Dari Empelu Sampai Yogyakarta; Penggalan Kisah Mencintai Buku

Kampung Buku Jogja.

Oleh: Jumardi Putra*

Suatu malam, sekira tiga tahun lalu, seorang anak muda baru lulus S1 dari Sarolangun berkunjung ke rumah saya bersama sejawatnya. Melihat ribuan koleksi buku di perpustakaan pribadi saya, ia bertanya apa pentingnya buku bagi kehidupan kita sekarang?

Saya tidak segera menjawab pertanyaan anak muda itu, melainkan bertanya balik kepadanya buku apa terakhir kali yang ia baca sembari saya menyuguhkan kepadanya buku berjudul Semangat Muda yang ditulis tahun 1926 oleh Tan Malaka, sang ideolog sekaligus bapak Republik Indonesia.

Saya bisa saja mengatakan kepadanya buku adalah jendela dunia, sebagaimana jawaban super singkat yang kerapkali kita baca di baliho atau pun spanduk milik perpustakaan pemerintah daerah.

Sesederhana itukah? Pertanyaan anak muda itu tadi adalah pertanyaan kebanyakan dari kita saat ini. Ia bisa saja diniati sebagai gugatan, kalau bukan kritik. Ia juga bisa menunjukkan kegalauan meski hari-hari dijejali iklan pentingnya membaca buku. Belum lagi musim maraknya “jagal” buku-buku berhaluan "kiri" oleh oknum-oknum dari organisasi sosial-keagamaan atau pun pihak berwajib karena menganggap telah mensosialisasikan faham kiri, padahal pangkal soalnya lebih pada ketidakmampuan membaca buku-buku yang mengajarkan “kritisisme”. (Lebih lanjut baca di sini: https://www.jumardiputra.com/2020/03/dilarang-belok-kiri.html).   

Saya pikir setiap orang akan mencari dan menemukan jawaban yang beragam dari pertanyaan sebagaimana di awal tulisan. Jawabannya sangat bergantung pada intensitas dan sublimitas seseorang berinteraksi dengan buku-buku dan sekaligus mereka yang memilih bertungkus lumus di dunia buku, sebagaimana budayawan Aceh, Musmarwan Abdullah, dengan begitu indah menggambarkannya sebagai berikut, “Buku memang kendaraan ajaib. Setiap aku galau dengan kekinian dan kedisinian, ia langsung memberangkatkan aku menerjang berlaksa lintas batas, menyeruduk berlaksa lintas waktu. Orang dengan kemampuan bepergian terbatas, orang-orang miskin sepertiku, kendaraan kita adalah buku”.

Perpustakaan pribadi penulis.

***

Barangkali yang masuk akal bagi saya adalah bercerita kepada tuan dan puan seputar pengalaman saya berkenalan dengan buku, dan akhirnya berkali-kali merasakan “jatuh cinta” padanya dan atau bentuk dokumentasi pengetahuan lainnya sampai saat ini.

Sekira 30 tahun yang lalu, di dek rumah panggung milik kakek saya, di Desa Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, sekira 30 kilo meter dari pusat kota Kabupaten Bungo-Jambi, bertumpuk barang-barang bekas. Mulai dari tivi, terongkeng, pakaian, foto, buku, koran, majalah, uang kertas dan logam serta onderdil kendaraan roda dua.

Di antara bekas perabot rumah tangga itu, satu yang menarik perhatian saya di antara tumpukan buku lainnya, yaitu sebuah buku hard cover berwarna merah yang memuat sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Arah bacaanku, entah oleh apa, terfokus pada salah satu pesantren tua di Jawa Timur, yang kelak saya kenal sebagai Pondok Pesantren Tebuireng, berdiri sejak tahun 1899 M. Buku itu saya simpan dan selalu kubaca, meski tak terbesit sedikitpun keinginan untuk nyantri di Pesantren milik kakeknya mendiang Gus Dur, yaitu Khadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari yang juga pendiri sekaligus Rais Akbar organisasi keagamaan terbesar di tanah air yaitu Nahdhatul Ulama (NU) pada 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926.

Kedua kakek saya-PS Ayub dan PS Juni-dari pihak emak maupun bapak adalah guru. Boleh dikata guru tulen. Bukan itu saja, kampung saya, Empelu, juga dikenal sebagai lumbung ‘Umar Bakri’. Bisa jadi mengoleksi buku bukanlah sesuatu yang istimewa ketika itu. Namun, sependek pengamatan saya, bahwa masa itu di kampung nan jauh dari pusat kota, memiliki buku-buku bacaan di luar yang “diwajibkan” oleh lembaga pendidikan formal adalah kondisi yang belum sepenuhnya dapat dinikmati warga pada umumnya.

Saya menempuh pendidikan dasar di salah satu sekolah yang cukup tua di kabupaten Bungo, yaitu SD Nomor 12 di Desa Empelu, Kec. Tanah Sepenggal. Tak ada yang membahagiakan bagi saya dan anak-anak seusia semasa itu, kecuali bermain di sore hari di pematang sawah, menikmati perayaan hari-hari besar Islam di Masjid dan rumah pengajian, dan nonton tv bareng di akhir pekan di rumah tetangga yang memiliki parabola. Masih segar dalam ingatan saya, film-film yang digemari oleh banyak anak-anak sebaya saya saat itu adalah Si Buta dari Gua Hantu, Wiro Sableng, Satria Baja Hitam, dan film kungfu lainnya asal luar negeri seperti Chu Liu Xiang atau yang dikenal dengan julukan Pendekar Harum (terinspirasi dari novel karya Gu Long yang berjudul Chu Liuxiang), kisah Pemanah Rajawali, bagian pertama dari trilogi Rajawali karya Chin Yung, The Return of The Condor Heroes tau yang kita kenal dengan judul Kembalinya Pendekar Rajawali Sakti (dibintangi Andy Lau dan Idy Chan), serta To Liong To alias The Heaven Sword and Dragon Sabre di Indonesia lebih terkenal dengan judul Pedang Pembunuh Naga. Kedua film yang terakhir diangkat dari sekuel Legend of The Condor Heroes dan Return of The Condor Heroes yang ditulis oleh Jin Yong.

Begitu juga ingatan saya tentang Sungai Empelu. Di sungai yang mengaliri Batang Tebo ini saya bersama kawan-kawan berenang, menyelam hingga ke dasar sungai, melompat dari ketinggian tebing, berperahu ke hulu, menyalakan bedil minyak tanah di kala ramadan tiba, menjadi saksi saat ikan saluang melawan arus, beradu cepat menuruni anak tangga hingga menginjak bibir jamban, dan beramai-ramai menunaikan shalat meminta hujan (istisqa') di pulau indah. Tetapi itu dulu. Kini, sungai Empelu telah berubah. Meski saban lebaran kali ini dimeriahi pacuperahu, tetap saja ia gagal menyauk kolektivitas dari seluruh warganya. Sungai ini tak lagi jernih. Keruh. Ia dipunggungi kemasyhuran sumur bor dan jalan aspal. Bahkan belakangan ini aktivitas dompeng (Peti illegal) pun turut memperburuk ekosistem sungai yang mengisi hampir sebagian memori kehidupan anak-anak seusia kami.

Dalam pada itu, saya dan sang kakak (almarhumah), selepas Magrib setiap Senin-Jumat, bertandang ke rumah guru ngaji, dan dilanjutkan setelahnya belajar satu sampai dua jam bersama orang tua di rumah. Bukan kebetulan bapak dan emak saya sama-sama berprofesi sebagai guru sekolah dasar. Pelajaran setiap malam ketika itu lebih banyak pada pengenalan dan pemantapan kemampuan membaca, menghitung, dan mewarnai. Saya pikir kebiasaan itu jamak dialami oleh anak-anak seusia saya.

Berjalannya waktu, kesukaan terhadap buku terus membentuk saya. Mulai dari kegemaran membaca cerita rakyat Nusantara, cerita silat seperti Ko Phing Ho dan Wiro Sableng, dan cerita pendek terbitan Balai Pustaka, serta cerita horor tapi lucu karya Tatang S dengan dua tokoh utamanya yaitu Petruk dan Gareng. Begitu juga buku-buku yang membuat anak-anak berimajinasi dalam waktu bersamaan menjadi pendekar, petualang, detektif, hingga penyihir, sebut saja seperti novel seperti Goosebumps, Trio detektif, dan Lima Sekawan.


Dari Empelu Ke Sungai Mancur

Seiring kelanjutan pendidikan saya ke tahap SLTP (satu semester) dan pindah ke Tsanawiah (SMP sederajat) di sebuah Pesantren ‘ala’ Gontor, tepatnya di Dusun Sungai Mancur (Kini masuk ke dalam wilayah kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, Kab. Bungo). Sebuah desa yang hanya dipisahkan oleh Batang Tebo dengan Desa saya, Empelu.  

Sejak itu, minat membaca buku makin meluas, terutama membaca buku kumpulan kata-kata mutiara (mahfudzat), kitab hadits dan tafsir al-quran, filsafat Islam, serta retorika.

Barangkali yang berkontribusi besar bagi kecintaan saya terhadap buku adalah iklim pesantren yang memungkinkan saya dekat dengan bermacam literatur. Jika tak silap, untuk menjadi dai yang berhasil, santri yang pintar, dan dekat dengan kiai atau ustad, tentu harus memiliki kualifikasi tersendiri, salah satunya memiliki wawasan pengetahuan yang memadai.

Hal itu hanya mungkin tercapai, bila kita dekat dengan sumber ilmu, yaitu buku. Itulah yang pernah saya rasakan dan alami langsung, sehingga sebagai juru dakwah cilik, santri yang vokal, serta salah satu santri yang dipercaya oleh pemimpin pesantren menjaga salah satu koperasi, merupakan mata rantai yang saling terhubung dan tidak terpisahkan dalam jejak langkah hidup saya.  

Di samping itu, kebiasaan santri saat di luar jam kelas, yakni belajar di ruang terbuka. Saat itu, karena letak pesantren berada di sebuah perkampungan, kami terbiasa belajar di tepi sungai dan dalam kebun warga. Di situ kami belajar sembari berbanyi dan bersenda gurau bersama santri lainnya.

Hal serupa juga biasa saya lakukan saat pesantren berpindah tempat, sekira enam kilo dari lokasi semula, tepatnya di tepi jalan lintas Sumatra, kecamatan Tanah Sepenggal Lintas. Pendidikan ala Gontor memang unik dan pantas untuk dikenang. Saat di lokasi yang baru, belajar di lapangan terbuka di malam hari adalah momen yang menyenangkan bagi santri. Santri cukup membawa buku, tikar dan lampu teplok.

Singkat cerita, masa Tsanawiyah di Pesantren Modern Darussalam, Sungai Mancur, adalah masa-masa yang membuat saya makin akrab dengan literatur, baik secara kulitas maupun kuantitas yang sudah barang tentu lebih maju bila dibandingkan saat saya menempuh sekolah dasar di kampung halaman.

Perpustakaan Pesantren Tebuireng.

Dari Darussalam Ke Tebuireng

2001 saya menjatuhkan pilihan melanjutkan sekolah tingkat Aliyah (SMA) di pulau Jawa. Selain telah lebih dulu sang kakak menuntut ilmu di ujung pulau Jawa Timur yaitu di Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo, Situbondo, niat saya ke Jawa terus dipupuk oleh pemimpin pesantren saya saat masih di pesantren modern Darussalam. Saat itu, sebagaimana arahan sang Kiai, saya berniat menuntut ilmu di Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

Atas persetujuan orang tua, saya bersama salah seorang sahabat saya, Dedi Syaputra, yang kebetulan juga berniat sama seperti saya. Kami pun berangkat dengan ditemani orang tua masing-masing. Maklum, waktu itu, perjalanan antar pulau melalui jalur darat adalah pengalaman pertama buat kami, anak dusun.

Pendek cerita, kami pun sampai di Pesantren Gontor, Jawa Timur. Setiba di sana, melihat cara santri belajar dan didukung fasilitas pesantren yang jauh lebih maju serta gedung-gedung berdiri megah dibandingkan tempat saya nyantri sebelumnya, masih pondok terbuat dari kayu (kami menyebutnya sudung) dan berulah kemudian memiliki bangunan berbahan semen dan batubata. Seketika itu saya dibuat terkagum bahagia sekaligus sedih. Saya merasa orang yang paling bodoh ketika itu. Menuntut ilmu ke pulau Jawa merupakan kesempatan emas bagi saya sembari menakar betapa tertinggalnya saya (dan tentu orang-orang di desa saya), baik dari segi fasilitas belajar maupun tradisi menimba ilmu pengetahuan.

Hampir seharian saya menunggu di Pesantren Gontor untuk daftar. Tetapi entah kenapa saat itu hati saya gundah kulana. Niat nyantri di Gontor sirna dalam hati dan pikiran saya. Saya tak bisa menjawab kenapa hal itu terjadi, kecuali yang saya tahu biaya sekolah di Gontor tergolong mahal untuk ukuran ekonomi keluarga saya.

Setelah berkomunikasi dengan orang tua, kami pun bersepakat tidak mendaftarkan diri di Pesantren Gontor. Lalu kami berangkat ke Pesantren yang tak jauh dari Gontor, yaitu Pesantren Arrisalah, sebuah pesantren yang juga bermutu, baik dari segi fasilitas belajar maupun dari segi disiplin ilmu, khususnya bahasa. Untuk kedua kalinya, saya dan Dedi, setelah melihat dan tinggal di Pesantren itu, kembali tidak jatuh hati” menuntut ilmu di pesantren tersebut.

Pusing tujuh keliling. Mungkin itu istilah yang cukup tepat menggambarkan psikologi kami dan orang tua. Mau ke mana lagi? Akhirnya, setelah berpikir panjang dan tidak mungkin balik ke kampung halaman, sementera untuk sekolah di Jawa, kami dihantar oleh orang sekampung. Sebuah tradisi di kampung saya, bagi mereka yang bepergian jauh, terutama haji dan menuntut ilmu adalah kepergian yang didoakan warga sekampung untuk kebaikan dan kebermanfaat kelak.

Kami memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Pesantren Salafiyah Syafiiyah di Sukarejo yang letaknya 7 kilometer sebelah timur Asembagus (30 km arah  timur kota Kabupaten Situbondo), tempat dimana kakak saya lebih dulu nyantri di pesantren tersebut. Sebuah perjalanan yang cukup panjang dan tentu saja melelahkan untuk seumuran anak seusia saya.

Tibalah kami di pesantren yang dipimpin oleh Kiai NU yang karismatik, yaitu Kiai As’ad Syamsul Arifin. Salah satu ulama besar yang disegani di antara Khadratussyaikh K.H. Kholil Bangkalan dan Khadratussyaikh K.H. Hasyim Ays’ari, yang ketiganya adalah tokoh kunci bagi berdirinya organisasi Nahdhatul Ulama (NU).

Namun, lagi dan lagi. Niat menjadi santri di Pesantren Salafiyah Syafiiyah di Sukarejo pupus. Masa pendaftaran santri ternyata sudah lewat.

Syahdan. Tuhan dengan segala rencana yang kita tak pernah tahu pastinya, saya diingatkan oleh seorang sahabat untuk segera berangkat ke Jombang, yaitu Pondok Pesantren Tebuireng. Sontak, saya teringat buku yang saya dapatkan di dek rumah panggung milik kakek saya di kampung. Sebuah buku yang saya baca dan simpan saat masih berumur delapan tahun. Tanpa pikir panjang, kami pun melanjutkan perjalanan ke Jombang. Sebuah lawatan yang melelahkan ketika itu.

Saat pertama menginjakkan kaki di pesantren Tebuireng, saya merasakan seuatu yang lain dalam diri saya. Seolah sesuatu itu lebih menyerupai rasa nyaman. Esoknya, kami mendaftarkan diri. Alhamdulillah kami diterima sebagai “new” santri Tebuireng. Orang tua kami pun lega dan bahagia. Paling tidak, bagi orang tua kami, uang yang diperkirakan untuk biaya hidup selama mencari Pesantren di Jawa Timur masih cukup untuk mereka pulang  sampai ke kampung halaman.

Tebuireng. Di sinilah tonggak sejarah yang mulai engubah hidup saya. Makna belajar menemukan ruangnya. Meski merasa orang paling bodoh, saya mendapatkan api semangat yang terus berkobar. Keterbatasan bahasa, terutama bahasa Arab dan Jawa tidak menyurutkan saya belajar kitab kuning, sebuah istilah kitab-kitab ulama klasik yang menjadi rujukan ilmu pengetahuan, terutama soal agama. Begitu juga ilmu-ilmu umum. Di pesantren ini, meski dikotomi antara keduanya masih terlihat, tapi keduanya mendapat tempat yang layak untuk dikaji para santri lantaran didukung fasilitas dan sumber belajar serta guru yang mumpuni, dan umumnya para guru sudah menyelesaikan pendidikan strata dua dan bahkan doktor, baik lulusan dari kampus dalam maupun luar negeri.

Dalam pada itu, kebiasaan berdiskusi dan menyampaikan pendapat adalah masa-masa terbaik bagi santri untuk mengeksplorasi hasil bacaan masing-masing. Selain itu, kehadiran organisasi, baik di pesantren atau organisasi daerah Sumatra (OPIA), menjadi kawah candradimuka yang turut membentuk karakter dan meluaskan horizon pengetahuan. Lebih-lebih keberadaan perpustakaan Tebuireng dengan koleksi bukunya yang berlimpah menjadi ruang yang begitu berkesan bagi saya. Demikian juga kehadiran toko-toko buku di luar pesantren yang kian menabalkan kerinduan santri pada ilmu.

Hanya saja, saat itu keberadaan media publikasi bagi tulisan-tulisan santri sangat terbatas. Majalah Tebuireng, yang dulu pernah jaya di medio 80an mengalami stagnasi. Hampir tidak ada sama sekali majalah di Tebuireng saat saya nyantri. Yang ada media-media di luar pesantren atau pun perguruan tinggi. Seuatu yang belum saya jamah sama sekali saat itu.

Pengalaman indah yang sulit saya lupakan semasa di Tebuireng adalah saat-saat di mana kami membeli buku dalam jumlah besar ke pusat perbukuan di kota Surabaya. Berkali-kali, bersama santri lainnya saya berangkat dengan menggunakan kereta api menuju Surabaya, tempat diterbitkan dan diproduksinya buku-buku dari dalam dan luar negeri. Termasuk buku-buku terbitan Yogyakarta dan Jakarta, dua daerah yang menjadi lumbung buku secara nasional.

Masing-masing kami, yang kebetulan satu kamar di Komplek F. Al Falah, dengan membawa tas rangsel berukuran besar, kami memborong belasan hingga puluhan buku. Tak berpikir apakah kemudian dibaca tuntas atau sebaliknya. Bahkan kami juga tak berpikir kiriman uang dari orang tua hanya mampu bertahan sampai tanggal berapa di setiap bulan.  

Kios Buku-buku di Shoping Yogyakarta

Dari Jombang Ke Yogyakarta

Usai tamat dari MASS Aliyah di pesantren Tebuireng tahun 2004, saya melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Malang, Jawa Timur. Hanya saja usai mendaftarkan diri, saya ‘kepincut’ ke lain hati, yaitu ingin melanjutkan kuliah di Yogyakarta, tepatnya di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Dari Jombang ke Yogyakarta dengan menggunakan kereta api, saya membawa ber dus-dus buku yang saya koleksi semasa nyantri.

Saya teringat Bung Hatta dan Tan Malaka, dua di antara pendiri bangsa lainnya, yang begitu mencintai buku. Kerap bagi mereka, dalam pengasingannya dari satu daerah ke daerah lainnya, sekalipun dalam situasi yang tidak ideal, buku menjadi sahabat terbaiknya. Kecintaan mereka terhadap buku saya akui menjadi sandaran saya ketika memilih mencintai buku pula. Kata-kata Bung Hatta yang familiar bagi generasi intelektual di tanah air, yaitu “Aku rela di Penjara asal bersama buku”. Sebuah sikap yang menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin bangsa, yang tidak saja berani, tapi juga berwawasan luas. Karenanya Bung Hatta dikenal luas sebagai pribadi yang berpikiran terbuka sekaligus memiliki prinsip.

Di Yogyakarta, iklim intelektual betul-betul membentuk diri saya. Yogyakarta lebih banyak dibaluti oleh cerita-cerita tentang buku, perpustakaan, penerbit dan toko/kios buku, lengkap dengan peradoksnya. Selain belajar di ruang kelas di UIN Sunan Kalijaga, saya memilih ikut menimba ilmu jurnalistik di lembaga pers ARENA, terlibat di organisasi pergerakan ekstra kampus KMPD (Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi)- bagian organisasi ekstra parlementer nasional, yaitu Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), belajar tilawatil quran di JQH Al-Mizan, serta ikut demonstrasi, advokasi masyarakat miskin kota dan jurnalis, diskusi maupun seminar lintas kampus dan pernah bekerja di percetakan sebuah penerbit besar di Yogyakarta (Pilar Media) dan menjadi editor di penerbit buku Annora Media Group. Pacaran, bagaimana? Sempat sih, tapi diskusi dan berorganisasi masih di urutan puncak dalam kehidupan saya ketika itu, sehingga selain soal asmara, urusan kuliah sempat kedodoran hingga harus menyelesaikannya sebelum terkena dropt out atau dinyatakan putus luliah. 

Generasi seangkatan saya masih sempat mencicipi semaraknya diskursus pemikiran kritis para tokoh pergerakan lintas generasi di tanah air, untuk menyebut contoh seperti Haji Misbach, HOS Tjokroaminoto, H. Agus Salim, Tan Malaka, Bung Karno, Hatta, Sjahrir, Semaun, Musso, DN Aidit, Mohammad Natsir, Mohamad Yamin, Wahid Hasyim, Tirto Adhi Soerjo, Marco Kartodikromo, Wiji Tukul, Chairil Anwar, Soe Hok Gie, Soedjatmoko, Sutan Takdir Alisahbana, Sartono Kartodirjo, Deliar Noor, Kuntowijoyo, Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Arief Budiman, Onghok Ham, Dawam Rahardjo, Daniel Dakidae, Ignas Kleden, Taufik Abdullah, dan Syafii Maarif.      

Adapun nama-nama intelektual dari luar negeri yang kerap menjadi rujukan dan karenanya dipercakapkan ketika itu, yaitu seperti Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, Henk Sneevliet, Friedrich Nietzsche, Max Webber, Adam Smith, Antonio Gramsci, Ruth T. McVey, Ali Syari’ati, Karl R. Popper, Muhammad Abduh, Hasan Hanafi, Khaled Abou El Fadl, Asghar Ali Engineer, Bennedict Anderson, George McTurnan Kahin, Anthony Giddens, Jurgen Habermas, Noam Chomsky, Francis Fukuyama, Paulo Freire, Ivan Illisch, Samuel P. Huntington, James C. Scott, Clifford Geertz, Batrand Russell, dan M.C. Ricklef.   

Suasana Kampung Buku Jogja

Selain menulis di tabloid, koran dan majalah, saya juga kadang-kadang mengumpulkan dan menjual kertas habis pakai di kantor-kantor, dan uangnya juga untuk membeli buku. Sementara biaya kos dan makan masih bergantung pada kiriman orangtua di kampung. Kali lain, kuliah sembari membuka jasa sampul buku dari satu pameran buku ke pameran buku lainnya. Pameran buku semacam hari raya bagi para pecinta buku di kota pelajara ini. Dan hari raya itu yang kerapkali saya nantikan.

Semasa di Yogyakarta, selain Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Universitas Gadjah Mada dan Grahatama Pustaka (sebelumnya perpustakaan daerah di samping Toko Buku Gramedia, Kotabaru) saya mendapati oase di penerbit buku-buku sejarah, Ombak; membaca hasil riset seabad pers, sastra, musik dan arsip koran di Indonesia Boekoe-nya Muhidin M. Dahlan; menikmati buku-buku teori ‘kiri’ dan gerakan sosial terbitan Resist Book; mencatat buku-buku teologi, filsafat, sejarah, bahasa dan sastra di perpustakaan Kolese St. Ignatius; serta menemukan buku-buku sejarah-budaya Melayu koleksi Balai Melayu-nya Mahyudin al Mudra.

Saya betah berlama-lama di tempat-tempat demikian itu, meski hanya sekadar membuka lembar-lembar buku, mencatat seperlunya dan bercakap-cakap dengan orang-orang yang tanpa lelah, meskipun kadang-kadang jatuh-bangun, menggumuli buku serta bergerak dalam laku pemikiran, menelaah dengan tekun, dan mencari kemungkinan-kemungkinan solusi baru dalam bangunan argumentasi logis maupun reflektif, terhadap pelbagai peristiwa maupun informasi yang menyesaki kehidupan sekarang ini.

Usai menamatkan bangku kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kegemeran terhadap buku tidak sepenuhnya sirna, melainkan membuat saya makin mendekatkan diri dengan buku-buku, tidak terkecuali bila saya mendapatkan tugas berkunjung ke beberapa daerah di tanah air. Sebut saja, di Bandung saya acapkali menghabiskan waku berjam-jam di pasar buku Palasari; di Semarang saya mondar-mandir di kios-kios buku lawas di sekitaran Stadion Diponegoro; di Surabaya saya memilih singgah di Kampoeng Ilmu; dan di Bali saya menikmati buku-buku sejarah-budaya terbitan Larasan, dan di pusat kota Medan saya mengunjungi taman baca Tengku Luckman Sinar Basarshah serta saya mengunjungi perpustakaan milik Balai Arkeologi Palembang, Sumatra Selatan.

Bila ke Ibukota Jakarta saya mengunjungi Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan perpustakaan Museum Penyusunan Naskah Proklamasi (Munasprok), lalu menyusuri kios-kios buku di Blok M Square, pasar Kwitang, Senen dan toko buku milik Penyair Joze Rizal Manua serta Pusat Dokumentasi sastra (PDS) HB Jassin yang keduanya di Taman Ismail Marzuki (TIM); berkunjung ke KITLV-Jakarta-Belanda; Penerbit LP3ES dan Prisma; Yayasan Obor Indonesia (YOI); dan Perpustakaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 

Begitu juga di sela mengikuti konferensi di Universitas Nasional Singapura (2012), saya bersama kawan-kawan Seloko Institute, sebuah pusat studi sejarah dan budaya Jambi, berkunjung ke perpustakaan Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), yang menyimpan ribuan koleksi buku dengan arus utama studi sosial, politik, dan ekonomi di Asia Tenggara.

Demikian penggalan kisah saya bergumul dengan buku dari dusun Empelu sampai Yogyakarta dan akhirnya memilih pulang kembali ke Tanah Pilih Pusako Betuah, Kota Jambi. Agaknya itu kenapa mencintai buku sampai sekarang telah menempa saya agar menerima konsekuensinya yaitu jumlah buku yang terus bertambah (sementara ruang penyimpanan terbatas), dan tentu saja kesiapan merawatnya dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya gemar membeli buku tidak pula menunjukkan bahwa saya punya uang berlebih, tetapi dengan sadar memilih membeli buku, maka saya tidak punya kehendak memiliki sesuatu yang lebih dari padanya.

Puncaknya, kehendak membeli dan berusaha tekun membaca sekaligus menulis semampunya, selain sebagai wujud penghormatan pada ilmu, dedikasi para intelektual, juga sebuah pengakuan bahwa saya masih bodoh, dan karenya jangan pernah berhenti belajar. 

Lebih jauh kecintaan saya terhadap buku sekaligus penghormatan terhadap sesiapa saja yang menggeluti dunia buku, dapat disaksikan dalam  program dialaog "Melala" yang tayang di kanal youtube JCM Project berikut ini: https://www.youtube.com/watch?v=8uNv-NWf-So  (Bagian I) dan https://www.youtube.com/watch?v=xsZ6c5rmxxA (Bagian II).

*Tulisan-tulisan saya yang lain tentang buku dan mereka yang menggumuli dunia buku dapat dibaca di web: www.jumardiputra.com

0 Komentar