Pilpres 2024: Lagu Usang dan Janji Seharum Padi

ilustrasi.kompas.id



Oleh: Jumardi Putra

Hari-hari kita belakangan ini sesak oleh rumor antah berantah, amarah, hoaks, dan hal ihwal seputar kontestasi politik—mulai dari kursi kepresidenan hingga bangku legislatif. Tak hanya di dunia nyata, lalu lintas informasi di jagat maya pun tak kalah bising. Semua mata tertuju pada ritual lima tahunan ini, meski berkali-kali pula kita disuguhi kenyataan pahit: bergantinya rezim tak otomatis membuat bangsa ini tegak berdiri. Kita masih tertatih untuk benar-benar berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Gagasan Trisakti yang dikumandangkan Bung Karno pada 17 Agustus 1964 silam, kini tak ubahnya lagu usang yang hanya diputar berulang-ulang menjelang pemilu. Mendengarnya mungkin sedikit menenangkan hati, namun karena ia tidak berpijak pada realitas, maknanya lekas pudar dari ingatan. Sering kali, di ruang-ruang publik, jargon dan janji manis yang mulanya seharum "rumpun padi" berakhir menjadi "tebaran ilalang" yang gersang.

Meski demikian, di balik siklus lima tahunan inilah warga memiliki kesempatan untuk merenungkan kembali estafet kekuasaan di republik ini. Sejatinya, demokrasi memberi ruang bagi "kekecewaan" agar bisa disalurkan secara rasional. Ia adalah alat kontrol terhadap sistem demokrasi prosedural, dengan harapan kelak lahir kebijakan yang benar-benar menjamin kesejahteraan bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali.

Faktanya, selain politik, ekonomi tetap menjadi primadona. Namun, satu hal yang perlu digarisbawahi: agenda politik dan ekonomi kita belum berhasil mengurai cengkeraman modal tak terbatas yang dikuasai segelintir oligarki yang bermesraan dengan kekuasaan selama ini. Itulah mengapa kebijakan penanggulangan kemiskinan dan pembukaan lapangan kerja seolah tidak pernah "sebangun" dengan cita-cita kesejahteraan. Distribusi hasil kekayaan dari bumi, air, dan udara Indonesia belum sepenuhnya mengalir ke tangan rakyat, melintasi sekat wilayah, etnis, maupun status sosial.

Dalam situasi ini, jika politik dan ekonomi diibaratkan gula yang diperebutkan, nasib kebudayaan justru berbeda. Kebudayaan—yang seharusnya menjadi fondasi nilai bagi politik dan ekonomi—belum menjadi pijakan utama bagi para pengambil kebijakan. Kita merindukan pemimpin yang konsisten menjaga arah bangsa di tengah badai global; pemimpin yang memastikan kekayaan negeri ini terdistribusi merata hingga ke pelosok, demi menciptakan negara yang aman, damai, dan penuh cinta. Kita tentu tak ingin kehancuran yang menimpa banyak negara akibat konflik horizontal—yang lahir dari rahim ketidakadilan sosial, hukum, dan ekonomi—terjadi di sini.

Di sinilah letak urgensinya: berkepribadian dalam kebudayaan bukan sekadar sumber nilai kebaikan, melainkan kompas dalam menyusun undang-undang serta mewujudkan keadilan secara nyata. Ia tidak boleh lagi hanya menjadi jargon kampanye, apalagi sekadar dongeng pengantar tidur yang diceritakan orang tua kepada anaknya. Ia harus menjadi nyawa bagi raga bangsa ini.

*Jakarta, 24 Oktober 2023.

0 Komentar