Beratnya muatanku tak seberat rinduku padamu / Aku kerja keras karena aku yakin untuk halalin kamu tak cukup dengan cinta / Anda melucuti waktu untuk penumpukan harta dan kenyamanan. Kami butuh uang melunasi utang / Jangan ditabrak! Utang belum lunas.
Kalimat sarkas sekaligus puitis itu terpampang nyata di pantat beberapa truk yang saya jumpai dalam perjalanan menuju Kabupaten Bungo, belum lama ini.
Jelas, ini bukan kutipan dari novel Pramoedya atau puisi penyair Chairil Anwar. Ini adalah kisah
di sepanjang jalan, lahir dari dunia yang keras dan asap knalpot yang pekat.
Peristiwa menggelitik seperti ini kerap saya dapati saat melintasi
jalanan lintas Sumatra di Jambi. Pengalaman serupa juga berulang ketika suatu
kali saya menempuh perjalanan darat di jalur pantura Jawa—dari Semarang, Blora,
Rembang, Jepara, Kudus, lalu kembali lagi ke kota asal Lawang Sewu itu.
Bagi saya, berpapasan dengan bodi truk bertuliskan kata-kata lucu,
ironis, sensasional, agak nakal, dan penuh intrik adalah hiburan bermutu di
tengah menjemukannya perjalanan. Kita bisa dibuat terperangah, tertawa, atau
justru merasa tersindir seolah-olah kaca spion truk itu sedang memantulkan
borok kehidupan kita sendiri.
Saking gandrungnya dengan fenomena ini, saya sering menguntit truk demi
mendapatkan foto teks dalam posisi ideal. Tak jarang saya harus meminta izin
langsung kepada sang sopir saat mereka menepi. Terang saja, mereka memandang
saya dengan raut wajah heran bercampur curiga. Ngapain juga orang ini
memotret bokong truk? Namun, keheranan itu hampir selalu berakhir dengan
senyuman ramah dan percakapan dengan kisah-kisah tak terduga.
Pengalaman-pengalaman humanis ini seolah menjadi penawar di tengah
sentimen negatif masyarakat terhadap truk belakangan ini. Terutama, jika kita
bicara soal konvoi truk batu bara yang kerap melebihi tonase, merusak jalan publik,
melaju ugal-ugalan, dan tak jarang memakan korban jiwa. Di balik citra sangar
monster jalanan itu, ternyata ada ruang humor yang jenaka.
****
Suatu waktu, saat menumpang mobil travel menuju Bungo, ruang sempit
kendaraan mempertemukan saya dengan cerita serupa dari penumpang lain bernama
Andre. Sambil menahan tawa, Andre membacakan koleksi teks pantat truk yang
pernah ia catat di ponselnya:
“Bila sopir kawin lagi, silakan hubungi nomor HP: 0852….”
“Bukan salah ibu mengandung, salah bapak nggak pakai sarung.”
“Jangan dinikahi bila segel rusak.”
“Sudah lama gak gitu, eh pas gitu gak lama.”
“Cintamu tak semurni bensinku.”
Seketika, seisi mobil travel pecah oleh tawa yang terpingkal-pingkal. Mari kita renungkan sejenak: Kita sebut fenomena ini sebagai apa? Jauh sebelum maskapai penerbangan bertarif rendah merajai transportasi publik, jalan darat adalah urat nadi yang menyimpan sejuta narasi. Sayangnya, estetika jalanan ini perlahan mulai menyusut digilas zaman.
![]() |
| Teks di sebuah truk |
Padahal, jika boleh jujur, beragam teks di badan truk itu memiliki nilai
seni yang otonom dan jujur. Jauh lebih menyegarkan ketimbang kita dipaksa
memandangi baliho produk kecantikan atau poster calon anggota legislatif dan
calon Gubernur/Wali Kota/Bupati yang bertebaran di pinggir jalan. Baliho-baliho
politik itu memajang senyuman artifisial yang menipu, membosankan, dan sarat
kepentingan jangka pendek.
Sebaliknya, para pembuat teks di bodi truk adalah "seniman" yang genius. Mereka piawai mengolah wacana, menangkap realitas yang majemuk, serta memotret problematika ekonomi kaum papa dengan begitu tangkas, penuh satire. Tengok saja jeritan dapur mereka yang dibalut komedi berikut ini:
“Pulang malu tak pulang rindu, demi anak istri.”
“Jangan ditabrak! Utang belum lunas.”
“Bukannya aku tak memperhatikanmu, tetapi aku sibuk bekerja untuk
membahagiakanmu.”
“Aku kerja keras karena aku yakin untuk halalin kamu tak cukup dengan
cinta.”
“Bersatu di pangkalan, bersaing di jalanan.”
Di waktu lain, spiritualitas jalanan pun muncul dalam bentuk satire yang
menggigit: “Ridhlo Illahi, utamakan salat.” Namun, sejurus kemudian
ditimpali oleh teks bertuliskan: “Ngebut adalah ibadah. Semakin ngebut,
semakin dekat dengan Tuhan.” Sebuah sarkasme tingkat tinggi tentang maut
yang mengintai setiap detik.
***
Membaca teks-teks tersebut secara hitam-putih tidak akan memberikan
makna apa-apa. Tindakan itu justru menutup kesempatan kita untuk belajar secara
arif tentang realitas dunia para sopir beserta tenunan pengalaman hidup mereka.
Jalanan adalah dunia yang keras, dan menjadi sopir di tengah situasi
ekonomi yang tidak menentu adalah perjuangan hidup-mati. Luapan perasaan,
kejenuhan, dan realitas profesi mereka tampak benderang di sini:
“Pergi jelas, pulang entah kapan, hasil pas-pasan.”
“Putus cinta sudah biasa, putus rokok merana, putus rem matilah kita.”
“Cintaku berat di bensin.” “2 anak cukup, 2 istri bangkrut. Selingkuh,
oke!”
Jika meminjam kacamata semiotika Roland Barthes, wacana tertulis di
badan truk ini tak lain adalah sistem komunikasi yang sarat pesan. Bokong truk
telah bertransformasi menjadi cermin sosio-kultural masyarakat akar rumput di
Indonesia. Di sana terpampang masalah ekonomi, kriminalitas, godaan kesetiaan,
krisis spiritual, hingga protes terhadap distribusi keadilan yang tidak merata.
Kenyataan-kenyataan kecil yang fundamental ini justru kerap luput dari
perhatian kita yang sok borjuis.
![]() |
| Teks menggelitik di sebuah truk |
Dunia sopir adalah ruang pergulatan emosi yang hebat. Di satu sisi, mereka memikul tanggung jawab besar, meninggalkan anak-istri berhari-hari demi mengantar logistik antarprovinsi bahkan antarpulau. Di sisi lain, kesepian dan godaan di sepanjang jalan—seperti warung remang-remang di bibir aspal—siap menerkam pertahanan iman mereka kapan saja.
Mereka kerap dicap urakan, beraroma keringat pekat, dan kasar. Namun,
saya percaya sebagian besar dari mereka adalah orang-orang baik yang sedang
bertaruh nyawa. Mereka manusia biasa. Mungkin mereka adalah pemuda yang
mendadak jadi tulang punggung keluarga karena desakan calon mertua. Atau,
mereka adalah ayah yang rindu mendengarkan tawa anak-anaknya di rumah, persis
seperti yang digambarkan penyair Rabindranath Tagore:
“Berbahagialah engkau, duduk di tanah, bermain dengan ranting patah
sepanjang pagi.”
***
Teks di bokong truk, pada akhirnya, adalah wajah kita sendiri. Filosofi
hidup yang getir sekaligus tegar tersaji di sana. Meski sering kali lahir dari
keisengan belaka, jika didalami, tulisan-tulisan itu mengandung i'tibar
(pelajaran) yang mendalam.
Maka, rasanya para gubernur, wali kota, bupati, atau para calon anggota legislatif
yang kelak bertarung di Jambi perlu sesekali turun dari mobil dinasnya yang
mewah untuk membaca dan memahami tulisan di pantat truk. Terutama kalimat yang
satu ini:
“Anda melucuti waktu untuk penumpukan harta dan kenyamanan. Kami butuh
uang melunasi utang.”
Tidakkah itu sebuah tamparan keras mengenai ketimpangan sosial yang
nyata? Sebuah protes elegan dari rakyat kecil yang sering kali tak masuk dalam
draf pidato kebijakan para pejabat.
Di atas aspal yang membara, truk-truk itu terus melaju, membawa barang,
membawa rindu, dan membawa kebenaran yang jujur dari pinggiran zaman.
*Esai ini pertama kali terbit di portal Kajanglako.com pada 1 Juni 2020.
*Tulisan-tulisan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini:
1) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana
2) Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya
3) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang
7) Besak Ota
8) Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau
9) Tambah Berisi, Tunduk Ke Bawah
10) Surat Terakhir untuk Mama: Luka di Pelosok Negeri
11) Kehidupan Ini Tak Bisa Kita Biarkan Penuh dengan Ratapan
12) Melipat Waktu di Antara Langit dan Rel Kereta
13) Menapak Senja di Ujung Jabung
14) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi
15) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling
16) Langkah Kaki Haruki Murakami
19) Rektor dan Kepemimpinan Intelektual: Sebuah Autokritik
20) Gundah Bersama Seorang Guru Besar
23) Guru Posting Berdiri, Murid Update Berlari
24) Hasta Siempre, Viejo Querido: Belajar dari Jose Mujica




0 Komentar