Merasa Tidak Penting Itu Perlu, Bro!



Oleh: Jumardi Putra

 

The graveyards are full of men the world could not do without — Elbert Hubbard (1927)

 

Di tengah hiruk-pikuk dunia kerja yang menuntut kita tampil serba bisa, penuh inisiatif sekaligus piawai menyusun siasat, dan bahkan menjadi pahlawan bagi setiap masalah sehingga disebut berkontribusi, ada sebuah beban tak kasatmata yang kerap dipikul sendiri: perasaan bahwa segalanya akan gagal total jika kita tidak ada. Kita mengecek email saat liburan keluarga, kerja hingga tengah malam seraya tak mengenal akhir pekan, dan diam-diam memelihara ego bahwa keberadaan kita seolah poros dari keberlangsungan perusahaan atau birokrasi pemerintahan.

Namun, mari sejenak menarik napas dalam-dalam dan berani menghadapi kenyataan yang membebaskan—menyegarkan jiwa yang rapuh--bahwa dunia akan tetap baik-baik saja tanpa Anda. Saya teringat penggalan kalimat satire dari dokter Ryu Hasan, Sp.BS, seorang dokter spesialis bedah saraf dan pakar neurosains yang berteberan di pelbagai platform media sosial, begini:

Harus latihan merasa tidak penting. Loh, nggak ada kalian dunia ini nggak apa-apa. Sumpah. Kalian mati besok dunia ini baik-baik saja. Nggak ada masalah. Kalau kita itu merasa penting, sulit berterima kasih dan meminta maaf sama orang.  

Menyadari bahwa kita "tidak penting" bukanlah bentuk keputusasaan atau ajakan untuk menyerah pada keadaan, apatahlagi mengajak membangkang sehingga abai pada tanggungjawab yang diamanahkan kepada kita. Sama sekali bukan. Sebaliknya, ini semacam self-empowerment—sebuah autokritik yang dapat melepaskan kita dari belenggu hero syndrome. Saat kita berhenti menganggap diri sebagai penyelamat—serba bisa di segala keadaan--, sejatinya kita sedang mengembalikan batas-batas kemanusiaan kita yang terkikis oleh obsesi produktivitas dari hari ke hari.

Di ruang rapat atau tempat kerja, nyatanya kita sering kali lupa bahwa roda industri atau birokrasi telah berputar jauh sebelum kita bergabung, dan akan terus berputar setelah kita pergi. Posisi kita yang hari ini terasa amat krusial, esok lusa bakal diisi oleh orang lain hanya dalam hitungan hari. Kesadaran ini, meski pahit untuk menerimanya, mengingatkan kita semua bahwa pekerjaan hanyalah bagian dari hidup, bukan definisi absolut dari eksistensi kita.

Ketika Anda menerima bahwa Anda tidak sepenting itu bagi kelangsungan dunia kerja yang serba sementara ini, sebuah kekuatan baru justru lahir. Anda berhenti bekerja dengan kecemasan berlebih dan mulai bekerja dengan kondisi fisik sekaligus jiwa yang sehat disertai kejelasan pikiran yang terukur untuk memberi dampak positif di lingkungan tempat Anda bekerja saban hari. Anda tidak lagi memikul beban ego untuk selalu benar, selalu merasa dibutuhkan dalam banyak situasi, atau kerap menjadi pusat perhatian di antara sesama pekerja. 

Anda justru perlu belajar untuk membagikan tugas, memercayai rekan tim, dan mengambil jeda tanpa rasa bersalah yang menggerogoti jiwa. Dengan begitu, ekosistem dunia kerja menjadi lebih produktif dan manusiawi.

Pada akhirnya, melepaskan rasa sok penting adalah cara terbaik untuk merawat kesehatan mental dan menemukan makna kerja yang lebih sehat. Kerjakan bagian Anda dengan penuh tanggungjawab seraya memberikan dedikasi terbaik yang Anda miliki. Pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan Anda untuk terus berjalan—dan itu adalah hal terbaik yang bisa kita syukuri. Segedang sepenarian, tidak berlebihan jika kalimat Elbert Hubbard di awal tulisan kita renungi dalam-dalam.

 

*Kota Jambi, 19 September 2026. Ilustrasi tulisan ini bersumber dari www.istockphoto.com


*Tulisan-tulisan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini:

1) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang

2) Quote Bijak yang Sebenarnya adalah Belati

3) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana


6) Ilusi "Yang Terhormat"

8) Besak Ota

9) Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau

10) Tambah Berisi, Tunduk Ke Bawah

11) Surat Terakhir untuk Mama: Luka di Pelosok Negeri

12) Kehidupan Ini Tak Bisa Kita Biarkan Penuh dengan Ratapan

13) Melipat Waktu di Antara Langit dan Rel Kereta

14) Menapak Senja di Ujung Jabung

15) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi

16) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling

17) Langkah Kaki Haruki Murakami

19) Ketindihan Teknokratis

20) Rektor dan Kepemimpinan Intelektual: Sebuah Autokritik

21) Gundah Bersama Seorang Guru Besar

22) Kegenitan Intelektual

23)Kemalasan Intelektual

24) Guru Posting Berdiri, Murid Update Berlari

25) Hasta Siempre, Viejo Querido: Belajar dari Jose Mujica

26) Menemukan Kembali "Ruh" Menjadi Dosen

Posting Komentar

0 Komentar