Manifesto Library Dua Lipa

 

Musisi Dua Lipa. Sumber: https://telegraph.co.uk

Oleh: Jumardi Putra

Bagi jutaan penggemarnya di seluruh dunia, nama Dua Lipa adalah sinonim dari lantai dansa yang berkilau, ketukan bas yang adiktif, dan lagu-lagu pop modern seperti Levitating atau Don't Start Now. Ia boleh dikata menjadi simbol keglamoran industri musik global. Namun baru-baru ini (27 Juni 2026), ia mengambil keputusan yang mengejutkan sekaligus menyentuh hati: mendirikan Manifesto Library di Portugal. Langkah ini menawarkan sudut pandang baru yang mengharukan—seorang diva pop yang menolak lupa pada akar literasi.

Perpustakaan ini didirikan sebagai bagian dari festival literasi BABEL - City of Books sekaligus menjadi koleksi permanen di Livraria Lello, Porto, Portugal—salah satu toko buku paling bersejarah di dunia.

Yang membuat kabar terbaru dari Dua Lipa ini menarik perhatian bibliografer adalah misinya mengkurasi sekitar 100 judul buku yang pernah dilarang, disensor, atau dibatasi peredarannya di berbagai belahan dunia. Buku-buku tersebut dikelompokkan ke dalam empat tema utama, yakni kekuasaan, kontrol, suara, dan ingatan. Sejumlah karya terkenal yang tersedia di antaranya 'The Handmaid's Tale' karya Margaret Atwood, 'Felon' karya Reginald Dwayne Betts, serta beberapa buku karya Salman Rushdie dan Olga Tokarczuk.

Kolaborasi antara Service95 Book Club (klub buku yang didirikan Dua Lipa) dan Livraria Lello ini merupakan sebuah manifesto pribadi Dua Lipa tentang bagaimana pengetahuan yang berusaha dibungkam oleh kekuasaan, justru diberikan rumah yang aman untuk dibaca kembali oleh sesiapa saja.

Selain itu, pilihan menempatkan Manifesto Library di Portugal terasa spesial sekaligus strategis. Negara ini mengakar pada sejarah sastra, mulai dari puisi Fernando Pessoa, seoorang penyair, filsuf, dan kritikus yang menjadi fondasi modernisme sastra berbahasa Portugis hingga narasi mendalam peraih Nobel tahun 1998, José Saramago. Di tanah yang kini menjadi magnet bagi para pemikir dan kreator dunia ini, termasuk tokoh olahraga sekaliber Cristiano Ronaldo, Dua Lipa membawa kecintaannya pada buku—yang semula tumbuh di ruang digital melalui Service95—menjadi sebuah ruang fisik yang nyata dan hangat.

Sering kali, dunia pop kontemporer dan dunia literasi dipandang sebagai dua kutub yang berseberangan. Musik pop kerap dituduh sebagai hiburan yang efemeral (sementara), sedangkan buku dianggap sebagai artefak pemikiran yang abadi dan elitis.

Melalui Manifesto Library, Dua Lipa menjadi bagian dari orang-orang yang memilih berada di garis terdepan untuk meruntuhkan sekat tersebut. Dengan mengkurasi buku-buku yang membentuk cara pandangnya—mulai dari fiksi kontemporer, manifesto politik, hingga sejarah seni—ia menunjukkan bahwa seorang pop star bisa memiliki kapasitas intelektual yang dalam.

Di era di mana toko buku independen terseok-seok untuk bertahan hidup dan jemari kita kian terfragmentasi di balik layar gawai, kehadiran Manifesto Library adalah sebuah pengingat yang menyentuh tentang pentingnya "ruang ketiga." Sebuah tempat di mana manusia bisa duduk bersama, melepaskan tuntutan produktivitas, hanya untuk terkoneksi dan berkontemplasi.

Pada akhirnya, Manifesto Library adalah sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana seorang musisi modern mendefinisikan warisannya (legacy). Dua Lipa seolah ingin membuktikan bahwa pengaruh seorang bintang pop tidak harus berakhir ketika lagu terakhir di tangga nada memudar dan lampu panggung dipadamkan.

Ketika selebritas papan atas dunia berlomba-lomba meluncurkan merek kecantikan (beauty brand) demi profit, Dua Lipa memilih jalan yang sunyi namun berdampak: ia mewariskan ruang untuk bertukar ide, memantik diskusi, menggugat perspektif, dan meluaskan horizon pengetahuan.

*Kamis, 2 Juni 2026. Tulisan di atas diolah dari berbagai media internasional, antara lain: The Portugal News dan situs Resmi Livraria Lello (livrarialello.pt): https://www.service95.com/subscribe-to-service95 dan https://consequence.net/2026/06/dua-lipa-manifesto-library/

Posting Komentar

0 Komentar