![]() |
| ilustrasi. sumber: beritanasional.com |
Oleh: Jumardi Putra*
Libur Idulfitri 1447 H telah
usai. Rutinitas kantor kembali menjemput. Saya memulai pagi hari ini dengan mengantar
anak-anak ke sekolahnya masing-masing. Begitu juga istri kembali ke sekolah
melakoni tugasnya sebagai guru.
Tak ada sesuatu yang
benar-benar baru di bawah kolong langit ini yang bisa kubagikan kali ini,
kecuali menyadari bahwa hidup yang kita jalani selalu berpijak di garis batas.
Kita sering berdiri di antara harapan yang melambung dan realitas yang kerap
kali tak serupa dengan keinginan. Namun, bukankah harapan itu pula yang membuat
hidup ini layak diperjuangkan? Setidaknya, optimisme mendekatkan kita pada
kemungkinan-kemungkinan terbaik. Saya sepakat dengan para bijakbestari yang mengatakan
bahwa hidup memang tidak pernah ideal, tetapi lari dari kenyataan bukanlah
jawaban yang kita cari.
Sepanjang perjalanan mengantar
anak-anak ke sekolah, saya menyaksikan arus kendaraan para pegawai berseragam Pemda
serba bergegas. Senin pagi ini tak ubahnya dentang lonceng yang memanggil
mereka kembali ke dalam struktur birokrasi dan rutinitas yang kaku—kembali
menghadap tumpukan berkas dan pendar layar monitor.
Di antara deru mesin,
terselip rona getir di tengah usaha sebagian orang melawan “Monday Blues”,
setelah melewati libur panjang lebaran. Sebagian mungkin memacu kendaraan demi apel pagi sekaligus memastikan diri masuk dalam "radar" atasan di tempat kerja atau sekadar menggugurkan
kewajiban pada rezim absensi elektronik seperti lazimnya. Sementara urusan
kinerja nomor sekian (untuk menyebut ngggak penting-penting amat). Fenomena ini
sulit disangkal, namun saya memilih untuk tidak larut dalam sinisme. Pada
akhirnya, ini adalah pilihan personal: apakah kita ingin menjadi bagian yang
berkontribusi dan berdampak signifikan di tempat kita diamanatkan bekerja, atau sekadar
seonggok badan berseragam yang menunggu tanggal gajian dan tambahan
penghasilan.
Bersamaan hal itu, dunia kini
justru sedang gelisah hebat. Perubahan iklim bukan lagi sekadar dongeng
pengantar tidur, sementara gejolak ekonomi dan pergeseran geopolitik kian tak
menentu. Eskalasi konflik di Timur Tengah—imbas Perang Israel-Amerika Serikat
(bersama sekutu) atas Iran memicu krisis energi global, terutama di Asia dan
Afrika, akibat gangguan pasokan dari Selat Hormuz. Bahkan, Filipina menetapkan
darurat energi nasional, sementara negara lain seperti Vietnam, Kamboja,
Thailand, Pakistan, Bangladesh, dan Sri Lanka mengalami antrean SPBU,
kelangkaan energi, dan kenaikan harga drastis. Kelangkaan pasokan energi ini
jelas berdampak sistemik, merembet dari lantai industri hingga ke tungku dapur
rumah tangga.
Di tanah air, mulai dari
Presiden hingga para menteri mungkin masih menyuarakan optimisme. Namun, efek
domino dari ketidakpastian global bukanlah sesuatu yang mengada-ngada. Sangat
mungkin ketidakpastian itu akan mengetuk pintu rumah kita tanpa permisi,
membawa tantangan yang lebih berat dari yang kita duga.
Di tengah karut-marut jagad politik
global, kita tidak boleh menyerah pada keputusasaan. Negara (pemerintah) musti
hadir, karena itu memang tujuan daripada republik ini didirikan. Segendang sepenarian,
mari kita semua kembali pada hal-hal yang hakiki yaitu gigih bekerja sebagai
bentuk syukur yang paling nyata. Dan yang terpenting dari segalanya, adalah terus
merawat serta meruwat nurani agar tetap menyala di tengah kegelapan zaman.
*Kota Jambi, 30 Maret 2026.
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang
3) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana
5) Di Balik Tren Malas Kerja Profesional Muda
6) Kusebut Sebagai Apa Perang Abad Ini?
7) Besak Ota
8) Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau
9) Tambah Berisi, Tunduk Ke Bawah
10) Surat Terakhir untuk Mama: Luka di Pelosok Negeri
11) Kehidupan Ini Tak Bisa Kita Biarkan Penuh dengan Ratapan
12) Melipat Waktu di Antara Langit dan Rel Kereta
13) Menapak Senja di Ujung Jabung
14) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi
15) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling
16) Langkah Kaki Haruki Murakami
19) Rektor dan Kepemimpinan Intelektual: Sebuah Autokritik
20) Gundah Bersama Seorang Guru Besar
23) Guru Posting Berdiri, Murid Update Berlari


0 Komentar