Pulang ke Tanah Perentak: Mengenang Ismanto




Oleh: Jumardi Putra


Ia benar-benar pergi. Kamis malam, pukul 20.55 WIB, 26 Maret 2026, sebuah kabar duka memutus keheningan grup perpesanan WhatsApp kantor, tempat saya bekerja. Kullu nafsin dzaikatul maut. Kita hanya bisa tabah menerima segala yang tiba.


***

Berita duka itu datang sehari setelah sebelumnya saat saya dalam perjalanan dari Bungo menuju Kota Jambi. Sebuah cuplikan video memperlihatkan kondisi fisiknya yang menurun drastis saat dirawat di RSUD Mattaher. Meski sejak awal tahun saya melihat badanya mulai ringkih, berita lelayu itu tetap menghujam di relung hati terdalam.

Kenangan saya tentang Ismanto boleh dikata bukanlah tentang keluh kesah penyakit. Di kantor, perjumpaan kami selalu dibasuh senda gurau. Selain logat bicara, ia adalah sosok humoris yang lebih memilih mentransmisikan semangat hidup daripada mengumbar beban domestik. Seolah ia ingin berkata bahwa setiap orang punya bebannya sendiri-sendiri, maka hadirilah kawanmu dengan kegembiraan.

Intensitas pertemuan kami mungkin tidak sering, namun pengalaman bekerja dalam satu "tim" telah memahat kenangan yang mengabadi. Jika tak silap, kurun waktu 2015-2017, ia adalah staf pendamping Komisi IV DPRD Provinsi Jambi, sementara saya ditugaskan sebagai salah satu tenaga ahli di komisi tersebut sejak 2012 bersama Prof. Eka Warna dan selanjutnya diganti Drs. Jafar Rassuh.

Hampir seluruh urusan administrasi komisi berjalan tangkas di tangannya. Bersama almarhum Pak Amin sesama pendamping, Ismanto adalah tandem "tua-muda" yang tepat ketika itu. Kehadiran Ismanto, mengisi kekosongan setelah sebelumnya staf pendamping Komisi IV yaitu saudara Dimas Suharyanto yang sama-sama cekatan bekerja, pindah tugas ke salah satu perangkat daerah di SETDA Provinsi Jambi. Sebagai sosok periang, tak jarang aktivitas kami, terlebih lagi dalam suasana perjalanan dinas ke luar daerah dipenuhi banyolan, selain tentu saja pelbagai kisah tak terduga bercitarasa Nusantara. Di tengah tugas-tugas DPRD yang menguras energi, tawanya menjelma obat mujarab. Dari situ menyeruap sebuah pelajaran bahwa hidup tidak selalu harus dipikul dengan kening berkerut.

Waktu bergulir, namun riangnya tak luntur. Meski tugasnya berpindah ke Komisi I lalu berlanjut ke Komisi II hingga tutup usia, interaksi kami tetap terjaga melalui berbagai kerja Panitia Khusus (Pansus). Di balik kesederhanaannya sebagai ASN di lingkungan SETWAN DPRD Provinsi Jambi, ada sisi yang perlu dicatat bahwa Ismanto merupakan seorang Doktor Ilmu Hukum lulusan Universitas Jambi (2021).

Acapkali ia menerima "gugatan kecil" berupa gurauan dari sejawat kantor: Untuk apa sekolah tinggi-tinggi jika hanya mengurusi administrasi kantor setiap hari? Ismanto tak pernah marah menerima pertanyaan sejenis itu. Ia tetap rendah hati, sembari menceritakan kepada saya usaha seriusnya menjalani masa kuliah hingga menulis disertasi tentang hal yang sangat penting yaitu Studi Perbandingan Eksistensi KPK RI dan Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia.

Di saat kepercayaan publik pada lembaga KPK menurun, pemikiran Ismanto tentang independensi lembaga anti-rasuah itu justru menemukan relevansinya untuk dicakap-renungkan lagi. Kegigihannya meraih gelar tertinggi akademik di tengah kemapanan sebagai seorang ASN adalah teladan bahwa belajar adalah tugas kemanusiaan yang tak mengenal garis finis. Tekadnya itu sekaligus contoh kongkrit bagi orang-orang di lingkungan terdekatnya.

***

Jumat, 27 Maret 2026, di hari yang elok, Ismanto dilepas menuju tempat peristirahatan terakhirnya dalam usia 48 tahun (1978-2026) di Desa Bukit Perentak, Kecamatan Pangkalan Jambu, Kabupaten Merangin. Pusaranya mungkin jauh dari hiruk-pikuk Kota Jambi, berjarak dari kalangan sejawat kantor dan tetangga yang mengenalnya sehari-hari. Namun, jarak itu tak akan mampu menghapus kebaikan-kebaikan kecil yang telah ia tanam.

Dunia mungkin kehilangan satu raga, tapi kita yang ditinggalkan mewarisi pelajaran berharga: bahwa hidup yang berarti tidak selalu diukur dari kemegahan status formal-prosedural--jabatan yang melekat--, melainkan dari seberapa tulus kita berbagi kisah baik dalam keseharian yang biasa. Dengan kata lain, Ismanto bukanlah orang yang mencari panggung atau pengakuan sambil menepuk dada dengan gelar akademik yang ia sandang. Sebaliknya, ia adalah sosok yang hadir dalam bentuk-bentuk yang paling sederhana yakni terus menjadi pembelajar sekaligus menjadi pendengar yang jarang memotong pembicaraan, yang membuat siapapun merasa dimengerti hanya dengan duduk di sampingnya.

Selamat jalan, Sahabat. Engkau bukan manusia sempurna, sebagaimana saya dan kita semua. Tentu ada khilaf dan dosa sepanjang melakoni hidup ini dalam banyak peran. Namun, terima kasih telah menunjukkan bahwa menjadi orang baik bisa sesederhana menjadi diri sendiri. Bahagialah di sana, sang periang. Kami yang masih diberikan hak hidup ini hanya menunggu giliran, entah kapan itu pastinya.  

 

*Kota Jambi, 27 Maret 2026.

*Tulisan-tulisan terbaru saya lainnya di link berikut ini:

1) Paradoks Daya Saing Daerah Jambi 2025

2) Anomali MCP dan SPI KPK RI untuk Provinsi Jambi 2025

3) Indeks Pelayanan Publik Jambi 2025, Sebuah Autokritik

4) Menata Kota Jambi, Menolak Romantisasi Peran Kaum Muda

5) Kilas Balik Jambi 2025: Catatan Akhir Tahun

6) Standar Pelayanan Minimal (SPM) Jambi 2025, Quo Vadis?

7) Potret Buram Pendidikan Jambi

8) Turbulensi APBD Jambi 2026

9) APBD Anjlok: Meneroka Kebijakan Dana Transfer 2026

10) Reformasi Birokrasi Pemerintah Provinsi Jambi

11) Quo Vadis BUMD PT Jambi Indoguna Internasional (JII) ?

12) Imajinasi Jambi 2045: Sebuah Autokritik

13) Transformasi Kepemimpinan Pengeloaan Keuangan Daerah Jambi

14) Asta Cita dan Beban Berat APBD Jambi 2025

15) Menavigasi Visi APBD Jambi Pasca Efisiensi

16) Quo Vadis APBD Jambi 2019-2024?

17) MCP 2024 Merosot, Al Haris Berang

19) Anomali Pembangunan Provinsi Jambi 2023

20) Beban Belanja Infrastruktur Jambi MANTAP 2024

21) Di Balik Gaduh Mendahului Perubahan APBD Jambi 2023

22) Medan Terjal Tahun Berjalan APBD Jambi 2023

23) Menyoal Proyeksi APBD Jambi 2024

24) Gonjang Ganjing Defisit APBD Jambi 2023

25) Potret Buram Daya Saing Daerah Jambi 2022

27) Setahun Jambi Mantap Al Haris-Sani: Sebuah Timbangan

28) Palu Godam Hakim Artidjo Alkostar

29) Duh Gusti, Makin Astaga Saja Negeri Ini

30) Surat Terbuka untuk Wakil Gubernur Jambi

31) Surat Terbuka Untuk Anggota DPR RI Dapil Jambi

32) Pandemi Covid-19 di Jambi, Surat Terbuka untuk Gubernur Jambi

33) Polemik Angkutan Batu Bara di Jambi dan Hal-hal Yang Tidak Selesai

34) Batu Bara Sebagai Persoalan Kebudayaan, Sebuah Autokritik

35) Nada Sumbang di Balik Pembangunan Puteri Pinang Masak Park

36) Kode Keras "Palu Godam" KPK di Jambi

37) Menguji Kebijakan Anti Korupsi Al Haris-Sani

0 Komentar