Sore di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta



Bagian dalam bangunan utama Masjid Gedhe. Sumber: keratonjogja.id



Oleh: Jumardi Putra*

Jarum jam di pergelangan kiri saya menunjuk pukul 14.40 WIB. Ada jeda sekitar dua puluh menit sebelum seruan Ashar memanggil. Usai membasuh diri dengan kenangan di Museum Dewantara Kirti Griya—rumah penuh sahaja milik Ki Hadjar Dewantara—tokoh pendidikan nasional—saya memacu kendaraan menuju sebuah titik yang menjadi poros langit dan bumi bagi masyarakat Jogja yaitu Masjid Gedhe Kauman. Masjid ini terletak di kawasan Alun-Alun Utara, tepatnya di Jalan kampung Kauman, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta dan barat daya Pasar Beringharjo.

Matahari siang itu terasa begitu terik, seolah ingin menguji keteguhan hati. Sengatannya membakar kulit, mengingatkan saya pada Jogja dua dekade silam saat saya masih merajut mimpi sebagai mahasiswa di Kota Pendidikan ini. Namun, Jogja yang saya sapa kali ini terasa berbeda. Wajah kota kini kian sesak. Sepanjang Jalan Taman Siswa, Sultan Agung, hingga Titik Nol Kilometer, ruko-ruko dan hotel tumbuh bak jamur di musim hujan, menciptakan rimba beton yang memadati pandangan.

Ada sedikit rasa sesak di dada melihat magnet wisata yang begitu kuat terkadang mengaburkan sisi tenang kota ini. Di tengah keriuhan Malioboro yang kini bersolek, saya membatin; semoga deru pembangunan di Sleman dan Kota tak membuat kita lupa pada saudaranya di Gunungkidul dan Kulon Progo yang masih meniti jalan sunyi kesejahteraan.

Langkah saya akhirnya terhenti di depan gerbang megah Masjid Gedhe Kauman. Inilah jantung spiritual Keraton Yogyakarta yang lahir dari rahim sejarah kerajaan Islam di tanah Jawa. Berkat usia dan nilai historisnya, masjid ini ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Peraturan Menteri Budaya dan Pariwisata RI Nomor PM.89/PW.007/MKP/2011. Berdasarkan catatan sejarah, masjid ini telah berdiri selama lebih dari 252 tahun, tepatnya sejak Ahad Wage, 29 Mei 1773 Masehi (6 Rabi'ul Akhir 1187 Hijriah).

Penulis sebelum masuk ke bagian utama bangunan masjid Gedhe

Begitu memasuki pelataran, suasana bising jalanan seolah luruh. Saya melihat sekelompok anak sekolah sedang berlatih baris-berbaris, sementara warga lokal melintas dengan langkah yang tenang, seakan waktu di sini bergerak lebih lambat.

Setelah melepas sepatu, saya melangkah menuju tempat wudu masjid ini. Air yang menyentuh kulit terasa sejuk, memadamkan sisa panas matahari di luar sana. Di serambi, beberapa warga tampak leyeh-leyeh—menikmati angin semilir dalam kedamaian yang bersahaja.

Begitu memasuki ruang utama, saya tertegun.

Kemegahan yang terpancar bukan berasal dari kemilau emas, melainkan dari kayu-kayu tua yang tetap gagah melintasi zaman. Arsitekturnya mengingatkan saya pada Masjid Agung Demak yang saya kunjungi dua puluh tahun lalu. Mata saya terpaku pada empat pilar utama (saka guru) yang menyangga atap berbentuk tajug lambang teplok. Atap bersusun tiga itu bukan sekadar pelindung dari hujan, ia adalah simbol perjalanan spiritual manusia: Syariat, Tarekat, dan Makrifat—atau dalam bahasa kalbu yang lebih sederhana: Iman, Islam, dan Ihsan.

Tempat imam Masjid Gedhe Kauman. Sumber: Penulis
Tempat untuk Khatib. Sumber: Penulis

Di barisan terdepan, saya memandang maksura, tempat khusus bagi Sultan untuk bersujud. Secara keseluruhan, ada 48 pilar yang berdiri tegak di sana, seolah menjadi saksi bisu jutaan doa yang telah melangit dari tempat ini selama 252 tahun.

Saya mengabadikan beberapa sudut melalui kamera gawai. Bukan sekadar untuk pamer di media sosial, melainkan sebagai pengingat bagi diri di masa depan bahwa saya pernah bersimpuh di sini, mengagumi kebesaran Sang Khalik melalui tangan-tangan manusia masa lalu. Dalam hati, saya melangitkan doa sederhana, semoga Allah mengizinkan saya kembali lagi ke sini, suatu hari nanti.

Tak lama kemudian, seorang takmir yang telah sepuh mengumandangkan azan. Suaranya tidak menggelegar, namun terasa teduh merasuk ke kalbu, menandai masuknya waktu Ashar. Satu per satu jamaah mulai mengisi saf dengan rapi. Saat imam melafazkan "Allahu Akbar," dunia di luar sana—dengan segala hiruk-pikuk dan kemacetannya—mendadak hilang. Yang tersisa hanyalah saya seorang hamba yang dhaif.


*Yogyakarta-Jambi, 15-19 Desember 2025. Salah satu referensi tentang filosofi Masjid Gedhe bisa dibaca lebih lanjut melalui link berikut ini: https://www.kratonjogja.id/tata-rakiting/10-kagungan-dalem-masjid-gedhe/

*Tulisan-tulisan berikut ini merupakan catatan perjalanan saya di Jogja:

(1) Kembali Ke Jogja, Lagi

(2) Ada Sesuatu di (dalam) Jogja

(3) Setengah Abad Arena: Perjalanan yang Tidak Mudah

(4) Selalu Ada yang Tersisa dari Jogja: Dari Sorowajan ke Mantijeron

(5) Asa di Jalan Kaliurang Km 12 Jogja

(6) Jogja yang Dirindukan, Jambi Tempat Berpulang

(7) Jogja Terbuat dari Rindu, Pulang dan Angkringan

(8) Cerita dari Desa Tirnonirmolo, Bantul

9) Jejak Bung Karno di Hotel Phoenix Jogja 1946

10) Suatu Siang di Rumah Jenderal Soedirman

0 Komentar