“Buku Hidup” ala Human Library

Suasana di Human Library. 


Oleh: Jumardi Putra


Di tengah dunia yang bising, yang terus menuntut kita untuk memproduksi konten, mengetik opini, berteriak, dan bahkan melontarkan sumpah serapah di kolom komentar pelbagai platform media sosial, Human Library hadir menawarkan kemewahan yang kian punah: hak dan kapasitas untuk mendengarkan.


Bermula di Kopenhagen, Denmark, pada tahun 2000 dan kini telah merambah ke lebih dari 80 negara, Human Library (Perpustakaan Manusia) menawarkan sebuah konsep yang menggugah: sebuah ruang di mana manusia sungguhan "dipinjamkan" kepada pembaca sebagai buku hidup. Di sini, pertanyaan-pertanyaan sulit yang selama ini tabu tidak hanya dinanti, tetapi dihargai dan dijawab melalui dialog yang menantang setiap bentuk stereotip dan prasangka. Dengan kata lain, bersedia duduk diam dan mendengarkan kisah orang asing dengan hati adalah cara paling berani untuk menjaga kewarasan dan merawat kembali kemanusiaan kita yang koyak.

Di tengah derasnya arus algoritma, era post-human (pasca-manusia)—di mana batas antara tubuh dan teknologi kian kabur—gagasan dan gerakan yang didirikan di Festival Roskilde oleh Ronni Abergel, Dany Abergel, Asma Mouna, dan Christoffer Erichsen ini menarik untuk dicermati, karena bukan lagi sekadar proyek sosial lokal. Ia telah bergerak menjadi sebuah perlawanan budaya (cultural resistance) yang mendesak. Sebuah upaya sadar untuk merebut kembali esensi kemanusiaan kita yang sering kali tereduksi menjadi sekadar data, metrik, atau proksi teks di layar digital dan tak ubahnya seperti sampah.

Faktanya, hari ini, kita tidak lagi sekadar hidup di dunia nyata, melainkan terproyeksi melalui untaian algoritma dan avatar digital. Fenomena ini melahirkan keterasingan baru yang berkedok konektivitas. Di belantara media sosial, interaksi mengalami reduksi yang kejam: kita tidak lagi saling menjumpai sebagai manusia yang utuh dan bernyawa, melainkan sebagai fragmen teks pendek, potongan video, atau musuh ideologis yang siap dihakimi.

Sulit menyangkal bahwa media sosial kontemporer telah mendikte kita dengan logika kecepatan dan penyederhanaan. Kompleksitas psikologis manusia diperas menjadi kategori biner yang dangkal: kawan atau lawan, viral atau tenggelam, progresif atau konservatif. Kebisingan informasi (information overload) melahirkan cara membaca yang tergesa-gesa; kita memindai layar bukan untuk memahami sesama, melainkan demi mencari pembenaran atas bias kita sendiri.

"Slow Reading"

Menghadapi percepatan yang mekanis dan dingin itu, saya memandang The Human Library sebagai sebuah antitesis yang menuntut pelambatan waktu. Dengan meminjam seorang manusia untuk berdialog secara intim—katakanlah selama 30 menit—seorang pembaca dipaksa keluar dari labirin digital dan masuk ke dalam ruang fisik yang riil.

Percakapan bersama "buku hidup" di Human Library

Jika layar gawai menjauhkan, perpustakaan yang menghadirkan “buku hidup” ini justru menuntut kedekatan. Dialog langsung bersama mereka yang kerap diberi label—mantan narapidana, penyandang bipolar, pengungsi, hingga minoritas agama—mengembalikan dimensi kemanusiaan yang sempat hilang. Menatap mata yang berkaca-kaca, mendengar helaan napas berat, dan menyaksikan jeda hening yang jujur adalah pengalaman emosional yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh teknologi mana pun.

Namun, refleksi kritis tetap diperlukan. Saya berharap pilihan The Human Library tidak terjebak menjadi sekadar "tontonan" (spectacle) baru dalam industri ekonomi pengalaman (experience economy). Ada bahaya laten ketika ruang ini diperlakukan layaknya museum antropologis komoditas, tempat bagi sesiapa yang datang sekadar untuk "mengonsumsi" penderitaan atau keunikan hidup orang lain demi memuaskan dahaga moralitas sesaat.

Jika setelah menutup "buku hidup" tersebut seorang pembaca langsung merogoh sakunya, membuka ponsel, dan kembali melanjutkan perilaku merundung atau terjebak dalam ruang gema (echo chamber) digitalnya, maka dialog tersebut telah gagal total. Dengan kata lain, ia hanya menjadi "sabun pembersih dosa sosial" yang tidak mengubah cara pandang kita terhadap kemanusiaan—sebagaimana misi di balik kehadiran gerakan ini.

Pada akhirnya, ide dan gerakan Human Library hanya benar-benar berhasil jika ia mampu memicu dekonstruksi radikal atas cara setiap subjek memperlakukan subjek lainnya, baik di dunia nyata maupun di ruang siber.

*Kota Jambi, 4 Juli 2026. Ide tulisan ini terinspirasi setelah membaca sejarah gagasan dan gerakan The Human Library Organisation di Denmark (https://humanlibrary.org/). Dua foto dalam tulisan ini bersumber dari kanal tersebut.


*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:

1) Festival Literasi: Dari Militansi ke Retrospeksi

2) Rapor Merah Literasi Jambi

3) Surat Cinta untuk Pegiat Literasi Jambi

4)  Menyoal Duta Baca Provinsi Jambi, Kerja Apa?

5) Hottong: Toko Buku Tua di Kota Jambi

6) Pengelana Buku Itu Tidak Pernah Pergi, Obituari Nirwan Arsuka

7) Dari Palasari Ke Pasar Kenari: Kisah Berburu Buku

8) Satu Jam di Ruang Ketiga Jalma

9) Menepi di Tebet

10) Generasi Nol Buku

11) Melipat Waktu di Antara Langit dan Rel Kereta

12) Di Balik Panggung Pemilihan Bujang Gadis Jambi

13) Komunitas Epistemik dan Kosongnya Kampus Kita

14) Ngadem di Goethe Institut

15) Suatu Siang di Erasmus Huis

16) Merajut Asa di Ruang Belajar Prof H.A.R. Tilaar

17) Ngadem di Freedom Institute Library

18) Arsip Daerah Jambi di ANRI

19) Kerja Arsip Berdekatan dengan Kesepian

20) Pers Jambi (Tanpa) Pusat Dokumentasi

21) Ada Sesuatu di (dalam) Jogja

22) Berburu Buku Lawas di Palembang

23) Selalu Ada yang Tersisa dari Jogja: Dari Sorowajan ke Mantijeron

24) Asa di Jalan Kaliurang Km 12 Jogja

25) Prabowo, sang Bibliofil

26) Sore Bersama Delegasi KITLV Jakarta-Leiden

27) Kartini, Ibu Bumi dan Api Literasi

28) Manifesto Library Dua Lipa

Posting Komentar

0 Komentar