Lantak La: Dramaturgi Anonim-Anonim


Oleh: Jumardi Putra*

Lantak La! Kata itu yang membuat saya ingin segera membaca novel hasil sayembara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2021 ini. Diksi Lantak La terasa dekat dengan keseharian saya sebagai orang Jambi. Usut punya usut penulis novel ini adalah juga putra Jambi, tepatnya kelahiran Bangko, sebuah kecamatan sekaligus ibukota kabupaten Merangin, berjarak sekira 250,9 kilo meter (setara perjalanan darat 5 jam 43 menit) dari kota Jambi melewati jalan Muara Tembesi-Sarolangun - Bangko, Jalan Lintas Sumatera.

Meski diganjar sebagai novel terbaik tiga sejak dua tahun lalu, karya Beri Hanna ini baru bisa dinikmati secara luas setelah diterbitkan oleh Penerbit baNANA Januari 2023. Saya tidak tahu alasan di balik keterlambatan itu. Mungkin saja, karena ini hasil sayembara, terbuka ruang bagi penulis menyempurnakannya berdasarkan catatan dewan juri maupun catatan editor Yusi Avianto Pareanom, sang penulis novel terkenal Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi.

Novel ini tergolong tipis (127 halaman) dan berukuran sedang (12 x 18,5 cm) sehingga mudah saya bawa ke mana-mana dan tuntas saya baca dalam dua hari di sela-sela pekerjaan. Apa sebenarnya muatan cerita bernada folklor ini? Pertanyaan itu segera memenuhi isi kepala saya.

Sinopsis di kaver belakang novel ini sebenarnya sedikit membantu pembaca untuk mengetahui isi karya Syawal Pebrian, nama pena dari Beri Hanna ini, tapi hemat saya itu tidak cukup. Membacanya secara lengkap jelas memberi kesempatan bagi pembaca mengenali secara dekat latar maupun isi cerita, lengkap dengan paradoksnya, bahkan absurditas karakter masing-masing tokoh di dalamnya.

Hal pertama yang saya lakukan, dan rasanya itu disadari urgen oleh penulis sehingga disiapkan pada lembar-lembar awal sebelum cerita dimulai yakni pembaca perlu mengenal setiap tokoh beserta perannya dengan tiga kategori utama yaitu para penyihir, mereka yang berada di Turki, di Jambi, Selat Melaka dan kaum Haret sebagai pendatang. Begitu juga lokus geografis (sekalipun itu imajiner) di mana tokoh-tokoh tersebut hadir dan mewarnai jalan cerita.

Memang, beberapa nama lokasi yang disebutkan dalam novel ini familiar di Jambi, seperti sungai Batanghari, Pelabuhan Tanjung Jabung, Pulau Berhala, Bukit Barisan, Kerinci, dan Selat Malaka. Begitu juga Kitab Tapak Kuda beraksara Incung Kerinci yang disebut dalam novel ini sebagai kitab yang dicari-cari karena kekeramatan sekaligus urgensinya untuk diserahkan kepada Awarawaram, sang Maharaja Dirja kerajaan Jambi. Kesemua itu mewujud sebagai hasil rekaan penulis, perpaduan antara kenyataan khayali dan peristiwa sehari-hari penulis yang tumbuh dan besar di tanah Jambi.     

Bukan seperti umumnya novel tebal, yang mendiskripsikan tokoh, penokohan, alur, latar dan sudut pandang secara detail, novel ini ditulis secara padat, mengalir dan didukung imaji liar. Sejurus hal itu, tokoh-tokoh di dalamnya sama-sama memiliki karakter kuat, sehingga cerita novel ini tidak mudah diterka bila tidak dibaca pasat-pasat (membaca dengan pelan dan cermat). Bahkan, untuk memastikan ingatan saya tetap terhubung antara satu bagian dengan bagian lainnya dalam novel ini, saya perlu mewarnai teks-teks kunci dengan stabilo.

Saya juga sesekali membuka lembar-lembar halaman sebelumnya untuk sekadar memastikan keterhubungan antar bagian maupun sudut pandang cerita. Singkatnya, karya fiksi ini ceritanya tidak linier dan seperti bertabrakan. Alur cerita yang melompat-lompat dan sudut pandang tokoh yang berganti-ganti serta latar yang berubah begitu cepat mensyaratkan ketelitian dan kesabaran.

Usai mengingat nama dan penokohan masing-masing tokoh dalam cerita fiksi ini, saya mulai membacanya perlahan-lahan. Tak syak, saya langsung disuguhkan dengan narasi mistis dan fantastis. Aroma petualangan begitu terasa sesaat setelah membaca paragraf pertama, seperti utuh saya tuangkan berikut ini:

“Kisah di buku ini bermula dari puncak Gunung Patah Tigo. Brajo Batubintang memimpin kaum penyihir meluncur ke Bukit Sasarang Kayu Gading. Mereka telah lama berpuasa memotong kaki binatang, sebuah laku pantang yang menjadikan mereka serasa batu di pegunungan selama seribu tahun.

Mereka telah lama pula menyimpan paghang dan tombak api yang dibuat dari kayu atau bambu, atau batu yang diasah dengan campuran darah dan getah buah gelumpang mengkal. Mereka menyimpannya seperti pusaka leluhur yang tiada berguna.

Kini, mereka bangkit dari kematian untuk melempar tombak api ke arah kuda-kuda yang berlari, memotong kaki-kaki kuda yang menjerit-jerit itu sambil berpuja-puji.”

Pada beberapa bagian, peristiwa yang digambarkan tampak terkesan absurd dan di luar nalar, sebut saja karakter tokoh seperti Yavuz, lelaki muda yang terkenal memiliki kelamin sebesar kepala ular piton, yang begitu mencintai dan bahkan mengimpikan bersetubuh dengan perempuan gendut bagai gentong candi purba yakni Suzan Meralyevna, yang tak lain adalah istri dari Budak Tanjuk, seorang punggawa kerajaan yang bertugas memilihkan sapi untuk sang Raja, Sultan Hayinam di Turki, yang justru memancung leher Budak Tanjuk dan tubuhnya dipotong menjadi beberapa bagian lalu dikirim kepada sang istri dan dibuat sebagai hidangan makanan warga sekampung sebagai wujud kesuksesan yang dibangga-banggakan Suzan Meralyevna terhadap suaminya lantaran menjadi kepercayaan sang Raja Hayinam.

Bayangkan, betapa potongan tubuh manusia dimakan secara berjamaah dan dirayakan penuh sukacita sebagai wujud kesuksesan, sementara kenyataannya lebih pahit dan getir setelah kelak mengetahui bahwa daging yang dimakan itu sejatinya bisa diketahui sedari awal bila sepucuk surat yang ditulis Budak Tanjuk sebelum dipancung sang raja sampai kepada istri dan anaknya. Berjalannya waktu, hingga akhirnya Suzan terbunuh, Yavuz tak pernah benar-benar bisa menyetubuhi Suzan, perempuan yang ia dambakan, tetapi dalam ceritanya Yazuv justru hanya bercinta dengan sang dukun, perempuan buruk rupa. Singkatnya, Arka alias Tuan Tinggi, alias Tuan Padam, anak dari Budak Tanjuk bersama Suzan, berkat bantuan Yavuz, hidup hanya untuk membalas dendam pada Sultan Hayinam yang telah membunuh ayahnya.

Dari sinilah cerita balas dendam bermula dan akan berlanjut pada dendam-dendam lainnya yang diperankan masing-masing tokoh dalam novel ini, seperti keberadan para penyihir dimusuhi banyak kelompok, termasuk juga kelompok Sigindo Rujumlamo yang merupakan pedagang binatang. Ada juga Sakang Kayumanis, guru silat berusia 260 tahun yang mati sia-sia setelah menguasai banyak jurus, tetapi tidak sekali pun menggunakannya. Ada juga Kaum Haret yang terus-menerus mencari Tuhan, berpindah dari Tuhan yang satu dan Tuhan lainnya setelah membuktikan Tuhan mereka ternyata bukanlah Tuhan. Begitu juga bagian cerita tentang sesosok perempuan yang turun dari langit mencari suami yang kelak ia bunuh sendiri.

Absurditas dalam cerita ini masih berlanjut hingga akhir cerita. Salah satu bagian yang menarik bagi saya adalah usaha menemukan dan mencatat isi kitab Tapak Kuda yang tertulis dalam huruf Incung Kerinci, yang kelak diserahkan kepada Awarawaram, sang Maharaja Dirja kerajaan Jambi. Nah, bagian ini lumayan panjang sampai akhir cerita dimana usaha menghapal maupun menyalin (orang yang melakukannya ikut kepanasan) dan kitab tersebut juga terbakar sebelum diserahkan kepada sang raja. Selain jauh dari deskripsi yang bertele-tele, penceritaan penulis juga bersandar penuh pada karakter tokoh, adegan-adegan khas dunia sihir, dan juga diperkaya melalui dialog yang efektif, sarkas dan bahkan terkadang tidak terduga seperti, salah satunya dialog antara Tuan Tinggi, Tagak Sikandung Batin, Nyi Sutim Amiri sang peramal, dan sang Maharaja Dirja.

Seperti saya kemukakan sebelumnya, membaca novel ini memerlukan ketelitian dan kesabaran. Dengan demikian, saat alur cerita telah terhubung antara satu bagian dengan bagian lainnya dengan baik, keseluruhan cerita Lantak La baru terasa mengagumkan. Di titik itu pula saya baru bisa memahami anak judul “dramaturgi anonim-anonim” dari tanah Jambi pada novel ini menemukan relevansinya. Sementara penggunaan kata Lantak La sebagai judul dan argumentasi yang melandasinya hemat saya belum sepenuhnya berhasil mewakili keseluruhan isi cerita, melainkan lebih kepada perbendaharaan kata khas Jambi sekaligus cerita dalam novel ini terinspirasi dari cerita rakyat Jambi. Lain halnya dengan kata paghang, sebutan untuk senjata parang bagi orang Jambi yang masih berkait erat dengan adegan-adegan para penyihir dalam novel ini.

Penulis novel ini dalam bedah buku Lantak La (Instagram Banana, 16 Februari 2023), mengakui bahwa judul naskah itu pertama kali bukan Lantak La, melainkan Dari Nenek Turun Ke Bapak, Dari Bapak Turun ke Anak. Dalam perjalanannya, berdasarkan sumbang saran dari sejawat diskusi, barulah menjadi judul novel seperti berada di tangan pembaca sekarang. Memang bukan perkara mudah mewakilkan plot, karakter tokoh dan isi cerita lengkap dengan keseluruhan adegan-adegan di dalamnya menjadi sebuah judul yang benar-benar tepat.  

Setelah membaca novel ini, Lantak La tidak sepenuhnya berangkat dari cerita rakyat Jambi atau peristiwa keseharian sang penulis di tanah Jambi, melainkan telah bercampur dengan pengalaman penulis menyelami karya sastra maupun film yang mengangkat seluk beluk dunia sihir. Makanya tidak heran, unsur surealis, mistik, hingga nada-nada sarkartis begitu kentara dalam novel ini, yang kesemua itu membuat folklore asal tanah Jambi tidak lagi hadir dalam bentuk yang kita kenal sesuai konvensi selama ini.

Di luar soal intrinsik-struktural, kreasi yang dilakukan Beri Hanna, yang juga kerap menjadi medan bagi sastrawan (dan seniman) pada umumnya adalah “jalan lain” yang bisa ditempuh untuk mendekatkan cerita rakyat (folklore) kepada masyarakat saat ini.

Upaya tersebut tentu tidak dalam pengertian pertarungan yang berujung kalah-menang ataupun reduksi antara tradisi lisan dan tulis, melainkan relasional. Apa pasal? Di situlah cerita rakyat yang lazimnya hadir dengan serangkaian gaya bahasa klise dan penyajian peristiwa yang bertele-tele bisa menjadi kisah yang padat, mengalir, dan mengagumkan.

Hingga saat ini tidak banyak karya sastra yang menjadikan Jambi sebagai latar ataupun sumber inspirasinya, terutama dari cerita-cerita rakyat dan tradisi lisannya. Dengan demikian, yang dilakukan oleh Beri Hanna ini bisa membuat berbagai hal tentang cerita rakyat, kehidupan sehari-hari, hingga adat dan budaya Jambi bisa lebih diketahui masyarakat secara luas.

*Kota Jambi, 30 Mei 2023. Tulisan ini terbit pertama kali di rubrik Pustaka portal www.kajanglako.com

1 Komentar