![]() |
| ilustrasi. sumber: kompas.com |
Oleh: Jumardi Putra*
Mimbar Jumat sering
kali menjadi ruang yang dipenuhi dengan pengulangan. Di banyak masjid, kita
kerap menjumpai khutbah yang terjebak dalam nada yang monoton, teks yang
berjarak dari realitas, hingga durasi yang seolah menguji kesabaran biologis
jamaah di tengah kantuk siang hari. Di tengah kejenuhan itulah, buku esais karya Hairus Salim hadir membawa angin segar. Melalui tokoh rekaan
bernama Kang Chairil, buku ini menawarkan sebuah perspektif "Sayur
Bening"—sebuah metafora bagi pesan agama yang substantif, kontekstual,
sekaligus ringan untuk disantap.
Kekuatan utama
Hairus Salim dalam buku setebal 154 halaman ini terletak pada kepiawaiannya
menulis dengan gaya bertutur. Membaca narasi di dalamnya tidak terasa
seperti sedang diceramahi oleh seorang khatib yang kaku, melainkan seperti
sedang diajak berdialog oleh seorang kawan lama di teras rumah. Penulis
berhasil mengungkit sisi-sisi ibadah Jumat yang sering luput dari perhatian,
menjadikannya sebuah karya yang kritis tanpa harus kehilangan kerendahhatian.
Siapa sebenarnya
Kang Chairil? Penulis buku ini membangun karakter yang membumi. Ia bukan
seorang kiai besar dengan deretan gelar akademik yang berjubel, bukan pula
ustadz kondang yang wajahnya wara-wiri di layar televisi. Kang Chairil digambarkan
sebagai seorang pedagang buku bekas dan barang antik. Profil ini secara satir
menggugat anggapan umum bahwa otoritas keagamaan hanya milik mereka yang
berjubah, bersal melilit kepala, atau yang memegang tasbih secara demonstratif.
Meskipun ia pernah
mengenyam pendidikan pesantren dan aktif dalam gerakan mahasiswa, Kang Chairil
tetap memilih menjadi "orang biasa". Ia adalah tipe jamaah yang lebih
senang duduk tenang di dekat tiang masjid daripada berdiri di mimbar.
Keterlibatannya sebagai khatib sering kali terjadi karena
"kecelakaan" atau keadaan darurat—saat khatib resmi berhalangan
hadir. Namun, justru dalam ketidaksengajaan itulah, muncul mutiara-mutiara
pemikiran yang lebih jujur dan menyentuh akar rumput.
Istilah "Sayur
Bening" yang disematkan pada khutbah-khutbah Kang Chairil memiliki
filosofi mendalam. Di meja makan kita, sayur bening adalah menu yang sederhana,
namun menyegarkan dan menyehatkan. Ia tidak menggunakan bumbu yang pekat atau
lemak yang berat. Demikian pula isi khutbah Kang Chairil: singkat, padat,
dan segar. Pesan-pesan ketuhanan (teosentris) ditarik ke bumi agar bertaut erat
dengan urusan kemanusiaan (antroposentris).
Racikan materinya pun unik. Kang Chairil tidak melulu merujuk pada teks keagamaan secara ansich. Ia dengan lincah memasukkan instrumen karya sastra, seperti syair-syair Hamzah Fansuri hingga puisi-puisi Chairil Anwar. Ia juga menghidupkan kembali cerita hikmah dari kitab klasik seperti Musyawarah Burung karya Fariduddin Attar atau narasi dari kitab Qiraat ar-Rasyidah yang akrab di telinga santri. Bahkan, sesekali ia menggunakan lakon wayang Nusantara untuk membedah problem moral masyarakat.
![]() |
| Buku karya Hairus Salim |
Metode ini terbukti ampuh. Jamaah yang biasanya terlelap dalam siklus biologis kantuk siang hari, justru dibuat terjaga oleh narasinya. Hebatnya, Kang Chairil melakukan itu tanpa harus melucu. Baginya, melucu di mimbar Jumat adalah tabu, namun memikat perhatian dengan kedalaman ilmu adalah keharusan.
Tema-tema yang
diusung dalam 20 naskah khutbah di buku ini sangat bervariasi dan berani
menyentuh isu sensitif. Ia bicara tentang radikalisasi agama dan jihad yang
salah kaprah dengan merujuk pada pandangan ulama yang moderat. Ia juga
menyoroti kerusakan alam yang lahir dari keserakahan manusia, mengingatkan
bahwa krisis ekologi adalah krisis spiritual.
Salah satu tema
yang sangat relevan adalah kritik terhadap budaya konsumerisme, di mana ia
mengaitkan surplus limbah makanan dengan ketidakpedulian sosial. Ada pula
bahasan tentang "tirakat jalanan" atau disiplin lalu lintas, yang memotret
bagaimana keberagamaan seseorang seharusnya tercermin dalam cara ia berkendara.
Kang Chairil juga menyentuh sisi psikologis manusia melalui kisah dendam
kesumat antara Drupada dan Drona, yang ia gunakan sebagai peringatan akan
bahayanya memelihara kebencian.
Semua tema tersebut
berangkat dari satu kesadaran etis: ia tidak ingin menambah beban jamaah. Kang
Chairil sadar bahwa banyak orang yang datang ke masjid membawa beban hidup yang
sudah sangat berat. Maka, khutbah tidak boleh menjadi beban tambahan berupa
ancaman neraka atau caci maki, melainkan harus menjadi oase yang menenangkan.
Bagian paling reflektif dari buku ini adalah pandangan Kang Chairil mengenai posisi khatib sarat kekuasaan. Mimbar adalah tempat di mana seseorang memegang otoritas keagamaan, kualitas moral, dan kearifan sekaligus. Hal ini melahirkan sakralitas yang sering kali membuat pengkhutbah lupa diri.
Kang Chairil sangat
takut pada jebakan citra. Ia ogah memoles diri agar terlihat saleh secara
artifisial. Baginya, menjadi pengkhutbah adalah komitmen moral yang berat
karena ia harus menjadi cerminan bagi umat. Ia merujuk pada pesan Imam
Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad, bahwa fitnah terbesar seorang
pendakwah adalah ketika ia tidak mengamalkan apa yang ia katakan. Kalimat "Astagfirullah
min qaulin bila amalin" (Aku memohon ampun kepada Allah dari
ucapan yang tanpa perbuatan) menjadi ruh yang melandasi setiap kata yang ia
ucapkan.
Buku ini juga
memberikan sentilan halus terhadap fenomena "komodifikasi mimbar", di
mana jabatan khatib kadang terjerembah dalam kepentingan ekonomi semata—sekadar
mengejar amplop rutin dari Jumat ke Jumat. Pengalaman Kang Chairil dengan
kondisi ekonomi yang sederhana dalam menghadapi urusan "amplop" ini
menjadi salah satu bagian yang menggelitik sekaligus menyentuh.
Melalui
"Khutbah Sayur Bening Kang Chairil", Hairus Salim mengajak kita
semua—baik para khatib maupun jamaah—untuk merenungi kembali makna ibadah di
setiap Sayyidul Ayyam. Di tengah dunia yang semakin bising dan
penuh kepalsuan, kita merindukan suara-suara yang jujur, rendah hati, dan
menyegarkan seperti sayur bening. Buku ini bukan sekadar kumpulan naskah
khutbah, melainkan sebuah panduan untuk kembali pada agama yang humanis,
sederhana, dan mencerahkan. Sebuah bacaan wajib bagi siapa saja yang merindukan
kesegaran spiritual di tengah gersangnya rutinitas keberagamaan kita.
*Kota Jambi, 23
Agustus 2025.
*Berikut link tulisan saya tentang sosok dan pemikiran penulis buku di atas: Jalan Pengetahuan Hairus Salim



0 Komentar