73 Tahun Emha Ainun Najib

Emha Ainun Najib atau Cak Nun. Sumber: strategi.id


Oleh: Jumardi Putra

Dua hari lagi (27 Mei 2026), Emha Ainun Najib atau biasa disapa Cak Nun genap berusia 73 tahun. Kendati raga Cak Nun kini tidak seenergik dulu sewaktu beliau berkeliling dari desa ke desa, mengisi pelbagai forum pengajian dan kebudayaan serta menengahi beragam konflik antar kelompok sosial, pancaran energinya, tulisan-tulisannya, dan jutaan benih kesadaran yang telah beliau tanam di dada anak-anak muda Maiyah telah tumbuh menjadi pohon-pohon yang rindang. Usia panjangnya bukan sekadar penanda biologis, melainkan monumen berjalan dari sebuah perjalanan spiritual, kultural, dan intelektual yang tidah mudah di negeri ini (untuk menyebut jalan sunyi--merujuk pandangan penulis asal Inggris Ian L. Betts).

Di tengah bangsa yang sering kali gagap membedakan mana yang esensial dan mana yang sekadar kemasan, Cak Nun tetap bersetia seperti seorang muazin. Pria kelahiran Jombang-Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini tidak hanya mengumandangkan azan shalat dan bershalawat untuk Nabi Agung Muhammad SAW, tetapi "azan kemanusiaan"—sebuah seruan tanpa henti untuk memanggil kembali jiwa-jiwa manusia Indonesia yang sering kali tersesat di dalam labirin modernitas, politik elektoral, dan puritanisme beragama.

Sulit menyangkal—bahkan mustahil—untuk mengelompokkan Cak Nun ke dalam satu kotak profesi tunggal. Ia sosok bersegi banyak, untuk menyebut multitalen. Ia seorang budayawan? Ya, puisi-puisi dan aksi teatrikalnya adalah kanvas estetika yang tajam penuh satir. Apakah beliau seorang kiai atau ulama? Ya, jutaan orang merapat ke majelisnya untuk meneguk setetes kearifan spiritual dalam bingkai ketauhidan, keindonesiaan dan keindonesiaan. Apakah beliau seorang pemikir sosial-politik? Selain puluhan kumpulan buku esai-esainya, sejarah mencatat perannya yang krusial pada transisi Reformasi 1998, menjadi salah satu tokoh kunci di balik layar yang menemani mundurnya Presiden Soeharto tanpa pertumpahan darah yang lebih besar. Hal ini bisa dibaca melalui dua bukunya berjudul Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto: 2,5 Jam di Istana (terbit Juli 1998) dan Mati Ketawa Cara Refotnasi (terbit September 1998).

Walakin, Cak Nun selalu menolak label-label tersebut. Ia lebih memilih menyebut dirinya sebagai "pelayan yang bersetia pada tugas kemanusiaannya."

Kemandirian berpikir sekaligus ketegasan bersikap inilah yang membuatnya menjadi sosok universal. Ia bisa duduk sama rendah dengan para pemulung, buruh tani, dan kaum marginal, namun di saat yang sama mampu berdiri sama tinggi dengan presiden, para jenderal, tokoh antar umat beragama, dan intelektual kelas kakap. Tidak hanya itu, ia bersama KiaiKanjeng, kelompok musik yang setia menemani, Cak Nun merajut harmoni menggunakan gamelan berlaras jangkep (mikrotonal) untuk menjembatani perbedaan iman, suku, dan kelas sosial di pelbagai pelosok daerah hingga merambah ke banyak negara.

Kearifan Cak Nun

Selain buku-buku karya Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer, Nurcholis Madjid atau Cak Nur, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dan Buya Syafii Maarif, saya juga mengoleksi hampir 40 buku karya Cak Nun berupa sedikit cerita pendek, kumpulan puisi dan lebih banyak esai-esai serta ulasan orang lain tentang sosok dan pemikiran Cak Nun.

Membaca pemikiran Cak Nun boleh dikata membaca manifesto dekonstruksi atas kebekuan berpikir. Setidaknya, tiga pilar utama dalam samudera pemikiran Cak Nun yang tetap relevan bagi Indonesia hari ini:

Pertama, dekonstruksi beragama. Dalam buku-bukunya maupun pelbagai simpul-simpul Maiyah, Cak Nun kerapkali menguliti “formalisme beragama” yang kaku. Ia tidak menyembunyikan kegelisahannya melihat beragama hari ini sering kali direduksi sebatas slogan kosong, atribut, takbir yang penuh amarah, dan penghakiman atas liyan. Dengan kata lain, kemasan mendahului substansi ajaran agama itu sendiri. Bagi Cak Nun, nilai tertinggi dari keberagamaan adalah output sosialnya: apakah kehadiranmu membuat orang di sekitarmu merasa aman? Apakah imanmu melahirkan kasih sayang (rahmatan lil 'alamin) atau justru kesombongan spiritual?

Secuil analogi yang seringkali meluncur dari bibir Emha Ainun Nadjib ini berikut ini:

Agama itu letaknya di dalam dapur. Tidak masalah apa alat masakmu, tidak penting apa merek pancimu. Yang utama adalah apakah masakan yang kau hidangkan mampu mengenyangkan jiwa yang lapar dan mendinginkan hati yang membara.

Kalimat di atas jelas bukan kutipan ayat dari al-quran, melaikan cerminan refleksi teologis mendalam seorang Cak Nun dalam konteks menempatkan hubungan antara Islam secara normatif—sebagai sebuah ajaran-- dengan kenyataan historis umat manusia dengan segala pernak-perniknya.

Kedua, kedaulatan berpikir. Melalui simpul-simpul Maiyah (seperti Padhangmbulan, Mocopat Syafaat, Kenduri Cinta, hingga Gambang Syafaat) yang tersebar di ratusan kota, Cak Nun tidak memposisikan dirinya sebagai guru tunggal yang menyuapi murid. Maiyah adalah "laboratorium bersama". Di sana, individu-indidvidu yang datang dari pelbagai latar belakang ekonomi dan profesi diajak untuk berdaulat secara berpikir, lepas dari indoktrinasi media massa, oligarki politik, maupun otoritas keagamaan yang manipulatif. Inilah jalan spiritual-intelektual-kultural yang sudah lama ditempuh oleh Cak Nun.

Faktanya, di bawah tenda-tenda malam yang dingin, beralaskan tikar, ribuan orang dari berbagai latar belakang—mulai dari profesor, pejabat atau politisi, mahasiswa, seniman, tatoan, hingga mereka yang dianggap "sampah masyarakat"—duduk melingkar bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng hingga sepertiga malam. Kendati bukan jamaah Maiyah yang telaten datang mengikuti semasa menempuh studi di Yogyakarta dua dekade lalu, saya melihat langsung kenyataan tersebut.

Di sinilah letak kejeniusan budaya seorang Cak Nun. Beliau menyediakan oase psikologis bagi manusia modern yang kesepian dan lelah oleh kompetisi hidup yang brutal, lebih-lebih di negeri yang para pemimpinya masih berpikir jangka pendek—sibuk dengan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Yang saya tangkap, di Maiyah, tidak ada yang merasa paling suci atau paling benar. Semua orang diajak untuk sinau bareng (belajar bersama), mentertawakan kebodohan diri sendiri lewat humor-humor khas Cak Nun yang bermutu tinggi, lalu pulang dengan jiwa yang lebih lapang.

Ketiga, nasionalisme segitiga cinta. Dalam urusan bernegara, Cak Nun memperkenalkan konsep "Segitiga Cinta"—yaitu hubungan cinta vertikal antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan Rasulullah, yang kemudian memancar secara horizontal menjadi cinta mendalam kepada tanah air. Bagi Cak Nun, mencintai Indonesia bukanlah soal mendukung rezim atau pemerintahannya, melainkan mencintai tanahnya, airnya, sejarahnya, dan nasib rakyatnya yang sering kali dikesampingkan. Membaca esai-esai maupun ceramah di pelbagai pengajian yang menjadi simpul-simpul Maiyah, pembaca akan menemukan paradigma demikian. Setakat hal itu, Cak Nun tanpa tedeng aling-aling mengkritik kebijakan sekaligus laku para elit negeri ini yang tidak menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan kelompok.

Di usianya kini menginjak ke 73, Cak Nun memang tidak selincah dulu lagi. Bahkan, beliau kini jarang tampil di muka publik, karena kabarnya masih dalam tahap pemulihan kesehatan. Publik yang mengikuti Maiyah serta membaca tulisan-tulisannya tentu merindukan kehadirannya, tidak terkecuali saya pribadi. Membaca pikiran-pikiran Cak Nun terbuka ruang bagi perbedaan pendapat (itu pasti), tapi itu tidak lantas menafikan sumbangsih pemikirannya terhadap kemasalahatan negeri ini.  

Pada diri Cak Nun—dalam sejarah pergerakannya baik sebagai pribadi multitalen maupun bagian penting dari simpul-simpul Maiyah—saya menemukan ketelatenan laiknya seorang petani yang setia merawat tanah bernama Indonesia. Beliau adalah guru yang mengajari kita bahwa menjadi Indonesia adalah sebuah proses menenun kesabaran yang tak boleh putus—seraya konsisten merawat-ruwat nasionalisme “segitiga cinta”.

Selamat ulang tahun yang ke-73, Mbah Nun. Semoga senantiasa sehat serta dalam lindungan Allah SWT. Amin.


*Kota Jambi, 25 Mei 2026.

*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:

1) 72 Tahun Mbah Nun

2) Menggugat Ingatan Politik: Refleksi 28 Tahun Reformasi

3) Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

4) Belajar dari Bung Karno

5) Naoka Nemoto: Madam Soekarno

6) Menziarahi Bung Hatta

7) Karena Bung Hatta

9) Sutan Sjahrir: Hidup Yang Tak Dipertaruhkan, Tak Layak Dimenangkan

10) Membaca Kritik Ekonomi Politik Karl Marx

11) Jalan Terjal B.J. Habibie

12) Membaca Kwik Kian Gie

18) Warisan Pemikiran Prof. Azyumardi Azra

19) Palu Godam Hakim Artidjo Alkostar

24) Budayawan Mbeling Prie GS dan Keindonesiaan

25) Mengenal Demografer Riwanto Tirtosudarmo

26) Meriyati dan Jenderal Hoegeng

0 Komentar