Suara Teduh dari Bilik Pesantren

 

ilustrasi. sumber: tebuireng.online



Oleh: Jumardi Putra

Tadi malam, saya membuka kembali album foto lawas. Lembar demi lembar membawa ingatan saya terbang ke tiga dasawarsa, saat masih nyantri di Pesantren Modern Darussalam dan kemudian melanjutkan studi ke Tebuireng. Di antara bayang-bayang wajah lama dan kenangan tertatih-tatih memahami kaidah Nahwu atau menghafal bait-bait Alfiyah, ada satu memori yang berpijar paling terang yakni tradisi menghafal Mahfuzhat.

Kala itu, di sudut-sudut kelas dan kamar asrama, kami terbiasa melantunkan kata-kata mutiara ini, bahkan sering kali saling berbalas dengan sesama santri. Bagi kami, Mahfuzhat bukan sekadar hafalan bahasa Arab. Mahfuzhat tidak berasal dari satu penulis, melainkan kumpulan hikmah dari para bijak (hukama), penyair, ulama, tokoh sufi, hingga sahabat Nabi.

Hikmah yang tersembunyi di dalamnya ibarat suara teduh—sebuah jeda di tengah riuh kehidupan—yang bersumber dari kedalaman kearifan. Lebih dari sekadar pelajaran, Mahfuzhat adalah metode pembentukan karakter yang bekerja melalui kekuatan sugesti bahasa.

Secara lughawi, Mahfuzhat berarti "kalimat-kalimat yang dihafalkan", baik berupa prosa maupun bait syi’ir (puisi). Siapa yang tak kenal jargon legendaris "Man Jadda Wajada" (Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil)? Bagi mereka yang pernah membaca novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, kekuatan dahsyat di balik kalimat ini tergambar jelas melalui transformasi seorang anak manusia (bersama para karib lainnya) yang awalnya ragu, lalu menemukan jati diri, hingga mampu mewujudkan mimpi-mimpinya.

Bagi santri, "Man Jadda Wajada" bukan sekadar poster penghias dinding asrama. Ia adalah mantra sakti saat kami harus bergelut dengan kitab-kitab tebal atau saat raga penat dipaksa terjaga sebelum fajar menyingsing. Di tengah dunia yang serba instan saat ini, nilai kesungguhan ini menjadi jangkar yang menjaga kegigihan (grit) agar tidak mudah karam oleh tantangan zaman.

kitab Mahfuzhat

Masih segar dalam ingatan saya sebuah nasihat berbunyi, "Salamatun insan fi hifzil lisan" (Keselamatan manusia tergantung pada penjagaan lidahnya). Di era media sosial, saat jempol sering kali melesat lebih cepat mengomentasi suatu hal daripada memikirkannya matang-matang, Mahfuzhat ini terasa seperti tamparan lembut sekaligus pengingat di tengah riuhnya kerumunan virtual—era semua orang terhubung—nirteritori. Terlebih lagi dalam setiap konstelasi politik, saat warga terjebak dalam pusaran hoaks dan pembunuhan karakter, menjaga "lisan"—yang kini bertransformasi menjadi status dan cuitan—adalah kunci kedewasaan berbangsa.

Menghafal Mahfuzhat mungkin terasa sebagai beban saat di pesantren. Namun, seiring bertambahnya usia dan kerasnya benturan hidup, kalimat-kalimat pendek itu kerap muncul kembali sebagai penawar lara atau kompas saat kita kehilangan arah.

Hebatnya lagi, relevansi Mahfuzhat melampaui pagar pesantren. Ia juga berguna sebagai pijakan untuk menyikapi karut-marut sosial-politik kita hari ini, mulai dari fenomena korupsi hingga krisis kepemimpinan. Kita menyadari bahwa masalah utama bangsa ini bukanlah defisit orang pintar, melainkan krisis orang jujur.

Mahfuzhat mengingatkan bahwa keberhasilan yang menghalalkan segala cara adalah kesesatan. Sebaliknya, "Idza shadaqal 'azmu wadha-has sabil" (Jika cita-cita itu jujur, maka terbukalah jalan). Pesan ini jelas relevan dengan situasi politik nasional kiwari.

Segendang sepenarian, krisis kepercayaan rakyat hari ini sering kali berakar dari budaya "pejabat minta dilayani". Terhadap mentalitas ini, Mahfuzhat memberikan antitesis yang tegas: "Sayyidul qaumi khadimuhum" (Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka). Itu artinya, pejabat adalah pelayan bagi masyarakat. Dengan demikian, setiap kebijakan yang hanya menguntungkan oligarki dan merugikan rakyat kecil bertentangan dengan tugas dan fungsi seorang pemimpin.

Pada akhirnya, Mahfuzhat bukan soal adu fasih berbahasa Arab, melainkan tentang bagaimana membumikan kearifan universal ke dalam tindakan nyata baik sebagai individu maupun sebagai orang yang diamanahi memegang sebuah jabatan publik. Mahfuzat boleh dikata sebagai warisan intelektual pesantren yang membuktikan bahwa kata-kata yang baik (kalimatun thayyibah) memang memiliki akar yang kuat di sanubari dan dahan yang menjulang tinggi ke langit peradaban.


*Kota Jambi, 10 Februari 2026

0 Komentar