Fatamorgana Kimiawi

ilustrasi. sumber: surau.co


Oleh: Jumardi Putra*


....terlalu sibuk mencari obat penawar di rak-rak apotik selama ini, sampai ia lupa memeriksa apa yang tersimpan di dalam hatinya sendiri


Pagi itu, kota tempat Andi tinggal masih diselimuti kabut tipis yang merayap di sela atap rumah-rumah tetangga. Andi terbangun dengan perasaan tidak enak - bukan hanya karena demam yang membuat dahinya berpeluh, tapi juga karena rasa penat yang menimbulkan sesak di dadanya. Ada semacam kecemasan yang menggantung, sebuah rasa sakit yang tidak bisa diobati dengan stetoskop. Andi merasa harus mencari obat untuk mengembalikan semangatnya yang mendadak sirna.

Jam menunjukkan pukul 08.45 WIB. Andi memberitahu istrinya bahwa ia ingin pergi mencari obat. Ia kemudian memacu sepeda motornya menyusuri jalan menuju sebuah apotik ternama berjarak sekitar sepuluh kilometer dari kediamannya. Di apotik, Andi melihat rak-rak yang tertata rapi, penuh dengan kotak-kotak obat dari berbagai merek. Andi berdiri di depan konter, menatap apoteker yang sibuk dengan resep-resep di tangannya.

"Apakah ada obat untuk rasa gundah dan lelah?” tanya Andi dengan polos.

Apoteker itu menatap Andi melalui kacamata tebalnya, lalu tersenyum tipis. “Mungkin tubuh bapak butuh multivitamin dosis tinggi. Tapi jika Anda mencari sesuatu yang spesifik untuk rasa 'gundah', apotik kami tidak punya stoknya."

Setelah percakapan itu, Andi keluar dari apotik dengan tangan kosong. Ia kemudian pergi ke apotik kedua, ketiga, hingga ketujuh. Di setiap apotik, pemandangannya hampir sama - deretan botol sirup berwarna-warni dan orang-orang yang mengantri dengan wajah lesu. Andi mulai merasa seperti seorang pengelana di padang pasir yang mencari oase, tapi setiap kali ia memasuki apotik, yang ditemukannya hanyalah fatamorgana kimiawi.

Menjelang siang, matahari mulai menyengat. Keringat dingin bercampur dengan debu jalanan. Badan Andi merasa semakin lelah. Bukan hanya karena kondisi fisik, tapi juga karena rasa frustrasi yang memuncak. Bagaimana mungkin di kota yang menjanjikan kebahagiaan ini tidak ada satu pun obat yang bisa menyembuhkan satu jiwa yang sedang lesu?

Kelelahan akhirnya memaksa Andi menyerah. Ia memarkirkan motornya di bawah pohon rindang di pinggir sebuah danau yang menjadi favorit warga kota ini. Tidak jauh dari situ, Andi melihat sebuah bangku kayu tua yang catnya sudah mengelupas dimakan usia. Andi menghempaskan tubuhnya ke bangku itu, menyandarkan kepala, dan memejamkan mata. Ia membiarkan suara kecipak air yang bersumber dari keramba ikan di bibir danau menjadi latar belakang dari kegundahannya.

Saat itu, suara tawa yang melengking memecah lamunannya. Andi membuka mata dan melihat sepasang lelaki dan wanita dewasa yang sedang bercakap-cakap penuh canda dan sesekali terdengar keluhan yang membuat mereka saling menguatkan satu sama lain. Menariknya, saya mendengar mereka berdua jatuh dalam obrolan tentang berbagai jenis mobil yang mereka lihat di jalan. Kendati mereka tidak memilikinya,--kecuali dua motor yang memperlancar pekerjaannya sehari-hari--mereka tetap bersukacita mempercakapkan hal itu.

Andi tertegun. Ia melihat kebahagiaan yang begitu wajar, sebuah pandangan yang tidak membandingkan dengan kehidupan orang lain. Tawa mereka berdua seolah-olah memiliki frekuensi yang mampu meruntuhkan tembok kecemasan yang sejak pagi ia bangun.

Andi teringat sebuah nasihat dari seorang guru ngaji di kampung dan sebuah kalimat yang pernah ia baca di sebuah buku di sebuah kios buku jadul. “Hati yang gembira adalah obat.” Andi menyadari bahwa tubuh memiliki caranya sendiri untuk merawat kesehatan, sembari terus-menerus memupuk rasa syukur, canda-tawa, dan penerimaan terhadap pelbagai momen yang datang.

Andi mulai menata ulang pikirannya. Rasa sakit yang ia rasakan sejak pagi mungkin bukan karena kekurangan zat besi atau vitamin, tapi karena jiwanya yang terlalu lama dikerangkeng oleh pelbagai tenggat waktu, berkas-berkas kantor yang menjemukan, dan ambisi-ambisi yang melelahkan. Andi terlalu sibuk mencari penawar di rak-rak apotik selama ini, sampai ia lupa memeriksa apa yang tersimpan di dalam hatinya sendiri.

Disaksikan air danau yang tenang, Andi menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya, lalu mengembuskannya perlahan. Andi mencoba menyusuri kembali memori-memori kecilnya di kampung halaman yang menyenangkan. Perlahan tapi pasti, rasa berat di pundaknya mulai menyusut. Panas di dadanya mulai mendingin, digantikan oleh kehangatan yang lembut.

Dunia di sekitarnya tidak berubah, tapi sudut pandang Andi mulai bergeser. Andi tidak lagi merasa sebagai korban dari keadaan yang sakit, tapi merasa sebagai pemilik dari kunci kesembuhannya sendiri.

Andi mulai tegak dari bangku di pinggir danau itu dengan tenaga yang entah datang dari mana. Andi memutuskan untuk pulang. Di sepanjang jalan pulang, Andi tidak lagi mengumpat pada keadaan di luar dirinya. Ia mencoba menikmati warna langit dan melempar senyum pada pedagang kaki lima yang berpapasan dengannya.

Ketika sampai di depan rumah, Andi melihat istrinya sedang melipat pakaian yang menumpuk di pelanta, anak-anak sedang bersenda gurau di halaman depan bersama temannya. Andi menyapa anak-anaknya, lalu memeluk istrinya. Itulah “obat” terbaik buat dirinya.

Malam itu, Andi tidur dengan nyenyak tanpa bantuan pil tidur satu pun. Andi menyadari bahwa usahanya berjam-jam mencari obat ke berbagai apotik tidak sepenuhnya sia-sia. Justru perjalanan di bawah terik itu memberinya sebuah pelajaran yang jauh lebih berarti - bahwa kesehatan bukanlah ketiadaan penyakit dalam tubuh, melainkan kehadiran kebahagiaan yang muncul dari dalam hati. Dan kebahagiaan itu, untungnya, tidak pernah kehabisan stok.

* Sosok Andi dalam tulisan ini bukan nama sebenarnya, melainkan pengembangan ide oleh penulis sendiri setelah membaca buku-buku bergenre self-empowerment yang saya koleksi. Semoga bermanfaat.

*Tulisan-tulisan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini:

1) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana

2) Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya

3) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang

5) Ilusi "Yang Terhormat"

7) Besak Ota

8) Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau

9) Tambah Berisi, Tunduk Ke Bawah

10) Surat Terakhir untuk Mama: Luka di Pelosok Negeri

11) Kehidupan Ini Tak Bisa Kita Biarkan Penuh dengan Ratapan

12) Melipat Waktu di Antara Langit dan Rel Kereta

13) Menapak Senja di Ujung Jabung

14) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi

15) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling

16) Langkah Kaki Haruki Murakami

18) Ketindihan Teknokratis

19) Rektor dan Kepemimpinan Intelektual: Sebuah Autokritik

20) Gundah Bersama Seorang Guru Besar

21) Kegenitan Intelektual

22)Kemalasan Intelektual

23) Guru Posting Berdiri, Murid Update Berlari

24) Hasta Siempre, Viejo Querido: Belajar dari Jose Mujica

25) Menemukan Kembali "Ruh" Menjadi Dosen

0 Komentar