Oleh: Jumardi Putra
Fenomena saling sindir melalui unggahan quote atau kutipan terselubung di media sosial kini bukan lagi sekadar dinamika picisan di kalangan remaja. Perilaku ini juga merembet, menyusup ke dalam lorong-lorong dingin birokrasi pemerintah hingga birokrasi kampus dan sekolah-sekolah. Kerap saya dapati, para aparatur sipil negara (ASN), dosen, tenaga kependidikan, guru hingga pejabat publik—sosok yang digambarkan berpendidikan tinggi dengan deretan gelar mentereng serta menjaga keteladanan—mengunggah kata-kata mutiara bernada reflektif. Namun, jauh di balik keindahan rangkaian kata itu, tersimpan bisikan sindiran yang ditujukan kepada rekan kerja, bawahan, atau bahkan atasannya sendiri.
Catatan ini hadir sama sekali bukan untuk menghakimi dari atas mimbar kebenaran. Tulisan sederhana ini adalah sebuah cermin retak tempat kita bercermin bersama—baik sebagai individu maupun bagian dari lembaga tempat kita mengabdi setiap hari. Sebuah proyek autokritik, wujud rasa cemas dan sayang atas kerapuhan jiwa yang tanpa sadar tengah menggerogoti tubuh birokrasi tempat kita bekerja. Di balik selubung kata-kata indah yang diunggah di Instagram Story, Status WhatsApp, atau X, ada kenyataan yang perlu kita akui dengan jujur: betapa rentannya ketahanan emosional para pegawai atau pekerja di tengah anggunnya seragam yang dikenakan serta jabatan mentereng yang diampu.
Jika kita berselancar di media sosial para pegawai negeri maupun civitas akademika, bentuk sindiran ini hadir dalam narasi religius, filsafat, hingga pepatah kepemimpinan. Sepintas tampak luhur dan menyejukkan, namun siapapun yang berada di lingkaran kerja yang sama akan langsung merasakan sengatannya, seperti contoh berikut ini:
Sindiran Pegawai kepada Atasan: "Pemimpin sejati itu merangkul dan mengayomi, bukan yang cuma bisa menuntut tanpa tahu kondisi lapangan. Jabatan itu amanah sementara, jangan sampai membuatmu buta."
(Dilihat sepintas seperti pengingat kepemimpinan, namun diunggah tepat setelah evaluasi kinerja atau pembagian beban kerja yang dianggap tidak adil/proporsional).
Sindiran Atasan kepada Bawahan/Staf: "Di dunia kerja, loyalitas, profesional dan kejujuran itu langka. Banyak yang pintar bicara, tapi sedikit yang benar-benar mau bekerja tanpa banyak mengeluh. Biarkan waktu yang menyeleksi."
(Unggahan reflektif ini galibnya kerap muncul saat terjadi perbedaan pendapat di rapat atau kekecewaan pimpinan terhadap capaian target tim).
Sindiran Antar-Rekan Kerja Sejawat: "Lebih baik punya sedikit teman tapi tulus, daripada dikelilingi orang-orang bermuka dua yang sukanya cari muka dan menjatuhkan sesama demi posisi."
(Narasi persahabatan ini galibnya sengaja dilempar ke ruang publik akibat persaingan jabatan, rotasi tempat kerja, atau kecemburuan sosial).
Budaya Toxic dalam Birokrasi
Tanpa kita sadari, kebiasaan melepas quote sindiran ini merupakan bagian dari rantai budaya toxic di tempat kerja yang mestinya dihindari secara tegas. Perilaku ini menyuburkan beberapa dinamika destruktif dalam lingkungan kerja.
Pertama, mengumbar keresahan secara terselubung adalah bentuk keengganan berkonfrontasi secara jujur. Kita merasa berat untuk mengetuk pintu ruang pimpinan atau rekan kerja, enggan duduk bersama sambil minum kopi atau teh untuk meluruskan perbedaan pandangan. Begitu juga atasan pun kerap terbelenggu oleh egonya sendiri untuk mengayomi. Alih-alih menyelesaikannya secara terhormat, tapi justru memilih melemparkan kerikil dari balik semak-semak media sosial sehingga muncul riak-riak yang tak perlu.
Kedua, unggahan sindiran memancing terbentuknya kubu-kubu di tempat kerja. Diskusi profesional bergeser menjadi desas-desus di lorong kantor, di mana setiap kelompok mulai menafsirkan arah angin sindiran dan membangun benteng pertahanan masing-masing.
Ketiga, quote terselubung memberi celah bagi pembuatnya untuk lari dari tanggung jawab. Saat dikonfirmasi, jawaban klasik yang muncul adalah, "Saya cuma mengunggah kata-kata bijak, tidak menyindir siapa-siapa." Ini adalah bentuk pelepasan tanggung jawab atas konflik yang sengaja dipantik.
Dunia birokrasi memang tidak pernah menjanjikan jalan yang selalu mulus. Di dalamnya berkelindan tekanan beban kerja, dinamika hubungan antarmanusia, hingga keputusan penugasan yang sesekali menggores rasa keadilan. Situasi ini dialami oleh siapa saja, dari staf pelaksana hingga jajaran pimpinan. Di titik itulah kedewasaan masing-masing diuji.
Ketika rasa kecewa internal diumbar ke ruang publik—meski diselubungi kalimat-kalimat melankolis atau luhur—ada dahaga akan pembenaran yang tengah berteriak dari dalam diri kita. Seolah-olah deretan simpati atau tombol "like" di dunia maya mampu menyembuhkan luka ego yang terjadi di kantor. Padahal, langkah tersebut justru menelanjangi ketidakmampuan kita dalam memisahkan antara batas-batas emosi personal dan tanggung jawab profesional.
Sejatinya, dampak dari satu unggahan sindiran tidak pernah berhenti pada layar ponsel kita masing-masing. Quote terselubung itu bekerja bagaikan racun tak berbau yang merayap, memenuhi udara di lingkungan kerja.
Apa sebab? Ruang kerja yang seharusnya menjadi wadah berkolaborasi berubah menjadi arena yang dipenuhi saling curiga. Energi organisasi yang mestinya tercurah utuh untuk melayani masyarakat justru tersedot habis hanya untuk menebak-nebak: "Untuk siapa status itu dibuat?" atau "Apakah saya yang dimaksud?" Ikatan persekawanan pun rusak, dan budaya keterbukaan meleleh digantikan oleh tembok kecurigaan yang dingin. Pada akhirnya, tugas dan fungsi yang melekat pada jabatan yang diampu ikut terabaikan.
Autokritik ini tentu tidak bermaksud mematikan rasa atau melarang siapapun untuk merasa kecewa. Merasa marah, sedih, atau tidak diperlakukan adil adalah bagian utuh dari kemanusiaan kita. Sudah saatnya kita memutus rantai budaya toxic ini dengan langkah nyata, seperti beberapa langkah berikut ini:
- Bila ada kerikil dalam hubungan kerja, sapalah rekan tersebut dengan dada lapang dan kepala dingin.
- Jika menemui ketidakadilan penugasan atau kebijakan, tempuhlah mekanisme aduan dan evaluasi internal yang telah disediakan oleh sistem.
- Duduklah bersama pimpinan atau rekan kerja secara personal. Bicaralah dari hati ke hati sebagai sesama manusia yang sama-sama memiliki cela, khilaf, dan kekurangan.
Saya mengerti bahwa dunia birokrasi (pemerintahan, kampus dan sekolah, untuk menyebut contoh) begitu kompleks seiring tuntutan publik yang makin tinggi. Pada diri dengan mentalitas teruji tentulah hal di atas bisa dilalui, tetapi faktanya tak semudah mengucapkannya. Saling sindir menggunakan quote jelas bukan tergolong sebagai kritik (tulisan disertai analisa memadai sebagai koreksi konstruktif). Demikian itu adalah dua hal yang berbeda.
Pada akhirnya, catatan ini juga berlaku bagi saya pribadi sebagai pengingat (reminder) untuk terus memperbaiki diri seiring meningkatan profesionalitas serta bertanggung jawab terhadap tugas dan fungsi yang diamanahi. Itu saja.
*Kota Jambi, 10 September 2026.
*Tulisan-tulisan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini:
1) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang
2) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana
7) Besak Ota
8) Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau
9) Tambah Berisi, Tunduk Ke Bawah
10) Surat Terakhir untuk Mama: Luka di Pelosok Negeri
11) Kehidupan Ini Tak Bisa Kita Biarkan Penuh dengan Ratapan
12) Melipat Waktu di Antara Langit dan Rel Kereta
13) Menapak Senja di Ujung Jabung
14) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi
15) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling
16) Langkah Kaki Haruki Murakami
19) Rektor dan Kepemimpinan Intelektual: Sebuah Autokritik
20) Gundah Bersama Seorang Guru Besar
23) Guru Posting Berdiri, Murid Update Berlari
24) Hasta Siempre, Viejo Querido: Belajar dari Jose Mujica
0 Komentar