Oleh:
Jumardi Putra
Waktu
seolah melambat ketika sore itu melingkupi sebuah kediaman sederhana di sudut
lorong di belakang kantor cabang Bank Mandiri, di Jalan Kolonel Abunjani, Selamat,
Telanaipura, Kota Jambi. Selasa, 28 Juli 2020, persis pukul 15.25 WIB, udara seolah
menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar kehangatan cuaca sore. Ada kerinduan
yang telah mengendap selama lebih dari dua dekade, menunggu untuk ditunaikan.
Di ruang
tamu itu, dua sosok sepuh duduk saling berhadapan. A.K. Mahmud, tokoh pers
Jambi berusia 81 tahun, melangkah masuk menembus lorong waktu untuk menemui
Asrie Rasyid, mantan Kepala Kantor Wilayah Penerangan Provinsi Jambi periode
1984–1988 yang kala itu telah genap berusia 92 tahun. Dua puluh tahun lebih
mereka dipisahkan oleh kesibukan masing-masing, namun dalam sapuan pandang
pertama sore itu, segalanya runtuh: kekokohan ingatan, kehangatan persahabatan,
dan kenangan masa muda yang senantiasa menyala.
"Nostalgia
lah..." ujar Pak
A.K. Mahmud pelan, sebuah kalimat singkat yang menyimpan bobot puluhan tahun
sejarah.
Sore itu,
saya beruntung berada di sana bersama fotografer dan seniman Sakti Alam Watir.
Di antara aroma teh hangat dan guratan garis-garis usia di wajah kedua tokoh
tersebut, kami menyaksikan sebuah nostalgia yang membakar sunyi—sebuah
perbincangan syahdu tentang dinamika pers Jambi sejak paruh 1950-an hingga
1980-an. Usia mereka berdua terpaut jauh dengan saya, sehingga saya lebih
banyak mendengar dan sesekali melempar pertanyaan.
Dedikasi di Masa Perintisan
Pak Asrie
Rasyid, pria kelahiran 28 April 1928, mengenang masa-masa awal keterlibatannya
dengan dunia tinta. Jauh sebelum menahkodai Kanwil Penerangan Riau (1980–1984)
dan Jambi, jiwanya telah tertempa di lapangan.
"Sebenarnya kewartawanan saya terasah ketika
saya bergabung di bagian penerangan Militer di Tungkal tahun 1946-an," kilahnya. Suaranya tenang, namun
menyimpan gema keteguhan masa lalu. Beliau memutar kembali memori saat menjadi
koresponden Pers Biro Indonesia Aneta (PIA) di bawah pimpinan Djamaludin Adinegoro pada 1950-an, serta
jurnalis Koran Haluan pimpinan Darwis Abbas.
|
Di masa itu, Jambi belum memiliki lembaran surat kabarnya sendiri. Warga membaca kabar dunia dari kertas-kertas koran yang melintasi lautan dan daratan—dari Waspada (Medan), Haluan (Padang), Batanghari Sembilan dan Suara Rakyat Sumatera (Palembang), hingga Star Weekly, Keng Po, dan Pedoman yang datang jauh dari Jakarta.
"Saya melihat, mengamati, dan bersinggungan
langsung dengan wartawan di Jambi sejak paruh 50-an. Salah duanya, ya, Pak A.K.
Mahmud ini dan almarhum Syamsul Watir. Mereka adalah orang-orang yang
menyerahkan hidupnya dengan penuh dedikasi untuk dunia pers Jambi," kenang Pak Asrie sembari menatap
kawan lamanya dengan binar mata yang redup namun penuh kebanggaan.
Tinta Dihidupi oleh Pengorbanan
Pak A.K.
Mahmud, pria kelahiran 4 Mei 1939, menyambung cerita dengan senyum nostalgia
yang tipis. Beliau mengingat betapa sulitnya melahirkan sebuah berita pada masa
itu. Tanpa mesin cetak di tanah sendiri, surat kabar lokal lahir dalam bentuk
stensilan yang dicetak di luar daerah.
Perjuangan
itu mencatat sejarahnya sendiri: lahirnya Harian Peristiwa (1956), Harian/Mingguan
Berita (1958), Warta Indonesia dan Warta Massa (1963), hingga
koran Ampera (1966) dan Independent (1973).
"Selain menjadi wartawan LKBN Antara, saya
juga aktif sebagai Pemimpin Redaksi Duta Masyarakat pimpinan Mahbub Djunaidi.
Saya juga ikut mendirikan Koran Ampera tahun 1966. Banyak cerita, banyak duka,
menyertai tumbuh dan tumbangnya koran-koran di Jambi masa itu," tutur Pak A.K. Mahmud.
Namun, di
atas semua romantika sejarah itu, ada satu kenyataan paling sunyi yang
terungkap sore itu: menjadi wartawan di masa perintisan bukanlah tentang
mencari penghidupan, melainkan memberi kehidupan.
Untuk
menerbitkan lembaran berita, tak jarang mereka menyisihkan uang dari dompet
pribadi yang sudah menipis. Agar dapur rumah tangga tetap mengepul, para
perintis ini merangkap pekerjaan menjadi koresponden media nasional—seperti
almarhum Syamsul Watir di Kantor Berita Nasional Indonesia (KNI), dan
Pak A.K. Mahmud di LKBN ANTARA, Duta Masyarakat, serta Sinar
Harapan. Mereka menukar peluh dan ketenangan demi memastikan suara publik
tetap terdengar.
Menjelang senja, Sakti Alam Watir menyampaikan bahwa pertemuan ini bukan sekadar kunjungan silaturahmi. Ini adalah bagian dari ikhtiar merawat ingatan—merangkai kepingan sejarah pers di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah sekaligus menyongsong pameran kenangan 30 tahun wafatnya sang ayah, H. Syamsul Watir, pendiri Harian Jambi Independent.
Kami
sempat mengabadikan momen itu dalam sebuah foto. Saya berdiri di tengah, diapit
oleh dua tokoh sejarah di usia mereka yang telah senja, namun
semangatnya tak pernah lapuk.
Tepat ketika
pamit dan melangkah keluar dari kediaman Pak Asrie Rasyid, saya menyadari satu
hal: sejarah pers Jambi tidak ditulis di atas kertas koran yang kini telah
menguning saja. Sejarah itu terpatri pada ketulusan, pengorbanan, dan dedikasi
tanpa syarat dari orang-orang seperti Pak Asrie Rasyid dan Pak A.K. Mahmud.
Pertemuan sore itu adalah sebuah monumen sunyi tentang keabadian niat baik—sebuah warisan nilai yang akan terus bergema melampaui zaman. Semoga.
*Berikut tulisan-tulisan saya lainnya:
1) Syamsul Watir dan Pers Jambi (Tanpa) Pusat Dokumentasi
2) Si "Bulldozer" Masjchun Sofwan (Mengenal Gubernur Jambi 1979-1989)
3) Srie Soedewi, Sosok Cemerlang di Balik Gubernur Jambi Maschun Sofwan
4) Jambi Yang Menanti Jamahan, Buah Pikiran Djamaludin Tambunan
5) Hanafie, Gubernur Jambi Terpilih (Gagal) Dilantik
6) Haji Hasan, Orang Gedang dari Empelu
7) A. Mukty Nasruddin, Penulis Sejarah Jambi Yang Dilupakan
8) Annabel Teh Gallop, Jambi dan Filologi di Zaman Gawai
9) Mengenal (Penjabat) Gubernur Jambi 1957-2024
10) Emi Nopisah, Dari Ajudan Gubernur sampai Sekretaris DPRD Provinsi Jambi
11) 65 Pemikiran Tokoh untuk 65 Tahun Provinsi Jambi
12) Jambi Tempo Dulu, Catatan Sepulang dari Pameran HUT Provinsi Jambi
13) Kisah Mayloedin ADN dan Buku-bukunya
14) Sosok dan Pemikiran Junaidi T. Noor
15) Mengenang Sakti Alam Watir
16) Selamat jalan, Bung Nurul Fahmy
17) Firman Lie dan Karya Seni di Ruang Publik
18) Kamal Firdaus: Ia Yang Masih Merisaukan Penegakan Hukum di Republik Ini
19) Langkah Sunyi Bung Firdaus
20) Djang Aisjah Muttalib, Penulis Sejarah Sarikat Abang di Jambi 1916
21) Jejak H. A. Thaib Hanafiah, Pejuang Jambi
22) Kisah Putri Gubernur Jambi Djamaludin Tambunan Bersama Bung Karno

0 Komentar