![]() |
| ilustrasi. sumber: ft.pinterest |
Oleh: Jumardi Putra
Tepat hari ini, 1 Juni 2026, kita kembali memperingati kelahiran
Pancasila dalam lanskap zaman yang telah berubah total. Jika delapan puluh satu
tahun lalu Bung Karno menawarkan konsep dan istilah Pancasila sebagai Philosofische
Grondslag (dasar filsafat) di atas meja sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) untuk pertama
kalinya, hari ini dasar itu sedang diuji oleh generasi baru yang lahir di rahim
algoritma yakni Generasi Z (Gen Z) atau mereka yang lahir dalam rentang tahun 1997 hingga 2012. Terlebih lagi, jumlah Gen Z kini mendekati 30 persen dari total keseluruhan populasi nasional.
Ada kecenderungan klise di kalangan pengambil kebijakan yang memandang
Gen Z dengan nada cemas yaitu dianggap apatis, rapuh secara mental (strawberry
generation), dan tercerabut dari akar nasionalisme akibat kosmopolitanisme
digital. Namun, tuduhan ini agaknya meleset—untuk menyebut tidak sepenuhnya
tepat. Gen Z bisa jadi tidak membenci Pancasila; mereka hanya protes—tentu
dengan bahasa perlawanan ala Gen Z-- pada cara penataran moralitas masa lalu yang
dogmatis, berjarak, dan kerap dijadikan instrumen pemukul oleh rezim kekuasaan
bagi setiap mereka yang berseberangan jalan.
Di tengah kepungan krisis multidimensi—mulai dari polarisasi politik
domestik, ancaman pemutusan hubungan kerja akibat kecerdasan buatan (Artificial
Intellegence), perang antar negara, hingga krisis iklim global—kita memerlukan argumentasi baru untuk menempatkan
relevansi Pancasila. Pancasila tidak perlu diperlakukan sebagai ornamen
pajangan dinding kelas yang statis, lalu diperingati dalam berbagai seremoni,
melainkan harus diinstal sebagai Operating System (OS) yang bernyawa—itu
artinya hidup, solutif, dan tangguh menghadapi pelbagai tantangan masa depan.
Pertama, dekonstruksi ruang digital dari polusi hoax dan kebencian. Di dalam negeri, algoritma media sosial telah membelah masyarakat ke dalam ruang gema (echo chamber) yang memicu polarisasi berbasis identitas. Di luar negeri, radikalisme transnasional kini bermutasi via ruang siber melalui narasi ekstremisme yang halus. Medium politik elektoral secara periodik maupun pelbagai kepentingan sempit yang menyulut konflik horizontal kerapkali memicu regresi sosial, terlebih lagi diamplifikasi melalui interaksi dunia maya lewat pelbagai aplikasi media sosial.
Dalil atau argumentasi baru dari Ketuhanan yang
Maha Esa bagi Gen Z adalah transformasi pada Etika Welas Asih Digital (Digital Compassion). Ketuhanan
dalam konteks abad ke-21 bukan lagi sekadar urusan ritual privat atau klaim
kebenaran teologis yang saling menegasikan di kolom komentar lini media sosial.
Ketuhanan yang Berkebudayaan—meminjam istilah Bung Karno—hari ini
mewujud pada kesadaran Gen Z untuk menghormati privasi, menolak perundungan
siber (cyberbullying), dan menyaring informasi sebelum membagikannya (check
and recheck). Dengan demikian, menghayati sila pertama dalam Panscisla adalah
jangkar moral yang mencegah teknologi mendehumanisasi manusia sebagai subjek
dengan akar tunjang kebudayaan yang terus bertumbuh.
Kedua, kosmopolitanisme
yang berakar, bukan nasionalisme sempit. Tantangan politik luar negeri hari
ini sangat kompleks, sebut saja seperti genosida kemanusiaan di berbagai
belahan dunia, krisis pengungsi global, dan ketegangan geopolitik dan krisis
legitimasi terhadap organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Gen Z, sebagai
digital native, merasakan denyut krisis itu secara seketika (real-time)
di layar gawai mereka. Mereka memiliki solidaritas global yang tinggi.
Di sinilah Kemanusiaan yang Adil
dan Beradab serta Persatuan
Indonesia (Sila Kedua dan Ketiga) menemukan dialektika barunya yaitu kosmopolitanisme yang berakar (Rooted
Cosmopolitanism).
Hal ini bukan tanpa alasan, karena Gen Z menyadari bahwa menjadi warga
dunia yang peduli pada isu kemanusiaan global (seperti kemerdekaan Palestina
atau hak-hak pengungsi) tidak berarti harus kehilangan identitas
keindonesiaannya. Justru, Pancasila memberikan legitimasi bahwa nasionalisme Indonesia
adalah nasionalisme yang humanis. Seperti adagium Bung Karno berikut ini: Internasionalisme
tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar dalam bumi nasionalisme.
Ketiga, memulihkan demokrasi dari "Gig Economy" dan aligarki. Gen Z hari
ini menghadapi realitas ekonomi politik domestik yang mencemaskan yaitu
menyusutnya lapangan kerja formal, maraknya fenomena gig economy
(pekerja lepas tanpa jaminan kesejahteraan), dan regulasi yang sering kali abai
pada kelestarian lingkungan demi investasi makro atau bertujuan meningkatkan
sumber penerimaan negara untuk meningkatakan pertumbuhan ekonomi.
Setakat hal itu, mencermati sila keempat (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan) perlu dimaknai ulang sebagai proses
pembangunan demokrasi inklusif dan berkeadilan.
Musyawarah setiap pengambilan kebijakan pembangunan tidak boleh lagi
dimaknai sebagai rapat-rapat formal parlemen yang kerap dikuasai kepentingan
oligarki. Bagi Gen Z, pilar keempat ini adalah hak untuk bersuara,
mengorganisasi gerakan sosial via petisi daring, dan mengawasi jalannya
anggaran negara (APBN/APBD) melalui transparansi digital. Oleh karena itu, hikmat
kebijaksanaan hari ini menuntut negara untuk mendengarkan kecemasan kelas
pekerja muda dan komunitas adat yang ruang hidupnya terancam oleh eksploitasi
alam.
Keempat, keadilan iklim (climate justice) untuk masa depan generasi. Hal ini menemukan signifikansinya sekarang,
karena tantangan
masa depan paling eksistensial bagi Gen Z adalah krisis iklim. Degradasi lingkungan, banjir rob, cuaca ekstrem, dan
ancaman kelangkaan pangan bukan lagi sekadar prediksi ilmiah, melainkan
realitas harian yang memerlukan jalan keluar dari negara secara berkelanjutan.
Selanjutnya, dalil paling radikal dan baru bagi relevansi Pancasila
terletak pada sila kelima yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia harus diperluas
maknanya menjadi keadilan iklim antargenerasi (Intergenerational Climate Justice).
Hal ini masuk akal, karena keadilan sosial tidak lagi sebatas bagi-bagi
bantuan sosial (bansos) atau program pembangunan infrastruktur fisik yang termaktub
dalam nomenklatur anggaran di Kementerian/Lembaga atau perangkat daerah.
Keadilan sosial berarti memastikan bahwa alam, air, tanah, dan udara bersih di
bumi Nusantara tidak dihabiskan oleh keserakahan industri (terutama industri ekstraktif)
hari ini, sehingga menyisakan bencana bagi generasi masa depan. Gen Z
membutuhkan Pancasila yang menghijau, yang membela hak ekologis mereka.
Menjadikan Pancasila relevan bagi Gen Z berarti harus berani meruntuhkan
formalisme birokrasi yang kaku dan penuh tipu muslihat. Gen Z membutuhkan
Pancasila yang cair, yang hadir dalam ruang-ruang kreasi kreatif, yang mewujud
pada gerakan reboisasi pemuda di pelosok kampung, yang bersuara lantang menolak
korupsi, dan yang menggunakan teknologi untuk memuliakan manusia.
Sedari bersama, Pancasila bukanlah teks mati peninggalan Bung Karno dan
pergolakannya bersama Founding Fathers tahun 1945. Ia adalah sebuah kontrak
sosial yang dinamis, sebuah janji kebangsaan yang harus terus-menerus
diperbarui pemaknaannya oleh setiap generasi untuk menemukan titik relevansinya.
Di tangan Gen Z yang kritis dan adaptif, kita menitipkan harapan agar api
Pancasila tetap menyala—bukan sebagai dogma yang menakuti, melainkan sebagai
cahaya yang menuntun republik ini keluar dari kegelapan krisis global.
*Kota Jambi, Senin 1 Juni 2026.
*Sumber Referensi:
- Latif, Yudi. (2011). Negara
Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualisasi Pancasila.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Soekarno. (1945). Pidato Lahirnya
Pancasila 1 Juni 1945. Dokumen Otentik BPUPKI. Sumber primer
mengenai konsep Internasionalisme dan Ketuhanan yang berkebudayaan.
- World Economic Forum (WEF). (2026). The
Global Risks Report 2026. WEF Geneva. Rujukan substansi mengenai
ancaman krisis iklim global dan disrupsi lapangan kerja akibat kecerdasan
buatan bagi generasi muda.
- Kementerian PPN/Bappenas. (2025). Laporan Indeks Pembangunan Pemuda Indonesia. Jakarta. (Data pendukung mengenai karakteristik sosiologis, tantangan ekonomi siber, dan aspirasi politik Gen Z).
*Tulisan saya lainnya di link berikut ini:
2) Naoko Nemoto: Madam Soekarno
3) Sepulang dari Pusat Studi Arsip Kepresidenan Sukarno
5) Sepulang dari Pusara Inggit Garnasih
6) Oase di Jalan Bandung Wetan
7) Bung Karno di Mata Mahbub Djunaidi
8) Bung Karno dan Sumbangan Rakyat Jambi Untuk Kemerdekaan RI
9) Sejarah dalam Tangkapan Lensa Guntur Sukarno
10) Dari Gedung Landraad ke Penjara Banceuy
11) Jejak Bung Karno di Hotel Phoenix Jogja 1946
12) Kisah Puteri Gubernur Jambi 1975 Tentang Bung Karno
13) Suatu Siang di Rumah Jenderal Soedirman
14) Dari Penjara Ke Penjara: Jejak Tan Malaka
15) Sutan Sjahrir: Hidup Yang Tidak Dipertaruhkan, Tak Akan Pernah Dimenangkan
17) Lahirnya Fajar Kesadaran Nasional


0 Komentar