Mengenal Esais Hairus Salim HS

Hairus Salim HS. Sumber: FB

Oleh: Jumardi Putra*

Sehari sebelum buku kumpulan esai berjudul Negara Melodrama (Gading, 2019), karya sineas Garin Nugroho saya dapatkan di kantor Yayasan LKiS, wadah kelompok intelektual muda Islam era 1990-an hingga 2000-an di Yogyakarta, saya berkunjung ke rumah direktur Gading Publishing, mas Hairus Salim HS, penulis dua judul buku esai yang terbit belum lama ini, yaitu Gus Dur, Sang Kosmopolit (EA Books, 2020) dan Tuhan Yang Tersembunyi: Renungan dari Balik Aksara (Mojok, 2019).

Dari dua buku tersebut saya menemukan tiga hal sekaligus. Pertama, kekhasan sudut pandang Hairus Salim baik sebagai peneliti, peterjemah, dan satu lagi, santri. Kedua, teknik menulis sehingga perkara berat mampu ditulis ringan dan mengalir, dan ketiga penguasaan literatur yang beragam, utamanya yang bertitimangsa pada ranah antropologi, sosiologi, dan sastra (prosa) salah satunya.

Khusus dari buku Gus Dur, sang Kosmopolit, saya menjadi mengerti, seperti diakui penulis dalam sekapur sirihnya, yakni kedekatan dirinya baik secara emosional maupun intelektual dengan sosok karismatik K.H. Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur, Presiden keempat RI yang juga penulis hebat. Sebuah perjumpaaan yang tidak banyak orang dapatkan di republik ini.

Hairus Salim ini, selain senior beda jurusan di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, juga pendahulu saya di ARENA, lembaga Pers Mahasiswa (Persma) UIN Sukijo yang terbentuk pada 10 Januari 1975. Dalam masa keemasannya, Goenawan Mohammad pernah menjuluki ARENA sebagai TEMPO kecil (1977), karena selain format dan isi penerbitan yang ditampilkan hampir sama dengan TEMPO, juga menekankan pada investigative reporting. Sekarang, ARENA masihkah demikian? Saya tak bisa menjawab pasti, tapi yang pasti saya bersyukur pernah ditempa di LPM ARENA.

Hasil riset, terjemahan dan tulisan-tulisan populer Hairus Salim terbit dalam bentuk buku dan tersiar di media cetak maupun online, dan tiga tahun belakangan ini membersamai massifnya penggunaan media sosial, tulisan-tulisan mas Salim mudah dijumpai di portal pemikiran yang lagi naik daun, sebut saja seperti Indoprogress, Mojok, Alif.id, Basabasi, dan beberapa tulisan beliau pernah saya minta untuk dimuat di kajanglako.com

Jauh sebelum media sosial diminati nitizen tanah air, esai-esai apik mas Salim sudah dikenal pembaca melalui kolom bulanannya di Majalah Gong, sebuah majalah kebudayaan berkala di Yogyakarta era 1999-2010, yang kini sudah tiada. Melalui kolom rutin antara akhir tahun 2004-2010 Hairus Salim meneguhkan kemampuannya merespon dan mengolah isu-isu aktual seputar dunia urban Indonesia lengkap dengan paradoksnya, mulai dari soal kemiskinan, intoleransi beragama hingga permasalahan ekonomi politik yang kompleks. 

Tuan dan puan juga bisa berkunjung ke laman blog pribadi Hairus Salim di alamat https://haisa.wordpress.com. Di laman tersebut kita bisa melacak tulisan-tulisan salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta ini yang terbit di koran, majalah dan forum-forum diskusi. Umumnya tulisan-tulisan Mas Salim bertitimangsa pada jurnalisme, kebudayaan, politik kebudayaan, dan masalah-masalah agama (bukan dalam pengertian formal).

Selain dua buku tersebut di atas, saya juga mengoleksi buku lulusan pascasarjana antropologi UGM ini, yaitu Politik Ruang Publik: Negosiasi dan Resistensi di SMUN di Yogyakarta (ditulis bersama Najib Kailani dan Nikmal Azekiyah, CRCS, 2011) dan Krisis Keistimewaan: Kekerasan Terhadap Minoritas di Yogyakarta (ditulis bersama Iqbal Ahnaf, CRCS, 2017). Dua buku tersebut menjadi rujukan mengenai perkembangan keragaman di Sekolah-sekolah Menengah Umum dan tentang Yogyakarta, Kota bergelar pendidikan dan budaya mutakhir. 

Bukunya yang lain, yaitu Amuk Banjarmasin (Ditulis bersama Andi Achdian, YLBHI, 1997), Modul Belajar Bersama: Membangun Pluralisme dari Bawah (ditulis bersama Suhadi, CRCS UGM, 2007), Kelompok Paramiliter NU (Tesisnya di Antropolgi UGM yang diterbitkan menjadi buku oleh LKiS, 2004), Berlayar di Tengah Badai: Misbach Thamrin dalam Gemuruh Politik-Seni (ditulis bersama Hajriansyah, Gading, 2015) dan kumpulan cerita pendek berjudul Matilda, Lelaki Izrail, dan Seorang Perempuan di Masjid Kami (2012). Khusus Kumcernya itu saya dapatkan langsung dari penulis ketika dirinya berkunjung ke Tanah Pilih Pusako Betuah, Kota Jambi, delapan tahun yang lalu.

Bukan Hairus Salim namanya jika tidak muncul hal-hal segar dari perspektif pria kelahiran Tabalong, Kalimantan Selatan, dari campuran darah Banjar-Dayak Bakumpai ini. Ora umum! Demikian para sejawatnya dalam percakapan media sosial menyebut kepiawaian Hairus Salim bila menulis sebuah topik atau menyoal isu yang lagi aktual. 

Belakangan, menyadari terjadinya perubahan drastis umat manusia di planet bumi ini dalam mengakses maupun berbagi informasi, lebih-lebih yang lagi ngetren sekarang ini, yaitu membuat konten melalui kanal youtube. Agaknya mantan redaktur majalah Gong ini secara sadar ingin menjadi bagian positif dalam arus perubahan abad teknologi tersebut, sesuatu yang sama sekali baru baginya, yang selama ini lebih banyak bersentuhan dengan dunia penelitian dan kepenulisan. Sebuah dunia sunyi, jauh dari kilatan kamera maupun panggung-panggung yang menomorsatukan bungkus ketimbang isi.

Saya pikir pilihan mas Hairus Salim turun "gunung” membuat program dialog literasi #TalkingThirtyMinutes di kanal youtube miliknya (di sini: https://www.youtube.com/channel/UCtScm-BQ5pqA2KPuVwjKiYQ), selain menjawab keperihatinan kita bersama terhadap banyak acara-acara yang tuna-pemikiran (asal mengejar jumlah penonton dan subscribe), juga memberi tempat bagi mereka yang bertungkus lumus dalam bidang atau profesi masing-masing dan memberi manfaat bagi publik luas, yang mungkin selama ini jauh dari amatan kamera televisi, jurnalis maupun youtubers

Menyaksikan tokoh yang hadir di kanal youtube Mas Salim itu, saya semakin yakin, bahwa hal demikian yang kita butuhkan untuk bersetia menjadi bagian dari komunitas pembelajar yang tiada henti memperkaya khazanah pengetahuan, meluaskan perspektif, dan menumbuhkan kecintaan pada kedalaman dan menolak segala bentuk kedangkalan, lebih-lebih di era tumpah ruah informasi sekarang.

**

Kembali ke awal. Maret 2019.

Sesampai di kediaman Mas Hairus Salim, saya langsung diajak ke sisi kanan rumahnya. Pekarangan yang tidak begitu luas, tetapi cukup sebagai tempat kongkow bersama kawan-kawan dekat. Posisinya bersebelahan dengan ruang tengah keluarga dan tepat menghadap ke kamar kerja Hairus Salim, yang tentu saja di dalamnya banyak buku. Saya senang sempat melihat-lihat ke dalamnya.

Galibnya pegiat budaya, plus santri, obrolan berlangsung santai. Mas Salim hanya memakai sarung dan berkaos oblong. Tanpa peci. Sesekali ia bersenda gurau dengan Hayat, anak bungsunya yang lagi gemesin juga lincah. Saya lebih banyak melempar pertanyaan ke Mas Salim. 

Dalam silaturahmi itu saya tidak sendirian karena dalam waktu bersamaan, juga datang tamu, karib mas Salim dari Ibukota. Tema obrolan pun beragam, antara lain yang kuingat tentang fenomena keterbelahan politik pasca Pemilu Presiden (lebih mudahnya antara cebong-kampret), persekusi yang kian marak di tanah air, lebih-lebih dalam soal toleransi dan pluralisme; semburan penyimpangan informasi di era post-truth (hoax dan ujaran kebencian), dan satu lagi, maraknya karya tulis yang datang dari kaum santri NU atau pesantren. Soal yang terakhir ini, untuk Pulau Jawa, tentu saja ini kabar yang membahagiakan, meski juga bukan hal baru, tetapi tidak di Jambi dan daerah-daerah lain di Sumatra, pikirku sekenanya ketika itu.

Obrolan kami tak berhenti di sini, karena oleh tuan rumah, saya dan kawan-kawan diajak santap malam di warung milik sahabatnya yang berlokasi di jalan Pura 203 Sorowajan, Banguntapan, Manggisan, Baturetno, Banguntapan, Bantul, tak jauh dari kediaman Mas Hairus Salim. Usai dari situ kami kembali ke rumahnya melanjutkan percakapan. 

Sebelum pamit, saya dihadiahi novel terjemahan Gading berjudul “Namaku Asher Lev” karya penulis Chaim Potok (1929-2003). Sebuah novel bermutu yang mengisahkan pergumulan iman dan kehidupan dengan latar belakang keluarga Yahudi Hasidik yang ortodoks.

Novel Namaku Asher Lev ini diakui Hairus Salim merupakan bacaan favorit mendiang Gus Dur, dan belum banyak diketahui publik sastra tanah air. Pilihan menerbitkan novel terjemahan berkualitas seperti buku itu, untuk menyebut contoh, dinilai selain beresiko rendahnya serapan pasar, juga terbatasnya peminat. Tetapi hemat saya pandangan demikian tidak sepenuhnya benar, karena buku-buku berkualitas akan selalu menemui pecintanya. Mau tahu apa saja judul-judul buku bermutu terbitan Gading, sila tuan dan puan telusuri di alamat web https://gadingpublishing.co.id. Saya jamin memberikan alternatif sumber bacaan, khususnya buku-buku ilmu sosial hasil riset mendalam dan karya sastra, baik itu karya penulis Indonesia maupun luar negeri (terjemahan).

***

Ngomong-ngomong soal Jambi, Hairus Salim pernah berkunjung ke kota Jambi pada 22-24 September 2012. Direktur Yayasan LKiS ini diundang mengisi seminar di kampus UIN STS Jambi. Bahkan, Mas Hairus Salim sempat jalan-jalan menyusuri Kuala Tungkal, menapak jejak-jejak warga dan ulama asal Banjar yang memilih bermigrasi dari Kalimantan Selatan ke Kuala Tungkal di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi, daerah berkultur tua dengan motto Serengkuh Dayung Serentak Ketujuan, berjarak 125 KM dari Ibukota Provinsi Jambi.

Dalam lawatan singkat itu, Hairus Salim menemukan bukti bahwa orang Banjar telah cukup lama berdiam di Kuala-Tungkal. Jalur migrasi dari Kalimantan Selatan setidaknya: Pertama, sewaktu Tuan Guru Abdurrahman Shiddiq (Tuan Guru Sapat) yang berasal dari Banjar menjadi mufti di Indragiri, banyak orang Banjar yang kemudian ikut migrasi ke sana, termasuk ke Kuala Tungkal yang secara geografis satu jalur perairan dengan Indragiri. Kedua, orang Banjar awalnya pergi ke Johor Malaysia, dan dari sana kemudian menyeberang ke Kuala Tungkal. Karena itu, menurutnya beberapa daerah di Kuala Tungkal memiliki nama yang sama dengan di Johor. Orang Banjar sendiri meyakini, jauh sebelum migrasi dua jalur itu, mereka juga sudah banyak yang menetap di Kuala Tungkal dan sekitarnya.

Usai membentangkan kertas kerja di UIN STS Jambi dan telusur jejak leluhur di Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat, pendiri AJI Yogyakarta ini mengisi diskusi bertajuk Menggairahkan Studi Tentang Jambi di kantor Dewan Kesenian Jambi (DK-Jambi) di Kotabaru. Pengalaman panjang mas Hairus Salim dalam dunia penelitian dan kepenulisan bermanfaat bagi teman-teman di Jambi, lebih-lebih dirinya menunjukkan minat dan ketertarikan terhadap kajian kebudayaan dan pelestarian situs-situs cagar budaya di tanah air melalui Lumbung Informasi Kebudayaan Indonesia (LIKE Indonesia), sebuah jaringan pekerja kebudayaan.

*Tulisan ini terbit pertama kali di rubrik Sosok portal kajanglako.com pada 21 Oktober 2020.

0 Komentar