![]() |
| Badri Ismaya. Sumber: Media Indonesia (2008) |
Oleh: Jumardi Putra
Setitik air menetes ke kepalanya, dan sejak saat itu Badri seakan-akan dilahirkan kembali. Ia jadi seseorang yang baru – Goenawan Mohamad
Hari itu
Jumat di bulan Oktober 1979. Di bawah rimbunnya hutan Cisarua, Bogor, seorang
pria paruh baya terduduk melepas penat. Namanya Badri Ismaya. Di tangannya,
sebuah kapak masih menyisakan hawa panas setelah meruntuhkan raksasa-raksasa
hijau. Badri adalah seorang penebang pohon—atau dalam bahasa yang lebih jujur,
ia adalah bagian dari mereka yang melukai paru-paru bumi. Sudah empat tahun
profesi itu ia lakoni demi sesuap nasi, tepatnya sejak 1975 atau saat dirinya
berusia 25 tahun baru saja menikah.
Namun,
Jumat itu berbeda. Saat bapak empat anak ini menyeka keringat di wajahnya yang
letih, sebutir tetesan air jatuh tepat di raut mukanya. Tetesan itu begitu
bening, sejuk, namun terasa menghentak dada. Badri tertegun. Ia mengedarkan
pandangan mencari asal air di tengah cuaca yang sedang tidak hujan.
Seketika
badannya bergetar. Butir air yang menyentuh kulitnya ternyata keluar dari
rongga pohon yang baru saja ia tebang. Pohon itu seolah sedang menangis,
menumpahkan darah beningnya di akhir napas kehidupan.
"Saya
terkejut," kenang Badri, menyisir kembali memori 36 tahun silam.
"Saya duduk terdiam, merenungkan tetes air itu."
Peristiwa
mistis itu mengubah segalanya. Hari-hari berikutnya, Badri kembali masuk keluar
hutan, bukan lagi untuk mengayunkan kapak, melainkan untuk menebus rasa
bersalah. Ia menyentuh akar-akar yang menghujam tanah, membuktikan sendiri
bahwa makhluk-makhluk bisu itu adalah sang penjaga kehidupan yang menyimpan air
untuk manusia. Sejak detik itu, sebuah sumpah keramat diikrarkan: ia tidak akan
pernah lagi menebang pohon. Sebaliknya, ia akan menanamnya hingga ajal
menjemput.
Menziarahi Alam
Badri
seolah terlahir kembali sebagai manusia baru. Mengutip sastrawan Kahlil Gibran
dalam bukunya Cinta, Keindahan dan Kesunyian (terjemahan, Bentang, 2001): "Jika kamu
menyuarakan kedalaman jiwamu dan mengarungi ketinggian angkasa, kau hanya akan
mendengar sebuah melodi... di dalam melodi itu batu dan bintang
bernyanyi." Badri seolah telah mendengar melodi alam tersebut. Ia
sadar, pohon memiliki nyawa, dan menjaga nyawa alam adalah bagian dari menjaga
nyawa kita sendiri.
Namun,
jalan penebusan dosa tidak pernah murah. Ketika Badri memilih "lebih
hidup" dengan menanam, ekonomi keluarganya justru sekarat. Dahlia, sang
istri, sempat meradang karena dapur mereka jarang mengepul.
Tak hanya
didera kemiskinan, pria kelahiran Bogor 6 Juni 1949 ini juga harus berhadapan
dengan keserakahan manusia. Di kawasan Cisarua, ia kerap dianiaya oleh para
biong (spekulan) tanah dan penjaga keamanan vila mewah. Mengapa? Karena jemari
kaku Badri dengan berani menanam bibit-bibit pohon di atas tanah telantar yang
diincar para penguasa modal. Ia bahkan pernah disekap di sebuah pos keamanan.
Di zaman di mana tanah dikonversi menjadi tumpukan beton demi transaksi miliaran
rupiah, kegilaan Badri yang menanam pohon tanpa alas titel kepemilikan dianggap
sebagai ancaman.
Khutbah Sunyi
Membaca
kisah Badri Ismaya—yang pernah diabadikan dalam catatan pinggir Goenawan
Mohamad di Majalah Tempo, liputan Harian Kompas pada Januari 2009
dan Media Indonesia pada November 2008—seperti mendapatkan tamparan keras tepat
di wajah kita. Kisah hidupnya laksana sebuah "khutbah Jumat" yang
kontekstual, yang mampu mengikis karat dosa di dalam hati kita yang mulai
bebal.
Kehidupan
ini terasa sangat timpang. Badri, seorang pria bersahaja yang hidup dalam
ketidakberdayaan ekonomi, harus membayar "utang masa lalu" pada alam
dengan cucuran keringat dan darah. Sementara itu, di kota-kota besar, para
perusak lingkungan yang sesungguhnya justru berpesta pora di atas kursi
kekuasaan. Mereka bertransaksi, memutar uang, dan merancang konspirasi yang
merusak tatanan bumi tanpa pernah merasa bersalah.
Meminjam
istilah budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), manusia sejati adalah mereka
yang memberi tanpa harus diminta. Badri tidak butuh lembaga, tidak butuh
struktur program kerja, dan tidak butuh tepuk tangan birokrasi untuk berbuat
baik. Ketulusannya murni memancar dari palung hati terdalam.
Kini, di
usianya yang telah senja—60 tahun—Badri masih tinggal di sebuah kampung di Desa
Tugu Utara, Cisarua, Bogor, bersama istri, empat anak, dan tiga cucunya.
Tubuhnya mungkin mulai merenta, namun jutaan bibit pohon yang telah dan akan ia
tanam terus tumbuh gagah, mengalirkan oksigen gratis untuk manusia-manusia kota
yang bahkan tidak pernah tahu namanya.
Melihat
rambutnya yang memutih, rasanya sudah teramat wajib bagi negara—melalui
Departemen Kehutanan—untuk mengambil alih tugas menanam ini. Biarlah di sisa
umurnya, Badri fokus menikmati masa tua dan menghidupi keluarganya dengan
layak.
Melalui
Badri, kita belajar arti sejati dari kesempurnaan hidup dan cara ber-Tuhan yang
nyata yaitu dengan merawat ciptaan-Nya. Badri adalah cermin retak bagi kita
semua—manusia yang tidak malu mengakui kesalahan masa lalu, dan dengan cepat
tanggap mempertanggungjawabkannya sepanjang sisa hayat.
Terima
kasih, Pak Badri Ismaya. Di tengah zaman yang gila dan serakah ini, engkau
membasuh jiwa kami yang kering dengan ketulusan secangkir air dari jantung
hutan.
*Yogyakarta, 21 Januari 2009. Catatan ini saya tulis saat masih studi di Yogyakarta. Terinspirasi setelah membaca liputan Media Indonesia (2008), Kompas dan Catatan Pinggir Majalah Tempo (2009). Sosok Badri Ismaya diketahui meninggal dunia pada 10 Februari 2010. Doa terbaik untuk almarhum.
*Tulisan-tulisan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini:
1) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana
2) Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya
3) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang
7) Besak Ota
8) Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau
9) Tambah Berisi, Tunduk Ke Bawah
10) Surat Terakhir untuk Mama: Luka di Pelosok Negeri
11) Kehidupan Ini Tak Bisa Kita Biarkan Penuh dengan Ratapan
12) Melipat Waktu di Antara Langit dan Rel Kereta
13) Menapak Senja di Ujung Jabung
14) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi
15) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling
16) Langkah Kaki Haruki Murakami
19) Rektor dan Kepemimpinan Intelektual: Sebuah Autokritik
20) Gundah Bersama Seorang Guru Besar
23) Guru Posting Berdiri, Murid Update Berlari
24) Hasta Siempre, Viejo Querido: Belajar dari Jose Mujica


0 Komentar