![]() |
| ilustrasi. sumber: objektif.id. |
Oleh: Jumardi Putra
melambat bukan berarti tertinggal; melambat justru memberi ruang bagi detail, proses, dan kenikmatan yang selama ini terlewatkan.
Dunia
hari ini tak ubahnya mesin yang tak pernah berhenti berputar. Dari Senin
hingga Kamis, kita terjebak dalam perlombaan tak berujung; mengejar tenggat, menyusun berbagai inisiatif, menghitung angka, dan menimbun penat yang sering kali lupa kita
basuh. Kita bergerak serba bergegas, hingga tanpa sadar raga melangkah terlalu
jauh, meninggalkan jiwa yang tertatih di belakang.
"Speed
is part of my life," begitulah slogan hari-hari. Waktu (termasuk momen akhir pekan) seolah hanya angka-angka ekonomi yang
tak boleh terbuang. Akibatnya, kita tidak lagi mampu menjalani hidup secara
wajar. Pragmatisme meraja, kulit menjadi lebih penting ketimbang isi, dan
kecepatan dianggap lebih mulia daripada ketepatan.
Walakin, di
tengah napas yang terengah-engah itu, Tuhan mengirimkan Jumat--penghulu segala hari---sebagai pelukan
bagi raga yang letih. Saya menyebutnya hari elok ketiko baik—sebuah jeda
teduh agar manusia tidak kehilangan jati dirinya di tengah deru kehidupan.
Meski semua hari adalah istimewa bagi mereka yang selalu bersyukur, Jumat hadir dengan
panggilan yang jauh lebih syahdu dalam keagungannya.
Bagi lelaki
muslim, panggilan shalat Jumat berjamaah di masjid bukan sekadar rutinitas
untuk menggugurkan kewajiban. Ia boleh dikata ritual untuk "meluruhkan"
daki-daki duniawi yang menempel selama sepekan. Di bawah kucuran air wudhu yang
dingin dan dalam sujud yang khusyuk, kita punya kesempatan untuk berbisik pada
diri sendiri: "Cukup sejenak dengan urusan dunia, sekarang waktunya
kembali pada-Nya”.
Momen
paling menyentuh terjadi saat kepala menunduk dalam barisan shaf yang rapat. Di
sana, sekat-sekat duniawi runtuh seketika. Tidak ada direktur, tidak ada buruh,
tidak ada pejabat, maupun rakyat jelata. Semua duduk bersimpuh di atas hamparan
sajadah yang sama, menghadap Kiblat yang satu--manunggaling kawula Gusti.
Begitu juga
saat khatib naik ke mimbar dan kita diperintahkan untuk diam, Jumat sedang
mengajarkan kemewahan yang mulai langka: menjadi pendengar yang baik. Di
zaman saat semua orang berteriak ingin didengar dan merasa paling benar,
keheningan Jumat adalah penyembuh. Pesan-pesan takwa yang mengalir hadir
seperti kompres bagi hati yang sedang meradang oleh ambisi atau luka kehidupan.
Jumat
adalah waktu di mana "keajaiban" terasa begitu dekat dengan urat
nadi. Inilah saat di mana seorang hamba menumpahkan segala sesak,
membisikkan doa yang paling mustahil, atau sekadar menangis tanpa perlu merasa
malu di hadapan Yang Maha Mendengar.
Hari ini
mengingatkan kita bahwa kita bukanlah angka dalam statistik ekonomi atau robot
dalam sistem korporasi. Kita adalah manusia yang butuh sujud, butuh rehat, dan
butuh dicintai oleh Sang Pencipta.
Jika
hidup adalah perjalanan panjang, maka Jumat adalah halte teduh untuk kita
mereguk kembali air keimanan. Kehadirannya mengajarkan kita untuk menempatkan
"gerak cepat" pada porsinya. Karena terkadang, melambat bukan berarti
tertinggal; melambat justru memberi ruang bagi detail, proses, dan kenikmatan
yang selama ini terlewatkan.
*Kota Jambi, 6 Januari 2026.
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang
3) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana
5) Khutbah Sayur Bening Kang Chairil
6) Kusebut Sebagai Apa Perang Abad Ini?
7) Besak Ota
8) Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau
9) Tambah Berisi, Tunduk Ke Bawah
10) Surat Terakhir untuk Mama: Luka di Pelosok Negeri
11) Kehidupan Ini Tak Bisa Kita Biarkan Penuh dengan Ratapan
12) Melipat Waktu di Antara Langit dan Rel Kereta
13) Menapak Senja di Ujung Jabung
14) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi
15) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling
16) Langkah Kaki Haruki Murakami
18) Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya
19) Rektor dan Kepemimpinan Intelektual
20) Gundah Bersama Seorang Guru Besar
23) Guru Posting Berdiri, Murid Update Berlari


0 Komentar