Rendang dan Talua Barendo di Jalan Sabang

makan malam di RM Garuda Jalan Sabang


Oleh: Jumardi Putra

Di tengah bentang Jakarta yang dipenuhi pencakar langit dan ritme hidup yang serba cepat, Jalan H. Agus Salim—yang lebih masyhur dengan sebutan Jalan Sabang—berdiri teguh sebagai salah satu koridor kuliner paling ikonik di Jakarta Pusat. Sejak lama kawasan yang berjarak sepelemparan batu dari Jalan Wahid Hasyim ini telah mentransformasi dirinya dari kawasan pemukiman era kolonial menjadi pusat gravitasi gastronomi malam. Lengkap dengan trotoar pedestrian yang padat, deretan pedagang kaki lima, hingga restoran kawakan yang bertahan melintasi zaman, Sabang boleh dikata titik temu antara nostalgia sejarah dan denyut modernitas ibukota.

Bagi banyak pelancong, menelusuri Jalan Sabang di malam hari selalu menawarkan pengalaman menarik. Kerlap-kerlip lampu jalanan, pendar neon kedai-kedai tua, kepulan asap sate, tongseng dan nasi goreng yang mengarungi udara, serta riuh rendah klakson dan percakapan warga kota membaur menjadi satu harmoni perkotaan. Di antara barisan kedai yang memanjakan lidah itu, terdapat satu destinasi rasa yang malam itu menghentikan langkah kaki saya yaitu Rumah Makan Garuda. Saya tidak sendirian, melainkan bersama bang Firman, kak Suzie Ollyvianty, Deby Pratama, Ade Saputra dan Dimas, sesama sejawat kantor.

Memasuki RM Garuda cabang Sabang—salah satu jejaring restoran legendaris milik perantau asal minang di Kota Medan yang telah mewarnai peta kuliner Jakarta sejak dekade 1990-an—bagaikan melangkah ke dalam oase. Begitu duduk, tradisi manjamba—penyajian belasan piring kecil berisikan aneka hidangan yang disusun bertumpuk elegan di atas meja—seketika menghidupkan suasana di tengah ramai pengunjung lainnya.

Di antara botol minuman air putih dan tiga bakul nasi, deretan piring berisikan gulai otak, ayam pop, gulai jengkol, kerupuk jangek, pcuk ubi, udang hingga dendeng batokok, perhatian saya tertambat pada dua menu yaitu Rendang dan Taluo Barendo. Masih banyak menu lainnya lagi, saya tidak hapal seluruhnya.

Secara gastronomi, rendang bukanlah sekadar hidangan makan; ia adalah juga manifestasi kesabaran dan keahlian mengolah rasa yang memakan waktu berjam-jam, mencerminkan kerja keras dan ketekunan dalam menjalani hidup. Warnanya cokelat kehitaman pekat, dibalut minyak kelapa asli dan gumpalan dedak (bumbu rendang terkaramelisasi) yang amat menggugah selera. Ketika sendok membelah potongannya, serat daging sapinya yang empuk pasrah tanpa perlawanan—sebuah bukti otentik proses merendang berjam-jam dengan api kecil yang telaten.

Mendampingi rendang, saya juga menjatuh pilihan pada Taluo Barendo. Telur dadar khas Minang dengan krispi keemasan bersarang di sekujur pinggirannya—mekar bak renda yang rumit. Dibuat menggunakan teknik menggoreng khusus dalam minyak panas berlimpah, Taluo Barendo menyajikan kontras tekstur yang spektakuler: renyah bersarang di luar, namun tetap tebal, lembut, dan gurih beraroma daun bawang serta bumbu halus di bagian dalamnya.

Suapan pertama yang memadukan keduanya menciptakan simfoni rasa yang utuh: Gurih renyahnya krispi Taluo Barendo menyerap pekatnya bumbu rendang dan kuah gulai. Begitu juga daging rendang yang lumer memberikan kedalaman rasa rempah—lengkuas, serai, jahe, serta sengatan halus cabai merah—yang meresap hingga ke serat terdalam.

Menyantapnya bersama sepiring nasi hangat dan sedikit sambal kentang dilumuri cabai merah plus kriuk kerupuk jangek menyempurnakan pengalaman indrawi yang tak teringkari kelezatannya.

Sambil menikmati setiap gigitan, pandangan saya sesekali melempar ke luar jendela kaca RM Garuda. Di luar sana, Jalan Sabang terus berdenyut. Pejalan kaki lalu-lalang, kendaraan merayap lambat, dan para pedagang malam kian riuk menjajakan dagangan. Di momen inilah titik temu antara nostalgia, dedikasi kuliner tradisi, dan dinamika metropolitan terajut indah.

Galibnya makam malam bersama kawan tentulah disertai ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia pekerjaan dengan segala serba-serbinya. Sebelum melangkah pergi meninggalkan Jalan Sabang, terbesit dalam pikiran saya berikut ini:

Di bawah pendar lampu Sabang yang temaram / Jakarta boleh terus bergegas dan melesat pergi / Polusi, sumuk, sibuk dan macet / Namun di sini, rasa dan kesabaran menjaga ingatan kita tentang makanan yang diracik dengan cinta, teruji sang kala / Di sinilah, ibukota terasa jauh lebih santai, hangat, dan berkesan.

 

*Jakarta

*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:

1) Malam di Jakarta Tidak Pernah Benar-benar Gelap

2) Sisi Lain Jalan Sabang Jakarta

3) Satu Setengah Jam di Kobam Menteng

4) Di Puncak Menara Syahbandar Sunda Kelapa

5) Sepulang dari Museum Bank Indonesia

6) Apa Ada Ingin di Jakarta, Seperti dilepas Desa Melati

7) 3,5 Jam di Daniel S. Lev Law Library

8) Satu Jam di Ruang Ketiga Jalma

9) Tak Perlu Ke Puncak Mahameru Menemui Gie

10) Sepulang dari Museum Kebangkitan Nasional

11) Pallubasa Serigala

12) Ngadem di Goethe Institut

13) Suatu Siang di Erasmus Huis

14) Merajut Asa di Ruang Belajar Prof H.A.R. Tilaar

15) Ngadem di Freedom Institute Library

16) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi

Posting Komentar

0 Komentar