Menyelami Kedalaman Ritual Haji

 

ibadah haji

Oleh: Jumardi Putra*

Ibadah haji menempati urutan kelima di antara ibadah mahdhah lainnya, sebagaimana tertera dalam rukun Islam. Selain itu, haji bernilai khusus, dalam pengertian dikerjakan pada waktu dan tempat tertentu. Keistimewaan lainnya, ibadah haji merupakan salah satu peribadatan yang paling tua dan memiliki nilai historis yang tinggi.

Mulanya ibadah haji dibawa oleh Nabi Ibrahim A.S sekitar tiga ribu enam ratus tahun lalu. Selanjutnya, pada 6 Hijriah masa Nabi Muhammad SAW, haji diwajibkan kepada seluruh umat muslim di dunia. Sekalipun menjadi pilar utama, ibadah haji hanya dianjurkan bagi mereka yang mampu, baik lahir maupun batin (Al-Imran: 96-7). Dalam ibadah haji, termuat seperangkat demonstrasi yang menggambarkan perjalanan umat manusia menuju tingkat ketakwaan sejati. Pertama, ibadah haji dimulai di Miqot makani, dengan menanggalkan pakaian dan menggantinya dengan dua lembar kain putih, tetapi di awali sebelumnya dengan menata niat guna menjemput revolusi besar dalam kehidupan para pelaku ibadah haji itu sendiri.

Penanggalan pakaian tersebut berupaya tidak dimungkinkannya muncul perbedaan status sosial, karena ibadah haji mensyaratkan persamaan. Semua manusia bergerak serentak dalam posisi kemanusiaan yang sama. Tiada yang mulia maupun yang hina, karena hanya ada dua eksistensi yaitu Tuhan dan manusia, menyatu dalam sebuah momen ritual nan intim. Dalam keadaan inilah jamaah menhadap Allah dan berseru, “Labbayka Allahumma labbayk” (aku datang, ya Allah, kepadaMu memenuhi panggilanMu.)

Kedua, berpakaian ihram. Sejumlah pantangan harus dipatuhi oleh para pelaku ibadah haji, misalnya, dilarang menyiksa binatang, membunuh, mencabut pepohonan, menggunakan wewangian, bercumbu atau kawin, berhias, dan lain sebagainya. Mengapa? Karena manusia bertugas memelihara mahluk-mahluk Tuhan dan memberinya kesempatan untuk mencapai tujuan penciptaannya, di samping menyadari bahwa yang dinilai adalah hiasan nurani, bukan fisik. Ketiga, Ka’bah yang dikunjungi mengandung pelajaran yang amat berharga dari segi kemanusiaan. Di sana, misalnya, ada hijr Ismail. Di sanalah Ismail, berada dalam pangkuan ibunya yang bernama Hajar, seorang wanita hitam Ethopia, miskin bahkan budak, yang kuburannya bersebelahan di rumah Allah itu. Itu menjelaskan, Allah memberi kedudukan bukan karena status sosial, tetapi karena kedekatannya kepada Allah SWT dan usahanya untuk berhijrah menuju ke arah peradaban.

Keempat, setelah selesai melakukan tawaf, yang menjadikan pelakunya larut dan berbaur bersama menuju satu tujuan yang sama, yakni berada dalam lingkungan Allah SWT, maka dilakukanlah sa’i. Di sini muncul lagi Hajar, wanita yang diperisterikan oleh Nabi Ibrahim A.S. Diperagakan pengalaman Hajar mencari air untuk putranya.

Keyakinannya yang begitu dalam, tidak membuatnya berpangku tangan dengan menunggu hujan dari langit, tetapi ia berusaha mondar-mandir berulang kali demi mencari kehidupan. Menurut Ali Syari’ati, penulis buku Haji (ter. Saifullah Mahyudin, Pustaka Fahima, 2008), sa’i adalah kerja fisik, jalan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, perjuangan dan pencarian untuk memenuhi kebutuhan manusia dari jantung alam (hal. 60). Di samping itu, dalam tawaf juga terdapat simbol sumpah setia kepada Allah. Hal ini dilambangkan dengan mencium Hajar Aswad. Gerakan mencium Hajar Aswad berarti telah memilih untuk bersekutu dengan Allah dan membebaskan diri dari perjanjian persekutuan dengan yang lainnya.

Kelima, di Arafah, padang yang luas lagi gersang itu, seluruh jamaah melaksanakan wuquf (berhenti) sampai terbenamnya matahari. Di sanalah mereka seharusnya menemukan manusia yang mengetahui tentang jati diri dan akhir perjalanan hidup. Di sana pula seharusnya mereka menyadari betapa besar dan agungnya Tuhan, yang kepada-Nya seluruh mahluk menyembah, sebagaimana diperagakan secara miniature di padang Arafah.

Keenam, dari Arafah para jamaah menuju Muzdalifah untuk mengumpulkan batu kerikil dalam mengahadapi musuh utama yaitu setan. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Mina, dan di sanalah jamaah haji melampiaskan kemarahan mereka masing-masing terhadap musuh yang selama ini menjadi penyebab segala kegetiran yang dialami. Batu pun dikumpulkan di tengah malam sebagai siasat bahwa musuh tidak boleh mengetahuinya (hal. 29).

Akhirnya, ibadah haji merupakan simbol kepulangan manusia kepada Allah SWT yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tidak dipadankan oleh sesuatu apapun. Dengan kata lain, kepulangan kepada Allah merupakan gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai, dan fakta-fakta yang kian mengekalkan keimanan kita kepada Sang pencipta, Allah SWT.

*Yogyakarta, 2008

0 Komentar