Cerita dari Blora, Soesilo Toer: Berdirilah di Atas Kaki Sendiri

Dr. Soesilo Toer. Dok. Penulis.

Oleh: Jumardi Putra*

Blora, sebuah kota kecil di Provinsi Jawa Tengah, genah lahir seorang pria kelahiran 6 Februari 1925, yang kelak dikenal sebagai sastrawan kenamaan Indonesia: Pramoedya Ananta Toer, penulis Tetralogi Bumi Manusia (untuk menyebut serial Pulau Buru), yang berkali-kali masuk nominasi kandidat pemenang nobel sastra serta meraih berbagai perhargaan internasional lainnya. Dari tangan dingin dan sikap ‘keras kepalanya’ lahir lebih dari 50 karya tulis dan diterjemahkan ke dalam lebih 42 bahasa asing.

Berkat bantuan sejawat di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Saiful Hakam, dan olehnya saya dihubungkan ke Mas Ahmad Mubarok, serta atas petunjuk jurnalis Tribun Jateng, Bung Yayan Movic, kawan sesama nyantri di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta belasan tahun lalu, saya bisa kontak langsung dengan Benee Sentosa, anak semata wayang dari sastrawan Soesilo Toer, yang tak lain adik ketujuh mendiang Pramoedya Ananta Toer.

Satu per satu dari mereka membekali saya peta jalan sekaligus pilihan moda transportasi menuju Blora. Gayung pun bersambut, berselang dua jam setelahnya saya berjumpa seorang pria yang tak lagi muda. Namanya Sudaryono (sontak mengingatkan saya pada mendiang akademisi cum sastrawan Jambi Dr. Sudaryono dengan nama pena Dimas Arika Mihardja). Dirinya bekerja sebagai sopir online di pusat kota Semarang yang hari-hari mangkal di sekitar museum lawang sewu.

Bersama bapak empat anak itu saya berangkat ke Blora pada 19 Juli 2018. Perjalanan kami dimulai dari jantung kota Semarang pukul 06.00 pagi. Jarak dari Semarang ke Blora sekira 124 km dengan perkiraan waktu tempuh sekitar 3 jam 22 menit.

“Siapa yang bakal sampean temui di Blora, Mas,” tanya pak Sudaryono.

“Soesilo Toer dan Rumah masa kecil Sastrawan Pramoedya,” jawab saya sembari menunjukkan ke arahnya sebuah buku berjudul Gulat di Jakarta terbitan Syarikat Wira Karya, Selangor, Kuala Lumpur, 1995.

Karya Pramoedya itu saya dapati dua hari sebelum ke Blora, tepatnya di pasar buku murah di kawasan Stadion Diponegoro, di jalan Stadion Timur, Karang Kidul. Karya tersebut menambah daftar 32 (dari 50 lebih buku-buku Pram) dan 23 buku tentang Pram oleh penulis dalam maupun luar negeri, yang saya koleksi sejak masa kuliah dan bahkan sampai sekarang.

Di sela-sela obrolan tentang kehidupan sang Sopir, saya bercerita awal berkenalan buku-buku Pramoedya Ananta Toer saat kuliah di Jogja. Jelas saya tergolong tertinggal mengenali sosok Pram beserta karyanya. Tetapi tidak ada kata terlambat untuk mempelajarinya. 

Masih segar dalam ingatan, saat pertama kali membeli buku Tetralogi Pulau Buru (4 jilid: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) versi fotocopy di sekitaran Sapen (dekat Kampus Institut Pertanian/Instiper Yogyakarta) pada 2004. Menjatuhkan pilihan pada versi fotocopy dikarenakan harga buku asli terbitan Lentera Dipantara tidak ramah untuk kantong mahasiswa, apatahlagi jika berniat memiliki buku karya-karya Pram terbitan Hasta Mitra. Meski demikian, berjalannya waktu, buku-buku asli karya Pramoedya berhasil saya miliki.

“Apa yang membuat Anda begitu tertarik membaca karya Pram,” sambung pak Sudaryono.

“Siapa Pram tercermin di dalam karya-karyanya. Dimulai dari pilihan ideologi, sikap kritis terhadap feodalisme Jawa, kejelian mencermati realitas sosial, dan kepiawaiannya menulis karya sastra dengan bersumber pada sejarah (sebut saja seperti novel Arus Balik),” imbuh saya.

***
Jarum jam mengarah ke angka 10.45 WIB. Kami memasuki gerbang kota berjuluk Blora Mustika. Saya segera mengabarkan ke Benee Sentosa. Atas arahannya via telepon kami langsung ke Jalan ‎Sumbawa Nomor 40, Kelurahan Jetis, Blora, rumah keluarga besar pasangan Mastoer dan Siti Saidah, orang tua Pramoedya beserta delapan saudara lainnya. Alhamdulillah, berbekal aplikasi peta google (maps), setelah dua-tiga kali gagal mencapai alamat yang dimaksud, kami pun berhasil sampai ke lokasi.

Setiba di halaman rumah masa kecil Pramoedya itu, saya tak segera keluar dari mobil. Pak Sudaryono mendahului saya. Rasa bahagia memenuhi relung dada (untuk menyebut senang tak kepalang). Beberapa Kali saya harus mengatur tarikan nafas.

Bukan tanpa sebab. Selama ini, meski hampir 10 tahun pernah tinggal sekaligus berkunjung ke daerah-daerah di Pulau Jawa (Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta), dan bahkan hingga kembali ke Jambi (sejak tahun 2010), rumah bersejarah ini hanya saya saksikan di televisi dan saya baca kisahnya melalui buku memoar Pramoedya, baik ditulis langsung oleh Pram maupun kedua adiknya, Koesalah Soebagyo Toer dan Soesilo Toer. Keduanya penulis hebat, meski tak setenar sang kakak.

Dari luar pagar tak terlihat tuan rumah. Saya bertanya ke tetangga terdekat. “Masuk aja, Mas, bapaknya ada di rumah,” kilah mereka.

Rumah berbahan kayu dan sebagian tembok retak tidak terawat.  Kardus, plastik dan kertas berserakan di halaman. Atap berbahan seng pada bagian depan rumah berjatuhan. Pakaian kotor menumpuk di badan motor.

Di sekitar rumah terdapat berbagai jenis tanaman, seperti pohon srikaya, pisang dan pepaya.‎ ‎ Kala hujan deras mengguyur, halaman rumah yang dipenuhi rumput liar itu selalu digenangi air. Bahkan, pagar masuk menuju rumah itu hanya diganjal kayu dan tali. Singkatnya, rumah seluas 370 meter persegi itu terlihat sama tua dengan penghuninya.

Sementara dari kejauhan poster berwajahkan Pramoedya dengan latar warna merah-putih melekat di sisi kanan pintu masuk rumah, yang bertuliskan huruf besar: Bacalah! Bukan Bakarlah! Di atas (didesain bak papan penunjuk jalan) tertulis Cerita dari Blora dan Pangggil Aku Kartini Saja.

Usai melewati pagar rumah, muncul seorang perempuan. Kami pun mengutarakan niat bertemu bapak Soesilo Toer. Saat perempuan (yang kemudian kami ketahui sebagaai istri Soesilo Toer) membuka percakapan, muncul dari balik pintu rumah seorang pria. Senyum ramah terpancar dari guratan wajahnya yang telah menua. Rambutnya putih, matanya sipit. Bulu uban dibiarkan tumbuh menutupi sebagian wajahnya.

Saya segera mengenali sosok itu, yang belakangan namanya santer dibicarakan di media sosial. Diliput oleh wartawan media cetak dan online, dan bahkan diundang ke salah satu talk show tivi nasional. Apa pasal? Seorang doktor lulusan universitas di Uni Soviet (sekarang Rusia) memilih mengisi hari tua sebagai pemulung di pusat Kota Blora.

Ya. Dialah Soesilo Toer. Pria berusia 81 tahun yang kerap disapa pak Soes itu menghabiskan waktu bersama istrinya, Suratiyem (51) dan anak laki-lakinya, Benee Santoso (27), di rumah peninggalan Mastoer dan Siti Saidah, orangtuanya. Sayang, saya tak bisa bertemu dengan Benee Santosa, lantaran dirinya berada di Yogykarta.

“Rumah ini menjadi saksi bisu masa kecil Pramoedya hingga menyelesaikan pendidikan di Sekolah Institut Budi Utomo Blora. Ayah kami seorang guru dan ibu sehari-hari berjualan nasi. Semua kisah hidupnya semasa di Blora ditulis Pram lewat kumpulan cerpen berjudul Cerita dari Blora yang diterbitkan pada tahun 1953,” jelas pak Soes.

Soes menambahkan rumah tersebut selesai dibangun orang tuanya tak lama setelah Pramoedya lahir di sebuah rumah kontrakan pada tahun 1925. Delapan adik Pram termasuk Soesilo, lahir di rumah yang nyaris dibakar saat peristiwa 65 itu.

Sebelum dihuni Soesilo sekeluarga sejak tahun 2004, rumah tersebut ditempati bergantian oleh kakak dan adiknya. Apatahlagi sejak usia 15 tahun, usai belajar di Sekolah Rakyat, Soesilo bersama Koesalah dibawa oleh Pram ke Ibu Kota Jakarta lantaran kondisi ekonomi keluarga yang memburuk dan sah Ayah telah tiada.

Usai bincang-bincang di halaman, Soesilo Toer bersama istri mengajak kami ke ruangan di sisi kiri rumah. Beberapa ekor kambing tertidur lelap. Tepat di bawah papan bertuliskan PATABA. Akronim Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer untuk Anak Semua Bangsa. Sebuah ruangan kamar berukuran 4 meter x 5 meter yang didirikan oleh Soesilo Toer mengiringi kepergian mendiang Pramoedya 13 tahun yang lalu, tepatnya 30 April tahun 2006.

"Banyak pelajar dan mahasiswa yang datang mencari beragam referensi sastra atau sekadar ngobrol dengan saya  dan mengenang Pramoedya Ananta Toer di sini. Bahkan, ada juga tamu datang dari Amerika, Perancis, Bulgaria, Jerman, maupun Asia," ujar pak Soes.

Soesilo Toer memilih duduk di kursi kayu yang menghadap jendela ruangan PATABA. Sinar matahari menyinari badannya yang renta. Di kursi itu, pak Soes menerima kami, dan bercerita sosok Pram dan perjalanan hidupnya, baik sebagai adik maupun sebagai penulis. Sementara posisi duduk saya membelakangi matahari, tepatnya menghadap ke arah Soesilo Toer. Kami (dan juga pak Sudaryono) jatuh dalam obrolan penuh keakraban.

Tak jarang, Pak Sudaryono dan Pak Soes bercanda mencairkan suasana, namun lebih sering Soesilo serius mengisahkan pahit-manis perjalanan hidupnya.‎ Yang justru membuat saya kagum, meski tak lagi muda, selain harus memulung, Soes masih aktif menulis buku. Bahkan, ia juga fasih berbahasa Inggris, Rusia, Jerman, dan Belanda.

Di ruangan PATABA juga terdapat kamar tidur Pramoedya semasa hidup. Kondisi kamar masih terawat. Tersedia kasur tipis berseprai warna merah muda. Suasana kamar begitu sejuk. Di kamar Pram itu berjejer buku-buku lama yang tertata di rak di dinding. “Para tamu yang ingin mengenang kehidupan Pram, baik dari dalam maupun luar negeri, umumnya istirahat di kamar ini,” tuturnya.

Atas seizin pak Soes, saya pun memasuki kamar tidur Pram agak lama, lalu mengabadikannya (berfoto) atas bantuan pak Sudaryono. Tak syak, imajinasi saya akan sosok Pram berkelebat sedemikian rupa.

Selain itu, seisi ruangan kerja pak Soes dipenuhi foster berwajah Pram dan dirinya, foto Pram bersama sejawatnya (dari dalam dan luar negeri), lukisan, dan foto penulis dunia yang menginspirasi Pramoedya, seperti Jhon Steinbeck, Maxim Gorki, Multatuli, Tirto Adi Surjo dan Sigmund Freud. Di ruangan ini juga bertumpuk buku-buku, baik yang tertata rapi di lemari kaca maupun rak buku terbuka, dan bahkan termasuk buku-buku yang dibiarkan tergeletak begitu saja diselimuti debu.

“Waduh, sayang sekali kondisi buku-buku ini tidak terawat, pak,” seloroh saya.

“Tak apa, sengaja demikian. Ini perpustakaan liar. Tidak ada katalog. Tidak ada daftar tamu. Siapa minat, sila datang dan baca,” balasnya tersenyum.

Ruangan ini, lanjut Soes, mulanya merupakan dapur yang disulap menjadi ruang kerja sekaligus perpustakaan PATABA. Kondisi ruangan ini jelas bukan seperti ruang kantor yang kita kenal, tetapi lebih menyerupai gudang. Hebatnya, dalam situasi demikian itu, Soesilo Toer tidak sedikitpun mengeluh. Bahkan karya tulisnya terus berlahiran hingga sekarang.

Salah satu karya Soesilo Toer yang saya baca adalah Dunia Samin. Novel tersebut ditulis 30 tahun setelah dirinya kembali dari studi di Uni Soviet (Rusia sekarang). Novel tersebut, menceritakan petualangan tokoh Samin yang jujur dan apa adanya, mirip dengan tokoh Abu Nawas di Timur Tengah, atau Nasrudin Hoja dari Armenia.

Oleh Soesilo Toer, saya dan pak Sudaryono diajak menyusuri seisi rumah. Dari ruang kerja dan perpustakaan PATABA, kami menuju dapur, kamar mandi, kamar tidur, hingga ruang tamu. Hampir tak ada ruangan yang lapang. Penuh dengan lemari, barang-barang hasil mulung, ranjang tidur, lemari pakaian, kendaraan motor maupun sepeda, dan rak-rak buku di ruang tamu. Begitu juga dinding ruang tamu dihiasi foto Mastoer dan Siti Saidah (orang tua) dan anak-anaknya, seperti Pramoedya, Soesilo Toer, Koesalah Soebagyo Toer. Saat yang sama langit rumah dipenuhi sawang di mana-mana.

Selain itu, berjejer piagam penghargaan serta cinderamata berisikan sosok Pram dan Soesilo Toer, yang datang dari banyak tamu dan pelbagai perhelatan sastra dan budaya, yang menjadikan keduanya sebagai sosok pembicara maupun yang dibicarakan, utamanya berkaitan dengan gagasan/pemikiran dan konsistensi mereka di jalan sunyi (baca: sastra).

***

Sosok Pram begitu melekat pada diri Soesilo Toer, baik sebagai saudara kandung maupun sebagai sesama penulis. Walhasil. Tak kurang dari 20 buku terbit, di antaranya, seperti Pram dari Dalam (2013), Dunia Samin (2017), Anak Bungsu (2017) dan Republik Jalan Ketiga (2017) yang ia tulis ulang dari disertasinya. Bahkan secara khusus Soesilo menulis pentalogi tentang Pram: Pram dalam Kelambu (2015), Pram dalam Bubu (2015), Pram dalam Belenggu (2016), dan Pram dalam Tungku (2017).

“Karya-karya tersebut mengetengahkan sisi personal Pram, termasuk kisah masa lalunya, polemik dalam keluarga, cerita di balik karya-karya besarnya, dan penilaian subyektif saya terhadap hidup sang kakak,” cerita Soes.

“Apa tujuan pak Soes menulis sisi pribadi Pram ke dalam buku?” tanya saya.

“Agar pandangan Pembaca terhadap Pram tidak bersifat tunggal (apalagi mengkultuskan). Kita perlu lebih banyak pandangan tentang Pramoedya. Banyak hal-hal personal yang orang tak tahu kecuali saya,” balasnya.

Hal demikian benar adanya. Saya pernah membaca buku “Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer (KPG, 2009), yang di dalamnya secara gamblang mengisahkan sisi personal sang kakak, seperti tentang kegigihan kerja, kehidupan seksual, pandangannya tentang wanita dan perkawinan, aktivitasnya jelang geger 1965, sikapanya tentang Tuhan dan agama, sampai pertengkaran kecil dan rasa cemburu antara kami bersaudara.”

***

Soesilo Toer menempuh sekolah dasar di Blora dan pendidikan menengah di Taman Siswa dan Taman Madya. Di Jakarta, awalnya dia ikut kakak sulungnya, Pramoedya Ananta Toer, sebab saat itu, bapaknya, Mastoer, guru di Blora itu sudah tiada.‎

Sebelum menyandang gelar master dari University Patrice Lumumba dan doktor bidang politik dan ekonomi dari Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov Uni Soviet (1962-1971), ‎pria kelahiran 17 Februari tahun 1937 ini sempat menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia‎. Saat bersamaan Soes juga mahasiswa BI jurusan ekonomi yang beralih menjadi IKIP di Jakarta Selatan.‎ Tetapi, lanjut Soesilo, dirinya harus berhenti dari kedua kampus tersebut karena biaya kuliah terlalu ‎mahal. Akhirnya, Soes menyelesaikan pendidikan diplomanya di‎ ‎Akademi Keuangan Bogor yang berada di bawah Badan Pengawas Keuangan (BPK). ‎

Saat menjadi mahasiswa, untuk membiayai kuliah dan memenuh kebutuhan hidup sehari-hari, Soesilo Toer bekerja di sebuah perusahaan penerbitan.‎ Status pekerjaannya tidak tetap.‎ Gajinya juga kecil. Dia juga sempat bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan. Namun demikian, dana keluarga tetap menjadi penopang utama.

Sekalipun sukses menyandang dua gelar dari kampus di Rusia, kehidupan Soesilo sepulang di tanah air tak berbuah manis. Ia justru menjadi tahanan politik (tanpa jelas atas kesalahan apa) dan dibui selama enam tahun.

“Ketika tiba di Tanah Air saya masuk dalam daftar tahanan politik (tapol), sehingga harus dibawa ke penjara. "Saya pulang ke Indonesia pada tahun 1973, langsung dijemput (petugas berwajib) di lapangan terbang, masuk bui enam tahun, dan baru bebas tahun 1978. Jadi saya ditahan selama enam tahun," kenangnya.

Bahkan, meski dirinya masih menyimpan dokumen akademis hasil dari pendidikan di Rusia sekaligus perjanjian akan mendapat pekerjaan setelah itu, tetapi semuanya pupus, bahkan ijazah yang diperoleh juga tak mendapat pengakuan dari pemerintah.

Sejak itu, Soes memilih hidup di jalanan. Bekerja lepas di luar kompetensinya sebagai doktor filsafat. Bahkan, diakuinya, ia tanpa canggung berjualan pakaian dalam secara berkeliling.

Namun, sebagaimana kepahitan Soesilo Toer itu, Pramoedya, sang kakak, justru mengalami hal serupa, bahkan hampir seumur hidup dihabiskan di balik jeruji besi. Tidak hanya dalam masa pemerintahan Soekarno dan rezim Orde Baru, saat pemerintahan Belanda pun dia pernah ditahan dari tahun 1947-1949. Kemudian pada tahun 1965 hingga 1979, dia kembali ditahan di beberapa tempat seperti di penjara Jakarta, Tangerang, Nusakambangan, Magelang, Semarang dan Pulau Buru.

***

Tidak terasa, hampir lima jam percakapan di antara kami. Sepanjang itu pula saya dibuat kagum bercampur sedih mendengar kesaksian hidup Soesilo Toer (termasuk keluaga besar Mastoer) yang tidak mudah. Tetapi Soesilo Toer hingga di usia senja tetap berkepala tegak, sebagaimana pesan sang Kakak, Pramoedya Ananta Toer, yang senantiasa ia ingat dan pegang, yakni: Jadilah berani! Berdiri tegaklah di atas kaki sendiri!

Maka, sekalipun pria 81 tahun ini menjalani profesi sebagai pemulung, betapa itu bukan sebuah kehinaan bagi dirinya.

“Memulung bagian dari hidup saya. Kenalilah dirimu, pemulung adalah kenikmatan abadi,” kata Soesilo berulangkali, seolah ingin melawan stigma buruk tentang profesi yang tengah ia lakoni.

Akhirnya, sebelum kami berpisah, saya mengajak pak Soesilo Toer dan pak Sudaryono menyantap soto lamongan Mas Bowo di Jalan Sumbawa, tak jauh dari kediamannya. Usai itu kami mengantar kembali pak Soesilo ke rumahnya, dan kami langsung undur diri.

“Pak Soesilo Toer adalah potret orang yang berpendidikan tinggi, namun kehidupannya amat sangat sederhana. Jelas tidak banyak orang semacam dirinya dalam zaman sekarang ini,” imbuh pak Sudaryono ketika kami telah meninggalkan kediaman Soesilo Toer menuju Rembang dan selanjutnya Kudus.

*Tulisan ini terbit pertama kali di rubrik Sosok portal kajanglako.com pada 23 Mei 2019. Catatan: Kunjungan penulis ke Blora ini terjadi pada Juli 2018. Rumah Keluarga Toer ketika itu belum direnovasi seperti sekarang. Atas bantuan pemerintah pusat (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI), rumah itu kini menjadi wadah bagi pemasyarakatan sastra (sebagaimana mimpi keluarga besar Pramoedya dengan didirikannya PATABA). 

0 Komentar