Apa dan Kenapa Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) ?

Main Event MWCF 2024

Oleh: Jumardi Putra*

Dua tahun terakhir, Malay Writers And Cultural Festival (selanjutnya disingkat MWCF) mulai dikenal publik Jambi dan nasional, khususnya di kalangan akademisi, budayawan/seniman, pelaku pariwisata dan penulis. Tahun lalu, didukung Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI, Pusat Kebudayaan Jambi bekerjasama dengan Ubud Writers And Readers Festival (UWRF), Bali, menyelenggarakan Festival Sastra Bapekat Beselang dengan menghadirkan penulis dalam dan luar negeri.

MWCF merupakan salah satu program prioritas Yayasan Pusat Kebudayaan Jambi bidang festival. Berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-0017502.AH.01.04Tahun 2023, Pusat Kebudayaan merupakan lembaga yang memiliki visi menjadi pusat keunggulan khasanah budaya Jambi. Fokus Pusat Kebudayaan Jambi adalah penelitian, pengkajian, pusat informasi, dokumentasi, dan konsultasi serta penyelenggaraan pelbagai event seni budaya. Adapun bidang program Pusat kebudayaan Jambi yakni Advokasi, Edukasi, Festival, Residensi, Penelitian dan Penerbitan.

Dalam kesempatan ini, izinkan kami menerangkan tentang apa dan kenapa MWCF menjadi sebuah pilihan gerakan kebudayaan sekaligus menjadi upaya pengembangan pariwisata berbasis kekayaan budaya daerah yang tumbuh dan berkembang di seantero Provinsi Jambi.

Kenapa Malay?

Daerah yang saat ini secara administratif dikenal sebagai Provinsi Jambi (dalam sejarahnya disebut sebagai Melayu), mulai dari fase Melayu Kuno, Budhis hingga masuknya agama Islam telah terhubung dengan dunia luar. Posisi Jambi yang strategis dalam pelayaran dunia (the favoured commercial coast) membuat Jambi terbuka bagi kedatangan orang luar (asing). Tidak sekedar datang, banyak di antara orang dari daerah lain tersebut yang lantas menetap di Jambi, termasuk menjadi “orang-orang besar” dalam sejarah perjalanan Jambi.

Kontak budaya yang telah berlangsung lama antara Jambi dengan dunia luar, sebut saja seperti India, Persia, Cina, Burma, Kamboja, Vietnam, Siam, dan Arab, sejatinya menunjukkan watak Jambi yang kosmopolit. Seiring perkembangan zaman, didukung revolusi teknologi dan informasi, kontak budaya tersebut makin meluas dan berkembang pesat sampai sekarang.

Memilih kata “Malay” untuk festival sastra-budaya-pariwisata menegaskan pandangan (wordview) sekaligus sikap yang segaris dan sebangun dengan perjalanan panjang Jambi dalam ikut serta mewarnai peradaban Nusantara.

Dengan demikian, sebagai wilayah kebudayaan, “Malay” menjadi spirit sekaligus lumbung perjumpaan mereka yang datang dari pelbagai daerah di Nusantara dan mancanegara guna mengenalkan dan mempercakapkan karya sastra-budaya di Jambi. Dari situ, Jambi diharapkan terus berkontribusi bagi peradaban melalui karya tulis maupun karya seni dan atau bentuk dokumen pengetahuan lainnya yang dapat diakses secara luas. Laku kebudayaan tersebut menjadi penting di abad nir-teritori sebagai bagian dari kesadaran sekaligus strategi kebudayaan untuk terus tumbuh, berkembang dan berkontribusi.

Penyelenggaraan MWCF dilatarbelakangi beberapa hal yaitu pertama, Provinsi Jambi belum memiliki festival atau event sastra-budaya-pariwisata yang dikelola secara profesional oleh lembaga non pemerintah, yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan guna memperkenalkan karya sastra-budaya penulis Jambi ke publik nasional dan internasional. Selain itu juga memperkenalkan karya sastra-budaya dari penulis mancanegara kepada publik Jambi.

Kedua, Kekayaan kultural Jambi baik tangible (benda) maupun intangible (takbenda) yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota dalam Provinsi Jambi belum terorganisir melalui festival atau event budaya-pariwisata secara internasional yang terintegrasi dengan agenda pengembangan pariwisata daerah di Provinsi Jambi.

Ketiga, publikasi hasil riset Jambi Studies seputar seni-budaya yang diselenggarakan oleh lembaga/universitas/pusat studi maupun oleh individu belum memiliki wadah populer dalam bentuk festival yang dapat diakses oleh pelbagai kalangan peminat/masyarakat luas secara rutin dalam setahun.

Bertolak dari hal di atas, maka visi festival ini adalah menjadikan Malay Writers and Cultural Festival sebagai event Sastra-Budaya-Pariwisata bertaraf internasional yang dikelola secara profesional serta berkesinambungan untuk memperkenalkan karya penulis/pelaku seni Jambi sekaligus kekayaan seni budaya Jambi ke kancah nasional dan internasional.

Guna mengejawantahkan visi tersebut, maka misi MWCF yaitu pertama merajut jejaring antar individu/lembaga/komunitas/sanggar seni-budaya-pariwisata dalam maupun luar negeri. Kedua, mengembangkan jaringan dengan para penulis/pelaku seni secara nasional dan internasional serta tokoh-tokoh yang bergerak di bidang budaya dan pariwisata lainnya untuk revitalisasi dan penguatan dialog kekaryaan antara penulis Jambi/Indonesia dengan penulis mancanegara, dan ketiga menjadi titik temu bagi para pemangku kepentingan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya dan pariwisata Jambi melalui event Malay Writers and Cultural Festival.

Bersamaan hal itu, MWCF akan berkolaborasi bersama para pihak, antara lain pemerintah pusat, pemerintah daerah, budayawan/seniman/sastrawan, akademisi, perguruan tinggi, peneliti, guru, pelajar, dunia usaha, dewan kurator, media/jurnalis, lembaga luar negeri, organisasi non pemerintahan, industri perbukuan dan UMKM, dan komunitas literasi.

Menimbang kekayaan seni-budaya Jambi, maka MWCF 2024 mengangkat tema Imajinasi Negeri Seribu Sungai. Hal itu jelas bukan tanpa alasan. Sedari bersama, sungai Batanghari merupakan kawasan penting dalam sejarah peradaban Nusantara, khususnya Pulau Sumatra. Jejak arkeologis dan historis menunjukkan jalinan hubungan ekonomi, budaya dan politik kerajaan-kerajaan di kawasan Sungai Batanghari dengan India dan Cina. Sungai terpanjang di Sumatera ini menghubungkan Sumatera Barat (hulunya di Gunung Rasan) dan Jambi serta bermuara di Selat Berhala, di Pantai Timur Sumatra ke Laut Cina Selatan. Di sepanjang aliran sungai Batanghari beserta anak-anak sungai yang terhubung dengannya-telah terjadi interaksi budaya yang rekam jejaknya masih dapat dijumpai hingga saat ini. Hal itu sekaligus membuktikan bahwa sebagian besar tinggalan budaya di sepanjang Sungai Batanghari identik dengan kehidupan masyarakat sungai, masyarakat maritim yang hidup berdampingan dengan keragaman budaya.

Salah satu Kawasan yang kini menjadi prioritas di sekitar Sungai Batanghari adalah Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi. Berdasarkan sumber catatan Cina, KCBN Muarajambi pada abad ke 7 sampai ke 13 aktif digunakan sebagai pusat pendidikan Buddhisme. Selanjutnya, Muarajambi menjadi bagian dari Kerajaan Melayu Kuno dan Sriwijaya yang menjadi bukti nyata peradaban, proses edukasi dan inovasi di masa lampau. Bahkan, temuan terbaru hasil pemugaran di KCBN Muarojambi menunjukkan indikasi kuat adanya hubungan dunia luar dengan masyarakat pedalaman Jambi telah terjalin jauh sebelum abad ke 7. Menariknya lagi, sungai Batanghari juga mengalir sekaligus terhubung melalui kanal-kanal kuno yang menghubungkan ke pelbagai situs di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi.

Dengan demikian, sungai selain dapat dimaknai sebagai metafor-ruang terbuka untuk dieksplorasi menjadi karya seni kreatif, ia  telah menjadi ruang penyimpan memori jaringan perdagangan, hubungan politik, serta interaksi budaya yang terjadi pada abad-abad tersebut hingga jauh setelahnya. Di sepanjang sungai ini juga peradaban tumbuh dan berkembang pesat dengan segala dinamikanya. Dalam rentang waktu yang panjang itu pula, melalui sungai ini kekayaan budaya (tangible-intangible) menjadi lapangan penelitian sekaligus menginspirasi banyak sarjana, budayawan/seniman dan pekerja seni lainnya baik Indonesia maupun luar negeri yang menekuni beragam ilmu, di antaranya sejarah, filsafat,  antropologi, arkeologi, biologi, lingkungan, pariwisata, sastra, tradisi lisan, dan sosiologi.

Imajinasi Negeri Seribu Sungai sebagai tema pokok MWCF tahun ini merupakan sebuah upaya tiada henti mengajak insan-insan kreatif di segala penjuru tanah air dan bahkan luar negeri melakukan dialog kekaryaan yang berangkat dari peradaban yang tumbuh dan berkembang di sepanjang aliran Sungai-dengan segala dinamika, problematika, dan bahkan paradoknya-untuk menyebut contoh isu mutakhir pada aspek lingkungan yaitu deforestasi, alih fungsi hutan, dan rusaknya ekosistem sungai. Dengan demikian, plebagai hasil riset, dialog, refleksi dan segala bentuk eksplorasi pemikiran hingga menjadi karya tulis maupun karya seni kreatif lainnya, yang berbasis pada peradaban yang terbentuk di sepanjang aliran sungai, dimanifestasikan ke dalam beberapa program utama MWCF 2024.

Gagasan tersebut berangkat dari sebuah kesadaran yaitu MWCF tidak menjadikan kegemilangan masa lalu sebatas barang antik yang dapat membuat sesiapa saja terbelalak lalu terjerembab dalam romantisme masa lampau belaka, tetapi menjadikannya sebagai ruang terbuka untuk ditilik kembali sehingga menjadi pengetahuan dan karya seni kreatif yang berguna sekaligus menginspirasi bagi generasi ke generasi.


 *Tulisan ini terbit pertama kali di website Pusat Kebudayaan Jambi. Link tulisan berikut ini: Apa dan Kenapa MWCF?

0 Komentar