| Penulis saat ziarah di makam K.H. Hasyim Ays'ari (2001 |
Oleh: Jumardi Putra
Belum lama ini, aku membuka kembali album foto lawas , lembar demi lembar yang mulai
menguning dimakan waktu. Sepilihan foto itu membawaku pulang—hampir tiga dasawarsa silam—ke
masa ketika aku nyantri di Pesantren Tebuireng,
Jombang, Jawa Timur, di bawah kepemimpinan Kiai karismatik KH. Yusuf Hasyim, putra bungsu dari Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy'ari.
Dari sekian banyak peristiwa yang terbingkai,
ada satu kenangan yang selalu terasa hangat sekaligus hening: kebiasaan para santri
mengaji di maqbarah keluarga besar K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri pesantren Tebuireng pada tahun 1899 sekaligus
pendiri organisasi Nahdlatul Ulama pada tahun 1926. Sejak dahulu,
kompleks makam itu tidak pernah benar-benar sepi. Siang dan malam selalu ada
yang datang—santri yang mengaji, masyarakat dari berbagai penjuru seantero
negeri, terutama dari pulau Jawa dan Madura yang datang berziarah. Bahkan, sejak
wafatnya K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus
Dur, langkah para peziarah ke komplek pemkaman Tebuireng tak putus-putus, seolah sejarah dan doa bertemu di
satu titik yang sama.
Aku masih mengingat suasana di sudut maqbarah ini kala
itu. Menjelma teduh di tengah riuh. Seakan waktu berjalan lebih pelan
dibandingkan dunia di luar pagar pesantren serba bergegas. Angin berembus lirih menyusuri
nisan-nisan tua, menggerakkan daun-daun kering, lalu menyelinap di sela suara lirih santri
yang melafalkan ayat-ayat suci—kadang bisirri, kadang jelas
(tartil)—dengan khusyuk.
Di dekat pusara para masyaikh pesantren ini, kami duduk bersila. Mushaf terbentang di pangkuan, suara bergetar pelan, suasana di sekitar terasa nyaman. Di masa awal nyantri kala itu, aku belum sepenuhnya memahami makna sanad, tetapi aku merasakan alirannya perlahan-lahan. Ada kesinambungan yang tak kasatmata—sebuah mata rantai ilmu yang menghubungkan bacaanku yang terbata-bata dengan doa-doa panjang para ulama nun jauh di kelampauan.
![]() |
| Komplek makam keluarga K.H. Hasyim Ays'ari di Pesantren Tebuireng (sekarang) |
Bagiku, jejeran makam itu bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir para ulama. Ia adalah ruang tafakur—ruang untuk menimbang diri. Setiap kali lantunan surat Yasin dan tahlil menggema, suasana berubah menjadi hening yang hidup. Hening yang padat makna. Dalam diam itu, aku kerap merasa seolah bumi dan langit ikut menyimak. Saya sendiri kerap mengisi waktu—mengaji—di maqbarah ini, tidak terkecuali pada malam hari, terutama di pusara K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Wahid Hasyim.
Saya menjadi saksi bahwa santri yang datang ke sini tidak mengenal waktu. Pagi sebelum kelas dimulai. Begitu juga siang di sela pelajaran dan lanjut malam selepas isya lalu mengaji bersama K.H. Ishaq Latief, ketika pesantren mulai lengang. Mengaji di maqbarah ini bukan sekadar rutinitas (bukan pula takhayul), tapi ia adalah penghormatan—pada guru, pada ilmu, pada sejarah yang membentuk santri dalam sunyi.
Di hadapan pusara para masyaikh, aku belajar satu hal yang kelak menjadi pegangan hidup bahwa adab sama pentingnya dengan ilmu. Setinggi apa pun pengetahuan, ia tak boleh mencabut akar kerendahan hati. Di sana pula aku memahami bahwa perjuangan tidak selalu hadir dalam pidato lantang atau tepuk tangan panjang. Ia juga sering tumbuh dalam kesunyian—dalam doa lirih, dalam kesabaran mengulang hafalan, dalam tekad kecil untuk terus istiqamah.
Kini, ketika
aku memandangi foto-foto lama itu, aku sadar bahwa yang paling melekat bukanlah
wajah-wajah lugu santri yang datang dari pelbagai daerah di seantero neger ini, melainkan suasana hening di antara nisan dan doa para masyaikh. Di Pesantren ini aku belajar arah hidup bahwa ilmu harus berakar pada akhlak.
*Kota Jambi


0 Komentar