Tak Ada Madilog di Kafe Madilog


Oleh: Jumardi Putra

Dibilang sering juga tidak, tetapi kongkow bareng kawan di kafe bukanlah sesuatu yang ganjil bagi saya. Beberapa pertemuan saya dengan sejawat peneliti kampus, baik dari dalam maupun luar negeri (termasuk BRIN), belum lama ini berlangsung di kafe. Ruang komersil ini dipilih karena menyediakan sekat untuk diskusi terbatas secara mendalam, sembari tetap menghadirkan nuansa ketenangan yang santai. Beruntung jika sebuah kafe juga menyediakan sumber literatur gratis seperti buku, jurnal, atau prosiding bagi pengunjung. Di Jambi sendiri, sependek pengetahuan saya, baru sedikit pelaku usaha yang menghadirkan konsep demikian.

Sore kemarin, saya bersama beberapa kawan berjumpa di sebuah kafe yang terletak di pusat bisnis baru di Kota Jambi. "Madilog", begitu tempat itu dinamai, dengan sebuah jargon pemikat di bawahnya: ada logika dalam rasa. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di sana, kendati keberadaannya telah saya ketahui sejak medio Februari 2025 karena sering saya lewati saban pulang dari kantor.

Konon, penamaan oleh pemilik kafe ini terinspirasi dari magnum opus Tan Malaka yang bertajuk Madilog: akronim dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Buku tersebut ditulis Tan Malaka di sebuah kontrakan kecil yang sangat sederhana di daerah Rajawati, Batavia (Jakarta), dalam kurun waktu sekitar 8 bulan, yaitu mulai dari 15 Juli 1942 sampai dengan 30 Maret 1943. Meskipun selesai ditulis pada tahun 1943 di tengah masa pendudukan Jepang, Madilog tidak bisa langsung diterbitkan secara massal karena situasi politik dan perang. Buku tersebut baru diterbitkan secara resmi untuk pertama kalinya pada tahun 1951 (setelah Tan Malaka wafat).

Di kalangan aktivis gerakan mahasiswa maupun kelompok pro demokrasi—Madilog menjadi asupan pemikiran penting yang diam-diam menggerakkan ide-ide perlawanan, bersanding dengan ketatnya pelarangan membaca buku-buku sejenis oleh rezim Orde Baru.

Menariknya, nama dan karya Tan Malaka kini mulai kembali ramai dibicarakan di kalangan Generasi Z. Banyak penerbit tanah air yang kembali mencetak ulang buah pemikiran sang Bapak Republik tersebut. Sesuatu yang dulunya dilarang, kini justru melenggang mudah dijumpai, bahkan nukilan-nukilannya kerap menghiasi ruang-ruang publik virtual di media sosial. Kendati begitu, popularitas Tan Malaka hari ini nyatanya tidak secara otomatis segaris dan sebangun dengan kapasitas membaca masyarakat secara kritis-mendalam terhadap karya sang ideolog.

Maka, ketika beberapa kawan mengajak bertemu di kafe yang jelas-jelas memakai nama besar tersebut, saya datang dengan penuh antusias, selain karena salah satu kawan yang hadir datang dari Jakarta--lama tak sua. Tebersit satu tanya di kepala saya: Apakah pemilik kafe menyediakan karya-karya Tan Malaka—seperti Naar de Republiek Indonesia, Dari Penjara ke Penjara, atau Massa Aksi—agar bisa dibaca gratis oleh pengunjung di sela-sela waktu santai mereka? Jika pun tidak seluruhnya, minimal kitab Madilog itu sendiri ada di sana.

Buku di Kafe Madilog (satu dari tiga yang disediakan) 

Sejak menit pertama menapakkan kaki di kafe ini, saya justru disambut oleh realitas yang berbeda. Saya tidak menemukan sama sekali foto sang tokoh, siluet wajahnya, atau sekadar kutipan revolusionernya yang membakar semangat kaum muda di dinding kafe. Nihil. Walakin, saya sedikit lega karena mendapati tiga eksemplar buku Madilog yang tergeletak pasrah tidak jauh dari meja kasir. Saya pun mengambil salah satu eksemplarnya, membuka halaman demi halaman, sekadar melihat isinya sekelebat saja.

Rasa penasaran pun menuntun saya dan kawan-kawan pada satu pertanyaan pokok: "Apakah pengunjung di sini benar-benar mengenal Tan Malaka dan membaca Madilog?"

Di sela-sela obrolan, saya mencoba menguji rasa penasaran tersebut dengan bertanya langsung kepada lima orang di sana: seorang pramusaji, seorang barista, dua orang pengunjung, dan seorang perempuan muda yang ternyata anak dari pemilik kafe. Minus satu pengunjung yang mengakui tidak kenal Tan Malaka--apalagi membaca Madilog), selebihnya mengakui tahu nama Tan Malaka dan karya Madilog, tapi belum membacanya sampai suntas. 

Tentu saja, jawaban dari lima orang ini tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menyimpulkan tingkat literasi pengunjung kafe secara umum, apalagi mengukur kadar literasi warga Jambi secara menyeluruh. Namun, interaksi singkat ini cukup memberikan gambaran kecil tentang sejauh mana sosok Tan Malaka dipahami di sebuah tempat yang terang-terangan menjadikannya sebagai identitas jualan (branding). Saya pun mengusulkan ke Mbak Salsabila Alethea, anak dari pemilik kafe ini, agar menambah karya Tan Malaka lainnya atau literatur sejenis sebagai alternatif bacaan bagi pengunjung, terutama bagi bibliofil di Kota Jambi. Ia pun lantas mengamini. 

Faktanya, dari sore hingga malam di kafe ini, saya menyaksikan hilir mudik pengunjung dengan rupa-rupa kepentingan, laiaknya kafe atau tempat nongkorong lainnya di kota ini. Umumnya mereka datang bersama teman atau keluarga untuk mengobrol sembari menyantap hidangan di akhir pekan. Makan, minum, dan foto-foto lalu menjadi materi instastroy. Tampak pula beberapa orang yang tekun menatap layar laptop, barangkali sedang menuntaskan tugas di ambang deadline tempatnya bekerja. Fenomena ini menegaskan bahwa kongkow di kafe telah sepenuhnya menjelma menjadi bagian dari gaya hidup urban (urban lifestyle) di Kota Jambi. Dengan kata lain, ada atau tidak ada karya Madilog di kafe Madilog bukan sesuatu yang prinsipil bagi pengunjung, kendati kehendak mempertanyakannnya bukan sesuatu yang terlarang pula.

Situasi ini mendadak mengingatkan saya pada celotehan menggelitik--perlu dicakaprenungkan--dari seorang kawan hampir setahun lalu, tepat di masa awal kehadiran kafe ini:

Apakah pemilik kafe ini benar-benar pembaca kritis Madilog atau ia memakai nama tersebut tidak lebih dari strategi pemasaran? Itu hal lain.

Apakah Madilog dibaca untuk disebut intelek? Itu juga soal lain.

Apakah Madilog dibaca, dimengerti, lalu diamalkan sebagaimana maksud Tan Malaka menuliskannya? Jelas, itu perkara yang jauh lebih lain lagi.

Hampir enam jam kami menghabiskan waktu di kafe tersebut. Obrolan kami mengalir tanpa diiikat oleh satu tema tertentu, tetapi bertitimangsa seputar kebijakan publik di sektor kebudayaan, dinamika politik kiwari (bukan politik praktis), etos ilmiah warga kampus, hingga sengkarut pembangunan daerah di tengah kondisi fiskal daerah yang kian menyempit.

Pada akhirnya, terlepas dari apa pun nama kafenya, ruang untuk mendialogkan pikiran-pikiran yang merawat akal sehat selalu diperlukan. Terutama di tengah bising dan riuhnya era post-truth sekarang ini.


*Kota Jambi, 5 Juli 2026. Karya relevan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini: Dari Penjara Ke Penjara: Jejak Ideolog Tan Malaka

Posting Komentar

0 Komentar