Lahirnya Fajar Kesadaran Nasional

 

koridor Museum Kebangkitan Nasional. 


 

Oleh: Jumardi Putra

Menyusuri koridor-koridor tua Museum Kebangkitan Nasional di Jalan Abdul Rahman Saleh, Jakarta Pusat, bukan sekadar urusan memandangi barisan etalase kaca berisikan benda-benda bersejarah nun jauh di kelampauan. Bagi saya, melangkah ke dalam eks-gedung STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) pada April 2017 ini terasa seperti memasuki ruang inkubasi tempat janin modernitas Indonesia pertama kali ditiupkan ruhnya.

Seketika, hiruk-pikuk kawasan Weltevreden (Jakarta Pusat Barat) yang bising menguap, digantikan ketenangan yang magis. Arsitektur kolonial bergaya landhuis yang simetris, langit-langit yang menjulang tinggi, dan jendela-jendela krepyak besar langsung menyergap ingatan dengan atmosfer awal abad ke-20 yang pekat. Di sinilah, di lorong-lorong sunyi ini, imajinasi saya dituntun menuju masa ketika fajar kesadaran nasional mulai menyingsing di dada kaum muda Bumiputera.

Mulai dibangun pada 1899 oleh tentara Zeni Angkatan Darat, gedung ini memang diperuntukkan sebagai bangunan yang diharapkan dapat mencetak dokter-dokter hebat. Gedung pun selesai pada 1902 dan diberi nama School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Dokter Jawa. Sesuai dengan namanya, sekolah dokter ini memang diperuntukkan untuk para pribumi yang memang ingin mendalami pendidikan kedokteran.

Kompleks STOVIA dirancang secara mandiri dan genius. Masterplan bangunannya berbentuk huruf E, sebuah manifestasi efisiensi tata ruang khas Eropa yakni bagian depan difungsikan sebagai ruang-ruang kelas tempat menyerap ilmu, lalu sayap kiri & kanan berdiri kokoh sebagai asrama, tempat para siswa merebahkan lelah dan selanjutnya bagian tengah menjadi jantung sains berupa laboratorium.

Saat menyusuri ruangan demi ruangan, langkah saya tertambat pada tiga zona utama yang memberikan impresi batin mendalam:

Pertama, ruang kelas dan laboratorium anatomi. Di ruangan ini, replika meja-meja kayu berat—tempat para calon "Dokter Jawa" membedah anatomi tubuh manusia—masih terjaga rapi. Namun, di luar sains kedokteran Barat yang mereka pelajari, tempat ini sejatinya adalah kawah candradimuka pengasahan nalar kritis. Peralatan medis kuno, seperti mikroskop awal abad ke-20 dan pemotong tengkorak, menjadi saksi bisu sebuah ironi sejarah: ilmu pengetahuan formal yang diberikan oleh penjajah justru menjelma menjadi senjata intelektual bagi kaum bumiputera untuk menggugat keabsahan kolonialisme itu sendiri.

Kedua, ruang asrama. Langkah kaki membawa saya ke ruang asrama yang panjang, tempat barisan ranjang besi sederhana ditata berderet. Di sinilah keajaiban itu terjadi. Ketika malam merayap, asrama ini berubah fungsi menjadi ruang sidang informal yang hangat. Dalam bisik dan debat yang menggunakan bahasa Melayu dan Belanda, gagasan-gagasan radikal tentang "sebuah bangsa yang bersatu" pertama kali disemai di atas ranjang-ranjang besi ini.

Ketiga, ruang lahirnya Boedi Oetomo. Boleh dikata di sinilah episentrum dari seluruh kompleks Museum Kebangkitan Nasional yang menjadi jantung pergerakan. Sebuah ruang kelas yang pada hari Minggu, 20 Mei 1908, menjadi saksi bisu berkumpulnya pemuda-pemuda revolusioner: Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeraji, dan kawan-kawan. Mereka berkumpul, mengikat janji, mewujudkan gagasan besar yang diinisiasi oleh Dr. Wahidin Soedirohoesodo.


Eks Gedung STOVIA--kini Museum Kebangkitan Nasional

Kendati bentang waktu telah berjarak lebih dari satu abad, berdiri di ruang sunyi ini menghantarkan getaran magis yang merindingkan roma. Sungguh sebuah capaian sejarah gemilang: sebuah bangsa besar yang kini berpenduduk ratusan juta jiwa, memulai langkah pengorganisasian modernnya dari ruangan yang begitu senyap ini.

Lebih dua jam lamanya saya menyesap rona sejarah dan patriotisme yang ditinggalkan para dokter muda di eks-gedung STOVIA ini. Perjalanan ini mengendapkan sebuah refleksi bahwa pergerakan nasional tidak selalu lahir dari mimbar-mimbar politik yang riuh dengan kepalan tangan, melainkan dari kedisiplinan membaca, ketajaman analisis ilmiah, dan keberanian untuk keluar dari cangkang kedaerahan yang sempit.

Setakat hal itu, sejarah telah membuktikan bahwa para dokter muda di sekolah ini berhasil mendiagnosis penyakit terbesar bangsa saat itu yaitu perpecahan dan ketertinggalan budaya. Maka, melalui resep organisasi modern, mereka menyembuhkan jiwa bangsa yang lara dan menjemput kesadaran nasional untuk merebut kemerdekaan.

Kendati langit Jakarta di luar sana terasa terik menyengat, suasana di dalam gedung ini tetap menawarkan keteduhan yang menenangkan hati—seolah merawat dan tetap menyalakan "Api Sejarah" di dalam dada.

 

*Jakarta, April 2017. Data dan informasi dalam tulisan ini saya olah berdasarkan keterangan yang terdapat di Museum Kebangkitan Nasional. Seluruh dokumentasi foto kunjungan pribadi saya di eks-gedung STOVIA ini masih tersimpan bersama rusaknya laptop pribadi. Semoga masih bisa diperbaiki sehingga foto-foto kunjungan saya di gedung bersejarah masih bisa diselamatkan.


*Berikut link catatan perjalanan saya ke tempat-tempat bersejarah di Jakarta:

0 Komentar