Benteng Muaratembesi (yang) Terabaikan

Kantor Kawedanan Belanda di Muaratembesi tahun 1901.
Sekarang berdiri Kantor Kelurahan di lokasi yang sama.

Oleh: Jumardi Putra*

Hari masih pagi benar, embun belum terusir dari pucuk rerumputan. Selain kokok ayam jantan, kicau burung susul menyusul di atap rumah, dan pedagang sayur, seperti biasa mengulang-ulang bunyi klakson motor yang dikendarainya. Mafhum. Itu semacam kata sandi untuk emak-emak di sekitaran rumah agar segera kumpul dan membeli dagangannya.

Langit pagi itu jauh dari gumpalan awan hitam. Dua jagoan saya masih tertidur lelap. Kepada istri saya pamit dan bergegas menyalakan motor meninggalkan Beliung Patah menuju Karya Maju, menjemput Edi Syahroni, pemuda asal Tungkal yang bukan kebetulan meminati sejarah dan budaya Jambi. 

Kami berangkat meninggalkan Kota Jambi menuju Batanghari dengan jarak tempuh sekira 85 kilo meter. Melampaui separoh Jalan Nes Jambi-Muarabulian, kami singgah sejenak di kediaman Dayat, sahabat saat kami sama-sama kuliah di Yogyakarta belasan tahun lalu.

Jarum jam menunjukkan angka 9.25 WIB. Kepadanya saya mengutarakan maksud perjalanan ke kawasan Benteng Muaratembesi. Dayat pun menawarkan menggunakan mobil miliknya sekaligus menghubungkan saya ke beberapa pemuda Batanghari di kawasan tersebut.Terhadap tawaran itu sulit bagi saya menolaknya, apatahlagi saya maupun Edi belum pernah berkunjung ke kawasan pemukiman kolonial Belanda yang dibangun sekira tahun 1901 itu.

Pukul 10.25 WIB kami memasuki wilayah Bumi Serentak Bak Regam, julukan daerah berkultur tua, yaitu kabupaten Batanghari. Sebelum menuju lokasi Benteng Tembesi, kami singgah lagi di rumah Ansori, sohib si Dayat.

Di situ berkumpul tiga-empat sahabat, yang semuanya masih aktif kuliah di perguruan tinggi swasta di Batanghari. Kepada mereka saya mengatakan persis sebagaimana maksud yang saya sampaikan ke Dayat sebelumnya. 

Terjadi diskusi di antara kami perihal kawasan bersejarah yang sebagian warga menyebutnya Tangsi Tembesi. Apatahlagi, kawasan tersebut pernah menjadi tempat studi lapangan mereka. Informasi dari mereka tentu sangat membantu saya. Mereka pun memilih ikut menemani saya ke lokasi. Saya tentu senang dan kami berangkat menuju lokasi Benteng yang tersisa 20-an kilometer dari kediaman Ansori. Dalam perjalanan Ansori menghubungi karib-juniornya, Iwan, pria asal Desa Rambutan Masam, Kecamatan Muara Tembesi, yang kebetulan mengerti dan memiliki keluarga di kelurahan Pasar Muara Tembesi, untuk segera menyusul dan sama-sama bertemu di  lokasi Benteng Tembesi.

Lain Kota Jambi yang cerah saat kami berangkat, lain pula Batanghari tengah hari itu yang diguyuri hujan, tepat saat saya dan kawan-kawan tiba di lokasi Benteng Tembesi.

Sesampai di mulut jalan menuju kawasan Benteng Tembesi, yang memisahkan antara jalan ke arah Kelurahan Pasar Muaratembesi dengan jalur utama Lintas Sumatra Provinsi, tak jauh dari rumah orangtuanya Bupati Batanghari sekarang, Syahirsyah, pada sisi kanan jalan ke arah Benteng, terdapat kompleks pemakaman tua.

Diakui warga setempat, dan saya melihat langsung, di situ terdapat beberapa makam warga Belanda saat Benteng Tembesi masih aktif sebagai pemukiman dan  perkantoran militer Belanda. Khusus mengenai identitas mereka yang tertera di nisan-nisan makam tersebut tentu memerlukan penelitian lebih lanjut. Sependek pengetahuan saya belum ada sampai sekarang kajian yang mengupas soal demikian.


***
Salah satu nisan makam warga Belanda. Dok. JP.

Tibalah kami tepat di hadapan papan penunjuk arah ke Benteng Muaratembesi. Sekira enam ratus meter dari bibir jalan utama pasar Muaratembesi tadi. Secara fisik, jelas papan penunjuk jalan berwarna jingga itu adalah kenang-kenangan mahasiswa Kukerta Universitas Jambi angkatan 2016.

Meski hujan belum reda, kami memilih turun dari kendaraan menuju sisa-sisa bangunan kolonial Belanda yang terdekat dengan posisi kendaraan. Tak syak, kedatangan kami ketika itu membuat beberapa warga yang melihat kami memasang rona muka bercampur kaget dan bingung. Kepada mereka kami melempar senyum dan bersalaman sekaligus menyampaikan maksud kedatangan kami ke lokasi ini.

Umumnya warga yang menghuni sisa-sisa bangunan Belanda di tepi sungai itu para pendatang dan warga lokal yang sehari-hari bekerja mendulang pasir. Mereka tak banyak mengetahui sejarah kawasan ini, kecuali kedatangan orang-orang seperti kami bukan kali pertama bagi mereka.

“Sebelum ini banyak nian orang berkunjung ke sini, baik dari unsur pemerintah, kampus, kalangan tivi, turis maupun warga biasa. Tapi, ya, beginilah keadaan kami,” tutur mereka dengan suara pelan.

Usai bincang-bincang tentang keseharian mereka, masih dalam kondisi hujan, kami memasuki satu demi satu bangunan kolonial di pinggir Batangtembesi itu. Sesekali pandangan saya agak lama ke arah sungai.

Dari arah bangunan menghadap ke sungai, tampak jelas Batangtembesi yang ada di Kelurahan Pasar Tembesi, bercabang membentuk salah satu huruf. Oleh warga sekitar sungai itu sering disebut berbentuk huruf Y dan atau dalam bentuk lain serupa ketapel.

Apa sebab? Menjadi satu dari yang semula bercabang. Sungai dari arah kanan menuju kabupaten Sarolangun dan Bangko. Sedangkan dari arah kiri menuju arah Jambi.

Belakangan, saya baru menyadari bahwa warna biru pada logo pemerintah Kabupaten Batanghari yang seperti huruf (Y),  itu adalah representasi cabang sungai Batanghari (Batangtembesi) yang ada di Kelurahan Pasar Tembesi tersebut.

***
Bekas bangunan Belanda di Kawasan Benteng Tembesi. Dok. JP.

Tinggalan bangunan Belanda yang masih layak huni di kawasan itu sekarang tersisa yang ditempati warga. Selebihnya bangunan-bangunan kuno yang tidak terawat. Hancur. Roboh. Sebagian besar lapuk dimakan usia maupun oleh faktor alam dan kelalaian manusia. Bahkan, di dalamnya tumbuh beberapa batang pohon sawit dan jenis tanaman lainnya.

Ambil contoh, bangunan Kantor Opas Belanda, yang berada di pertigaan Pasar Tembesi sempat menjadi kantor polisi. Setelah kantor itu pindah ke Pal 5, akhirnya menjadi kantor LKMD. Namun, dikarenakan tak ada aktifitas hingga sekarang, bangunan yang juga tempat berdirinya Tugu Penyerahan Kedaulatan Belanda ke Pemerintah Republik Indonesia pada 1949, itu kini kondisi dinding dan lantainya banyak yang lapuk, dan malahan ada yang sudah lepas.

Termasuk vanish (penjara Belanda), separuh bangunan ke belakang sudah tidak terurus. Hanya bangunan depannya masih bagus lantaran ada warga yang menempati serta merawatnya. Begitu juga bangunan tua yang menjadi ruang persenjataan Belanda tak jauh dari bibir Batangtembesi. Saat ini bangunan itu tak ubahnya puing-puing rumah yang terbakar. Atap-atapnya roboh. Dindingnya pun kusam menghitam.

Sebenarnya, di kawasan ini terdapat beberapa bangunan yang mencerminkan fungsi ketika dahulu dihuni oleh kaum elit Belanda, yaitu, antara lain, tempat tinggal orang-orang Belanda; termasuk toke getah, penjara; gedung bioskop; sumur tempat mengubur para tentara pejuang; gedung persenjataan belanda, makam kuno, dan bangunan-bangunan pendukung lainnya.

Atas saran pak Ilham, ketua RT 01, kami diminta mengunjungi kediaman Datuk Bakhtiar Oedin, lelaki berusia 95, warga setempat yang menjadi saksi hidup zaman Benteng Tembesi masih aktif sebagai pusat administrasi militer Belanda.

“Orang yang ingin mengetahui masa lalu di kawasan Bentengtembesi ini selalu kami arahkan menemui Datuk Bachtiar. Sebab beliau yang masih hidup dan mengerti. Sementara kami hanya mendapat sedikit cerita secara turun temurun dari orang tua,” tuturnya.

Hari elok ketiko baik. Itu kato orang Jambi. Nah, Datuk Sutan Bachtiar Oedin yang disebut pak RT tadi, nyatanya berada di rumah. Alhamdulillah.

Bachtiar merupakan saksi sejarah yang mengerti sejarah kawasan Benteng Tembesi. Mantan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) ini mengatakan Belanda menduduki  Pasar Muaratembesi sejak 1901 dan memuncak dalam perang Rajo Batu atau Serikat Abang pada 1916. Waktu itu kita kalah, Belanda menggunakan senjata api sedangkan kita hanya mengunakan bambu runcing."


Bincang-bincang bersama Datuk Bachtiar di rumahnya. Dok. JP

Tidak hanya itu, pria kelahiran 1920 ini menambahkan sejak 1901 hingga 1916, Muarotembesi ini merupakan salah satu lokus penting kedatangan penjajah sekaligus perlawan rakyat Jambi terhadap koloni Belanda dan hubungannnya dengan perjuangan daerah-daerah lain dalam wilayah Provinsi Jambi ini. Apalagi perlawanan dari Sultan Taha Saifuddin, baik sebelum maupun sepeninggalannya.

Bahkan, lanjutnya, di dekat Benteng itu ada sumur yang digunakan oleh Jepang untuk membuang mayat-mayat para pejuang. “Sumur kematian itu dibuat masa Jepang merebut Benteng dari Belanda pada 1942.  Meski Jepang menjajah hanya 3 tahun, tapi membuat rakyat sangat menderita. Sayangnya, sumur pembuangan mayat tersebut tidak ditemukan lagi lokasi pastinya, karena telah amblas akibat abrasi,” ungkapnya.

“Bagaimana cerita Bioskop Mawar di sini. Tentu keberadaannya menunjukkan wilayah ini ramai dikunjungi warga?” tanya saya

“Betul. Bioskop Mawar itu didirikan era 50-an. Dahulu ramai kali penontonnya di sini. Sayang kondisi bangunannya sekarang tak terawat,” balasnya.

“Bagaimana kehidupan orang Belanda saa itu,” sambung saya.

“Secara budaya terpisah dengan warga biasa di sekitar kawasan Benteng. Kondisi bangunan yang sekarang tak terawat sangat berbeda jauh dengan situasi dahulu. Bersih dan dirawat sedemikian rupa. Mereka ekslusif. Warga biasa tak mudah berinteraksi dengan kebiasaan mereka,” terangnya.

“Wah, menarik bila kita mengkaji relasi sosial masyarakat Tembesi dengan warga Belanda ketika itu. Ya, ambil misal, cerita sehari-hari warga masa itu”, ungkap saya diamini Datuk dan kawan lainnya.

Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa Bentengtembesi dibangun pada 1901 setelah Belanda berhasil menguasai Muara Tembesi. Belanda menjalankan aktivitas militer dan  pemerintahan di Kecamatan Muara Tembesi ini. Tujuannya ketika itu menjadi lini pertahanan militer guna menghancurkan dan membunuh Sultan Thaha Saifuddin beserta pasukanya yang mundur dan bertahan di salah satu Desa di Muara Tebo.

Mulanya, Benteng Tembesi didirikan sebagai tempat kediaman dan  perkantoran para warga elit Belanda yang berada di Jambi. Namun karena letaknya yang strategis, tempatnya yang tinggi,  Benteng ini pun dijadikan tempat  bagi Belanda untuk mengintai musuh-musuhnya.

Itulah kenapa bila dibandingkan dengan Benteng-Benteng sisa kolonial Belanda yang lain di negeri ini dibangun dengan batu atau batubata, yang kita jumpai di Muaratembesi justru dibuat dari kayu-kayu keras berasal dari pohon Tembesu dan Bulian. Hal tersebut dapat dipahami karena tujuan utama pembangunan ketika itu hanya untuk dijadikan kantor pemerintahan kolonial belanda. Apalagi saat itu seluruh tempat di provinsi Jambi hampir dikuasai oleh tentara Belanda.

“Dari dua jenis pohon khas kabupaten Batanghari itulah daerah ini dinamai hingga sekarang dengan pasar Muara Tembesi kompleks Benteng peninggalan Belanda,” tukas Datuk.

***
Bekas kantor Polisi zaman Belanda. Dok. JP

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 menandai berakhirnya kekejaman tentara Jepang di Muaratembesi dan sekitarnya. Tentara Keamanan Rakyat (TKR) menyerang dan berhasil merebut Benteng tersebut kemudian menjadikannya sebagai basis pertahanan serta asrama bagi para tentara pejuang.

“Seluruh pasukan Jepang mundur dari Benteng tersebut. Hanya pada agresi militer Belanda II ke seluruh wilayah republik Indonesia, Bentengtembesi kembali dikuasai oleh tentara Belanda. Mereka mengusir seluruh tentara keamanan rakyat dari Benteng tersebut,” ingat Bachtiar.

Di samping itu, lanjutnya, keberhasilan lobi-lobi (untuk menyebut diplomasi) yang dilakukan pemerintah pusat ikut berdampak baik bagi kondusifitas keadaan di wilayah Muaratembesi. Pasar Tembesi yang menjadi kompleks Bentengtembesi dikembalikan kepada pemerintah Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda.

Dikatakan Bachtiar, penyerahan kedaulatan dilaksanakan pada 1949 dengan sebuah upacara yang dilaksanakan di kawedanan. Kawedanan juga dijadikan tempat penyerahan kedaulatan seluruh wilayah Sumatera dari pemerintah Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia.

"Penyerahan kedaulatan saat itu dihadiri Wakil Presiden RI, Mohammad Hatta. Beliau juga sempat bermalam bersama warga di pesanggrahan milik Belanda, yang sekarang bangunannya menjadi gedung SMP I Batanghari," tutur Bachtiar.

“Siapa perwakilan Jambi yang mendampingi Bung Hatta dalam momen bersejarah itu,” tanya saya.

“Dari pihak Tentara Indonesia diwakili oleh Kolonel Abunjani, yang sekaligus mengambil alih Benteng beserta baraknya dari tentera Belanda,” Jawabnya.

***
Bekas Bioskop Mawar. Dok. JP 

Hampir tiga jam kami mendengarkan cerita dari Datuk Bachtiar di kediamannya. Di luar rumah, rinai hujan masih membasahi tanah. Beberapa kawan lain mendengarkan penjelasan beliau sambil merebahkan badan di lantai rumahnya.

Suasana ketika itu betul-betul akrab. Bahkan, sesekali topik pembicaraan kami mengupas kiprah organisasi sang Datuk, yang pernah aktif di organisasi Partai Masyumi cabang Batanghari. Buktinya, di dinding rumah Datuk masih terpasang daftar pengurus organisasi Masyumi se-provinsi Jambi.
Beliau juga lancar berkisah tentang keluarga besarnya hingga kesukaan dirinya mengoleksi kaset lagu-lagu tempo dulu. Satu lemari penuh di rumahnya berisikan kaset lagu. Mulai dari genre dangdut, pop hingga lagu daerah.

Situasi ini membuat kami tidak merasa bosan di rumah beliau. Bahkan, obrolan kami yang semula di dalam ruang tamu berlanjut di serambi depan rumahnya. Betul-betul khidmat dan bersahabat. Di lain kesempatan, cerita sosok beliau akan saya tulis tersendiri.

Jarum jam menunjukkan angka 15.54 WIB. Kami pun pamit meninggalkan kediaman Datuk Bachtiar. Saat pamit itu, beliau memberi pesan bernada harapan, agar aset-aset bersejarah di Pasar Muara Tembesi ini diperhatikan pemerintah. Kalau tidak ada perhatian, seperti merenovasi bangunan-bangunan bersejarah ini, maka ke depan tidak akan ada lagi bukti sejarah yang menandai tapak perjuangan rakyat Jambi.

“Baik Tuk. Terima kasih. Semoga pemerintah daerah Batanghari, pemerintah provinsi Jambi dan segenap lapisan masyarakat, baik dalam maupun di luar daerah Batanghari memiliki pandangan yang sama untuk pelestarian kawasan bersejarah ini,” balas saya diamini sahabat lainnya, tak terkecuali Datuk.

***

Bincang-bincang di Kelurahan Pasar Tembesi. Dok. JP

Usai dari kediaman Datuk, kami menuju kantor Kelurahan Pasar Muara Tembesi. Kebetulan saat yang sama, di kantor berlangsung musyawarah kelurahan. Sesampai di situ kami disambut dengan ramah. Kami pun menyampaikan maksud kedatangan kami.

Mendengar pertemuan kami bersama Ketua RT dan Datuk Bachtiar sebelumnya, Suyarno, sang Lurah pun antusias. “Nah, cukuplah informasi dari Datuk kito tuh. Siapo pun dari mano-mano selamo ini yang ingin tahu sejarah Bentengtembesi selalu ke Datuk,” ujar pak Lurah.

“Kira-kira apa informasi yang bisa kami berikan,” ungkapnya memulai obrolan agak serius dari sebelumnya, yang dipenuhi gurauan antara kami dan beberapa warga setempat.

“Bagaimana upaya kelurahan atau pun warga di sini agar kawasan ini tertata baik dan ujungnya memberi pengaruh baik bagi keberlangsungan ekonomi warga,” tanya saya.

Dengan mimik muka agak serius, pak Lurah mengutarakan, Kelurahan Pasar Muara Tembesi sekarang hanya sebuah kelurahan kecil, tetapi bila menulusuri jejak masa lalu wilayah Bentengtembesi ini, tak lain merupakan kota tua, yang menyimpan sejarah penting.

Senada dengan Pak Lurah, dalam penelusuran kami dari satu bangunan ke bangunan lain, warga setempat menyampaikan, tiada keraguan mereka agar kawasan ini diperhatikan secara serius. 1000 persen mereka setuju bila kawasan Benteng dijadikan kawasan destinasi wisata sejarah.

“Sayang, sampai sekarang kelurahan ini, ya, berjalan begini-begini saja. Dukungan pemerintah daerah Batanghari hingga sekarang belum terlihat jelas mau diapakan kawasan ini. Kalaupun ada kerja-kerja riset terhadap sisa bangunan kolonial Belanda di sini oleh kampus, itu pun belum terlihat hasil kongkrit bagi penguatan kafasitas masyarakat sebagai pendukung utama wilayah ini,” terangnya.

Lurah menambahkan, Pasar Tembesi di sini, pada tahun 1975 sampai era 80-an merupakan pasar yang paling ramai pengunjung yang datang dari berbagai kecamatan di Kabupaten Batanghari, seperti Kecamatan Mersam, Sungai Rengas yang kini dikenal Kecamatan Marosebo Ulu, Bajubang Batin XXIV, Muara Bulian dan daerah lainnya untuk berbelanja setiap hari Jum'at. Kini kawasan ini hanya menjadi kenangan, apalagi sejak kehadiran pasar besar di Muara Bulian.

“Tadi sebelum masuk Bentengtembesi, saya membaca papan nama bertuliskan ini kawasan tanah hak milik TNI-AD. Bisakah dijelaskan soal ini?” tanya saya.
Penulis bersama Datuk Bachtiar. Dok. JP

“Betul. Kawasan ini masih berkait erat dengan pihak TNI-AD di sini. Kita tahu sejarah usai penyerahan kedaulatan Belanda ke Pemerintah Republik Indonesia pada 1949, yakni Benteng ini menjadi asrama Tentara Keamanan Rakyat (sekarang TNI). Sejak itu pemeliharaan seluruh sisa-sisa bangunan kolonial Belanda diserahkan untuk dirawat dan dikelola sepenuhnya oleh TNI-AD,”  balasnya.

“Sejatinya tak ada masalah, apabila antara jajaran pemerintah daerah, TNI, warga dan perangkat kelurahan bahu membahu menata kawasan ini sebagai destinasi wisata sejarah. Saya yakin dapat memberi pengaruh positif bagi keberlangsungan ekonomi warga di sini,” ungkapnya.

Hampir satu jam bincang-bincang kami dengan pak Lurah di kantornya. Kami memilih pamit dan diakhiri dengan foto bersama di halaman kantor kelurahan (yang menurutnya dahulu di lokasi ini berdiri bangunan Kewedanan Belanda).

Nah, sebelum pulang, saya dihadiahi beberapa soft copy foto lawas tentang kawasan Bentang Muara Tembesi ini. Utamanya mengenai peristiwa kebakaran besar di Pasar Tembesi pada tahun 1975 dan beberapa bangunan kolonial Belanda, kondisi tepi Batangtembesi, serta foto tugu tanda penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Pemerintah Republik Indonesia yang sempat dihadiri Bung Hatta pada tahun 1949.

***

Sore kian mendekatkan diri hingga terbenamnya matahari. Jarum menunjukkan angka 17.11 WIB. Lantaran sedari pukul 11-an belum makan berat, kami memilih istirahat sambil menikmati mie ayam di sebuah warung,  tak jauh dari kantor kelurahan Pasar Muara Tembesi.

Dari situ kami berpisah menuju alamat rumah masing-masing. Saya, Edi Syahroni dan Dayat melanjutkan perjalanan ke Kota Jambi. Hujan belum sepenuhnya reda. Kepada Dayat dan Edi saya berujar, semoga kunjungan ini bukanlah yang terakhir, melainkan bisa berkali-kali ke depannya.

“Amin,” balas mereka.

*** 
Bekas bangunan kolonial di Benteng Tembesi. Dok. JP

Waktu terus berjalan. Benteng Muara Tembesi kian sayup-sayup terdengar dari Kota Jambi, tempat saya dan keluarga tinggal dan bekerja. Kabar tentang bangunan yang didirikan pada 1901 itu hilang-timbul seiring diskusi lepas di jejaring sosial facebook bersama peminat sejarah dan budaya Jambi hingga dipercakapkan dalam satu episode dialog di Beranda Budaya TVRI Jambi (19 November 2017).

Berselang bulan setelah itu, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi mengangkat topik tentang Kawasan Benteng Muaratembesi dalam forum sarasehan sejarah rutin mereka. Datuk Bachtiar, sang juru kunci, hadir sebagai pembicara utama bersama narasumber dari Badan Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jambi.

Dari situ, tak ada informasi baru dari Datuk Bachtiar. Yang disampaikan beliau tak lah berbeda dengan informasi yang saya terima saat berkunjung ke kediamannya setahun lalu. Hal itu (mungkin) dikarenakan faktor usia dan keadaan fisik beliau yang tak lagi muda, atau bahkan mungkin rasa keingintahuan (untuk menyebut kemampuan bertanya) dari audiens yang tidak maksimal, sehingga beliu irit bercerita memberikan informasi. Tapi saya bersyukur, beliau masih sehat dan bersetia menceritakan pada generasi-generasi jauh setelahnya.

Apa di tengah semua ini? Terbesit dalam pikiran saya, yaitu sekalipun tinggi nian harapan, bila tak segera dicari jalan terbaik bagi pelestarian kawasan ini, fakta bahwa kepunahan Bentengtembesi (yang juga memori kolektif warganya) adalah kondisi yang sulit dibantah untuk kita terima beberapa tahun ke depan. Bersamaan hal itu, saksi hidup tinggal hitungan jari adalah juga alarm bagi generasi sekarang untuk segera mencatat, mencatat, dan mencatat.

Bahwa sudah ada Ranperda Cagar Budaya yang disusun oleh DPRD Kabupaten Batanghari, tentu kita menyambut baik. tapi tidak cukup berhenti sampai di situ. Mesti dikongkritkan dalam kerja penelitian multidisiplin, sinergisitas antara institusi/lembaga/kelompok, baik Kabupaten Batanghari, pemerintah Provinsi Jambi, pemerintah pusat, dan yang tak kalah penting, muncul gerakan dari warga masyarakat setempat sebagai pemilik "sah" kawasan bersejarah tersebut.

*Tulisan ini merupakan hasil kunjungan saya di Kawasan Benteng Muaratembesi di ujung tahun 2016. Cukup banyak peristiwa dan informasi yang perlu terus menerus disusun untuk kepentingan dokumentasi pengetahuan dan pelestarian kawasan bersejarah tersebut. Tulisan ini pertama kali terbit di portal kajanglako.com.

0 Komentar