| Smiljan Pelopor Menteng |
Oleh: Jumardi Putra
Di tengah kota yang serba bergegas dan kerap memburu waktu, kita selalu membutuhkan "ruang ketiga" untuk sekadar berhenti dan bernapas sejenak, lalu bertanya apa di tengah semua Ini?
Setiap
kali langkah kaki membawa saya melintasi kawasan Jakarta Pusat, selalu ada
ritme sejarah yang tertahan di antara rimbun pohon dan bangunan kolonial yang
tersisa. Bagi seorang penikmat buku dan penjelajah ruang literasi, Menteng dan
Cikini bukan sekadar titik koordinat di atas peta ibu kota. Keduanya adalah
ruang jeda—sebuah oase tempat waktu pelan-pelan melambat di tengah deru lalu
lintas Jakarta yang tak pernah benar-benar beristirahat.
Rabu siang
(22 Juli 2026), saya memutuskan singgah di Smiljan Pelopor,
sebuah tempat yang memadukan konsep kafe, toko buku, dan perpustakaan. Ruang
kumpul ini tergolong baru, diluncurkan sekitar tiga minggu lalu. Terletak di
jantung Menteng yang sarat memori historis, tempat ini langsung menyapa dengan
suasana yang teduh dan tenang.
Saat
melangkahkan kaki, nuansa hijau dari tetumbuhan di taman kecil langsung
menyegarkan mata. Di area teras, patung Mohammad Hatta---di atas kepalanya bertumpuk buku-buku hingga menyentuh langit ruangan--menyapa setiap
pengunjung melalui pesan yang terpatri anggun pada kaca di sampingnya:
Pokok kemauan dan keberanian itu terletak pada cinta akan kebenaran dan keadilan.
Kutipan
Sang Proklamator itu seolah mengingatkan kembali tentang tanggung jawab nurani
dan keberanian menghadapi kesukaran demi mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur.
Kunjungan
ini merupakan pengalaman pertama bagi saya dan dua kawan sejawat. Sebelum
melangkah lebih jauh, setiap pengunjung diminta melepaskan alas kaki dan
menggantinya dengan sandal khusus yang telah disiapkan. Begitu pintu kayu
terbuka, aroma seduhan kopi yang menyeruak di udara langsung berpadu harmonis
dengan pemandangan deretan buku yang tertata rapi.
Di sini,
buku tidak sekadar dipajang sebagai ornamen visual demi estetika Instagramable.
Buku hadir sebagai pahlawan utama. Sepengamatan saya, koleksi yang dihadirkan
mencerminkan selera kurasi yang terjaga—mulai dari karya sastra, catatan
sejarah, pemikiran sosial-politik, terbitan independen, hingga majalah lawas
yang mustahil ditemukan di toko buku arus utama.
| Penulis di Smiljan Pelopor Menteng |
Bahkan, tersedia satu ruang khusus yang hening bagi siapa saja yang ingin tenggelam dalam bacaannya. Pintu kayu kuno, ubin tegel yang bersahaja, alunan musik klasik, mesin tik tua, proyektor film, hingga lukisan era kolonial adalah sekelumit akseoris masa lalu yang memberi nyawa dan keistimewaan tersendiri pada Smiljan Pelopor.
Sambil
menikmati segelas es cokelat dingin—penawar dahaga yang sempurna setelah
melintasi sengatan terik Jakarta—saya dan kawan-kawan menyelesaikan beberapa
tugas kantor. Di sela-sela aktivitas itu, saya melangkah pelan dari satu rak ke
rak lainnya, menyusuri punggung-punggung buku.
Kendati usianya masih seumur jagung, Smiljan Pelopor berhasil menciptakan atmosfer yang hangat. Percakapan intelektual, diskusi santai, dan kontemplasi mandiri dapat berdampingan tanpa saling mengganggu. Ada keharuan tersendiri saat memperhatikan para pengunjung: beberapa tenggelam khusyuk di depan layar laptop dan buku bacaannya, sementara yang lain bercengkerama hangat dengan suara terpelihara.
Mampir ke
tempat ini menyegarkan kembali ingatan saya pada ruang-ruang literasi yang
pernah saya datangi di sela tugas di ibu kota—sebut saja Baca di Tebet,
Denies Law Library, Makarya, Ruang Ketiga Jalma dan pusat buku-buku jadul di Blok M, Erasmus Huis, Goethe-Institut,
Freedom Institute, Ruang Belajar Prof. H.A. Tilaar, Galeri Seni & Perpustakaan
Prof. Toety Heraty, Perpustakaan DKI Jakarta & HB Jassin, Komunitas Bambu
(Kobam) Menteng, hingga toko buku Patjarmerah, Kwitang dan Pasar Kenari. Setiap tempat
memiliki denyut dan jiwanya sendiri.
Dari
ketenangan Menteng, perjalanan saya berlanjut malam harinya menuju kawasan
tetangganya yang tak kalah legendaris: Cikini. Kawasan ini sejak lama berdenyut
sebagai pusat kebudayaan Jakarta, ditandai berdirinya Taman Ismail Marzuki
(TIM) dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Jika
Menteng menyuguhkan nuansa kafe yang hangat dan modern, maka Toko Buku
Cikini memancarkan aura nostalgia yang kental. Ia berdiri sejajar dengan
gedung-gedung peninggalan kolonial yang kini bertransformasi menjadi
kedai-kedai ikonis seperti Post Kantoor, Bakoel Koffie, dan Kedai
Tjikini.
![]() |
| Toko Buku di Jalan Cikini |
Toko Buku Cikini memang tak terlalu luas, namun koleksi bukunya bernas. Jajaran rak kayunya menyimpan beragam pustaka yang memikat daya jelajah seorang pemburu buku. Ada kenikmatan sentimental saat jemari ini melihat punggung setip buku di sana. Di sini saya membeli dua eksemplar karya Naar De Republiek Indonesia karya ideolog Tan Malaka edisi kritis 100 tahun yang disusun oleh Zen RS.
Melangkah
masuk ke Toko Buku Cikini rasanya seperti berjalan menembus lorong waktu. Di
tengah gempuran digitalisasi dan gugurnya toko-toko buku fisik di banyak daerah,
keberadaannya terasa seperti "pahlawan sunyi"—setia, tangguh, dan
tenang menjaga daya hidup literasi di pusat bisnis Jakarta.
Singgah
di Smiljan Pelopor Menteng dan Toko Buku Cikini melahirkan sebuah perenungan
sederhana: di tengah kota yang serba bergegas dan kerap memburu waktu, kita
selalu membutuhkan "ruang ketiga" untuk sekadar berhenti dan bernapas
sejenak, lalau bertanya Apa di Tengah Semua Ini?
Kedua tempat
yang saya kunjungi hari ini adalah ruang “pulang”. Di sanalah kita merawat
ingatan, mengasah daya kritis, dan menemukan kembali ketenangan jiwa di tengah
riuk-pikuk zaman.
*Jakarta, 25 Juli 2026.
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Malam di Jakarta Tidak Pernah Benar-benar Gelap
2) Rendang dan Taluo Barendo di Jalan Sabang
3) Di Jantung Malam Jalan Sabang
5) Di Puncak Menara Syahbandar Sunda Kelapa
6) Sepulang dari Museum Bank Indonesia
7) Apa Ada Ingin di Jakarta, Seperti dilepas Desa Melati
8) 3,5 Jam di Daniel S. Lev Law Library
9) Satu Jam di Ruang Ketiga Jalma
10) Tak Perlu Ke Puncak Mahameru Menemui Gie
11) Sepulang dari Museum Kebangkitan Nasional
14) Suatu Siang di Erasmus Huis
15) Merajut Asa di Ruang Belajar Prof H.A.R. Tilaar
16) Ngadem di Freedom Institute Library
17) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi

0 Komentar