Jatuh Bangun Ombak: Selayang Pandang M. Nursam

M. Nursam 

Oleh: Jumardi Putra*

Usai mengikuti Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) di Magelang, November tahun lalu, saya mengunjungi kediaman Muhammad Nursam. Sebelumnya, perjumpaan kami beberapa kali berlangsung di kantor Ombak, tempat Nursam sehari-hari memimpin sebuah penerbitan buku yang beralamat di Perumahan Nogotirto III, Jl. Progo B-15, Kec. Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Di kalangan mahasiswa sejarah di tanah air, tak terkecuali di Jambi, penerbit Ombak tergolong familiar. Bisa dipastikan buku-buku pendukung kuliah mereka, salah satunya, adalah terbitan Ombak, sebuah penerbit buku yang memilih fokus pada tema-tema sejarah dan kebudayaan (dalam pengertian luas).

Maret 2017, Seloko Institute bersama FIB Universitas Jambi dan FKIP ilmu sejarah Universitas Batanghari, bekerjasama dengan Ombak menyelenggarakan Bazar dan Bedah Buku yaitu Seabad Kontroversi Sejarah karya Prof (Ris) Asvi Warman Adam (LIPI) dan buku tentang hubungan Jambi dan Palembang karya Prof. Barbara Watson Andaya berjudul Hidup Bersaudara, Sumatra Tenggara Pada Abad XVII dan XVIII, terjemahandari versi Inggris “To Live as Brothers: Southeast Sumatra in Seventeenth an Eighteenth Centuries” (Honolulu, Universty of Hawaii Press, 1993).

Terjemahan buku Barbara ini melengkapi kepustakaan studi Jambi sebelumnya, seperti karya Elsbeth-Locher Scolten tentang Kesultanan Sumatra dan Negara Kolonial: Hubungan Jambi-Batavia (1830-1907) dan Bangkitnya Imperialisme (KITLV dan Banana, Jakarta: 2008). Buku ini merupakan versi Indonesia dari edisi Inggris, “Sumatraans Sultanaat en Koloniale Staat: De Relatie Djambi-Batavia (1830-1907)”.

Kehadiran dua buku ini disambut hangat oleh penggiat studi sejarah Jambi, meski diakui banyak studi-studi Jambi lainnya terserak di jurnal-jurnal internasional, seperti Indonesia (Cornell University, USA); Bijdragen tot de Taal-, Land–en Volkenkunde (KITLV, Belanda); Archipel (Prancis), Indonesia and the Malay World (SOAS, Inggris); dan tersimpan di perpustakaan-perpustakaan kampus di luar negeri, tempat disertasi/tesis tersebut diajukan, belum semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sejarahwan Barbara Waston Andaya dan filolog Annabel Teh Gallop, di sela Konferensi Internasional Studi Jambi (International Conference on Jambi Studies/ICJS) tahun 2013, mendorong kawan-kawan di Jambi menerjemahkan hasil penelitian tentang Jambi ke dalam bahasa Indonesia dan menerbitkannya dalam bentuk buku sehingga dapat diakses publik yang terkendala faktor bahasa asing.

Pilihan Ombak menerjemahkan dan menerbitkan buku Barbara itu adalah tepat. Bahkan, diakui Nursam, buku terjemahan Barbara itu (termasuk karya suaminya, Leonard Y. Andaya berjudul Dunia Maluku: Indonesia Timur Pada Zaman Modern Awal dari versi Inggris “The World of Maluku: Eastern Indonesian in Early Modern Period” (Honolulu, Universty of Hawaii Press, 1993), tergolong laris manis.

Untuk menyebut contoh, pustaka sejarah klasik terjemahan Ombak bermutu baik adalah buku babon Suma Oriental karya seorang Portugis, Tome Pires (2014) dari versi Inggris “The Suma Oriental of Tome Pires An Account of The East, From The Sea to China and the Book of Francisco Rodrigues”, edited by Armando Cortesao, 2 Volume (The Hakluyt Society, 1944); Kajian Historis Sosiologi Masyarakat Indonesia (terdiri dari II Jilid) karya B.J.0. Schrieke dari versi Inggris “Indonesian Sosiological Studies: Selected Writings of B. Schrieke (The Hague-Bandung: W. Van Hoeve Ltd., 1957); Sumatra: Sejarah dan Masyarakatnya karya Edwin M. Loeb dari versi Inggris “Sumatra: Its History and People (Kuala Lumpur: Oxford University Press Singapore, 1972); dan Perdagangan Asia & Pengaruh Eropa di Nusantara: Antara 1500 dan Sekitar 1630 karya M.A.P. Meilink-Roelofsz dari versi Inggris “Asia Trade and Europen Influence in The Indonesian Archipelago Between 1500 and About 1630” (The Hague: Mrtinus Nijhoff, 1962); serta tiga jilid Sejarah Kepulauan Nusantara: Kajian Budaya, Agama, Politik dan Ekonomi karya John Crawfurd, versi Inggris dari buku “History of the Indian Archipelago: Containing an Account of the Manners, Arts, Languages, Religions, Institutions, and Commerce of its Inhabitants”: With Maps and Engravings. In Three Volumes, Archibald Constable & Co., Edinburgh, 1820, Vol. 1).

***

Sesudah menunaikan shalat Isya, lalu dilanjutkan makan malam bersama, saya berkesempatan bercakap-cakap dengan bapak dua anak ini di ruang kerja di lantai II di rumahnya. Ruang kerja lelaki asal Jeneponto, Sulawesi Selatan, ini penuh buku.

Sebelum banting setir menggeluti penerbitan buku, suami dari Dewi Puspitasari ini dikenal sebagai sejarawan muda yang karya-karyanya mendapat sambutan publik. Periode 1990-2000-an, namanya bertengger bersama JJ Rizal, yang sekarang juga memiliki rumah penerbitan buku-buku sejarah bernama Komunitas Bambu.

Selain aktif menulis artikel di koran-koran, karya tulis Nursam terbit dalam bentuk buku, seperti Membuka Pintu Bagi Masa Depan: Biografi Sartono Kartodirdjo; Pergumulan Seorang Intelektual: Biografi Soedjatmoko; dan Potret Cendekiawan Jawa: Biografi Moh Saleh Mangundiningrat (ketiganya diterbitkan Gramedia); serta Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Pahlawan Nasional John Lie, (Ombak, 2008)

Nursam menuturkan, Penerbit Ombak lahir dari Komunitas Ombak pada 8 Februari 2002. Mulanya, komunitas Ombak intens melakukan kajian berbagai tema yang berkembang saat itu oleh divisi penelitian dan pengembangan. Hasil kajian tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan merancang sebuah penerbitan untuk mewujudkannya dalam bentuk buku.

Barulah pada 10 Juni 2002, Ombak pertama kali menerbitkan buku dan disusul terbitan buku-buku Ombak lainnya bertema sejarah, pemikiran, kebudayaan, sastra dan humaniora.
“Buku berjudul Damai Selalu untuk Indonesia: Dialog Antar Suku Indonesia di Kalimantan Timur adalah terbitan pertama Ombak,” kenangnya.

Pada perkembangannya, tepatnya tahun 2006, Ombak resmi berbentuk CV. Sejak saat itu, Komunitas Ombak tidak aktif melakukan kegiatan pengkajian, tapi sepenuhnya diarahkan untuk pengembangan penerbit.

Penerbit Ombak muncul serempak dengan penerbit Jendela dan Buku Baik. Sebelum  itu, telah ada penerbit-penerbit buku lainnya yang tengah berkilau di seantero Yogyakarta, seperti Bentang Budaya, IndonesiaTera, LkiS, Pustaka Pelajar, Kreasi Wacana, InsistPress, hingga ResistBook.

Untuk menekan ongkos produksi, sejak 2009 Ombak memiliki percetakan sendiri. Selain juga Penerbit Ombak mempunyai "anak perusahaan" dengan nama Bio Pustaka, Pustaka Timur dan Banyu Media. Anak perusahaan tersebut sebagai bagian dari strategi pengembangan perusahaan, dimana masing-masing anak perusahaan memiliki spesifikasi tema penerbitan.

Berselang tiga tahun setelahnya, tepatnya akhir 2011, Penerbit Ombak memperluas produk terbitan yaitu menerbitkan buku ajar/teks perguruan tinggi, khususnya sejarah, geografi, bahasa dan sastra Indonesia, PPKN, ilmu kependidikan, ilmu sosial dan budaya. Selain itu, Ombak juga menerbitkan buku-buku daras untuk Perguruan Tinggi Agama Islam.

“Hingga 2019, penerbit Ombak sudah menerbitkan kurang lebih 2000-an judul, dan 20% di antaranya merupakan buku ajar perguruan tinggi,” tuturnya.

“Perluasan produk terbitan bisa berefek buruk pada kualitas isi buku, karena penerbit berorientasi pada pasar?” tanya saya meragukan.

“Anggapan semacam itu tidak sepenuhnya benar. Perluasan tema buku terbitan Ombak tetap melalui kerja seleksi editor. Sehingga kualitas isi buku menjadi prasyarat utama sebelum buku diputuskan terbit atau sebaliknya,” jawabnya.

***

Sekalipun Yogyakarta dikenal sebagai lumbung industri penerbitan buku-buku di tanah air, tidak secara otomatis membuat bisnis penerbitan berjalan mulus, apatahlagi imun dari persoalan sekaligus tantangan baik secara internal maupun eksternal.

Pelbagai kendala, mulai dari proses cetak, kurasi dan editorial naskah, hingga stigma negatif (berkaitan sistem royalti, konsinyasi dan biaya penerjemah yang dinilai murah) mewarnai pasang surut aktivitas penerbitan di kota berjuluk pendidikan itu. Bahkan, penerbit yang berkembang pesat dalam rentang waktu 1998-2008, kata Nursam, 80% boleh dikata sudah gulung tikar.

Ombak, diakui Nursam, juga tak luput dari ancaman kebangkrutan. Bahkan, 2011 merupakan tahun paling genting bagi Ombak sebagai sebuah penerbit yang produk-produknya sangat bergantung pada distributor.

“Saya punya satu gudang dengan nilai 10 miliar. Saat itu separuh dari isi gudang tersebut penuh oleh buku-buku returan dari distributor. Nilai buku-buku itu miliaran pula. Saya betul-betul dibuat pening. Bila salah menentukan jalan keluar, satu langkah ke depan Ombak bisa ambruk,” kenangnya.

Dalam keadaan demikian itu, Nursam mengambil keputusan yang terbilang berani yakni memilih keluar dari jalur distribusi umum. Awalnya, secara psikologis keputusan tersebut membuat dirinya dan karyawan di penerbit khawatir. Bisa gak Ombak menjual buku tanpa melalui jalur distribusi umum dan toko-toko buku.

“Di tahun pertama dan kedua kami berusaha sekuat tenaga untuk bertahan, sembari menekan ongkos operasional dan menggenjot penjualan melalui iven pameran,  jaringan komunitas intelektual dan online. Alhamdulillah, di tahun ketiga (2013) mulai terlihat ada hasilnya hingga berkembang seperti sekarang,” ungkapnya.

Bagi Nursam, keputusan penjualan buku tanpa melalui jalur distribusi umum tergolong tidak lazim. Selama ini penerbit kerap menjual produknya melalui jalur ditribusi dengan sistem konsinyasi, artinya pihak penjual baru akan memberikan uang ke penerbit sesuai dengan jumlah buku yang bisa mereka jual.

“Apa pertimbangan Ombak sebegitu percaya diri,” tanya saya.

“Ombak tidak anti distributor dan toko buku. Kami hanya ingin mekanisme tataniaga dari sistem konsinyasi ke tunai. Hal tersebut penting untuk sama-sama memperkecil resiko kerugian,” katanya.

“Cara demikian itu digubris oleh distributor,” tanya saya balik.

“Tidak ada yang mau!” kilahnya.

“Awalnya banyak penjual buku yang keberatan. Tapi lambat-laun, mereka mau juga membeli produk Penerbit Ombak dengan cara pembayaran tunai di awal, karena terbitan Ombak berlaku spesifik dan dibutuhkan banyak orang. Kini, di samping kebutuhan perguruan tinggi terhadap buku-buku yang menopang akivitas perkuliahan terus meningkat, juga sudah ada puluhan penjual buku yang selalu mengambil produk penerbit Ombak,” tuturnya sumringah.

***

Tarik menarik antara kebutuhan pasar dan ilmu pengetahuan senantiasa mengiringi laju industri buku di Yogyakarta. Di situlah, kata Nursam, penerbit dipaksa berpikir kreatif dan inovatif, tidak saja bertahan sebagai industri, tetapi juga bagian dari kerja intelektual: menghadirkan bahan bacaan bermutu.

Nursam menuturkan, dalam rentang waktu 1998 hingga 2008, strategi industri penerbit Jogja umumnya digerakkan oleh mereka berlatarbelakang sebagai akademisi, mahasiswa, intelektual, anggota lembaga swadaya masyarakat, hingga murni pebisnis yang menjadikan dunia perbukuan menjanjikan untuk digeluti. Selain itu, hibah dana dari Ford Foundation yang bekerja sama dengan IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) Yogyakarta melalui Program Pustaka Yayasan Adikarya pada tahun 1998-2003, turut menyanggah industri penerbit buku.

Selanjutnya, dikatakan Nursam, di luar soal estetika sampul buku-yang menjadi ciri khas penerbit-penerbit Jogja-karena di situlah penulis, penerbit dan perupa berinteraksi secara intens-adalah manajemen kerja penerbitan yang sederhana, proses produksi dengan mengandalkan jaringan pertemanan, serta pengelolaan even pameran buku secara rutin sekaligus dikemas secara apik.

Berjalannya waktu, perkembangan teknologi telah merubah sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi industri penerbitan buku. Fenomena ini tidak hanya di Jogja, melainkan juga di kota-kota besar lainnya. Sebut saja, Nursam mencontohkan, kehadiran mesin PoD (Print on Demand) dengan biaya cetak buku yang sangat terjangkau, batasan eksemplar sesuai kebutuhan,  juga proses pencetakan yang cepat (berbeda ketika menggunakan mesin cetak offset). Karenanya, lanjut Nursam, penerbit sekarang ini begitu mudah melakukan cetak ulang, tanpa perlu menimbun ribuan buku di gudang, yang berimbas pada tingginya biaya perawatan, dan sialnya lagi, tak laku pula di pasaran. Maka, lanjut Nursam, tidak heran kita menyaksikan ribuan buku bermutu dijual seharga barang-barang rongsokan.

Bersamaan hal itu, terutama ketika era internet dan media sosial mulai digandrungi warganet, menurut Nursam, beberapa tahun belakangan ini bermunculan dan terus berkembang penerbit-penerbit buku baru, untuk menyebut contoh, seperti Indie Book Corner, Octopus, Basa Basi, Buku Mojok, Circa, Kendi, Jalan Baru, dan beberapa lainnya.

“Bagaimana Anda memaknai kehadiran penerbit-penerbit baru sekarang ini,” tanya saya.

“Kita patut bersyukur, pembeli memiliki banyak alternatif untuk mendapatkan buku-buku bermutu. Hanya saja, kemunculan dan kembali bergairahnya penerbit-penerbit di Jogja, dengan segala dinamikanya sekarang ini, selalu dalam situasi tarik-menarik antara kebutuhan pasar dan ilmu pengetahuan. Dan faktanya, kita mulai melihat, kehendak kuat penerbit mengikuti pragmatisme pasar, sehingga menimbulkan dampak seperti keseragaman secara visual, isi buku dikerjakan secara tergesa-gesa, hingga wacana yang diketengahkan yakni selain dangkal, juga mengulang-ulang dengan hanya mengandalkan kemasan baru. Imbas lainnya yaitu gugurnya penerbit-penerbit ketika menawarkan gagasan kritis yang tidak populer, karena tidak terserap pasar dengan baik.  Jelas ini tantangan para penerbit sekarang, tak terkecuali Ombak,” ungkapnya.

“Selain imbas pembaruan teknologi bidang percetakan serta ketergantungan pada internet dan media sosial, apa tantangan utama Ombak sekarang ini?” sambung saya.

“Pembajakan buku secara besar-besaran dan dilakukan secara terbuka. Jelas itu merusak tatanan industri penerbit buku. Selain berefek pada menurunnya omset, juga secara psikologi, penerbit dibuat tidak bergairah menerbitkan buku-buku bermutu karena pada akhirnya akan dibajak,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Nursam, mereka yang sehari-hari menggantungkan hidup pada industri penerbitan buku mengalami goncangan ekonomi. Ada editor, desainer isi dan sampul, pembaca ahli, dan seterusnya. Penerbit jelas mengeluarkan dana besar untuk pembiayaan-pembiayaan itu.

Mengatasi persoalan yang tidak berkesudahan (dan tentu saja menjengkelkan) itu, 26 Agustus 2019, Ombak bersama 11 penerbit lainnya yang tergabung dalam Konsorsium Penerbit Jogja, melaporkan perkara pembajakan buku ke Polda DIY.

“Semoga melalui jalur hukum, praktik pembajakan buku teratasi, dan industri buku di Jogja kembali bergairah menghadirkan buku-buku bermutu untuk pembaca,” tukasnya.

Tidak terasa, hampir tiga jam kami bercakap-cakap sembari menyantap kacang rebus dan ubi goreng. Di sela itu saya berkelakar, “Keasyikan mengurusi bisnis buku, jadi nggak nulis lagi nih, Mas?”.

“Keinginan itu selalu ada. Selalu muncul, dan tak jarang mengusik pikiran saya. Dan, memang, saya harus menulis buku lagi,” pungkas pria 44 tahun ini menutup percakapan kami malam itu.

*Wawancara penulis bersama M. Nursam berlangsung di penghujung November 2018 di kediamannya di Yogyakarta, dan berlanjut pada 19-20 September 2019 melalui pesan aplikasi WhatsApp

0 Komentar