Jerit Kusminah di Kampus Putih



Oleh: Jumardi Putra

Bagi civitas akademika UIN Sunan Kalijaga—khususnya angkatan 2004—Cafetaria Koperasi Mahasiswa (KOPMA) bukan sekadar kantin pengisi perut. Di sanalah ruang diskusi hidup, tempat para aktivis mahasiswa merajut ide-ide besar sambil menyesap secangkir kopi. Namun kini, ruang penuh memori di "Kampus Putih" itu telah tiada, tinggal cerita.

Hilangnya kantin ini tak sekadar melenyapkan kenangan, tetapi juga merenggut ruang hidup orang-orang kecil yang menggantungkan nasib di sana. Burliyan, Kabid Umum Kopma UIN Sunan Kalijaga, menjelaskan bahwa pemindahan gedung menjadi pemicu utamanya.

"Ibu Kusminah dan rekan-rekannya terpaksa diberhentikan sementara, karena setelah gedung Kopma pindah, cafetaria tidak dibuka lagi," ujar Burliyan.

Ia mengakui, masa depan kantin tersebut sebenarnya masih diperjuangkan ke pihak Rektorat, meski hingga kini belum menemui titik terang. Sementara itu, lokasi baru yang disediakan di area parkiran terpadu dirasa kurang strategis.

Pensiun Dini Tanpa Kepastian

Dua pekan pasca-penutupan, saya menemui Ibu Kusminah di kediamannya di Ngentak Sapen, Gang Gading—sebuah permukiman tak jauh dari benteng kampus. Perempuan kelahiran 1959 itu menyambut kami dengan senyum ramah. Namun di balik keramahan itu, tersimpan ganjalan berat: sejak akhir November 2007, ia terpaksa "dipensiunkan dini" dari profesinya sebagai koki.

Kusminah tidak sendirian dalam ketidakpastian ini. Rekannya, Ibu Darmi, turut dirumahkan. Sementara Mas Hari dialihkan tugasnya menjadi tenaga pembersih (cleaning service).

"Saya sudah melakoni profesi ini selama sebelas tahun. Biasanya, rutin berangkat pukul tujuh pagi dan memasak hingga sore, bahkan sering lembur," kenang perempuan yang akrab disapa Bu Minah itu, meratapi masa lalu yang mendadak terputus.

Bagi Bu Minah, dapur Kopma adalah sandaran utama ekonomi keluarga, termasuk untuk merawat kakaknya yang sudah lansia. Ketegaran fisiknya seolah terus diuji; sejak gempa dahsyat mengguncang Jogja pada 27 Mei 2006, kondisi keuangannya makin goyah. Saat itu, gajinya yang tak seberapa—sebesar Rp250.000 per bulan—mulai dibayarkan tidak menentu.

"Saya paham situasi saat itu sulit, yang penting saya masih bisa bekerja," ungkapnya tegar.

Meski sisa masa kontraknya masih menyisakan tiga tahun, penutupan kantin memaksanya berhenti lebih awal. Ia hanya menerima uang tunjangan sebesar Rp1.500.000 dan janji pencairan dana Jamsostek enam bulan mendatang.

Kini, di tengah himpitan harga kebutuhan pokok yang kian melambung, Bu Minah hanya bisa menaruh harap. Ia mengharapkan adanya kebijaksanaan dari pihak Kopma maupun Rektorat yang memberinya peluang untuk kembali bekerja agar asap dapur di rumahya bisa mengepul. Keinginan untuk berdagang kecil-kecilan di sekitar kampus kerap melintas di benaknya, namun modal dan izin lokasi menjadi tembok tebal yang sulit ditembus.

"Sempat terpikir untuk jualan sendiri, tapi modalnya belum cukup," keluhnya pelan, menutup perbincangan.


*Tulisan ini terbit pertama kali pada Newsletter Slilit ARENA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 22 Januari 2007. Pemuatan di sini telah mengalami penyuntingan tanpa mengubah substansi tulisan.

Posting Komentar

0 Komentar