Sepulang dari Pesantren Al Ishaaqy di Tanah Bekali: Penggalan Catatan

Peserta Lomba Baca Puisi dan Lomba Bercerita
bersama pengasuh pesantren dan Dewan Juri

Oleh: Jumardi Putra*

Medio Januari, Apriadi, sahabat saya yang hari-hari mengajar di sebuah pesantren di Desa Tanah Bekali, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo, menghubungi saya dan mengutarakan niatnya meminta saya menjadi salah satu Dewan Juri Lomba Baca Puisi dan Cerita Islami tingkat SD/MI dan SMP/MTs se Kabupaten Bungo. Perhelatan seni tersebut bakal berlangsung medio Februari 2023.

Saya tidak lantas mengamininya, kecuali meminta waktu berpikir di tengah kesibukan saya, terlebih jarak Kota Jambi menuju Kota berjuluk Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun itu bukan bak sepelemparan batu. Setidaknya memerlukan waktu tempuh sekira tujuh jam. Bahkan bisa lebih dari itu sejak truk batubara memenuhi ruas jalan nasional dari mulut tambang (Sarolangun-Muara Tembesi, Batanghari-Jambi) menuju pelabuhan.

Saya akui, mudik ke kota Bungo jarang saya lakoni terutama setelah memilih tinggal dan bekerja di kota Jambi sejak tahun 2011. Meski begitu, perjalanan menuju Bungo boleh dikata penuh kenangan. Apatahlagi kampung halaman saya, Desa Empelu, berjarak sekira 25 kilometer dari pusat kota Bungo. Dengan demikian, berjumpa emak dan saudara serta menziarahi makam bapak di kampung halaman adalah kesempatan yang tidak boleh kulewati. 

Di luar soal itu, pesantren yang menyelenggarakan lomba ini sedari lama ingin saya kunjungi karena didirikan oleh dua lelaki muda yakni Kiai Bulkamri bersama kakak kandungnya pada tahun 2018, tepatnya berjarak 30 Km dari arah Kabupaten Bungo dan 1 Km dari Ibu kota Kecamatan Tanah Sepenggal. Mereka berdua merupakan jebolan pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Sukerojo, Situbondo, Jawa Timur. Sebuah pesantren ternama yang didirikan oleh KH. Raden Syamsul Arifin pada tahun 1908 dan dilanjutkan oleh kiai karismatik sekaligus salah satu pendiri organisasi keagamaan Nahdatul Ulama (NU) dan pahlawan nasional yakni KH. Raden As’ad Syamsul Arifin. Tak heran bila peletakan batu pertama pembangunan pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Al-Ishaaqy yang berlokasi di Desa Tanah Bekali ini dihadiri langsung oleh KHR. Achmad Azaim Ibrahimy, cucu dari KHR. As’ad Syamsul Arifin sekaligus pengasuh ke 4 pesantren Salafiyah Syafiiyyah Sukerojo, Situbondo, sejak tahun 2012 sampai sekarang setelah sebelumnya dipimpin oleh KHR. Ahmad Fawaid As'ad.

Lokasi pembukaan kegiatan lomba

Maka melalui Whatsapp saya berkabar kepada Bung Apriadi, begitu biasa saya menyapanya, bahwa saya akan berusaha hadir untuk perhelatan tersebut. “Saya akan berkabar bilamana ada kegiatan saya di Kota Jambi yang mendesak dan tidak dapat ditinggalkan bersamaan hari pelaksanaan perlombaan,” imbuhku diamininya.

Alhamdulillah, Senin, sore hari, sekira pukul 16.00 WIB, tanggal 13 Februari 2023, saya beranjak dari Kota Jambi menuju Bungo. Benar adanya, mobil yang saya tumpangi sempat terjebak macet di ruas jalan pasar Tembesi Batanghari, sehingga saya sampai di kota Bungo sekira pukul 02.35 WIB. Saya pun bergegas istirahat, lain tidak. Karena paginya, Selasa, 14 Februari 2023, saya harus ke lokasi acara.

***

Selain saya terdapat dewan juri lainnya yaitu Feerlie Moontana Indra dan Marwan. Dua nama tersebut familiar bagi saya, meski kami jarang bertemu lantaran kesibukan di kota masing-masing. Dengan demikian, perjalanan menuju Bungo makin menabalkan perjumpaan penuh kenangan, terlebih saya bersama Feerlie Moonthana, dkk, pernah membentuk Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Bungo pada tanggal 23 Juli tahun 2010.

Perhelatan lomba baca puisi dan cerita islami ini diikuti oleh 28 perwakilan sekolah. Total 56 peserta dari gabungan SD/MI dan SMP/MTs.  Saya pikir ini jumlah yang cukup membahagiakan, terlebih lagi kegiatan ini diinisiasi oleh sebuah pesantren yang tergolong baru. Menimbang jumlah peserta banyak, maka Dewan Juri ditambah satu lagi yaitu Kak Diah, ketua Kampung Dongeng kabupaten Bungo. Kehadiran saudari Diah membawa angin segar karena memang butuh sosok yang menguasai teknik bercerita.

Benar adanya, kepiawaian bercerita Kak Diah di hadapan peserta dan guru pendamping sebelum lomba dimulai mampu mencairkan suasana. Seisi ruangan acara pembukaan ramai dan menjadi berwarna. Senyum dan tawa seluruh hadirin membuat suasana pagi di pesantren menjadi penuh semangat dan ceria, dan yang tidak kalah penting secara tidak langsung kak Diah menunjukkan kepada seluruh peserta lomba tentang teknik bercerita yang baik sehingga pesan yang ingin disampaikan bisa diterima dengan penuh sukacita oleh audiens tanpa merasa digurui.

***

Ki-ka: Marwan, Diah, Feerlie dan Penulis

Lomba baca puisi dan cerita islami dilaksanakan di dua tempat berbeda meski masih dalam kawasan pesantren. Puisi yang dilombakan adalah puisi berjudul Sembahyang Rerumputan karya penyair Ahmadun Yose Herfanda, sedangkan cerita islami bertajuk Isra’ Mi’raj karena bertepatan menyambut hari besar Islam yaitu Isra’ Mi’raj tahun 1444 H atau jatuh pada tanggal 18 Februari 2023.

Secara umum dewan juri merasa bahagia karena antusiasme peserta lomba beserta guru pendamping hadir sedari pagi dimulai sejak pembukaan hingga berakhir sore hari. Acara yang semula dibuat dua hari menjadi satu hari. Naskah puisi yang semula disiapkan puisi wajib dan pilihan disepakati antara para dewan juri, seluruh peserta lomba serta panitia penyelenggara menjadi satu puisi wajib. Keputusan tersebut diambil selain menimbang waktu, juga puisi wajib tergolong panjang, dan kami meyakini peserta lebih menguasai puisi wajib ketimbang naskah puisi pilihan yang dilombakan.   

Perlombaan pun dimulai. Feerlie Moothana bersama Marwan menjadi dewan juri lomba baca puisi. Saya bersama Diah bertugas sebagai juri lomba bercerita. Kami dewan juri sangat berhati-hati dalam menilai. Bahkan kami membuat catatan kecil bagi masing-masing peserta. Jadi, setiap kekurangan dan kelebihan peserta kami catat, dari yang terkecil semisal gerakan tubuh, intonasi, pemaknaan dan tentu saja ekspresi.

Sebelum pengumuman hasil dua cabang lomba dibacakan, saya dan Feerlie Moonthana secara bergilir menyampaikan catatan dewan juri di hadapan seluruh peserta dan guru pendamping serta panitia penyelenggara.

Feerlie menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti mengenai intonasi, interpretasi, dan ekspresi. Kostum peserta kami sepakati bukan sesuatu hal yang menjadi penilaian khusus. Menurut Feerlie, membaca puisi tidak sama dengan deklamasi. Ekspresi power full peserta membacakan puisi mesti disertai kemampuan memaknai dan menjiwai substansi teks puisi. Singkat kata, tidak asal bersuara lantang atau bergerak lincah di atas panggung. Begitu juga naik turun suara (intonasi) membentuk suasana pembacaan puisi. Tak pelak, sebelum seluruh rangkaian acara ditutup oleh panitia penyelenggara, Feerlie dan Marwan secara bergilir membacakan puisi sebagai contoh bagi seluruh peserta lomba dan guru pendamping.

Ki-ka: Marwan, Feerlie, Penulis dan ustad Apriadi

Hasil amatan dewan juri lomba baca puisi bila saya sederhanakan begini, “Tidak sedikit orang berpikir, yang power full dan ekspresif pasti lebih baik dari yang tidak. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar, karena volume suara yang lantang tapi tidak terkontrol dapat merusak padu-padan keseluruhan tampilan, termasuk harmonisasi nada dan volume suara selama pembacaan puisi. Jadi, jika para peserta menyaksikan dan menilai dari segi permukaan saja, dewan juri justru bertugas mencermati segi kemampuan penguasaan teknis, baik teknis pembacaan maupun teknis penjiwaan, dan pemaknaan teks puisi itu sendiri.

Saya sendiri selaku dewan juri lomba bercerita, setelah sebelumnya bercakap-cakap dengan Kak Diah, di hadapan seluruh hadirin mengatakan secara umum peserta lomba cerita islami belum bisa membedakan antara pidato dan bercerita.

Pidato kita tahu merupakan bentuk komunikasi satu arah berupa pengungkapan gagasan dan pikiran pembicara tentang suatu hal kepada banyak orang (umum) dan tidak mendapatkan tanggapan langung dari pendengar. Sedangkan bercerita adalah menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang perbuatan atau sesuatu kejadian dan disampaikan secara lisan dengan tujuan membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain.

Umumnya peserta lomba bercerita mengekspresikan laiaknya sedang berpidato atau ceramah. Lagak seperti sosok dai sejuta ummat almarhum KH. Zainudin MZ mudah dijumpai pada sebagian peserta lomba bercerita. Pendek kata, peserta tampil seragam baik secara ekspresi maupun intonasi. Bukan tampil sebagaimana galibnya kita melihat seseorang sedang bercerita yang dituntut menghadirkan suasana santai, reflektif, dan menghibur untuk mengetengahkan substansi cerita, yang didukung oleh intonasi suara yang tidak monoton (apalagi memaksakan), dan yang tidak kalah penting adalah menjadikan audien sebagai bagian dari keseluruhan teknis maupun substansi penyampaian isi cerita.

Problem demikian itu bisa terjadi, selain belum bisa membedakan hal pokok antara pidato dan bercerita, juga adalah peserta terpaku pada seluruh isi teks cerita sehingga nampak mereka berusaha menghafal sedemikian rupa isi cerita. Konsekuensi menghafal dan belum memahami adalah saat peserta lupa sehingga membuat mereka kesulitan meneruskan, apalgi melakukan pengembangan isi cerita. Maka, dalam situasi demikian itu banyak peserta membuka kembali teks cerita di tengah perlombaan berlangsung.

Pengumuman hasil lomba oleh perwakilan Dewan Juri

Di atas itu semua, saya bahagia dan optimis karena ada peserta yang berhasil meski belumlah ideal, yang mampu membacakan puisi dan bercerita dengan baik. Catatan dewan juri tadi itu menjadi bekal bagi guru pendamping pada satuan pendidikan masing-masing. Para peserta yang meraih juara baik juara 1, 2, dan 3 maupun harapan 1, 2, dan 3, dan bahkan yang belum mendapat juara, kesemuanya adalah bibit potensial sehingga perlu mendapat pendampingan secara tepat dan berkelanjutan untuk ke depannya.

Atas kepercayaan sekaligus kesempatan menjadi dewan juri, saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada pengasuh pesantren Salafiyah Syafiiah Al Ishaqy, Tanah Bekali. Saya mengapresiasi kerja tangkas dan sistematis panitia penyelenggara sepanjang perhelatan lomba baca puisi maupun bercerita berlangsung. Kegiatan demikian ini, lebih-lebih diselenggarakan oleh pesantren adalah hal yang menggembirakan. Semoga ke depan muncul para santri/wati yang jago menulis maupun membacakan karya sastra. Amin.

***

Rabu pagi, 15 Februari 2023, saya pulang ke kota Jambi. Kembali menjalani rutinitas pekerjaan. Dalam pada itu, karya sastra sebagai bacaan alternatif buat saya kerap kali menghadirkan tidak saja hal-hal indah dan tak terduga, tapi juga kritik-reflektif di tengah kejumudan dinamika politik, hukum, dan ekonomi di republik ini. 


*Kota Jambi, 18 Februari 2023.

0 Komentar