In Memoriam Datuk Bandar Paduko Batuah

Alm. Datuk Sulaiman Hasan


 Oleh: Jumardi Putra*

Gawai saya bertubi-tubi menerima pesan pendek via aplikasi WhatsApp dengan isi senada dan foto sosok lelaki yang sama: H. Sulaiman Hasan, tokoh adat Melayu Jambi bergelar Datuk Bandar Paduko Batuah, telah berpulang ke haribaanNya (Jumat, 5 Juni 2020). 

Sejenak saya terdiam. Dada terasa sesak. Kota Jambi, berjuluk Tanah Pilih Pusako Betuah, kembali kehilangan salah seorang tokoh adat berdedikasi. Belum genap setahun budayawan Junaidi T. Noor mangkat, kini sang Datuk menyusul. Di tengah keheningan itu, kenangan bersamanya menyeruak, berkelindan dengan rasa bersalah: mengapa dalam waktu yang lama saya tak kunjung menjenguk beliau?

***

Sebagai orang terdekat, rasanya belum. Tetapi hampir tiga tahun, 2011-2014, saya intens berjumpa dan berdiskusi dengannya. Semasa beliau sehat, saya kerap berkunjung ke rumahnya di Lorong Batuah Kelurahan Mayang Mangurai, Kecamatan Kotabaru. Agaknya cukup bagi saya mengenal sosok pria kelahiran Desa Teluk Pandak, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo, 31 Desember 1942 ini.

Ingatan saya melayang ke tahun 2012. Di Bawah kepemimpinan Azwan Zahari selaku Ketua Umum Dewan Kesenian Jambi (DKJ), bersama Datuk Sulaiman Hasan, Dr. Maizar Karim, sejarawan Fakhrudin Saudagar, dan Datuk Herman Basyir, kami menginventarisir ribuan Seloko Adat Melayu Jambi. Sejurus hal itu, Datuk bukan hanya gemar bicara tentang hukum adat, melainkan sejarah dan sastra daerah dengan binar mata yang penuh gairah. Kini, ketika ingatan itu berputar kembali, saya tersadar bahwa dari ketiga orang dalam tim itu, kini hanya tersisa Maizar Karim yang sehari-hari bekerja sebagai pengajar di FKIP Universitas Jambi. Yang lainnya telah mendahului kita. Allahuyarhuum. 

Pengalaman serupa ketika penulis bersama Datuk Sulaiman Hasan dan Dr. Ali Muzakir (Dosen UIN STS Jambi), diundang Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, mengikuti dialog Melayu se-Asia Tenggara pada 3-5 Desember 2012 di Kota Pekanbaru. Meski kondisi fisiknya tak lagi muda, berambut tipis putih seluruh, beliau tetap semangat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Galibnya di Jambi, di forum itu Datuk menggunakan pakaian khas Jambi. Yang menarik buat saya, tepat saat panel diskusi mengenal Sejarah Melayu oleh panelis yang datang dari berbagai Universitas di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, salah satunya yang saya kenal yaitu sejarahwan Dr. Bondan Kanumuyoso dari Universitas Indonesia, menyampaikan jaringan pelayaran Melayu. 

Agaknya, karena tidak tersebut Jambi dalam kertas kerja maupun penyampaian panelis, Datuk dengan semangat menggunakan sebaik mungkin sesi pertanyaan. Dalam kesempatan itu beliau tidak bertanya, tapi justru menyampaikan pendapatnya yang menempatkan Jambi dalam konteks sejarah pelayaran Melayu. Sesuatu yang amat penting menurutnya, apatahlagi merujuk hasil seminar internasional Melayu Kuno tahun 1992 di Kota Jambi semasa kepemimpinan Gubernur Jambi Abdurrahman Sayoeti. 

Soal isi pendapat Datuk ketika itu, galibnya saya ketahui sepanjang berdiskusi antara sesama pegiat sejarah di Jambi, sah-sah saja berbeda dengan disertai argumentasi dan data masing-masing. Poin saya adalah, betapa Datuk Sulaiman Hasan, dengan penuh percaya diri menyampaikan pendapat di muka forum yang dihadiri para ahli saat itu.

Semangat Datuk juga tercermin selama mengikuti Forum Uncang Budaya (FUB) yang ditaha DKJ secara rutin dalam rentang waktu 2012 sampai 2014. Diksi “Uncang” ini pertama kali disematkan oleh budayawan Junaidi T. Noor saat diskusi berlangsung di ruang rapat kantor Jambi Ekspress. Diskusi ini beberapa kali digelar di banyak tempat, tapi umumnya di sekretariat DK-Jambi di sayap kiri Gedung Olah Seni (GOS) Kotabaru.

Melalui forum ini berbagai topik tentang sejarah dan budaya Jambi dibentangkan oleh pemantik dari dalam maupun luar negeri, sebut saja seperti Elisabeth D. Inandiak dari Prancis, Dr. Jonathan Zilberg dari Amerika Serikat, budayawan Jafar Rassuh, antropolog Dr. Adi Prasetidjo (Yogyakarta), antropolog dan Direktur Yayasan LKiS Hairus Salim (Yogyakarta), pengacara senior kelahiran Tungkal, Kamal Firdaus (kini mukim di Yogyakarta), antropolog Prof. Muntolib (Guru Besar UIN STS Jambi), dan peneliti sejarah Tanjung Jabung Barat, Syamsul Bahri. Pada momen lainnya, masih di DK-Jambi, juga pernah hadir intelektual-aktivis Roem Topatimasang dan Mahmudi (keduanya sesepuh INSIST Yogyakarta).

Alm. Datuk. H. Sulaiman Hasan (1942-2020)

Masih segar dalam ingatan saya, datuk tak pernah absen duduk di sudut ruangan sayap kiri Gedung Olah Seni (GOS) Kotabaru--sekretariat DKJ. Menariknya lagi, dalam sebuah diskusi, di hadapan para peneliti seperti Elisabeth D.Inandiak dari Prancis atau Dr. Jonathan Zilberg dari Amerika, Datuk Sulaiman tidak canggung menanggapi padangan outsider itu secara kritis. Apalagi ketika berbicara tentang genealogi Melayu Jambi, suaranya mengalun runtut, penuh percaya diri. 

Kontribusi Datuk Sulaiman bukan sekadar berbagi pengetahuan sekaligus pengalaman di ruang-ruang diskusi maupun kegiatan formal pemerintah daerah baik Kota Jambi maupun Provinsi Jambi. Beliau termasuk salah seorang yang ikut merumuskan konsep di balik Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2014 tentang Penetapan Hari Jadi Kota Jambi dan Perda Nomor 4 Tahun 2014 tentang Lembaga Aadat Melayu (LAM) Kota Jambi. Bahkan, ketegasan dan kebijaksanaannya pulalah yang ikut memediasi polemik kepemimpinan Kesultanan Jambi yang baru. Kendati begitu, ia mengamini bahwa persoalan ini belum sepenuhnya tuntas. Pada kesempatan lain akan saya tuliskan soal ini.

Bagi mereka yang mengenalnya, Datuk Sulaiman Hasan adalah "Kamus Adat Berjalan." Jam terbangnya di lapangan tak diragukan. Ketika hukum positif menemui jalan buntu dalam menyelesaikan konflik antarwarga di beberapa daerah, sosok Datuk hadir membawa kedamaian melalui pendekatan adat.

Kini, praktisi adat yang menyimpan seluruh pengetahuan di dalam laku hidup dan ingatannya seperti beliau, bisa dihitung dengan jari di Bumi Pucuk Jambi Sembilan Lurah ini. Kepergian Datuk meninggalkan lubang besar sekaligus tantangan bagi kita: siapakah yang akan menuliskan isi kepala para sesepuh yang kian berkurang ini?

***

"Beliau selalu membuka diri. Sebagian hidupnya diperuntukkan bagi adat dan budaya Melayu Jambi. Sakitlah yang membuatnya bisa istirahat di rumah"

Kalimat itu terucap lirih dari bibir Nurmi Yakub, istri tercinta almarhum, saat saya bertakziah ke rumah duka, Jumat 5 Juni 2020. Datuk terserang stroke sejak akhir 2014. Penyakit itulah yang memenjarakan suaranya hingga tak bisa lagi berbicara leluasa. Namun, sebelum raga itu melemah, rumah mereka selalu ramai. Mulai dari peneliti asing hingga pejabat pemerintah datang silih berganti; ada yang meminta pandangan hukum adat, ada pula yang sekadar meminta dibuatkan sebait pantun.

Ketegasan Datuk juga membekas di hati Usman, Ketua BPH Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Jambi. Banyak yang tidak tahu bahwa sejak tahun 1999, Datuk Sulaiman telah pasang badan memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Jambi hingga ke level nasional, tanpa memandang sekat suku dan agama. "Beliau adalah pelaku adat yang tegas dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi," kenang Usman bersamaan dengan penulis takjiah ke kediaman almarhum.

Jumat, 5 Juni 2020, sekira pukul 15.10 WIB, kisah perjalanan sang penjaga adat Melayu Jambi ini berakhir di usia 78 tahun. Datuk dimakamkan selepas Magrib pada hari yang sama. Prosesi yang terkesan terburu-buru itu sempat menyisakan pertanyaan bagi beberapa kerabat dan mereka yang mengenal datuk, yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Namun, keputusan keluarga untuk segera mengebumikkannya ke tanah adalah bentuk cinta yang paling ikhlas.

"Keluarga ikhlas menerima. Maafkan bila ada kesalahan Datuk semasa hidup. Insya Allah kebaikan beliau tak akan pernah digantikan dengan yang lain oleh Allah SWT. Terima kasih atas doa para kerabat, sekalipun tak sempat menjenguk dan mengantar almarhum sampai ke liang kubur," ucap sang istri, menutup pembicaraan kami malam itu.

Malam mulai larut ketika saya melangkah keluar dan meninggalkan pekarangan  rumah duka. Dalam perjalanan pulang yang sunyi, saya teringat bait puisi menggugah dari penyair Mesir, Abd Al-Rahman Shukri:

"Hidup tak lain dari kematian demi kematian melulu. Kebaikan dan kesenangan hanya pinjaman, lekas berlalu."

Selamat jalan, Datuk Sulaiman Hasan. Pakaian adatmu kini telah berganti kain kafan yang putih bersih, namun seloko dan ilmu yang kau tebarkan akan tetap hidup, mengakar di tanah Jambi yang kau cintai.

Bahagialah di sisi Allah SWT. Al-Fatihah. Amin.

*Tulisan ini terbit pertama kali di rubrik Sosok portal kajanglako.com pada 6 Juni 2020.


*Tulisan-tulisan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini:

1. Tapak-tapak Sejarah Terbentuk Provinsi Jambi (1904-1957)

2. Membaca Sabeni, Mengenal Marzuki Usman

3.Napak Tilas Sejarah Jambi: Warisan Usman Meng di Usia Senja 

4. Hanafie, Gubenur Pertama Jambi Yang Gagal Dilantik

5. Sosok Lain Sebelum A. Manap Resmi Dilantik sebagai Pj Gubernur Jambi 1966 

6. Kontroversi Penggantian Residen Sagaf Yahya di Jambi 1946

7. Si "Bulldozer" Masjchun Sofwan, Gubernur Jambi 1979-1989

8. Sri Soedewi: Belahan Jiwa Masjchun Sofwan (1979-1982)

9. Djamaluddin Tambunan dan Jambi Yang Menanti Jamahan (1974-1979)

10. Kisah Puteri Gubernur Jambi dan Bung Karno

11. Kisah Sepeninggalan Abdurrahman Sayoeti

12.Dilema Residen Inu Kertapati dan Pesannya Untuk Rakyat Jambi

13. Mengenal Penjabat Gubernur Jambi (1957-2024)

14. Sejarah Gedung Wakil Rakyat Provinsi Jambi

15. Haji Hasan, Orang Gedang dari Empelu

16. Pikiran 65 Tokoh Untuk 65 Tahun Provinsi Jambi

17.  Kisah Datuk Mayloedin dan Buku-Bukunya

18. Mukty Nasruddin, Pejuang dan Penulis Jambi Yang Dilupakan

19) Mengenal Pejuang Jambi H.A. Thaib Hanafiah

19) Prematur: Kritik Atas Buku Biografi Abdurrahman Sayoeti

19) Pucuk atau Se(pucuk) Jambi Sembilan Lurah?

20) Syamsul Watir dan Pers Jambi (Tanpa) Pusat Dokumentasi

21) Sekelumit Sejarah Pers di Jambi

22) Menimbang Pejuang Hukum asal Jambi di Yogyakarta: Kamal Firdaus

23) Menimbang Budayawan Junaidi T Noor

24) Setelah Sejarahwan Fakhruddin Saudagar Tak Ada Lagi

0 Komentar