![]() |
| Pameran Lukisan "Mata Hati' Soekarno |
Oleh: Jumardi Putra*
Seni bukan hanya tentang estetika, tetapi tentang resonansi rasa.
Perjalanan dari hiruk-pikuk pusat Kota Yogyakarta menuju Jalan Padokan Baru No. B789, Jogonalan Lor, Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Bantul, memberikan transisi yang menenangkan (Jumat, 12 Juni 2026). Saat meninggalkan kebisingan Malioboro dan memasuki jalanan yang lebih lengang di selatan Yogyakarta, suasana berubah menjadi lebih kontemplatif—sebuah pembuka yang pas sebelum menyapa karya seni. Tujuan saya kali ini adalah Le Gareca Art Gallery, tempat di mana pameran bertajuk "Mata Hati Soekarno" digelar mulai dari 6 Juni sampai 6 Juli 2026.
Saat melangkah masuk ke dalam galeri, setelah sebelumnya melewati ruang café, saya langsung disambut oleh atmosfer yang hening namun penuh "suara". Pameran bertajuk "Mata Hati Soekarmo" ini bukan sekadar pajangan visual para perupa generasi 1970 sampai 1990an, melainkan ajakan untuk melihat melampaui apa yang tampak di permukaan kanvas.
Setiap sapuan kuas para perupa dalam pameran lukisan ini seolah-olah
menangkap fragmentasi emosi. Judul "Mata Hati" sendiri mengisyaratkan
bahwa karya-karya yang dipamerkan menuntut pengunjung tidak hanya menggunakan
mata fisik, tetapi juga kejernihan batin untuk meresapi setiap goresan.
Entah itu melalui pemilihan palet warna atau teknik pengerjaan,
"Soekarmo" dalam pameran ini mampu menghadirkan narasi yang personal.
Ada rasa intim yang terbangun, seolah sang seniman sedang membisikkan rahasia
atau membagikan memori yang selama ini terkunci di balik kanvas.
Meninggalkan Le Gareca Art Gallery setelah menikmati pameran "Mata Hati Soekarmo" lebih dari satu jam, terasa ada sesuatu yang dibawa pulang. Bukan berupa cendera mata fisik, melainkan sebuah perspektif baru tentang Bung Karno--sosok multidimensi--dan Bumi Manusia Indonesia dengan segala paradoksnya.
| Penulis di Pameran "Mata Hati" Soekarno |
Berikut ini saya sertakan secara lengkap pengantar kurator Suwarno Wisetrotomo dalam pameran Mata Hati Soekarno:
Soekarno atau Bung Karno (6 Juni 1901-21 Juni 1970), Proklamator, Presiden
pertama (1945-1967) Republik Indonesia, "hadir" dalam ingatan bangsa
Indonesia dari generasi ke geransi, dengan segenap "pengalaman
mengalami" masing-masing. Pameran ini mengundang perupa dari generasi
1970an hingga 1990an. Tajuk "Mata Hati Soekarno" dihasratkan untuk
menggali sudut pandang, cara pandang, dan cara ungkap para perupa dalam
melihat, memahami, meresepsi, sosok paling ikonik dalam sejarah Indonesia kiwari.
Diksi "mata hati" membidik dua aspek sekaligus. Pertama, ingin
menyigi seberapa jauh dan dalam para perupa memahami sosok Soekarno dalam
konteksnya sebagai manusia, sebagai Proklamator, sebagai Presiden, dan sebagai
inspirator bangsa. Kemudian bagaimana para perupa menghadirkannya kembali dalam
bentuk seni visual (lukisan, grafis, gambar). Dalam hal ini adalah pemahaman
terhadap "mata hati" Soekarno yang digali melalui timbunan referensi
yang kini mudah diakses. Kedua, ingin melihat seberapa dalam dan tajam "mata
hati" perupa dalam memahami sosok Soekarno yang multidimensional.
Kedalaman dalam pemahaman akan berimplikasi pada ketajaman dalam memandang dan
memaknai tema, dalam hal ini "Mata Hati Soekarno".
Tak mudah. Tetapi selalu terbuka peluang untuk memeroleh sudut pandang
yang spesifik, dalam, luas, dan tajam. Tema ini menantang, bagaimana kita semua
(perupa, kurator, kritikus) mampu keluar dari jebakan klise. Karena, Soekarno
juga Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Kartini, Tjokroaminoto, Sri Sultan Hamengku
Buwono IX, Pramudya Ananta Toer, dll merupakan "kitab" tanpa tepi,
selalu menantang dan menggairahkan untuk dibaca serta dimaknai. Siapa pun dapat
mengerahkan "mata hati" untuk menggali lebih jauh, luas, dan dalam,
ihwal pengalaman terhadap kekaguman, pengalaman terhadap duka (mourning) atau
melankolia (Sigmund Freud), kehilangan, kerinduan, atau jouissance (Jacques
Lacan), dan lain-lain.
Soekarno adalah nama, sosok, peristiwa, dan gairah yang tak pernah selesai "dibaca". Sepanjang hidupnya, ia adalah pikiran, ucapan, tindakan, baik terkait kehidupan pribadi, negara, bangsa Indonesia, dan dunia internasional. Ia adalah air, tanah, angin, dan api; menghidupi, menumbuhkan, menebarkan, dan menyalakan harapan. Hingga setengah abad lebih sepeninggalnya ia terus dikenang dengan beragam cara.
Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji/Aku sudah cukup lama dengar bicaramu/dipanggang di atas apimu, digarami lautmu/... Aku sekarang api, aku sekarang laut... (Chairil Anwar, Persetujuan Dengan Bung Karno). Nyala api adalah semangat dan harapan. Laut adalah kekuatan dan kerendahan hati.
Pameran ini
semacam ikhtiar, kita tetap merawat dan mencintai Indonesia seperti yang
diteladankan Soekarno, apa pun situasinya.
***
Puluhan seniman yang terlibat dalam pameran lukisan ini adalah Agus Kamal, Agus Noor, Agus Tbr, Alit Ambara, Amir Hamzah, Astuti Kusumo, Bambang Herras, Bambang Pramudyanto, Bambang Sudarto, Budi Ubrux, Dyan Anggraini, Erica Hestu Wahyuni, Gunawan Bonaventura, Hari Budiono, Harris Purnomo, Irwanto Lentho, Iqi Qoror, Ivan Sagita, Joko Gundul Sulistiono, Josua Tobing, Jumadi Alfi, Mahdi Abdullah, Melodia, Nano Warsono, Nasirun, Ong Hari Wahyu, Probo, Pupuk Dp, Putu Sutawijaya, Risdianto, Ronald Manulang, Setyo Priyo Nugroho, Sigit Santoso, Soegian Noor, Suharmanto, Susilo Budi Purwanto, Syahrizal Pahlevi, Totok Buchori, Ugo Untoro, Utin Rini, Wasito Amnan, Wayan Cahya, Wiyono, Yaksa Agus, Yuli Kodo, Yusuf Ferdinand Yudhistira, dan Yuswantoro Adi.
*Yogyakarta, 13 Juni 2026.
*Tulisan-tulisan berikut ini merupakan catatan perjalanan saya di Jogja:
(2) Ada Sesuatu di (dalam) Jogja
(3) Setengah Abad Arena: Perjalanan yang Tidak Mudah
(4) Selalu Ada yang Tersisa dari Jogja: Dari Sorowajan ke Mantijeron
(5) Asa di Jalan Kaliurang Km 12 Jogja
(6) Jogja yang Dirindukan, Jambi Tempat Berpulang
(7) Jogja Terbuat dari Rindu, Pulang dan Angkringan
(8) Cerita dari Desa Tirnonirmolo, Bantul
9) Jejak Bung Karno di Hotel Phoenix Jogja 1946
10) Suatu Siang di Rumah Jenderal Soedirman

0 Komentar