UIN STS Jambi: Mimpi Besar Suaidi Asy'ari

 

Suaidi Asy'ari, Rektor UIN STS Jambi.

Oleh: Jumardi Putra*

Tersebab sakit mendera, niat saya merampungkan catatan singkat ini setelah mendapat kabar Prof. Suaidi Asy’ari terpilih sebagai Rektor UIN STS Jambi periode 2019-2023, pada 16 Oktober 2019, tertunda. Tidak mengapa dan tak harus tergesa-gesa pula. Pikirku sekenanya ketika itu. Apatahlagi bukan semata memberikan ucapan selamat, tetapi memaknai persinggungan saya secara pribadi dengan profesor kelahiran Sungai Manau, Merangin, 1963 itu.

Saya tidak tahu pasti apakah Guru Besar Politik Islam UIN STS Jambi ini ingat saya. Itu juga tidak penting, terlebih sehari-hari saya tidak bekerja di Kampus yang kini ia pimpin, melainkan bergiat di Seloko Institute, pusat studi yang meminati sejarah, budaya, dan bersetia mengumpulkan literatur tentang Jambi. Enam tahun lepas, saya, Ratna Dewi dan M. Husnul Abid-di kalangan terbatas kerapkali disebut sebagai tiga serangkai-terlibat menginisiasi konferensi internasional studi Jambi (International Conference on Jambi Studies), yang ditaja Dewan Kesenian Jambi periode kepemimpinan Aswan Zahari (2012-2015) dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi.

Di forum akademia itu, Suaidi kami minta menjadi salah seorang chairperson (penanggung jawab panel) bersama sarjana lainnya, seperti Prof. Bambang Purwanto (UGM, Yogyakarta), Yanti, Ph.D. (Unika Atmajaya Jakarta), Dr. Annabel Teh Gallop (British Library, London), Prof. Barbara Watson Andaya (Universitas Hawaii, USA), dan Jonathan Zilberg, Ph.D. (University of Illinois at Urbana-Champaign, USA).

Sejak itu Seloko Institute beberapa kali bekerjasama dengan UIN STS Jambi, dalam hal ini LP2M UIN STS Jambi, Melayu Institute, Fakultas Adab dan Humaniora, dan Fak. Tarbiyah UIN STS Jambi,  dalam bentuk pelatihan jurnal terakreditasi maupun diskusi tematik dengan menghadirkan beberapa cendekia dari dalam maupun luar negeri. Khusus Melayu Institute, yang bermarkas di Fak. Adab dan Humaniora, selain saya dan Aswan Zahari, Ketua Dewan Kesenian Jambi periode 2012-2015 (sebagai pihak di luar institusi UIN STS Jambi), bersama akademisi Dr. Armida, Dr. Iskandar, Syamsul, dan Bahren Nurdin, menggagas dan membentuk pusat studi Melayu Institute hingga di-SK-kan oleh rektor Prof. Dr. Hadri Hasan, periode 2011-2015. 

Saya tak banyak mendapatkan informasi kondisi mutakhir pusat studi ini. Semoga terus eksis dan menjadi bagian dari upaya membangun iklim akademis yang dinamis sekaligus mewarnai platform UIN STS Jambi ke depan sebagai kampus transintegrasi yang bertitik pijak pada moderasi Islam.

Puncaknya, 2016, kami kerani rendahan di Seloko Institute diundang oleh Su’aidi Asy’ari yang ketika itu menjabat sebagai Wakil Rektor I UIN STS Jambi. Di ruang kerjanya di Kampus Utama UIN STS Jambi, Mandalo, bersama perwakilan fakultas di lingkup UIN STS Jambi (terutama LPPM STS Jambi dan pengelola jurnal di fakultas), kami diminta bertukar pikiran perihal penyelenggaraan konferensi. Sepenuhnya Suaidi Asy’ari mempercayakan kepada Seloko Institute mendesain konsep konferensi tersebut, setidaknya mengacu penyelenggaraan ICJS yang kami prakarsai tiga tahun sebelumnya.

Konferensi bertemakan sejarah, seni dan budaya, serta agama dan perubahan Sosial (History, Art and Culture, Religion and Social Change) itu menghadirkan 38 pemakalah, antara lain Edmund Edwards McKinnon (National University of Singapore), Stefanie Steinebach (Gottingen University, Germany), C.W. Watson (University of Kent, UK), Fiona Kerlogue (Horniman Museum, UK), Heinzpeter Znoj (University of Bern, Switzerlend), Margaret Kartomi (Monash University, Australia), dan Staven Sager (Australian National University). 

Sedangkan dari Indonesia hadir antara lain Julianti L. Parani (Institut Kesenian Jakarta), Devi Roza Krisnandhi Kausar (Universitas Pancasila, Jakarta), Suaidi Asyari (IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi), dan Bambang Hariyadi (Universitas Jambi). Prof. Barbara Watson Andaya, sepulang dari konferensi ICJS, menuliskan tanggapan terhadap substansi maupun jalannya konferensi tiga hari itu. Lebih lanjut dapat dibaca di link berikut ini: http://www.cseashawaii.org/2013/12/report-on-the-first-international-conference-on-jambi-studies-hosted-by-seloko/ dan http://kajanglako.com/id-4758-post-urgensi-konferensi-studi-jambi.html)

Tentu saja kami di Seloko Institute menyambut baik ajakan kemitraan UIN STS Jambi, karena sejatinya konferensi tersebut adalah tugas utama kampus yang selama ini kami nilai belum dilakukan secara sungguh-sungguh, apatahlagi yang berkaitan langsung dengan studi Jambi.

Berjalannya waktu, entah kenapa, konferensi yang disepakati itu berujung tanpa ada kejelasan. Kami sedari awal sudah mengkonsep tema dan sub-sub tema yang mengisi konferensi tersebut hingga persiapan administrasi yang berkaitan dengan undangan menulis (call for paper) bagi calon pembentang makalah.

Sejak itu komunikasi antara kami, terutama saya dan Ratna Dewi dengan Suaidi Asy’ari praktis terputus, kecuali sahabat saya M. Husnul Abid,akademisi yang sehari-hari bekerja di UIN STS Jambi, dan tergolong patner diskusi aktif bersamanya hingga sekarang.

Berselang dua bulan pasca dilantik sebagai rektor UIN STS Jambi, secara tak sengaja, saat sarapan pagi di sebuah hotel di Jakarta, saya berjumpa dengan Prof. Suaidi Asy’ari. Saya pun menyapa dan begitu sebaliknya. “Alhamdulillah beliau masih ingat saya”, imbuh saya dalam hati. Tentu saya memberi ucapan selamat padanya sebagai rektor UIN STS Jambi yang baru. Kami pun terlibat percakapan cukup panjang. Saya lebih banyak mendengarkan visi-misi doktor jebolan University of Melbourne tahun 2007 ini untuk UIN STS Jambi ke depan. Dirinya bertekad menjadikan UIN STS Jambi sebagai perguruan tinggi yang unggul dalam skala nasional, menuju internasional, dengan semangat moderasi Islam. 

Penulis Nalar Politik NU-Muhammadiyah: Overcrossing Java Sentris (LKiS, 2010) ini mengusung paradigma transintegrasi, konsepsi ideal yang menempatkan ilmu pengetahuan terintegrasi pada modernitas maupun tradisi, sehingga sejauh apapun ilmu pengetahuan mengalami pemajuan, nilai transedental maupun tradisi tak sirna. Tentu saja paradigma transintegrasi itu penting didiskusikan untuk mengetahui lebih jauh gagasan maupun praktiknya di UIN STS Jambi semasa kepemimpinannya. Tetapi tidak dalam kesempatan ini dikupas.

Secara umum, pembicaraan antara kami bertiti-mangsa tentang penelitian, sumberdaya manusia yang mumpuni dengan basis multidisiplin keilmuan, serta terwujudnya sarana prasana pembelajaran di kampus sebagai penunjang utama menuju kampus unggul. Kebetulan ketika itu Suaidi Asy’ari bersama tim sedang berupaya meyakinkan pemerintah pusat (Dalam hal ini, Direktorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, Kemenag RI, dan DPR-RI) untuk pemenuhan penganggaran pemajuan institusi UIN STS Jambi bersama perguruan tinggi Islam lainnya, terutama pembangunan fisik, sarana prasarana pembelajaran dan peningkatan kualitas SDM. “Kita perlu bergerak cepat jika UIN STS mau maju. Dan ini momen penting yang menentukan langkah UIN STS Jambi ke depan,” kilahnya.

Lulusan Magister of Arts (MA) dari McGill University, Kanada, tahun 1999, ini juga menyinggung tradisi konferensi dan jurnal dengan reputasi internasional di beberapa perguruan tinggi lainnya. “Saya berharap kultur demikian mewujud di UIN STS Jambi. Tentu ini dikerjakan secara bertahap dan memerlukan dukungan sekaligus konsistensi akademisi di UIN STS Jambi,” tukasnya.

Impian Suaidi Asy’ari jelas tak bisa dikerjakan sendirian, melainkan bergerak secara bersama dengan dimulai dari unit terkecil elemen penyelenggara pendidikan di UIN STS Jambi. Setidaknya, pengalaman panjang Suaidi Asy’ari di ranah akademik, dimulai menjadi dosen, Dekan Fakultas Ushuluddin hingga menjabat Wakil Rektor I menjadi bekal memadai membawa UIN STS Jambi ke depan menjadi lebih baik. 

Terlebih saat merampungkan studi doktoralnya di University of Melbourne pada tahun 2007, dirinya dibimbing langsung oleh akademisi dengan reputasi internasional, yakni Prof. Marle Calvin Ricklefs, Prof. Abdullah Saeed, dan Prof. Arif Budiman. Begitu juga saat Suaidi menyelesaikan jenjang pendidikan setara di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2009, di bawah bimbingan Prof. Azyumardi Azra. Tentu saja ini menjadi modal awal dirinya membangun jaringan UIN STS Jambi ke dalam pergaulan internasional.

*Tulisan ini terbit pertama kali di rubrik sosok portal kajanglako.com pada 18 Januari 2020.

0 Komentar