Melipat Waktu di Antara Langit dan Rel Kereta

 

Membaca buku dalam pesawat (Jogja-Jakarta, 2025)


Oleh: Jumardi Putra

Perjalanan jarak jauh bukan sekadar perpindahan fisik dari satu koordinat ke koordinat lain. Bagi saya, ia boleh dikata sebagai ruang transisi bergelimang arti. Itulah mengapa, di setiap keberangkatan ke luar kota, sebelum kaki melangkah keluar rumah, buku adalah “teman” yang harus saya pastikan kehadirannya di dalam tas. Minimal satu atau dua buku—biasanya perpaduan antara karya fiksi dan non-fiksi. Jika alfa membawa buku, ada rasa hampa yang mengganjal di sepanjang jalan.

Ada kebahagiaan sederhana yang membuncah saat saya melihat "si fulan" duduk tenang sembari menekur bacaan di ruang tunggu bandara atau peron kereta. Bahkan di ruang tunggu bandara atau stasiun kereta yang penuh dengan kecemasan akan jadwal dan antrean, buku hadir sebagai jangkar. Ia mengubah waktu tunggu yang melelahkan menjadi momen yang produktif, bahkan menghibur.

Terkadang, dari jauh saya mengabadikan momen itu—sebuah perayaan sunyi di tengah kerumunan orang. Di luar negeri, pemandangan ini adalah hal biasa: buku fisik maupun digital menjadi kawan setia di kabin pesawat, stasiun kereta dan banyak ruang publik lainnya. Di tanah air, kita mungkin masih merayap menuju budaya itu, namun melihat seseorang membaca di tempat umum selalu memberi saya harapan tentang peradaban yang terus bertumbuh di negeri ini.

Di ketinggian 35.000 kaki, membaca dalam kabin pesawat berubah menjadi bentuk "isolasi yang disengaja". Begitu pintu kabin tertutup dan mode pesawat diaktifkan, seluruh penumpang secara resmi terputus dari hiruk-pukuk dunia bawah. Tidak ada dering telepon, tidak ada interupsi notifikasi. Barangkali, di sinilah buku menjadi satu-satunya jembatan menuju realitas lain yang bisa kita susuri.

Penulis saat baca buku di Kereta Api (Bandung-Jakarta, 2025)

Selama dalam penerbangan, suara mesin yang monoton menciptakan white noise alami yang justru mempertajam fokus. Di dalam tabung logam yang melayang di atas hamparan awan statis ini, pikiran saya justru berkelana ke tempat-tempat paling jauh, seperti bunyi kalimat Masoon Coley, Professor Emeritus of College of Staten Island, berikut ini "Reading gives us somewhere to go when we have to stay where we are”. Bahkan, buku-buku "berat" atau teori rumit yang biasanya menjemukan untuk dibaca di rumah atau di kantor tempat bekerja, tiba-tiba menjadi begitu renyah untuk dikunyah. Agar tidak mudah jenuh, biasanya saya memutar musik bervolume rendah yang sayup-sayup di telinga. Tidak terasa, galibnya durasi penerbangan selama satu hingga dua jam cukup buat saya merampungkan 150 hingga 250 halaman buku.

Berbeda dengan pesawat, membaca di kereta api sarat dengan ritme dan koneksi. Semacam ada denyut kehidupan yang tertangkap di balik jendela kereta seperti kota yang sibuk, kendaraan yang berebutan melintasi palang pintu rel kereta, hutan yang lebat, sawah yang membentang, hingga kabel-kabel listrik yang berjumpalitan.

Memang, kereta api menawarkan "jeda visual" yang mewah selama dalam perjalanan. Setiap beberapa halaman, saya akan mendongak, menatap dunia yang meluncur cepat di luar sana, lalu kembali masuk ke dalam baris kalimat. Di atas rel, karya fiksi terasa lebih hidup. Kita merasa menjadi bagian dari kisah perjalanan, bukan sekadar benda yang dipindahkan secara instan. Apatahlagi, suara roda yang beradu dengan rel menjadi metronom alami yang menidurkan kecemasan.

Pada akhirnya, baik di ketinggian langit maupun di atas bantalan rel, membaca buku di perjalanan adalah salah satu cara terbaik untuk melipat waktu. Melalui lembar-lembar halaman buku itu, kita sebenarnya telah "sampai" di berbagai tujuan yang jauh lebih indah, bahkan sebelum kaki kita benar-benar menyentuh daratan di tempat tujuan.


*Kota Jambi, 8 Januari 2026.


*Tulisan-tulisan saya lainnya:

1) Surat Cinta untuk Pegiat Literasi Jambil

2) Festival Literasi: Dari Militansi ke Retrospeksi

3)  Menyoal Duta Baca Provinsi Jambi, Kerja Apa?

4) Pengelana Buku Itu Tidak Pernah Pergi, Obituari Nirwan Arsuka

5) Generasi Nol Buku

6) Meresensi Novel dan Menulis Ulang Cerita

7) Di Balik Panggung Pemilihan Bujang Gadis Jambi

8) Komunitas Epistemik dan Kosongnya Kampus Kita

9) Ngadem di Goethe Institut

10) Suatu Siang di Erasmus Huis

11) Merajut Asa di Ruang Belajar Prof H.A.R. Tilaar

12) Ngadem di Freedom Institute Library

(13) Arsip Daerah Jambi di ANRI

(14) Kerja Arsip Berdekatan dengan Kesepian

(15) Pers Jambi (Tanpa) Pusat Dokumentasi

(16) Suatu Siang di Amir Machmud Library

(17) Selalu Ada yang Tersisa dari Jogja: Dari Sorowajan ke Mantijeron

(18) Asa di Jalan Kaliurang Km 12 Jogja

(19) Berburu Buku Lawas di Palembang

(20) Prabowo, sang Bibliofil

(21) Jambi, W Haris dan Buku

(22) Sore Bersama Delegasi KITLV Jakarta-Leiden

0 Komentar