Jambi, Buku dan Wo Haris

Gubernur Jambi dan Wakil Gubernur Jambi. Sumber: detik.com



Oleh: Jumardi Putra*


- Great leaders are readers -


Assalamualaikum, apa kabar Wo Haris?

Semoga Wo Haris senantiasa sehat, tetap lincah, dan selalu dalam bimbingan sang Qudus sepanjang mengemban amanah sebagai Gubernur Jambi. Ini adalah periode kedua Wo Haris memimpin daerah berjuluk Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. Harapan kami tentu besar: melihat Jambi kian maju, bukan justru melambat. Apalagi dengan kabar merosotnya APBD tahun depan, tantangan di depan mata tentu tak akan mudah. Ibarat lari dalam ruang sempit. Di sinilah peran kaum cerdik cendekia dan pelbagai elemen masyarakat, untuk terus mengawal agar visi-misi yang dulu dijanjikan Wo Haris dan Kiai Abdullah Sani tetap tegak lurus di jalurnya.

Sebagai warga yang juga pengguna Instagram, saya kerap mengamati aktivitas Wo Haris sehari-hari. Entah beranda IG itu Wo kelola sendiri atau oleh tim khusus, saya mafhum betapa padatnya jadwal orang nomor satu di Jambi. Dari mengikuti sidang paripurna di gedung wakil rakyat, koordinasi ke lintas kementerian, hingga pilihan bermalam di dusun-dusun nun jauh di pelosok untuk menyerap aspirasi sambil melaksanakan subuh keliling di suarau dan masjid bersama warga setempat. Bahkan, kepercayaan nasional sebagai Ketua APPSI dan ADPMET kian menambah panjang daftar tugas Wo Haris. Gak kebayang jika kesibukan itu tidak dikelola dengan manajemen waktu yang rapi.

Namun, di sela decak kagum itu, masih ada nada sumbang. Sebagian warga menganggap kesibukan nasional Wo hanyalah sebatas membangun citra. Tapi itulah kritik; bahasa jujur masyarakat saat merasa tidak puas. Semoga "pil pahit" ini justru menjadi energi bagi Wo Haris dan jajaran perangkat daerah di longkup Pemerintah Provinsi Jambi untuk tetap fokus mewujudkan kesejahteraan rakyat Jambi. Sebab bagi warga, kritik adalah sarana menyelamatkan pemimpinnya.

Ada satu hal kecil yang mengusik pikiran saya setiap kali melihat unggahan Wo Haris. Di tengah padatnya aktivitas, saya belum pernah menemukan potret Wo Haris sedang membaca buku—baik di sela tugas maupun saat bersantai bersama keluarga di akhir pekan. Padahal, Wo Haris dan bahkan Ibu Gubernur didapuk sebagai Bunda Literasi, simbol ilmu yang perlu digemaka ke tengah masyarakat luas.

Saya berprasangka baik, mungkin Wo Haris memang rajin membaca namun tak sempat mengunggahnya di kanal IG pribadi. Namun sebagai pencinta buku, saya bermimpi suatu saat melihat Wo Haris berbagi cerita tentang buku-buku apa saja yang sedang dibaca atau buku apa yang membentuk karakter Wo Haris hingga menjadi orang terpandang seperti sekarang.

Kegelisahan ini muncul karena saat saya berkunjung ke kantor-kantor pemerintahan di lingkup Pemprov Jambi, pemandangan yang jamak terlihat hanyalah tumpukan dokumen surat menyurat dan laporan pertanggungjawaban kegiatan. Jarang sekali saya menemukan buku atau jurnal di atas meja para pejabat, dari tingkat Kepala Seksi hingga Kepala Dinas. Saya membatin: "Sebegitu sibukkah mereka hingga tak sempat membaca buku, setidaknya yang berkaitan dengan tugas dan fungsi yang melekat dengan jabatan?"

Saya teringat sebuah tulisan di pojok lemari pegawai di Kantor Gubernur DKI Jakarta: "Bawa isi kepala saat rapat. Bacalah buku sebelum rapat, biar nggak planga-plongo saat ditanya pimpinan." Sebuah kalimat satir, tapi sangat dalam maknanya.

Tradisi membaca buku bukan sekadar hobi, melainkan cara menjaga agar pikiran tetap tajam dan menstimulasi kemungkinan-kemungkinan inovasi. Apalagi, mayoritas pejabat di lingkup Pemprov Jambi adalah lulusan S2 bahkan S3. Menjadikan buku sebagai mitra kerja adalah keniscayaan untuk memperluas cakrawala pengetahuan dalam rangka meningkatan kualitas pekerjaan.

Beberapa hari lalu, saya singgah di Perpustakaan Amir Machmud milik Kemendagri. Di sana, para pegawai memanfaatkan waktu istirahat untuk membaca. Sebuah poster di sana menggugah saya: "Great leaders are readers"—Pemimpin hebat adalah seorang pembaca. Para pendiri bangsa kita, seperti Bung Karno, Hatta, hingga Tan Malaka, membuktikan itu. Mereka adalah pembaca tekun yang melahirkan gagasan besar bagi bangsa ini.

Wo Haris yang saya hormati... Alangkah indahnya jika sesekali di laman media sosial Wo, terselip cerita tentang buku yang sedang Wo baca. Langkah kecil ini akan menjadi teladan bagi para ASN dan generasi muda Jambi. Kita ingin menunjukkan bahwa Jambi dipimpin oleh orang-orang yang merawat nalarnya.

Sebab pada akhirnya, hanya bangsa—dan daerah—yang merawat nalar dan literasinya yang akan mampu bertahan menghadapi ujian zaman yang kian rumit.

Selamat bekerja, Wo Haris. 

 

*Kota Jambi, 5 Oktober 2025.

*Tulisan-tulisan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini:

1) Quo Vadis BUMD PT Jambi Indoguna Internasional (JII) ?

2) Asta Cita dan Beban Berat APBD Jambi 2025

3) Menavigasi Visi APBD Jambi Pasca Efisiensi

4) Quo Vadis APBD Jambi 2019-2024?

5) Ketindihan Teknokratis: Problem Akut Perencanaan Pembangunan

6) APBD Anjlok: Meneroka Kebijakan Dana Transfer 2026

7) Prabowo, Sang Bibliofil

8) Potret Buram Daya Saing Daerah Jambi

9) Anomali Pembangunan Provinsi Jambi 2023

10) Beban Belanja Infrastruktur Jambi MANTAP 2024

11) Di Balik Gaduh Mendahului Perubahan APBD Jambi 2023

12) Medan Terjal Tahun Berjalan APBD Jambi 2023

13) Menyoal Proyeksi APBD Jambi 2024

14) Gonjang Ganjing Defisit APBD Jambi 2023

15Dua Tahun Jambi Mantap Al Haris-Sani, Sebuah Timbangan

16) Setahun Jambi Mantap Al Haris-Sani: Sebuah Timbangan

17) Palu Godam Hakim Artidjo Alkostar

18) Duh Gusti, Makin Astaga Saja Negeri Ini

19) Surat Terbuka untuk Wakil Gubernur Jambi

20) Surat Terbuka Untuk Anggota DPR RI Dapil Jambi

21) Pandemi Covid-19 di Jambi, Surat Terbuka untuk Gubernur Jambi

22) Polemik Angkutan Batu Bara di Jambi dan Hal-hal Yang Tidak Selesai

23) Batu Bara Sebagai Persoalan Kebudayaan, Sebuah Autokritik

24) Nada Sumbang di Balik Pembangunan Puteri Pinang Masak Park

25) Kode Keras "Palu Godam" KPK di Jambi

26) Menguji Kebijakan Anti Korupsi Al Haris-Sani

27) Menyingkap Tabir Disertasi Sekda Provinsi Jambi

0 Komentar