![]() |
Oleh: Jumardi Putra*
Pagi tadi, gerak putra bungsu saya sigap. Dengan mata berbinar, ia bergegas
mengenakan seragam pramuka lengkap dengan kacu merah putihnya. Katanya mantap,
hari ini ada upacara Hari Pramuka di sekolah. Seketika, ingatan saya terlempar
jauh ke tiga dekade silam, merayap menelusuri kenangan saat saya mengikuti
pelbagai agenda kepanduan, mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga
kabupaten. Namanya juga nostalgia, rasanya tak berujung jika terus ditelusuri.
Namun, waktu telah lama berlalu, membawa saya
meninggalkan momen-momen penuh gelak tawa dan peluh di lapangan terbuka kala itu
bersawak kawan-kawan sebaya. Kini, giliran anak saya yang mengenakan seragam
cokelat itu, melangkah melewati fase yang sama, di tempat ia bersekolah hari
ini.
Benar saja, hari ini, 14 Agustus 2026, anak-anak di
sekolah kembali memperingati Hari Pramuka. Seragam cokelat mendominasi di
lapangan terbuka sekolah, tepuk tangan khas Pramuka menggema di halaman, dan
tunas kelapa kembali disematkan di dada mereka. Sebuah pemandangan yang hangat,
namun sekaligus menyayat hati jika kita menengok keluar dari pagar sekolah. Di
luar sana, perayaan ini berbenturan telak dengan realitas kebangsaan yang kian
muram.
Sulit untuk terus menutup mata. Indonesia hari ini
tengah diuji oleh pelbagai krisis multidimensional yang mengoyak rasa keadilan.
Secara ekonomi, daya beli dan kesejahteraan rakyat kian tergerus; kelas
menengah kian terjepit, sementara jutaan generasi muda terjebak pada
pragmatisme dan budaya serba instan demi bertahan hidup. Di panggung politik,
kita disuguhi tontonan para elite yang larut dalam politik transaksional dan
mempertontonkan polarisasi tanpa malu. Sementara di ranah hukum, rasa keadilan
seakan menjadi barang mewah—tumpul ke atas, namun sangat tajam menghantam
mereka yang di bawah.
Dalam lanskap yang penuh ketidakpastian ini, institusi
pendidikan kita kerap tampak gagap. Sekolah sering kali terjebak menjadi
sekadar "pabrik" pencetak angka kelulusan, abadi dalam mengejar
capaian kognitif dan kompetensi teknologi, namun kedodoran dalam membentuk jiwa
kritis dan integritas moral. Pertanyaannya yang paling mendasar: di tengah
carut-marut ekonomi, politik, dan hukum negeri ini, masihkah Gerakan Pramuka
relevan?
Sebagai seorang ayah, hati saya menjawab: tentu saja masih sangat relevan.
Pramuka tidak boleh lagi dipandang sebelah mata atau direduksi sekadar menjadi
kegiatan seremonial, kewajiban administratif, atau latihan baris-berbaris dan
tali-temali semata. Pramuka adalah medium efektif untuk menyemai karakter
bangsa.
Jika kita mau jujur merenung, akar dari segala krisis multidimensional di
negeri ini adalah krisis moral dan lunturnya orientasi kebangsaan. Korupsi yang
menggurita dan etika publik yang runtuh lahir dari rahim generasi yang sejak
awal tidak pernah disentuh oleh nilai-nilai integritas. Di sinilah relevansi Gerakan
Pramuka. Melalui Dasa Darma dan Trisatya, Pramuka menawarkan "kurikulum
kehidupan" yang tidak cukup dipelajari di dalam buku-buku teks sekolah
konvensional.
Mari kita tatap mata anak-anak kita. Di saat dunia
digital mengepung mereka dengan sifat individualistik, instan, dan kehampaan
makna, Pramuka mendidik mereka melalui experiential learning—belajar langsung dari peluhnya
alam. Lewat kegiatan perkemahan, penjelajahan, dan bakti sosial di desa-desa
tertinggal, anak-anak kita dipaksa keluar dari zona nyaman gawai mereka. Mereka
diajarkan arti kemandirian, ketangguhan mental (survival), dan indahnya gotong royong tanpa pernah
memandang sekat status sosial. Keterampilan bertahan hidup dan semangat pantang
menyerah inilah yang kelak menjadi pelampung penyelamat saat mereka harus
mengarungi kerasnya badai ekonomi di masa depan.
Relevan masing-masing kita merenungkan kembali
pesan mendalam dari Bapak Pandu Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX yaitu pendidikan kepramukaan adalah proses pendidikan yang praktis di luar
lingkungan sekolah dan keluarga, untuk membentuk watak, ketrampilan, dan
jasmani generasi muda agar menjadi warga negara yang berguna dan bertanggung
jawab.
Hari ini, salah satu kritik paling tajam terhadap
sistem pendidikan kita adalah lahirnya lulusan yang cerdas secara akademik,
namun rapuh secara mental dan buta terhadap penderitaan sosial di sekitarnya.
Pramuka hadir menjembatani jurang tersebut guna membangun empati dan kesadaran
sosial, menjadi benteng kebhinekaan, dan medium kultural kaderisasi
pemimpin berintegritas secara berjenjang.
Momentum Hari Pramuka 2026 ini harus menjadi titik balik kesadaran kolektif
kita sebagai bangsa. Di tengah gelombang badai ekonomi yang mencekik, sandiwara
politik yang melelahkan, dan krisis hukum yang melukai nurani, merevitalisasi
Gerakan Pramuka adalah sebuah ikhtiar penyelamatan moral yang tidak bisa
ditawar lagi.
Sebab pada akhirnya, masa depan Indonesia tercinta
tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi atau kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang
dikuasai oleh anak-anak muda kita kelak. Masa depan bangsa ini ditentukan oleh moral yang kokok dan keberanian mereka untuk merawat negeri ini mulai dari lingkup terkecil di
sekitarnya.
Selamat Hari Pramuka. Teruslah menjadi tunas-tunas
kelapa yang akarnya menghunjam kuat ke bumi pertiwi, dan daunnya menaungi kesejukan
bagi sesama.
*Kota Jambi. Foto di dalam tulisan ini diambil dari laman pramukaupdate.id

0 Komentar