![]() |
| ilsutrasi. sumber: medium.com |
Oleh: Jumardi Putra
Apa jadinya jika sejarah abad
ke-20 dan abad ke-21 berlangsung tanpa kehadiran seorang Karl Marx? Pemikir
berjanggut tebal asal Trier, Jerman ini, telah mewariskan segenggam gagasan
yang melampaui menara gading filsafat. Di saat para filusuf pendahulunya sibuk
memperdebatkan metafisika, Marx justru melompat maju. Baginya, filsafat bukan
sekadar alat untuk memahami dunia, melainkan instrumen untuk mengubahnya
(transforming the world).
Melalui kacamata Materialisme
Historis, Marx tidak hanya memantik perdebatan akademis, tetapi juga
menggerakkan jutaan manusia dalam struktur gerakan pembebasan sosial di seluruh
belahan bumi. Gagasan ini lahir sebagai antitesis radikal terhadap idealisme
mutlak ala Georg Wilhelm Friedrich Hegel yang cenderung "mengudara"
dan melihat sejarah sebagai gerak roh absolut (Geist). Marx membumikan sejarah
ke atas pijakan yang paling nyata: perut, keringat, dan cara manusia bertahan
hidup (to survive).
Produksi Menentukan Kesadaran
Inti dari Materialisme
Historis bukanlah materialisme dalam pengertian ontologis—bahwa hakikat alam
semesta adalah materi fisik. Sosiolog Raymond Aron dalam Main Currents in
Sociological Thought (1965) menjelaskan bahwa materialisme Marx adalah
materialisme sosiologis. Artinya, sejarah manusia tidak ditentukan oleh apa
yang mereka pikirkan atau yakini, melainkan oleh modus produksi (mode of
production) material mereka.
"Bukan kesadaran manusia
yang menentukan keadaan mereka, tetapi sebaliknya, keadaan sosial merekalah
yang menentukan kesadaran mereka," tulis Marx dalam karya monumentalnya, A
Contribution to the Critique of Political Economy (1859).
Secara sistematis,
perkembangan peradaban manusia dari fase komunal primitif, feodalisme, hingga
industri kapitalis digerakkan oleh dinamika alat-alat produksi ini. Dalam
kalimat yang terkenal di buku The Poverty of Philosophy (1847), Marx memberikan
analogi yang jernih: kincir angin menghasilkan masyarakat dengan tuan feodal;
mesin uap menghasilkan masyarakat dengan kapitalis industri.
Di sinilah struktur
masyarakat terbentuk. Basis ekonomi (structure) yang terdiri dari kekuatan
produktif dan hubungan produksi akan menentukan bangunan atas (superstructure)
yang berupa hukum, politik, agama, filsafat, hingga sistem kebudayaan. Oleh
karena itu, bagi Marx, riwayat dari setiap masyarakat hingga hari ini adalah
sejarah pertentangan kelas (the history of class struggle). Konsep kelas ini
muncul secara inheren akibat adanya ketimpangan penguasaan atas alat-alat
produksi tersebut.
Manusia memang sama dengan
hewan dalam urusan dorongan biologis untuk bertahan hidup. Namun, yang
membedakan manusia sebagai subjek sekaligus objek sejarah adalah kemampuannya
memproduksi alat-alat untuk menunjang kebutuhannya. Proses kerja materiil
inilah yang membentuk dan mencerminkan kesadaran manusia.
Dua Jangkar Argumen
Mengapa Marx begitu mengkritik pola produksi kapitalisme? Dalam lanskap ekonomi politik kontemporer, kritik Marx setidaknya bertumpu pada dua jangkar argumen yang hingga kini masih terasa kontekstual.
Pertama, proses proletarisasi
dan pemiskinan massal (immiseration). Kapitalisme bekerja melalui akumulasi
kapital yang agresif. Hasil dari akumulasi ini tidak dinikmati oleh buruh yang
memeras keringat, melainkan menumpuk di tangan segelintir borjuis penguasa alat
produksi.
Kedua, teori nilai-lebih
(surplus-value). Di dalam buku Das Kapital (1867), Marx membongkar bahwa
keuntungan (profit) yang diperoleh kaum kapitalis pada dasarnya adalah hasil
dari praktik "pencurian legal" atas jam kerja buruh yang tidak
dibayarkan. Upah yang diterima buruh dilempar ke level paling minimal—hanya
cukup agar buruh dan keluarganya tidak mati kelaparan (subsistence wage)
sehingga besok bisa kembali bekerja.
Akibat dari upah yang
subsisten ini, muncullah apa yang disebut Marx sebagai Alienasi (Entfremdung)
atau keterasingan. David Harvey dalam A Companion to Marx's Capital (2010)
menggarisbawahi bagaimana kapitalisme global abad ini memperparah alienasi
tersebut.
Mari kita ambil contoh riil
pada industri manufaktur global seperti pabrik sepatu merek multinasional di
negara-negara berkembang. Seorang buruh yang merakit ribuan pasang sepatu
olahraga saban hari, tidak akan pernah sanggup membeli sepatu yang ia buat
dengan jemari tangannya sendiri. Ia terasing dari produk yang dihasilkannya,
terasing dari tindakan produksinya sendiri yang monoton, dan pada akhirnya
terasing dari hakikat kemanusiaannya (species-being). Keterasingan ini
menjalar, merusak relasi sosial di tingkat keluarga dan komunitas lingkungan
tempat mereka tinggal.
Meskipun kapitalisme telah
bermutasi menjadi neo-liberalisme dan kapitalisme digital di abad ke-21, grand
theory yang diletakkan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels—yang kemudian
dikembangkan secara taktis oleh Vladimir Lenin, Rosa Luxemburg, hingga Leon
Trotsky—tidak pernah benar-benar usang. Pisau analisisnya tetap tajam untuk
membedah ketimpangan struktural, perang dagang global, hingga krisis ekologi
akibat eksploitasi alam yang ugal-ugalan demi profit.
Membaca kembali gagasan Marx
bukan berarti kita terjebak pada dogma masa lalu, melainkan upaya untuk
meletakkan peta persoalan ekonomi-politik hari ini secara jernih. Sastra
sosiologis kita mencatat sebuah kredo penting dari begawan sastra Pramoedya
Ananta Toer dalam Rumah Kaca: sebuah tulisan akan abadi manakala ia memiliki
kedekatan erat dengan kondisi sosial kehidupan dalam makna yang sesungguhnya.
Huruf-huruf di dalam teks harus memiliki nyawa dan mampu berbicara tentang
realitas.
Marx telah membuktikannya.
Selama ketimpangan antara yang menguasai alat produksi dan yang menjual tenaga
kerja masih eksis di muka bumi, maka selama itu pula Materialisme Historis akan
selalu relevan menjadi kompas bagi mereka yang merindukan keadilan sosial.
*Catatan di atas merupakan review penulis atas diskusi rutin Sekolah
Analisis Sosial, Resist Book Yogyakarta, tentang wajah kapitalisme industri kini (11 April 2009).
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
2) Naoka Nemoto: Madam Soekarno
6) Sutan Sjahrir: Hidup Yang Tak Dipertaruhkan, Tak Layak Dimenangkan
8) Menimbang Ekonom Mar'ie Muhammad
9) Menimbang Meriyati dan Jenderal Polisi Hoegeng
10) Ekonom Bersuara Lantang Itu Pergi. Selamat Jalan, Faisal Basri
11) Membaca Ekonom Kwik Kian Gie
12) Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan Buya Syafii Ma'arif
13) Warisan Pemikiran Prof. Azyumardi Azra
14) Palu Godam Hakim Artidjo Alkostar
16) Dedikasi Cendekiawan Ignas Kleden dan Abdul Hadi WM
19) Budayawan Mbeling Prie GS dan Keindonesiaan
20) Pengelana Buku Itu Tidak Pernah Pergi
21) Bambang Budi Utomo, Sepotong Dunia Penekun Studi Sriwijaya
22) Jokpin: Jogja Terbuat dari Rindu, Pulang dan Angkringan
23) Jang Aisjah Muttalib, Penulis Sejarah Sarikat Abang di Jambi 1916
24) Sehari Bersama Putu Fajar Arcana


0 Komentar