![]() |
| ilustrasi. anak-anak hendak mengaji |
Oleh: Jumardi Putra
Mereka yang punya kampung halaman adalah mereka yang pantas merayakan kenangan
Saya
melontarkan kalimat itu setengah berseloroh. Beberapa kawan di dekat saya tersenyum tipis.
Entah mengamini, entah sekadar memaklumi bahwa usia memang sering membawa kita
pulang—bukan semata merujuk ke suatu tempat, melainkan ke ingatan.
Di zaman
yang disebut orang sebagai global village, ketika jarak dipangkas oleh
gawai dan percakapan melintas benua dalam hitungan detik, makna kampung halaman
memang tak lagi sepenuhnya terikat pada batas desa, kecamatan, atau provinsi.
Internet mengaburkan sekat-sekat lama. Kita bisa merasa dekat dengan seseorang
yang tak pernah kita jumpai, dan sebaliknya merasa asing di tanah sendiri.
Namun ada
kenangan yang tak bisa dipindahkan oleh teknologi. Ia melekat pada aroma tanah
selepas hujan, pada lantunan azan yang menggema dari menara kecil, pada langkah
kaki kanak-kanak menuju masjid setiap malam-malam Ramadan.
Kenangan
itu bagi saya bernama: buku agenda kegiatan Ramadan. Generasi medio 80an tentu taka
asing dengan buku tersebut.
***
Saya
tumbuh di Desa Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, sekira tiga puluh kilometer
dari pusat Kabupaten Bungo—negeri yang kami banggakan dengan semboyan Langkah
Serentak Limbai Seayun. Di sanalah, di Desa Empelu, tepatnya di Masjid Al
Falah, masa kecil saya ditempa oleh hal yang kini tampak sederhana yakni
mencatat tausiah sepanjang Ramadan.
Buku itu
tipis. Sampulnya biasa saja. Namun isinya penuh perjuangan.
Hampir
semua generasi sebaya saya pernah berurusan dengan buku penuh kesan sekaligus merepotkan
itu. Berkesan, karena ia menjadi saksi perjumpaan kami dengan guru agama, para
ustaz, dan jamaah masjid. Merepotkan, karena setiap malam kami harus mencatat
ringkasan ceramah, lengkap dengan tanda tangan penceramah sebagai bukti
kehadiran di masjid.
Kenangan
itu mendadak menyeruak ketika saya melihat anak-anak di Kelurahan Beliung, Kota
Jambi, tempat saya tinggal kini, berjalan ke Masjid Al Amin sambil menenteng
buku serupa. Hingga malam ke-16 Ramadan, saya masih melihat beberapa anak setia
membawanya. Bersama dua putra saya, Kaindra dan Renda, saya menyaksikan pemandangan
yang seperti memutar ulang suasana lebih dari tiga dasawarsa
Wajah-wajah
kecil itu tampak serius sekaligus bingung. Jemari mereka kaku mencatat isi
tausiah yang kadang melompat-lompat, cepat, tak selalu runtut. Di saat
bersamaan, bisikan dan tawa teman sebaya menggodanya untuk bercanda.
Pemandangan
itu begitu akrab. Sebab saya pernah berada di posisi yang sama.
***
Dari aktivitas
membersamai buku tipis itu, ada beberapa pelajaran yang baru saya pahami
maknanya setelah dewasa.
Pertama,
ia mengajarkan disiplin. Agar bisa menulis rangkuman ceramah, saya harus benar-benar
mendengarkan. Jika lengah sedikit saja, saya akan kehilangan pokok pikiran sang
ustaz, si penceramah. Maka setiap malam, saya berusaha fokus—meski godaan
bercanda selalu datang dari kawan di kanan-kiri barisan.
Masih segar
dalam ingatan saya, dahulu orang tua saya punya siasat yaitu memisahkan saya
dari kerumunan teman sebaya saat shalat. Saya diminta mengambil saf di antara
orang-orang dewasa. Di sana, saya belajar menahan diri. Kadang terdengar jamaah
dewasa menegur anak-anak yang rebut di barisan shaf belakang. Kendati demikian,
tak pernah ada larangan bagi anak-anak shalat isya sekaligus terawaih berjamaah
di masjid.
Kini saya
mengerti, masjid bukan hanya tempat orang dewasa mencari tenang, tetapi juga
ruang tumbuh bagi anak-anak yang sedang belajar menjadi manusia dengan amaliah
agama yang dianutnya.
Kedua, ia
menumbuhkan semangat dan daya saing kecil-kecilan. Begitu ustaz menyebut judul
ceramah, kami sudah sigap membuka buku dan menyiapkan pulpen di atas sajadah.
Kami duduk bergerombol saat tausiah, sesekali melirik catatan kawan jika
tertinggal. Ada yang lebih dulu kehilangan fokus, ada yang tetap tekun sampai
akhir.
![]() |
| ilustrasi. sumber: hariankepri.com |
Di sela-sela itu, persahabatan terjalin dengan cara yang polos yaitu saling meminjam catatan, antri menunggu tanda tangan sang imam dan penceramah, dan terkadang bercanda tentang ragam model atau gaya masing-masing tulisan miring, dan tak sedikit sulit dibaca dalam tempo cepat.
Ketiga,
ia mengajarkan tanggung jawab, meski sesekali dengan cara yang riuh. Sering kali kami menyalin
catatan saat tarawih berlangsung, hasilnya tentu jauh dari rapi—coretan di
mana-mana, paragraf tak beraturan. Tetapi dari situ kami belajar bahwa setiap
kewajiban ada konsekuensinya.
Puncaknya,
ssai tarawih dan witir, momen yang paling dinanti tiba: berebut tanda tangan
ustaz penceramah. Sang penceramah mendadak seperti artis yang dikerumuni
penggemar kecil. Namun sebelum menandatangani, tak jarang sang penceramah kerap
bertanya, “Tadi ceramahnya tentang apa?”
Masjid
pun mendadak riuh oleh jawaban yang saling bersahutan. Jamaah dewasa tersenyum,
mungkin melihat diri mereka sendiri di masa lalu.
Di
sekolah, guru agama tak jarang menguji ulang isi ceramah yang kami tulis.
Kadang jawaban kami memuaskan, kadang tidak. Namun nilai baik tetap diberikan,
disertai nasihat yang lembut. Kebahagiaan kami sederhana kala itu yaitu merasa
diperhatikan dan dihargai.
***
Selama Ramadan,
buku agenda itu jarang kembali ke rumah dalam keadaan mulus. Kadang basah
terkena percikan air wudu di kolam besar masjid. Kadang terlipat, tergulung,
bahkan terinjak saat di antara kami berlarian. Sampulnya kusut, halamannya
menguning.
Tetapi
justru di situlah letak keindahannya. Ia menjadi saksi bahwa masa kecil tak
pernah benar-benar rapi. Dunia anak-anak adalah dunia bermain—bahkan di tengah
shalat sekalipun. Kini, ketika dua anak lelaki saya masih sesekali bercanda
saat kami shalat berjamaah di rumah, saya tak lagi lekas marah. Saya tahu,
begitulah dunia mereka. Tugas saya hanya mengingatkan dengan bahasa yang bisa
mereka pahami.
***
Dari
dusun kecil di tepian Bungo hingga sudut Kota Jambi hari ini, saya menyadari
satu hal bahwa mengisi buku agenda Ramadan bukan sekadar kewajiban sekolah. Ia
adalah cara halus orang-orang tua dahulu menanamkan kebiasaan baik—mendatangi
masjid, mendengar ilmu, seraya mencintai ibadah.
Ramadan
selalu datang dengan sukacita dan pergi dengan haru. Ia menghadirkan bukan
hanya pahala, tetapi juga kenangan yang tak lekang oleh zaman.
Maka
benar kiranya seloroh saya di awal tulisan yaitu mereka yang punya kampung
halaman adalah mereka yang pantas merayakan kenangan.
Sebab di
sanalah kita belajar pertama kali tentang disiplin, tentang riuhnya
persahabatan, tentang sabar mendengar, dan tentang arti pulang—meski hanya
lewat ingatan.
*Kota Jambi.



0 Komentar