keilmuannya, seolah lupa bahwa di atas setiap orang yang berilmu, masih ada Yang Maha Mengetahui.
Berinteraksi
dengan peneliti dan akademisi adalah kehormatan bagi saya, terlebih jika
berangkat dari minat yang sama: ilmu pengetahuan, riset, dan advokasi. Dalam
ranah ini, bukan usia atau gelar yang menjadi timbangan, melainkan bobot
argumentasi dan kekuatan data.
Begitulah
idealnya. Namun kenyataannya sering kali berbalik arah. Tidak sedikit saya
jumpai akademisi (tidak terkecuali bergelar Profesor) yang gagal merawat tradisi kecendekiaan dalam setiap aktivitasnya. Yang muncul justru sosok yang sulit menerima perbedaan
pendapat, apalagi bantahan. Kali lain, tak jarang mereka lebih menyerupai
motivator ketimbang seorang pemikir atau peneliti yang bertugas memperkaya tafsir kritis-reflektif atas simbol-simbol kebudayaan di pelbagai lini kehidupan yang kerap disalahgunakan demi memuluskan "status quo" dan seabrek kepentingan pragmatis lainnya.
Saya
tahu, menjadi seorang Profesor (bukan semata gelar administratif) adalah mimpi panjang yang melelahkan. Ia
adalah puncak dari ribuan malam yang habis bersama tumpukan buku dan riset yang
seolah tak berujung, di bawah tekanan administrasi dan biaya kuliah yang
terkadang mencekik. Namun, yang menyedihkan adalah ketika SK Guru Besar itu
tiba dan gelar tersebut bersanding di depan nama, perlahan sikap berubah.
Mereka menjadi sosok yang sulit dikenali. Pada tahap itulah muncul pertanyaan
sunyi di batin saya: Apakah ini sebuah pencapaian, atau justru awal dari
sebuah keterasingan?
Di banyak podium
pengukuhan Guru Besar, banyak yang berkata bahwa ada beban berat di balik jubah toga yang
megah. Namun setelahnya, tak sedikit yang justru terjebak dalam "Menara
Gading"—sebuah tempat yang tinggi dan terhormat, namun terlalu jauh untuk
digapai oleh warga biasa.
Gelar
Profesor seharusnya menjadi amanah intelektual, bukan sekadar aksesori status
sosial, apatahlagi jika hanya demi mengejar tunjangan bulanan. Ironisnya,
pangkat tertinggi ini terkadang membuat seseorang menjadi paling rendah dalam
kerendahan hati. Mereka fasih bicara teori-teori besar, namun kelu saat harus
berbicara dengan bahasa yang dipahami warga kebanyakan, seperti petani di sawah
atau buruh di pasar.
Gelar
yang berderet itu seharusnya menjadikan insan akademis seperti pohon yang
merunduk karena sarat akan buah. Ia harusnya membuat kita lebih mudah ditemui,
bukan lebih sulit dijangkau. Menjadi Profesor berarti memiliki tanggung jawab
moral untuk menjaga kewarasan publik di tengah kebisingan politik dan egoisme
kekuasaan.
Tak terasa,
café segera tutup. Sebelum mengakhiri pembicaraan malam itu, ada deretan
pertanyaan (boleh dikata kegundahan) yang masih menggantung di antara kami:
Sudahkah
riset kita menjadi solusi bagi sesama? Ataukah ia hanya menjadi tumpukan kertas
berdebu di perpustakaan, sekadar syarat pencairan tunjangan?
Sulit
menyangkal bahwa banyak akademisi saat ini tersedot dalam kesibukan mengejar
sitasi dan beradu indeks di jurnal internasional yang hanya dibaca segelintir
rekan sejawat. Namun, mereka gagal mengeja degup jantung warga kecil yang
berjuang susah payah untuk sekadar bertahan hidup dari hari ke hari.
Saat
dalam perjalanan pulang, terlintas di pikiran saya:
pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat seberapa panjang gelar di depan nama kita, melainkan seberapa besar cahaya yang kita berikan saat kegelapan menyelimuti akal sehat bangsa.
*Kota Jambi, 22 Januari 2026.
*Berikut tulisan-tulisan saya lainnya:
1) Komunitas Epistemik dan Kosongnya Kampus Kita
2) Darurat Demokrasi: Memaknai Persinggungan Cendekiawan dan Politik
3) Ketindihan Teknokratis: Problem Akut Perencanaan Pembangunan
4) Wajah Buram Kampus, Buku dan Uang Palsu
5) Artidjo Alkostar: Penegak Keadilan
6) Polemik Angkutan Batu Bara di Jambi dan Hal-hal Yang Tidak Selesai
7) Batu Bara Sebagai Persoalan Kebudayaan, Sebuah Autokritik
11) Wo Haris, Buku Apa yang sedang Dibaca?
14) Sutan Sjahrir: Hidup yang Tak Dipertaruhkan, Tak Layang Dimenangkan
15) Dari Penjara ke Penjara: Jejak Ideolog Tan Malaka
16) Kritisisme dan Konsistensi Soe Hok Gie
17) Suatu Siang di Telanaipura, di Penghujung Agustus yang Mencekam
19) Karlina Supelli dan Tunabaca Generasi
20) Ekonom Bersuara Lantang Itu Pergi. Selamat Jalan, Faisal Basri
21) Dedikasi Cendekiawan Ignas Kleden dan Abdul Hadi WM
22) Laku Hidup Romo Iman Budhi Santosa
23) Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan Buya Syafii Ma'arif
24) Warisan Pemikiran Prof. Azyumardi Azra
25) Membaca Pemikiran Kwik Kian Gie


0 Komentar