Oleh: Jumardi Putra
Langkah kaki menyusuri trotoar M.H.Thamrin yang riuh sore itu membawa saya menuju Filosofi Literasi, sebuah perpaduan ciamik antara toko buku indie dan tempat rehat kopi yang berlokasi di area Lobby Sunda Mal Sarinah, Jakarta Pusat (Rabu, 17/9/26). Wajah ibu kota yang serba bergegas dan hilir mudik kendaraan seolah menjadi pembuka jalan menuju oase yang tersembunyi di dalam mal bersejarah tersebut.
Galibnya saat bertugas ke
Ibukota, saya beberapa kali janjian dengan kawan-kawan di kafe Filosofi
Kopi—berdiri sejak 2015--, yang berada dalam satu mal dengan Filosofi
Literasi. Kabarnya kedua tempat ini merupakan suatu kesatuan. Perlu diketahui Filosofi Kopi yang bermula dari film karya Dee Lestari tahun 2015 kini tumbuh
menjadi film, lagu, kedai, hingga bagian dari berkembangnya budaya kopi di
Indonesia.
Memasuki Mal Sarinah, terhitung
setelah revitalisasi sejak taun 2000 hingga dibuka kembali untuk umum pada 2022,
kesan modern tanpa meninggalkan jejak sejarahnya langsung terasa kuat. Gedung
yang berdiri sejak era Presiden Soekarno ini telah bertransformasi menjadi
ruang publik yang ramai dikunjungi warga kota lintas usia (terutama kaula muda),
menghubungkan karya lokal dengan gaya hidup masyarakat hari ini.
Saya melangkah menuju Loby
Sunda, tempat ruang literasi belum lama ini berdiri. Begitu melintasi ambang
pintu Filosofi Literasi, keriuhan lalu lintas Thamrin yang bising seketika
menguap, berganti dengan aroma kertas buku baru yang khas berpadu lembut dengan
harum seduhan biji kopi Nusantara.
Suasana interior Filosofi Literasi langsung menyapa dengan nuansa yang hangat, estetis, dan intim. Desain bangunannya memanfaatkan pencahayaan yang tidak menyilaukan mata dilengkapi rak-rak kayu tinggi yang tertata rapi. Di atas rak-rak tersebut, judul-judul buku dari pelbagai genre memanggil untuk disentuh dan dibaca. Sepengamatan saya koleksinya sangat beragam dan (katanya) dikurasi dengan cermat—mulai dari fiksi kontemporer, sastra klasik Indonesia maupun mancanegara, pemikiran filsafat dan politik, hingga buku-buku seni dan desain bertema khusus. Filosofi Literasi adalah cafe dan toko buku yang menjadi satu. Ini jelas bukan perpustakaan, sehingga bagi pengunjung yang ingin membaca buku yang terpajang di rak harus beli dahulu.
![]() |
| Penulis di Filosofi Literasi |
Saya memilih menyusuri rak-rak buku terlebih dahulu ketimbang buru-buru menyeduh minuman. Menariknya, tempat ini tidak terasa kaku seperti toko buku komersial pada umumnya yang mulai sepi dari pengunjung. Ada sentuhan personal pada cara mereka memajang buku sehingga menarik minat pengunjung. Bahkan, beberapa judul diberi catatan kecil berisi rangkuman singkat atau rekomendasi dari staf, seolah memberi panduan ramah bagi para pencinta buku yang bingung menentukan pilihan.
Perpaduan "buku dan
kopi" di tempat ini boleh dibilang bukan sekadar gimik visual semata.
Jarak antara meja kasir buku dan area bar kopi seolah menunjukkan sebuah konsep
terintegrasi sehingga memungkinkan pengunjung menikmati proses membaca sembari
menyesap minuman favorit mereka tanpa harus berpindah tempat.
Bagi para penikmat kopi
tulen, keberadaan area Filosofi Kopi yang berdekatan atau bahkan terintegrasi
dengan konsep ruang ini menghadirkan kualitas rasa. Biji kopi lokal
yang diseduh dengan presisi menciptakan cita rasa yang seimbang—pahitnya kopi
terpadu pas dengan manisnya gula aren yang tidak berlebihan.
Begitu juga bagi bibliograper,
tempat ini tentu menawarkan perspektif unik karena berada di dalam ruang yang
senyap dan hangat, yang hanya dibatasi selembar kaca tebal, sehingga pemandangan
luar yang memperlihatkan ritme Jakarta yang serba cepat dan dinamis menghadirkan
suasana tersendiri.
Di sekeliling saya, tampak
beberapa pengunjung lain dengan aktivitasnya masing-masing. Ada mahasiswa yang
tekun mengetik di laptopnya, pasangan muda yang mungkin saling berbisik
membicarakan buku yang mereka pilih bersama, serta beberapa individu yang
seperti saya—menikmati waktu menyendiri (me time) di tengah deadline pekerjaan.
Keberadaan ruang seperti
Filosofi Literasi di pusat kota Jakarta membuktikan betapa pentingnya
keberadaan tempat ketiga (third place) setelah rumah dan kantor. Ia bukan
semata tempat bertransaksi jual-beli buku atau minuman kopi, melainkan sebuah
ruang temu budaya di mana gagasan, karya seni, dan ketenangan bisa berbaur
secara harmonis di tengah hiruk-pikuk dunia kerja yang terkadang menjemukan.
Tak terasa, langit di balik
jendela kaca mulai berubah warna dari jingga kemerahan menjadi kebiruan gelap.
Lampu-lampu jalanan di sepanjang Jalan M.H. Thamrin mulai menyala satu per
satu, menciptakan pendar cahaya yang indah di tengah keremangan sore menuju
malam.
Tidak terasa hampir dua jam
saya di sini. Saya pun merapikan barang bawaan, memasukkan buku ke dalam tas,
lalu melangkah keluar meninggalkan area Filosofi Literasi menuju hotel tempat
saya menginap di jalan Wahid Hasyim. Semoga bisa ke
sini lagi di lain kesempatan.
*Jakarta, 18 September 2026. Foto dalam tulisan merupakan milik penulis pribadi.
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Malam di Jakarta Tidak Pernah Benar-benar Gelap
2) Taluo Barendo di Jalan Sabang
3) Di Jantung Malam Jalan Sabang
5) Di Puncak Menara Syahbandar Sunda Kelapa
6) Sepulang dari Museum Bank Indonesia
7) Apa Ada Ingin di Jakarta, Seperti dilepas Desa Melati
8) 3,5 Jam di Daniel S. Lev Law Library
9) Satu Jam di Ruang Ketiga Jalma
10) Tak Perlu Ke Puncak Mahameru Menemui Gie
11) Sepulang dari Museum Kebangkitan Nasional
14) Suatu Siang di Erasmus Huis
15) Merajut Asa di Ruang Belajar Prof H.A.R. Tilaar
16) Ngadem di Freedom Institute Library
17) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi


0 Komentar