Gapapa Makeup-ku Luntur, Asal Bukan Keadilan yang Luntur. Lengkap Cap Bibir

ilustrasi. sumber: konde.co

Oleh: Jumardi Putra*

May Day (1 Mei) diperingati sebagai Hari Buruh Internasional. Peringatan itu ditujukan bagi para pekerja atau buruh di seluruh dunia untuk merayakan kontribusi mereka dan menyebarkan kesadaran hak-hak pekerja.

Dalam banyak unjuk rasa di tanah air, hak-hak dasar kaum buruh masih menjadi bahasa bersama yang disampaikan secara terbuka kepada pemerintah maupun pengusaha. Selain kaum buruh sendiri, mahasiswa juga elemen strategis yang menyuarakan protes terhadap kebijakan negara yang dinilai merugikan kaum buruh, seperti Omnibus Law UU Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, mendorong RUU perlindungan pekerja rumah tangga, reforma agraria dan kedaulatan pangan, tolak impor beras, kedelai dan lain-lain.

Beragam ekspresi dan cara kreatif yang mewarnai unjuk rasa mahasiswa saat ini perlahan-lahan meruntuhkan kesan angker yang selama ini melekat pada kata demonstrasi.

Kesan angker unjuk rasa tempo dulu itu bukan mengada-ngada. Pada masa Presiden Soekarno hingga Soeharto, unjuk rasa mahasiswa mengundang resiko besar. Mulai dari gebukan tongkat aparat, lemparan gas air mata, hingga risiko dipenjara (tanpa pengadilan) dan drop out. Bahkan, demonstrasi mahasiswa di masa lalu mempertaruhkan nyawa (pembungkaman dan penghilangan secara paksa). Tidak sedikit mahasiswa yang tewas di tengah aksi, sebut saja dalam tragedi Trisakti, Semanggi I dan II atau pada periode-periode kritis sebelumnya, seperti peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari), peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974.

Penyair dan aktivis buruh Wiji Tukul, untuk menyebut contoh, berani menulis puisi tahun 1986 bertajuk peringatan, dan sekaligus hal itu merekam keangkeran menyampaikan kritik pada masa Orde Baru, berikut ini:

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa.

 

Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar.

 

Bila rakyat berani mengeluh

Itu artinya sudah gawat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah, Kebenaran pasti terancam.

 

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!.

 

Faktanya, Wiji Tukul bukan satu-satunya orang yang menjadi korban penghilangan paksa dalam masa Orde Baru. Ia dicap oleh aparat sebagai agitator, penghasut. Tukul adalah cerita penting dalam sejarah orde baru yang sajak-sajaknya menakutkan bagi rezim Soeharto dan kematiannya hingga saat ini masih menjadi misteri.

Wiji Tukul

Sekalipun keangkeran dan suasana tragis unjuk rasa di masa lalu tidak lagi masif-persis terulang di masa sekarang, tetapi unjuk rasa mahasiswa hari ini masih menghadapi resiko, seperti kena bogam aparat, disemprot gas air mata, disiksa dan ditahan, dan bahkan terkena peluru nyasar.

Pudarnya keangkeran unjuk rasa sekarang seiring munculnya pelbagai ekspresi unjuk rasa mahasiswa dengan kesan-kesan yang menyenangkan seperti kerapkali kita saksikan baik secara langsung maupun melalui kanal televisi dan medium alternatif seperti jejaring media sosial. Terkadang muncul cibiran terhadap aksi-aksi eksentrik mahasiswa milenial kala berdemonstrasi sekarang ini karena dianggap sekadar menunjukkan eksistensi nan dangkal. Seolah ingin tampak kritis. Seolah ingin terlihat seperti mahasiswa dulu kala, padahal nyatanya zonkkkk.

Hemat saya, hal itu tidak sepenuhnya berdasar. Unjuk rasa, sekalipun disampaikan dengan cara menyenangkan, harus tetap hadir sebagai respon moral (idealisme) dan intelektual para mahasiswa terhadap kondisi ketidakadilan akibat kebijakan yang dibuat pemerintah maupun pengusaha. Setakat hal itu, kemudahan akses informasi secara digital saat ini harus disertai dengan kesadaran kritis sekaligus membangun jejaring dalam konteks pensemestaan gagasan kritis serta advokasi masyarakat terdampak kebijakan pemerintah maupun pengusaha sehingga tuntutan dalam setiap demonstrasi menemukan solusi kongkrit.

Bahwa dalam praksisnya yaitu muncul pelbagai bentuk unjuk rasa “berbayar” yang bertujuan menjaga “status quo” dan kepentingan penguasa maupun pengusaha, itu adalah bagian yang tidak terelakkan dalam perjalanan demokrasi di negeri ini. Dengan demikian, unjuk rasa sebagai seruan moral sekaligus tanggung jawab intelektual adalah pekerjaan yang meniscayakan keberanian dan konsistensi. Dan, hal itu tidak boleh tergadaikan oleh kepentingan apapun di luar agenda menyuarakan hak-hak dasar masyarakat yang menjadi korban akibat kebijakan pemerintah maupun pengusaha.

poster unjuk rasa mahasiswa

Pikiran kritis dan kreatif dalam unjuk rasa sekarang ini tampak jelas dari sejumlah poster yang dibawa para demonstran. Meski terkesan nyeleneh, hal itu boleh dikata sebagai salah satu cara mahasiswa saat ini menunjukkan simbolisasi perlawanan. Publik tidak hanya bisa melihat poster berisikan teks-teks perlawanan secara serius, tapi ada juga bahasa-bahasa yang lucu, menggelitik, dan ngekik. Umumnya, tulisan-tulisan di poster itu mengaitkan kritik dengan kebutuhan sehari-hari. Dengan kata lain, seni perlawanan yang efektif sering dimulai dari penggunaan bahasa-bahasa sehari-hari yang dipahami oleh fase generasi saat ini.

Kondisi demikian itu sangat dipengaruhi oleh konteks pertumbuhan sosial generasi sekarang yang tidak berada dalam represi kekerasan seperti era Orde Baru yang otoritarian. Berikut saya sertakan contoh tulisan-tulisan penuh humor, nyeleneh, nyelekit, lucu dan kritis di poster yang dibawa para demonstran saat unjuk rasa di pelbagai daerah di tanah air:

"Gapapa makeup-ku luntur, asal bukan keadilan yang luntur. lengkap dengan cap bibir.

"Harga skin care mahal, kalau saya sampai turun ke jalan berarti ada yang salah dengan birokrasi."

“Jutaan buruh jomblo, karena upah murah. Takut menikah.”

"DPR medot janji, sumpahmu palsu koyo mantanku." (DPR ingkar janji, sumpahmu palsu seperti mantanku).

“Menjadi buruh bukan cita-cita kami, tapi negara tanpa buruh bisa apa”.

Pacar saya minta kepastian, tapi saya tak kunjung dapat kepastian”.

Kukira hatiku saja yang tidak sehat, ternyata negeri ini juga."

"Jangan matikan keadilan!!! Matikan saja mantanku!!"

“Wayahe rapat nonton film biru, wayahe kerjo malah turu, eee adalah sekaline nyandak gawean malah keliru.” (Waktunya rapat malah nonton film biru, saatnya kerja malah tidur, eeee sekali melaksanakan tugas malah keliru).

"Our democracy has been hacked (demokrasi kita sudah diretas)".

“Hewan ternak masuk rumah didenda, tikus bobol anggaran negara dibiarkan.”

 “Cuti nonton drakor ah, karena di DPRD banyak drama.”

“Terlalu sakit jika Ombinus Law berjalan.”

“Penjara koruptor lebih mewah dari kos guwe.”

 

*Tulisan ini terbit pertama kali di portal kajanglako.com. Teks-teks di poster para demonstran bersumber dari pelbagai media online, seperti kompas.com, cnnindonesia.com, liputan6.com dan detik.com.

0 Komentar