Membumikan Kearifan Lokal: Catatan Atas Sehimpun Esai Tentang Lingkungan

 

ilustrasi.

Oleh: Jumardi Putra*

Sekalipun esai kerap kita dapati di koran dan majalah, atau diterbitkan dalam bentuk buku baik berupa bunga rampai maupun dalam format lain, sehimpun tulisan dalam buku berjudul "Membumikan Kearifan Lokal" ini tidak serta merta membenarkan anggapan umum bahwa semua karangan yang bukan puisi, cerpen, novel, atau berita serta bukan buku, pastilah esai.

Merujuk Agus R. Sardjono, dalam tulisannya, Sebuah Bukan Esai Tentang Esai (Majalah Horison, 2014), esai sebagai sebuah genre karangan mulai dikenal luas setelah Michel de Montaigne menerbitkan tulisannya yang bertajuk Essais di tahun 1580.

Sejak itu, sebutan Essai (Perancis) atau Essay (Inggris), yang artinya upaya atau percobaan-percobaan–dan oleh sebab itu lebih bersifat sementara daripada bersifat penyataan final– dinisbahkan sebagai nama bagi genre karangan sebagaimana kurang lebih ditulis oleh Michel de Montaigne tersebut.

Berselang 17 tahun kemudian, Francis Bacon mengikuti jejak Michel de Montaigne dengan menulis esai mengenai berbagai soal dengan ukuran yang cenderung lebih pendek dari umumnya karangan Montaigne. Esai-demikian Bacon mencoba menjelaskan posisi esai-esainya-lebih berupa butir-butir garam pembangkit selera ketimbang sebuah makanan yang mengenyangkan.

Sejak diperkenalkan Montaigne dan Bacon, esai mengalami masa keemasan sedemikian rupa dan menyulut banyak penulis untuk menulis genre karangan yang serupa. Bahkan bagi banyak kalangan penulis, tak terkecuali di Indonesia, esai dianggap sebagai bentuk tulisan yang fleksibel dan makin populer sehingga digemari hingga sekarang.

Menyadari bahwa rumusan tentang esai di atas tidaklah bersifat mutlak-final dan karena itu sangat beragam, baik itu soal pendefenisian, pembagian kategori, dan tema-tema yang biasa ditulis menjadi esai, dewan juri membuat semacam indikator penilaian lomba esai yang bertiti-mangsa pada dua hal pokok.

Pertama, gagasan (menyajikan gagasan yang relatif baru dan unik; menunjukkan pemahaman baru atas persoalan yang dibahas; dan gagasan sesuai dengan kondisi kekinian dengan menyajikan data dan fakta); dan argumentasi (sistematika gagasan runtut dan jelas; relevensi data dan informasi yang diacu dengan uraian tulisan; dan kemampuan menganalisis). Kedua, aspek penulisan (sistematika tulisan, ketepatan dan kejelasan ungkapan, dan relatif mudah dipahami).

Faktanya, dalam pandangan kami dewan juri, sejumlah besar tulisan yang terjaring dalam lomba penulisan esai ini belum berhasil menunjukkan sebuah bentuk karangan yang khas esai, melainkan lebih menyerupai artikel panjang (untuk menyebut berpretensi menjadi karya ilmiah). Bahkan tidak sedikit peserta yang abai terhadap teknis penulisan, seperti kejelasan istilah, ungkapan dan penyusunan paragraf.  

Di samping itu, menunjukkan kepada kita bahwa para penulisnya kurang meluaskan minat terhadap sumber literatur. Itu berakibat pada miskinnya strategi literer yang mereka gunakan untuk membangun gagasan, argumentasi, dan teknik pemaparan yang mudah dipahami, tanpa harus kehilangan substansi dan kedalaman analisis.

Dalam keadaan demikian, kami dewan juri harus memilih beberapa tulisan sebagai pemenang 1, 2, dan 3, sekaligus sebelas tulisan lainnya yang dihimpun ke dalam satu buku, yang setidaknya berhasil mendekati sebagaimana acuan penilaian di atas, yaitu mampu mengetengahkan pandangan pribadi dan sikap penulis, yang disertai pemaparan yang relatif baik, dengan dukungan data dan analisa yang relevan, sehingga berhasil membangun argumentasi secara memadai pula.

Beberapa tulisan tersebut antara lain, bertajuk Implementasi “Hutan Adat” sebagai Konsep Budaya Lokal dalam Mewujudkan Indonesia Hijau Bebas Asap (pemenang 1); Perencanaan Pemugaran Bangunan di Percandian Muaro Jambi (pemenang 2); Membumikan Kearifan Lokal: Solusi Hutan di Jambi (pemenang 3); Selamatkan Hutan, Hijaukan Lingkungan; dan Peran Pemerintah dalam Menjaga Lingkungan.

Buku Esai-esai Lingkungan (Salim Media)

Keseluruhan tulisan dalam buku ini, sebagaimana terwakili oleh lima tulisan di atas, bertitik pijak pada isu lingkungan hidup, yang dihubungkan dengan berbagai aktivitas perusakan dan kebakaran hutan dan lahan secara rutin, yang oleh para penulis dinilai sebagai satu dari beberapa deret bencana lingkungan lainnya, seperti banjir, tanah longsor, kerusakan hutan, polusi udara, dan kelangkaan air bersih, yang secara keseluruhan menegaskan “kemarahan” alam akan terus berlangsung di bumi ini, bila tidak disikapi secara komprehensif dan disertai moralitas ekologi yang tangguh.

Di samping itu, tampak jelas para penulis menyoal perihal kearifan lokal telah digantikan dengan modernitas (sebagai agama dan spiritualitas baru), yang justru membuat hutan dan lahan yang rimbun, hijau, dan riak air yang mengalirkan cahaya jatuh sebagai peristiwa ekonometrik belaka.

Menimbang capaian peserta lomba penulisan esai yang belum begitu memuaskan, sebagaimana dijelaskan di atas, kami sebagai Dewan Juri mengapresiasi langkah tepat Penerbit Salim Media Indonesia, yang turut menyelenggarakan lomba penulisan esai, yang kami tahu amat jarang dilakukan saat ini. Puncaknya, kami dewan juri berharap buku ini merupakan perkenalan awal bagi buku baru, yang kelak lahir dari masing-masing penulis yang terhimpun dalam buku ini. Semoga.

*Tulisan di atas merupakan kata pembuka dalam buku berjudul “Membumikan Kearifan Lokal: Esai-esai Lingkungan" (April 2016). Lomba esai ini diselenggarakan oleh penerbit Salim Media Indonesia, Jambi. Sumber ilustrasi: www.grid.id.

0 Komentar