Jonathan Zilberg, ICJS dan Jambi

 

Dr. Jonathan Zilberg. 

Oleh: Jumardi Putra*

Syahdan, tiga hari ke depan tepat 10 tahun usia ICJS, sebuah konferensi internasional studi Jambi yang ditaja Jurnal Seloko-Dewan Kesenian Jambi pada 21 sampai 23 November 2023. Forum ilmiah itu kini tak ada lagi, meski mereka yang pernah menjadi narasumber saat itu baik dari dalam maupun luar negeri sampai kini kerap menanyakan kepada saya kapan ICJS diselenggarakan kembali.

Saya teringat pandangan sejarahwan ternama Prof. Barbara Watson Andaya dari The University of Hawaii at Manoa, USA, dalam pidato penutup ICJS mengatakan berikut ini, “The First international Conference on Jambi Studies was rather different. Rather than focusing on a particular topic, it was conceived as encompassing a broad range of scholars and practitioners in different disciplines and fields of knowledge who would share a common interest in the history and current condition of the place we call “Jambi.” This conception resulted in a unique gathering that provided a memorable experience for all participants. In a press meeting after the conference ended, my friend and colleague Professor John Miksic commented on how young the organizers were, and that was a particular delight – to see another generation emerging as leaders in promoting new writings and new research with Jambi as their focus. As far as participants could see, the “nuts and bolts” of the conference operated without a hitch – the hotel Novita provided an outstanding venue, the technology functioned perfectly, the accommodation and food was excellent, the programs and printed “Proceedings” were all available, and the seemingly tireless linguistic skills of the simultaneous translators aroused admiration from all”. (lebih lanjut baca di sini: https://icjs1.blogspot.com/2013/12/report-on-first-international.html).

Catatan ini tidak dimaksud menjawab penyebab ICJS urung diselenggarakan hingga kini, melainkan mengingat kembali sosok Jonathan Zilberg yang wilayah penelitiannya merambah Asia Tenggara (Indonesia), Afrika (DRC, Nigeria dan Zimbabwe), Amerika Tengah dan Selatan (Kosta Rika, Amazonia). Sebagaimana sosok-sosok lain yang ikut mensukseskan hajatan bergengsi itu, antropolog lulusan University of Illinois at Urbana-Champaign, Department of Anthropology (1996) itu boleh dikata salah satu intelektual yang mengikuti sedari awal penyusunan gagasan ICJS hingga sukses terlaksana.

Saya lupa persisnya, mungkin mulai intensif medio Januari 2013. Saya, Ratna Dewi, MH. Abid-penjaga gawang Jurnal Seloko-di beberapa tempat di Kota Jambi melakukan diskusi bersama Jonathan menentukan tema konferensi sekaligus penanggung jawab panel (chairperson), lazim bagi sebuah konferensi ilmiah untuk disampaikan kepada publik luas, terutama bagi calon panelis agar menyiapkan abstrak untuk diseleksi oleh chairperson. Barulah berdasarkan hasil seleksi abstrak yang dinyatakan lolos ditindaklanjuti ke tahapan menulis makalah penuh untuk dibentangkan dalam konferensi sesuai jadwal yang telah diumumkan (informasi detail seputar ICJS dapat dibaca melalui kanal https://icjs1.blogspot.com/).

Meski masing-masing kami pernah mengikuti konferensi atau seminar ilmiah di berberapa kampus di Indonesia, ICJS merupakan pengalaman pertama bagi kami selaku panitia penyelenggara. Begitu juga pengalaman kami menimba ilmu penyelenggaraan konferensi ilmiah di Universitas Nasional Singapura (NUS) tidak lama sebelum “Abstract & Paper Submission Guidelines ICJS” kami umumkan secara terbuka.

Pada momen itulah kekhawatiran sempat menerpa kami, tentu tidak buat Jonathan Zilberg pribadi. Tema konferensi ICJS sudah ditentukan, begitu juga penanggungjawab masing-masing panel (chairperson), batas akhir pengiriman abstrak maupun pengiriman full paper, serta nama-nama calon pemakalah/panelis yang diharapkan mengirimkan kertas kerja sekaligus kehadirannya ke dalam konferensi. Semua rebes, eh beres.

Pangkal masalahnya, call for paper berisikan “Abstract & Paper Submission Guidelines ICJS” kepada daftar email nama-nama penulis kaliber nasional dan internasional untuk studi Jambi dan Asia Tenggara di laptop kami tak kunjung terkirim. Lagi, kami dirundung keraguan.

Dalam kondisi itu, tanpa tedeng aling-aling, Jonathan langsung menekan tombol enter di laptop kami. Maka, terkirimlah call for paper itu tadi. Suasana ruangan tempat kami diskusi pun sempat hening sejenak. Gayung pun bersambut, tidak lama surat undangan menulis untuk ICJS terkirim, muncul balasan positif bertubi-tuba ke email ICJS. Umumnya mereka menanggapi akan mengirimkan asbtrak dan akan hadir ke Jambi.

Sontak saya, Ratna Dewi dan MH. Abid bahagia. Tidak terkecuali Jonathan yang tidak bisa menyembunyikan luapan kebahagiaannya di hadapan kami. Sejak itu, kami pun meyakini sepenuhnya bahwa ICJS benar-benar terlaksana sesuai waktu yang telah ditentukan, tentu semua itu tidak terlepas dukungan pelbagai pihak, sebut saja seperti Dewan Kesenian Jambi pimpinan Azwan Zahari, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi beserta Gubernur Jambi masa itu yakni Hasan Basri Agus, mitra perguruan tinggi di Jambi, serta steering committee dan panitia.

Demikian penggalan cerita masa awal kami menyiapkan ICJS based on three main topics: History, Arts and Culture, Religion and Social Change (lebih lanjut bisa dibaca di sini: https://www.jumardiputra.com/2020/04/urgensi-konferensi-studi-jambi.html). Ringkasnya, betapa kepercayaan diri seorang Jonathan ikut memompa keyakinan kami untuk memulai tradisi penting bagi studi Jambi di jantung Jambi sendiri.

Siapa Jonathan Zilberg?

Jonathan Zilberg lahir 14 April 1961 di Harare, sebuah kota pusat pemerintahan dan kota terbesar Zimbabwe. Ia tipikal bule yang jauh dari kesan angkuh. Ia mudah sekali berbaur dengan individu atau komunitas baru di luar dirinya. Tak syak, sepanjang ia berada di Jambi telah bergaul dengan banyak orang mulai dari dosen-dosen di kampus, mahasiswa dan bahkan komunitas di sekitar Kawasan Percandian Muarajambi.

Awal perkenalan saya dengan Jonathan sekira dua tahun sebelum ICJS diselenggarakan. Indonesia bagi Jonathan bukan negara yang asing buat dirinya lantaran ia memiliki istri asal Indonesia yakni doktor Sandra Hamid, seorang perempuan kelahiran Sumatera Barat. Pernikahan mereka dikarunia seorang anak lelaki yang kini sedang menempuh bangku kuliah di Amerika serikat. Sandra Hamid sendiri diketahui memperoleh gelar Ph.D bidang Antropologi di kampus yang sama dengan Jonathan Zilberg yaitu University of Illinois. Sandra pernah bekerja sebagai reporter majalah Tempo pada tahun 1990-1992 dan juga menjadi asisten dosen di University of Illinois. Terakhir kali saya ketahui Sandra menjabat sebagai direktur The Asia Foundation, sebuah lembaga yang bertitimangsa pada program pengembangan kebijakan dan program sosial, sebut saja seperti partisipasi politik, kebebasan beragama, pluralisme, dan pengembangan masyarakat.

Beberapa kali di Jambi, untuk kepentingan riset, Jonathan menginap di rumah saya. Saat itu saya sekeluarga masih ngontrak rumah bedeng di Jalan Sari Bakti, RT 16, Kelurahan Beliung, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi. Ia tipikal pria yang asyik. Kerap di sela risetnya di Kawasan percandian Muarojambi, kami jalan-jalan di kota Jambi dengan mengendarai motor.

Begitu juga ia beberapa kali diminta mengisi diskusi maupun seminar di kampus di Jambi seperti di FIB Universitas Jambi maupun pascasarjana UIN STS Jambi serta bersama peneliti batik Jambi asal Inggris yakni Fiona Kerlogue mengisi seminar yang ditaja Dewan Kesenian Jambi di aula Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Ia juga sempat mengajak istri dan anaknya bermalam di rumah penduduk di sekitar Kawasan Percandian Muarojambi.

Sebelum mengenal dan meneliti di Jambi, Jonathan Zilberg sempat bertugas sebagai peneliti tamu di Pusat Studi Internasional Strategis (CSIS), Indonesia, Januari – Oktober 2014; Associate Research Scholar di Pusat Studi Afrika, University of Illinois di Urbana-Champaign (UIUC), AS, 2010-sekarang; Visiting Research Associate and Lecturer di Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah, Sekolah Pascasarjana, Jakarta (UIN), Indonesia, 2011-2013; Visiting Research Associate di University of Plymouth (UP), Departemen Transtechnoogy, Inggris, 2010-2013; dan dosen tamu (Visiting Lecturer) di Universitas Indonesia, Fakultas Ekonomi, 2006.

Jauh sebelum kini ia menaruh ketertarikan pada antroplogi maupun arkeologi, ternyata di masa sekolah menengah sampai sarjana Jonathan terpikat pada biologi, sesuatu yang ia sukai sejak kecil. Itu kenapa ia selalu berada di alam terbuka untuk menangkap kupu-kupu dan itulah cara dia menghabiskan waktu dan tumbuh besar di Afrika. Gelar sarjana B.A. Jonathan diperoleh dari The University of Texas at Austin, Departments of Molecular Biology and: Biochemistry (1983). Cerita ketertarikan Jonathan pada biologi saya ketahui pertama kali melalui wawancaranya di kanal https://www.whiteboardjournal.com/interview/ideas/education-and-culture-with-dr-jonathan-zilberg/, sesuatu yang belum pernah Jonathan ceritakan kepada saya.

Tuan dan puan bisa membaca tuntas perjalanan akademik seorang Jonathan dimulai menekuni studi biologi moekuler, keluar masuk hutan, sampai ia melanjutkan ke sekolah pascasarjana dan belajar seni dan agama. Ia mempelajari seni pahat dan batu yang diukir pada atau di luar batu di Amerika Latin, Afrika, dan sekarang Indonesia. Di situlah awal mula ia mulai menaruh ketertarikan pada arkeologi dan antropologi sampai sekarang, tidak terkecuali pandangannya sebagai penduduk asli kulit putih Afrika dan kembali ke Afrika untuk mempelajari tradisi yang ia ikuti sejak kecil. Begitu juga alasan kenapa ia lebih suka menjadi orang Zimbabwe daripada orang Amerika.

Bicara Jambi bagi Jonathan tidak bisa mengabaikan Kawasan Percandian Muarojambi yang dalam sejarah panjangnya menjadi sebuah Universitas Budha terkenal pada masanya. Pada masanya di Kawasan tersebut orang-orang belajar tentang filsafat, logika, dan disiplin ilmu pengetahuan lainnya. Pada masanya ribuan biksu di tempat ini belajar pada satu waktu. Bahkan ketika umat Buddha Tiongkok pergi ke India untuk belajar agama Buddha, mereka akan datang ke Sumatra terlebih dahulu untuk berlatih membaca bahasa Sansekerta –mempelajari teks, doa, dan semuanya berjalan bersamaan. Setelah jangka waktu tertentu mereka akan pergi ke India dan kembali lagi. Bagi Jonathan, Jantung dunia Asia pada masa Buddhis adalah Sumatera dan itu menghubungkan India dan Tiongkok.

Jonathan senang melihat masyarakat di sekitar Kawasan Percandian aktif melindungi warisan budaya mereka. Jonathan sempat menceritakan kepada saya bahwa dirinya menyukai sekolah alam raya yang digagas oleh beberapa anak muda di sekitar Candi. Ia menyaksikan pada hari Minggu anak-anak di Desa berkeliling sekaligus mempelajari Candi dan membersihkan lingkungan sekitarnya.

Demikian catatan saya tentang sosok Jonathan Zilberg, seorang sahabat sekaligus partner diksusi yang mencerahkan. Beberapa hasil penelitian dan publikasi ilmiah (termasuk tentang Jambi) serta kegiatannya sebagai scholar sampai sekarang dapat diakses melalui laman berikut ini: https://illinois.academia.edu/JonathanZilberg/CurriculumVitae.

*Kota Jambi, 18 November 2023. Sumber foto Jonathan: www.whiteboardjournal.com

0 Komentar