"Knack" Sang Pendidik: Menemukan Kembali "Ruh" Menjadi Dosen

ilustrasi. sumber: kompas.co


Oleh: Jumardi Putra*

 

Jika memukul terlalu lembut, pisau tak akan jadi; jika terlalu keras, ia akan cepat lelah. Nah, sang pande besi menemukan ritme yang pas bukan lewat teori semata, melainkan lewat rasa.

 

Di negeri ini, profesi dosen seringkali terjebak dalam keriuhan administratif dan hiruk-pukuk survei tentang rendahnya kesejahteraan, sehingga tidak sedikit dari mereka tergerus oleh kerja-kerja sampingan yang “menggiurkan” dari segi pendapatan. Di tengah tumpukan beban kerja dan rutinitas yang menjemukan, ada satu hal yang seringkali luput dari perbincangan kaum cerdik cendekia dewasa ini yaitu kesungguhan menjalani profesi Dosen itu sendiri. Melalui buku Tentang Menjadi Dosen, Fathul Wahid—Rektor UII Yogyakarta dua periode (2018-2022-2026) yang dikenal produktif menulis—mencoba mengajak kita menepi sejenak dari hiruk-pukuk itu.

Jika Anda berharap buku ini menyajikan panduan teknis—laiaknya buku “how to” untuk menjadi dosen terbaik, saya sarankan untuk mengabaikannya, tapi jika anda ingin mengetahui refleksi jernih tentang apa artinya menjadi homo academicus dengan segala tantangannya, terutama bagi mereka yang bergelut dengan “Tridharma perguruan tinggi”--mencakup tiga proses penting yaitu pembuatan pengetahuan (knowledge creation), penyebaran/diseminasi pengetahuan (knowledge dissemination), dan aplikasi atau penerapan pengetahuan (knowledge application), maka bacalah buku ini (dan beberapa karya Fathul Wahid lainnya seperti Perangai Ilmiah Warga Kampus (2024) Menjaga Akal Sehat Kampus (2025) dan Mendesain Universitas Masa Depan (2020)), dengan hati riang gembira dan pikiran terbuka.  

Selain diajak berselancar ke banyak sumber literatur seputar filsafat pendidikan kritis, literasi digital dan etika akademik, anda juga akan menemukan bentangan gagasan tentang pengajaran melebihi dari sekadar tindakan “transfer of knowledge”-- sebuah paradigma yang mensyaratkan penguasaan sekaligus terhadap teknik, ilmu, dan seni. Anda boleh sepakat atau sebaliknya soal gagasan Fathul Wahid dalam buku ini. Itu sangat bergantung dari sisi mana Anda memandang. Bisa tiga-tiganya. Lantas penulis buku ini mengajak pembaca menambahkan ketiga kata tersebut di depan kata "mengajar" menjadi "teknik mengajar", "ilmu mengajar", dan "seni mengajar". Nampaknya semua gabungan kata ini mempunyai nilai rasa yang bisa dicerna dengan logika (Hal 85-92).

Sebagai pembaca, hal yang paling menyentuh bagi saya dari buku terbitan 2018 ini adalah kejujuran proses kreatifnya. Fathul Wahid menuliskan bagian-bagian buku ini di sela-sela ruang tunggu bandara, di atas awan dalam penerbangan, hingga di tengah dinginnya musim dingin saat ia sedang "nyantrik" (menempuh studi) di University of Agder, Norwegia, sekitar akhir tahun 2010.

Dalam sekapur sirihnya, penulis sedari awal menegaskan bahwa buku ini tidak ditulis dengan nada menggurui atau "menggarami samudera" ilmu. Dengan rendah hati, sosok Guru Besar yang populer se Indonesia karena menolak keras dipanggil “Prof” (untuk menyebut menolak feodalisme di kampus) menyatakan bahwa karyanya adalah surat cinta bagi para dosen junior dan calon dosen. Terlebih lagi, menggunakan kata ganti "saya", buku ini terasa seperti obrolan hangat di meja kopi, di mana pengalaman belasan tahun direkonstruksi agar tidak sekadar menjadi praktik yang dianggap taken for granted.

Karya Fathul Wahid (Nulisbuku.com, 2018)

Salah satu poin paling filosofis dalam buku ini adalah konsep knack—sebuah istilah yang dipinjam dari filsuf Tiongkok untuk menggambarkan ketangkasan yang lahir dari hati (sebuah tendensi untuk melaksanakan sesuatu, sebuah ketangkasan) (Amstrong, 2009)). Fathul mengibaratkannya seperti pande besi; jika memukul terlalu lembut, pisau tak akan jadi; jika terlalu keras, ia akan cepat lelah. Nah, sang pande besi menemukan ritme yang pas bukan lewat teori semata, melainkan lewat rasa.

Bagi Fathul, mengajar adalah perpaduan antara ilmu, teknik, dan seni. Tidak heran bila sosok intelektual publik ini menekankan bahwa menjadi dosen adalah tentang pengetahuan tersirat (tacit knowledge) yang sulit dijelaskan namun dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa. Di samping itu, ia menyadari Dosen harus terus berselancar di atas perubahan zaman tanpa kehilangan prinsip utama. Ambil misal, ia menyebutkan bahwa gaya mengajar tahun 80-an tidak bisa dipaksakan pada generasi milenial, terlebih lagi Gen Z.

Buku ini juga menantang pembaca untuk menemukan role model. Apakah kita ingin menginspirasi seperti John Keating dalam film Dead Poet Society, sebuah film Holywood dari 1989 dengan Robin Williams sebagai aktor utamanya. Pengajar di film tersebut membuka cakrawala baru dalam belajar dengan semangat membebaskan. Atau, jika Anda di pendidikan dokter, ada baiknya melirik kembali film Patch Adams dari 1998 dengan aktor yang sama. Atau mungkin Scent of a Woman yang dibintangi oleh Al Pacino. Seringkali role model akan membantu dalam memilih gaya dan menunjukkan siapa kita. Kalau ada anak muda yang mengatakan bahwa role model yang disukainya adalah Hitler, Slobodan Milosevic, atau Pol Pot, maka dengan mudah Anda bisa menebak anak muda macam apa dia.

Sebaliknya jika dia mengatakan, role modelnya, adalah Nabi Muhammad dan Imam Ali, Anda tahu harapan apa yang bisa Anda gantungkan kepadanya. Dengan kata lain, filosofi menjadi seorang dosen juga akan sangat mempengaruhi bagaimana peran dimainkan. Fathul Wahid termasuk yang setuju, bahwa tujuan pendidikan pada hakekatnya adalah membentuk manusia. Semua aspek harus disentuh, dalam konteks perguruan tinggi, mulai dari (1) membantu pengembangan individu mahasiswa, (2) meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap aturan-aturan sosial dan moral, dan (3) mentransmisikan pengetahuan (Halstead, 2004). Ketiga hal ini dicapai dengan implementasi ketiga prinsip dalam pendidikan, mulai dari (1) tarbiyah (to grow, increase), (2) ta'dib (to be refined, disciplined, cultured), dan (3) ta'lim (to know, be informed, perceive, discern) (Halstead, 2004). Ketiga prinsip ini, dalam pandangan Fathul Wahid, dapat diterjemahkan ke dalam turunan turunan yang masuk ke dalam kurikulum, termasuk metode dan lingkungan pembelajaran.

Melalui pendekatan lain, UNESCO memperkenalkan empat pilar pendidikan (Delor et al., 1996), yaitu (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, dan (4) learning to live together. Sejurus hal itu, tujuan tertinggi pendidikan (learning to live together) adalah menjadikan manusia berkembang yang didasarkan pada pemahaman terhadap lingkungannya, sejarahnya dan nilai-nilai tradisi dan spiritualnya. Dengan demikian, diharapkan dapat terbentuk semangat baru yang membimbing pada kesadaran akan meningkatnya interdependensi dan tidak lagi mungkin manusia hidup terisolasi dan tercerabut dari konteks sosial (Hal 2-6).

Publikasi atau Mati Mendadak

Senafas dengan benang merah isi buku ini, saya juga membaca karya Fathul Wahid lainnya berjudul Perangai Ilmiah Warga Kampus (UII, 2024) dan Menjaga Akal Sehat Kampus (UII, 2025). Sebagaimana saya menemukan gagasan kritis-konstruktif dari kedua buku tersebut, juga bisa kita temukan di bagian lain dalam buku ini, bahwa penulis menyentil realitas dunia akademik dengan tajam. Ia bahkan berkelakar begini, "Ketika seorang dosen merasa tidak penting menulis, maka telah hilangnya separuh kedosenannya". Menulis di sini tidak hanya karya ilmiah, tapi juga artikel populer.


Slogan Publish or Perish (Publikasi atau Mati) diangkat bukan sekadar untuk mengejar angka kredit, melainkan sebagai upaya meninggalkan jejak pemikiran. Tanpa tulisan, seorang profesor sekalipun akan segera terhapus dari memori zaman. Namun, Fathul juga memberikan peringatan keras mengenai integritas, terutama terkait plagiarisme, korban jurnal predator, “mabuk” gelar akademik minim kontribusi, (berumah di atas "awan"), dan fabrikasi data yang ia anggap sebagai kecacatan moral paling dasar dalam dunia akademik. Nah, pada bagian ini, Fathul benar-benar membuka “borok” dunia kampus yang mungkin bagi masyarakat di luar kampus menganggap dunia kampus zero masalah.


Pada kasus plagiarisme dan pabrikasi data, Fathul Wahid menerangkannya secara gamblang dan bahkan merigidkan contoh kongkrit dalam bentuk tabel. Menurutnya, plagiarisme dapat terjadi dengan atau tanpa mengutip sumber atau tulisan lain. Situs www.plagiarime.org memberikan gambaran tingkatan tingkat plagiarisme dengan metafor yang sangat menarik Kecurangan yang tidak kalah buruk dari plagiarisme adalah pabrikasi data. Data dipalsukan supaya hasil penelitian terlihat meyakinkan. Beragam modus bisa dilakukan, mulai tidak pernah melakukan penelitian laboratorium atau lapangan, tiba-tiba data lengkap. Atau melakukan pengumpulan data sekadarnya, sedang yang lain disesuaikan. Atau mungkin mengubah data yang sudah dikumpulkan supaya sejalan dengan kerangka pikir atau teori atau hipotesis yang sudah dirancang sebelumnya (Hal 79-84).

Buku ini ditutup dengan sebuah kutipan indah dari cendekiawan Johann Wolfgang von Goethe, mungkin bisa membantu membingkai niat atau mungkin obsesi mereka yang ingin menjalani misi menjadi seorang pengajar, seorang dosen: “A teacher who can arouse a feeling for one single good action, for one single good poem, accomplishes more than he who fills our memory with rows and rows of natural objects, classified with name and form.”

Pada akhirnya, Tentang Menjadi Dosen karya Fathul Wahid ini boleh disebut sebagai pengingat bagi siapa saja yang memilih jalan sunyi pendidikan. Bahwa menjadi dosen bukan sekadar profesi untuk mencari penghidupan, melainkan sebuah ikhtiar untuk menghidupkan kemanusiaan. Sekali lagi, dalam format yang gurih sekaligur mengalir—dengan tetap merawat tradisi ilmiah—buku ini relevan dibaca oleh calon dosen atau dosen muda di kampus agar kembali menemukan "ruh" yang mungkin sempat redup di tengah tumpukan laporan beban kerja.

 

*Kota Jambi, 2 April 2026.

*Berikut tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:

1) Rektor dan Kepemimpinan Intelektual: Sebuah Autokritik

2) Gundah Bersama Seorang Guru Besar

3) Komunitas Epistemik dan Kosongnya Kampus Kita

4) Darurat Demokrasi: Memaknai Persinggungan Cendekiawan dan Politik

5) Ketindihan Teknokratis: Problem Akut Perencanaan Pembangunan

6) Wajah Buram Kampus, Buku dan Uang Palsu

7) Ilusi Yang "Terhormat"

8Kegenitan Intelektual

9) Kemalasan Intelektual

10) Rumah Pemikir, Inkubator Pemimpin

11) Merawat Tradisi Akademik: Oase dari Mandalo

12) Sarjana Organik

13) Karlina Supelli dan Tunabaca Generasi

14) Ekonom Bersuara Lantang Itu Pergi. Selamat Jalan, Faisal Basri

15) Dedikasi Cendekiawan Ignas Kleden dan Abdul Hadi WM

16) Laku Hidup Romo Iman Budhi Santosa

17) Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan Buya Syafii Ma'arif

18) Warisan Pemikiran Prof. Azyumardi Azra

19) Membaca Pemikiran Kwik Kian Gie

0 Komentar